20:57 Fu Xue Mei 0 Comments

Please follow my wattpad account
Melissa_Dharmawan

Thank you

0 komentar:

Photography

Molly Photography

14:02 Fu Xue Mei 0 Comments



0 komentar:

Announcement

23:27 Fu Xue Mei 0 Comments

Announcement

I'm no longer posting my new novel on his blog. I have moved to "Novel Nusantara" mobile application.

You can seach my id "Melissa_Dharmawan" to found my novels. You can vote me by log in regularly once a day for received XP and "Martabak" point.

If you miss to read my writing, please download and install that application.

Thank you....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #9

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Hari ini Sang-ho sudah kembali dari Jepang. Setelah kembal idari Jepang, Sang-ho langsung dipanggil ke kantor polisi bersama dengan Ji-hyun dan Joo-ahn.

"Sang-ho!" ucap Ji-hyun.
"Apakah kamu merindukanku?" tanya Sang-ho.
"Tentu saja," ucap Ji-hyun.
"Silahkan duduk," ucap detektif Park.
"Sebenarnya, ada apa memanggil kami kemari?" tanya detektif Park.
"Sang-ho, aku ingin memebrikan pertanyaan padamu. Jawab dengan jujur karena percakapanmu akan direkam dan disaksikan oleh detektif lain di luar," ucap detektif Park.
"Kenapa Sang-ho yang diintrograsi?" tanya Ji-hyun bingung.
"Ji-hyun dan Joo-ahn bisa menunggu di luar bersama detektif lainnya," ucap detektif Park.

Setelah Ji-hyun dan Joo-ahn keluar dari ruang wawancara khusus, wawancara langsung dimulai. "Apakah akun samaran ini adalah milikmu?" tanya detektif Park.
"Iya, itu memang milikku yang aku buat dulu untuk berbicara dengan orang lain," ucap Sang-ho.
"Apakah dua minggu yang lalu kamu berada di Jepang, di kota Osaka?" tanya detektif Park.
"Iya, aku sedang ada pelatihan memasak disana," jawab Sang-ho.
"Apakah benar kamu adalah orang yang membayar penculik yang menculik Ji-hyun?" tanya detektif Park.
"Aku memang memberikan uang dan makanan untuk orang itu, tetapi aku tidak memintanya untuk menculik Ji-hyun sampai sejauh itu. Aku hanya memintanya untuk memperhatikannya dan mengawasinya selama aku berada di Jepang. Aku tidak tahu kalau orang itu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Ji-hyun. Aku juga tidak tahu kalau sebelumnya orang itu pernah menculik Ji-hyun juga," ucap Sang-ho.
"Apakah kamu yakin dengan pernyataanmu barusan?" tanya detektif Park.
"Benar, memang seperti itu kenyataannya. Walaupun aku menyuruh penculik itu untuk mengawasi Ji-hyun, tetapi bukan aku yang memintanya untuk menculik Ji-hyun. Penculikan terjadi karena kemauan penculiknya sendiri," ucap Sang-ho.
"Walaupun kamu mengaku telah membayar penculik itu, kamu tetap terlibat dalam hal itu. Kamu tidak akan menerima hukuman dipenjara selama bertahun-tahun seperti orang itu, tetapi aku akan memasukanmu kepada sukarelawan tugas sosial bulanan selama enam bulan," ucap detektif Park.
"Ji-hyun, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukan hal ini," ucap Sang-ho.

Mendengar wawancara itu, Ji-hyun langsung pergi meninggalkan Sang-ho. Ji-hyun tidak ingin melihat wajah Sang-ho lagi.

"Ji-hyun!" panggil Sang-ho.
"Sang-ho, lebih baik kita sudahi saja hubungan kita! Batalkan saj rencana pernikahan kita!" ucap Ji-hyun di depan kantor polisi.
"Apa katamu? Kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kita? Kenapa? Bukankah kamu sudah berjanji padaku?" tanya Sang-ho.
"Semua ini karena kamu! Aku mengalami masalah karena kamu memanggil orang itu. Kamu juga tidak bertangungjawab padaku. Aku lelah dan tidak ingin berhubungan denganmu lagi. Aku kecewa padamu!" ucap Ji-hyun sambil memukul dada Sang-ho.
"Ji-hyun!" ucap Sang-ho.
"Biarkan saja dia pergi!" ucap Joo-ahn sambil menarik tubuh Sang-ho.
"Siapa kamu sampai mencampuri urusan orang lain?" tanya Sang-ho.
"Aku yang harusnya bertanya. Kenapa selama Ji-hyun mendapakan masalah itu sampai dia dirawat di rumah sakit kamu tidak meneleponnya? Pacar macam apa itu?" tanya Joo-ahn.
"Aku tidak tahu," ucap Sang-ho.
"Bohong besar! Apa perlu aku masuk ke dalam dan mengatakan bahwa kamu tidak memberhentikan penculik itu saat sudah menculik Ji-hyun? Sebenarnya, aku tahu kalau kamu tahu Ji-hyun sedang diculik. Detektif Park mengamankan ponsel penculik dan membongkar semua pesan yang telah dihapus. Bahkan, detektif juga memberitahu kalau kamu dan penculik itu berbicara lewat telepon beberapa kali waktu itu," ucap Joo-ahn.
"Apa katamu? Jadi Sang-ho tahu semuanya?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, sengarkan aku dulu," ucap Sang-ho.

PLAK!

Ji-hyun menampar pipi Sang-ho dan disusul dengan pukulan dari Joo-ahn. Ji-hyun langsung pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil miilik Joo-ahn, bukan mobil milik Sang-ho.

"Ayo kita pergi," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn menyetir jalan dan tidak tahu ingin membawa Ji-hyun kemana. Ji-hyun hanya menangis di samping kursi kemudi. Joo-ahn jadi bingung harus pergi kemana. Kalau membawa Ji-hyun pulang ke rumahnya, In-ho akan menjadi bingung.

"Kenapa kita pergi ke taman ini lagi?" tanya Ji-hyun.
"Disinilah kamu bisa meluapkan semua tangisanmu seharian," ucap Joo-ahn.
"Ketua, maksudku Joo-ah, terima kasih telah membawaku ke taman ini," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn duduk di atas kursi kosong di taman itu. Ji-hyun memeluk Joo-ahn dari belakang sambil menangis.

"Joo-ahn, aku mencintaimu," ucap Ji-hyun.
"Iya, aku tahu. Malam itu kamu mengatakannya kepadaku," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, tolong jangan marah-marah padaku di kantor. Aku tidak ingin kamu marah-marah lagi kepadaku. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Sebenarnya, sejak kita bertemu di kereta bawah tanah setelah delapan tahun berpisah, saat itu aku ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu. Tetapi, waktu itu kamu bersikap dingin kepadaku. Aku tidak jadi mengatakan kalau aku merindukanmu karena aku pikir kamu cuek dan tidak lagi peduli kepadaku. Kamu tahu tidak kenapa aku menerima tawaran kerja di Seoul sebagai asisten ketua tim marketing? Karena aku tahu bahwa kamu adalah ketuanya. Awalnya, aku memilih pindah ke Seoul karena aku merindukan kota kelahiranku. Lalu, di tengah jalan sebelum kepindahanku, aku sempat berniat untuk membatalkan perjanjian kepindahanku. Setelah aku dibujuk oleh atasanku di kantor cabang dan dia menceritakan keadaan anggota tim marketing beserta menjelaskan masing-masing anggotanya, aku tidak jadi menolak niatku karena aku yakin bahwa aku bisa kembali dekat denganmu lebih dari sekedar asisten dan atasan," ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, sebenarnya saat aku mengetahui bahwa kamu adalah asistenku, aku sempat ingin marah dan ingin minta untuk dicarikan asisten baru, tetapi aku tidak punya wewenang untuk itu. Semua sudah diatur oleh manajer dan staf HRD. Awalnya aku kesal dan memarahimu di hari pertama kamu bekerja denganku. Lama kelamaan, aku menyadari bahwa aku marah karena aku terkejut dan karena aku hanya berusaha untuk mengalihkan perasaanku sendiri. Sekarang, aku terjebak dalam amarahku sendiri," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, mari kita kembali seperti dulu lagi," ucap Ji-hyun.
"Aku juga ingin kita kembali lagi seperti delapan tahun yang lalu," ucap Joo-ahn.

***

Beberapa bulan kemudian

Tahun sudah berganti. Musim telah berganti. Ji-hyun dan Joo-ahn sudah bersama selama beberapa bulan. Mereka tampak bahagia karena mereka benar-benar saling mencintai satu sama lain.

Penculik yang sudah ditangkap dan dipenjarakan akhirnya dikirim ke rumah sakit jiwa oleh pihak kepolisian karena percuma saja bila penculik itu hanya dipenjara. Penculik itu harus diperiksa dan harus tinggal di rumah sakit jiwa.

Sang-ho masih menjadi sukarelawan kerja sosial yang diadakan oleh kepolisian untuk masyarakat di kota Seoul. Sang-ho harus hadir minimal seminggu sekali dalam acara ini dengan ancaman dipenjara bila mencoba tidak datang sesuai aturan.

"Hari ini tim marketing kita mendapat bonus besar berkat kerja keras ketua Kim," ucap Eun-ha.
"Asik!" ucap Ji-hyun.
Semua anggota tim marketing memandang Ji-hyun dengan bingung. "Kenapa kalian memandangku dengan tatapan seperti itu?" tanya Ji-hyun.
"Terima kasih untuk kerja sama kita semua dalam pemasaran produk tas musim panas dan musim dingin. Sebentar lagi musim semi akan tiba dan kita akan memulai kerja keras kita lagi," ucap ketua Kim di ruang rapat.
"Sebagai tanda terima kasih, perusahaan akan memberikan tiket konser gratis untuk ketua Kim dan asisten Lee," ucap Manajer Jang.
"Dalam rangka apa ini?" tanya Joo-ahn.
"Selamat atas pernikahan kalian!" ucap Manajer Jang.
"Apa? Mereka akan menikah? Rasanya, mereka baru saja pacaran," ucap Eun-ha kaget.
"Eh, kamu belum tahu kalau mereka sudah kenal sejak delapan tahun yang lalu? Mereka dulu jua pernah pacaran," ucap Mi-yeon.
"Selamat ya!" ucap para anggota tim marketing.

***

Setelah selesai bekerja, Joo-ahn pulang ke rumahnya. Disampingnya, Ji-hyun ikut ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tua Joo-ahn. Mereka akan minta restu kepada kedua orang tua Joo-ahn sebelum menikah. Walaupun mereka berdua sudah memilih tanggal pernikahan, tetap saja mereka harus minta restu dari orang tua.

"Appa, eomma, ini adalah Ji-hyun, wanita yang dikirim oleh Tuhan sebagai teman di sisa hidupku," ucap Joo-ahn.
"Annyeonghaseyo, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Ji-hyun.
"Rasanya terakhir kali aku melihatmu sembilan tahun yang lalu," ucap ibu Joo-ahn.
"Appa, eomma, mohon restui pernikahan kami satu setengah bulan lagi," ucap Joo-ahn.
"Mohon restunya," ucap Ji-hyun.
"Tentu saja kami merestui kalian berdua," ucap ayah Joo-ahn.
"Terima kasih!" ucap Joo-ahn senang.

Sementara itu, di depan ruuang baca keluarga, Min-ji masih menguping pembicaraan kakaknya di dalam. "Hei, tidak sopan menguping pembicaraan orang lain!" ejek Tae-hwan.
"Oppa, mereka akan menikah satu setengah bulan lagi," ucap Min-ji.
"Benarkah? Sudah aku duga mereka akan menikah. Berarti pemikiranmu dulu salah besar," ucap Tae-hwan.
"Aku tidak menyangka kalau mereka berdua akan menikah. Bukannya aku membenci eonni, tetapi aku tidak percaya karena oppa bersikap dingin dengan eonni sewaktu mereka bertemua lagi," ucap Min-ji.
"Sedang apa kammu disini?" tanya Joo-ahn saat membuka pintu ruang baca.
"Ah, akut idak sedang melakukan apa-apa," ucap Min-ji.
"Dia berbohong!" ejek Tae-hwan.
"Min-ji, aku dan Ji-hyun punya kabar baik untukmu," ucap Joo-ahn.
"Tentang pernikahan kalian? Aku sudah mendengarnya," ucap Min-ji.
"Ini bukan tenatang pernikahan, tetapi tentang janjiku kepadamu untuk pergi menonton konser SMTown. Bagaimana kalau kita pergi ke acara konser itu sebelum aku menikah? Aku mendapatkan tiket konser gratis dari perusahaan untuk dua orang yang masing-masing untuk aku dan Ji-hyun. Ji-hyun ingin memebrikan tiket itu padamu," ucap Joo-ahn.
"Kenapa tidak eonni saja yang nonton konser itu? Tiket itu kan diberikan khusus untuk eonni," ucap Min-ji.
"Aku memberikan tiket itu padamu karena aku tidak suka menonton konser SMTown. Aku penggemar group dari agensi JYP," ucap Ji-hyun. "Oiya, aku memebrikanmu hadiah tiket itu karena kamu baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Chukkae Min-ji! Kamu meraih peringkat tiga teratas dari seluruh peserta ujian kelulusan sekolah menengah atas di kota Seoul tahun ini," ucap Ji-hyun.
"Terima kasih eonni!" ucap Min-ji sambil memeluk calon kakak iparnya.
"Hyung, eonni, selamat atas pernikahan kalian! Aku senang mendengarnya," ucap Tae-hwan.
"Bagaimana kalau kita berempat pergi berlibur pada libur musim semi kalian minggu depan? Ini kan tahun terakhirmu kuliah. Bersenang-senanglah sebelum tugas akhir menyiksamu," ucap Ji-hyun.
"Aku setuju!" ucap Min-ji.
"Aku setuju!" ucap Tae-hwan.
"Ayo kita bersenang-senang!" ucap Ji-hyun.
"Aduh, kalian ini heboh sekali!" ucap Joo-ahn.
"Hyung!" ucap Tae-hwan kesal.
"Aku ikut berlibur asalkan Tae-hwan dan Min-ji berjanji tidak akan pernah bertengkar lagi," ucap Joo-ahn.
"Min-ji, oppa minta maaf telah mengejekmu terus menerus," ucap Tae-hwan.
"Oppa, aku juga minta maaf telah mengejek oppa," ucap Min-ji.

"Sayang, ayo kita jalan-jalan sebentar. Sore ini sayang untuk dilewatkan," ucap Joo-ahn.
Joo-ahn menarik tangan Ji-hyun dan mengeluarkan sepeda milikknya. "Hei, kamu mau menculik aku kemana?" tanya Ji-hyun.
"Mari kita menghabiskan sore ini sebelum kita sibuk mempersiapkan pernikahan kita dan mengerjakan pekerjaan kantor," ucap Joo-ahn.

TAMAT.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #8

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Seoul, 1 minggu kemudian

Kakak beradik Lee telah kembali ke Seoul setelah dirawat di sebuah rumah sakit di kota Suwon. Joo-ahn dan Tae-hwan membantu mereka untuk diantar pulang ke rumah mereka di Seoul.

"Joo-ahn, Tae-hwan, terima kasih ya!' ucaap Ji-hyun.
"Sama-sama," ucap Tae-hwan.
"Ah, adikmu manis sekali!" ucap Ji-hyun.
"Manis? Apakah kamu tidak sedang bercanda?" tanya Tae-hwan.
"Tidak, aku serius!" ucap Ji-hyun.
"Ah noona," ucap Tae-hwan.
"Joo-ahn, terima kasih sudah bersama Ji-hyun beberapa kal iselama di rumah sakit. Aku jadi berhutang budi padamu," ucap In-ho.
"Ah sunbae, tidak usah sungkan seperti itu," ucap Joo-ahn.

Setelah selesai mengantar Ji-hyun dan In-ho pulang ke rumahnya, Joo-ahn harus pergi ke kantor polisi karena polisi ingin mendapatkan keterangan dari Joo-ahn sebagai teman dekat Ji-hyun.

"Hyung, kita mau kemana?" tanya Tae-hwan.
"Ke kantor polisi," jawab Joo-ahn.
"Ha? Untuk apa kita pergi kesana?" tanya Tae-hwan.
"Mereka membutuhkan keterangan dariku. Aku adalah orang yang pernah menolong Ji-hyun delapan tahun yang lalu," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn dan Tae-hwan masuk ke dalam kantor polisi. Mereka berdua duduk di hadapan seorang detektif yang menelepon Joo-ahn untuk datang. Tae-hwan hanya diam saja di samping Joo-ahn.

"Jadi, bisa diceritakan kejadian waktu dulu?" tanya detektif Park.
"Waktu itu kami masih kelas 3 sekolah menengah atas. Waktu itu kalau tidak salah kejadiannya setelah jam pulang sekolah. Tiba-tiba Ji-hyun diculik begitu saja saat sedang jalan kaki di sampingku," ucap Joo-ahn.
"Apakah kamu tahu apa tujuan utama penculik itu menculik Ji-hyun?" tanya detektif Park.
"Aku tidak tahu," jawab Joo-ahn.
"Detektif Park, aku sudah mendapat kabar kalau orang yang menabrak tuan Lee Ja-myung adalah penculik yang menculik Ji-hyun," ucap detektif Seo.
"Hmm, ternyata penculik itu tidak hanya menyerang Ji-hyun, tetapi juga menyerang ayahnya. Ini pasti ada hubungannya dengan masalah keluarga mereka," ucap detektif Park.
"Tapi, kalau menyangkut urusan keluarga, kenapa kakak Ji-hyun tidak pernah diculik?" tanya detekfif Seo.
"Hmm.. aku juga tidak tahu, Kita harus mencari tahu lagi," ucap detektif Park.
"Baik detektif Park!" ucap detektif Seo.

***

Joo-ahn duduk di kursi kerjanya bersama anggota tim marketing lainnya. Joo-ahn masih membereskan beberapa dokumen yang harus diperiksa karena Ji-hyun baru saja masuk kerja dan Joo-ahn tidak ingin membebani Ji-hyun yang baru saja diperbolehkan bekerja oleh dokter.

"Ketua, ini semua dokumen yang pernah kamu minta untuk aku perbaiki," ucap Ji-hyun.
"Astaga Ji-hyun, kamu kan baru saja kembali. Kamu tidak harus menyelesaikannya hari ini juga," ucap ketua Kim.
"Baru saja aku ingin membantu tugas dia, tapi dia sudah selesai duluan," ucap Mi-yeon.
"Semalam aku menyelesaikan beberapa," ucap Ji-hyun.
"Kamu seharusnya istirahat saja!" ucap Joo-ahn.
"Kenapa ketua jadi marah kepadaku?" tanya Ji-hyun.
"Yasudah, terima kasih ya sudah selesai. Sekarang, kamu bantu tugas Mi-yeon saja sampai jam pulang kerja," ucap Joo-ahn.
"Baik ketua," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun kembali duduk di atas kursi kerjanya. "Kenapa dia marah-marah ya? Kan aku sudah menyelesaikan semuanya," ucap Ji-hyun mendesah.
"Apakah kamu tidak merasa aneh dengannya?" tanya Mi-yeon.
"Aneh kenapa?" tanya Ji-hyun.
"Setiap ada di kantor bersamamu, dia sering marah-marah. Tapi, kalau kalian bersama di luar kantor, dia tidak begitu kan? Bahkan, saat kamu diculik di depan minimarket waktu itu, dia sangat panik, seperti tidak habis memarahimu," ucap Mi-yeon.
"Jadi maksudmu, kamu bingung karena dia terlihat seperti punya dua kepribadian sekaligus ya?" tanya Ji-hyun.
"Iya, aku bingung," ucap Mi-yeon.
"Aku juga. Eh sebentar, ada telepon," ucap Ji-hyun.
"Halo," ucap Sang-ho.
"Sang-ho, apa kabar? Bagaimana pelatihannya? Maaf aku tidak membalas pesanmu waktu itu. Aku baru keluar dari rumah sakit," ucap Ji-hyun.
"Kamu masuk rumah sakit? Kenapa?" tanya Sang-ho pura-pura tidak mengerti.
"Ceritanya panjang. Kamu juga tidak perlu tahu. Aku rasa, setelah kamu kembali dari Jepang, kita perlu bicara," ucap Ji-hyun.
"Soal apa? Baiklah," ucap Sang-ho.

Setelah menerima telepon dari Sang-ho, Ji-hyun kembali memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Mi-yeon agar dia tahu dan bisa membantu Mi-yeon.

***

"Ji-hyun?" tanya Joo-ahn saat melihat ada seorang wanita berambut panjang hitam sedang makan di kantin sendirian.
"Ketua?" tanya Ji-hyun.
"Kenapa makan sendirian?" tanya Joo-ahn sambil menarik kursi yang ada di hadapan Ji-hyun dan meletakan piring di atas meja yang sama dengan Ji-hyun.
"Kenapa ketua duduk disini?" tanya Ji-hyun.
"Kenapa? Kita kan saling kenal," ucap Joo-ahn.
"Bukan begitu maksudku," ucap Ji-hyun.
"Lalu apa? Bukankah kamu yang memintaku untuk jangan pergi? Apakah kamu sudah lupa?" tanya Joo-ahn.
"Apa? Anggap saja waktu itu aku sedang asal bicara dan melantur tidak jelas," ucap Ji-hyun.
"Oke, aku pindah ke meja kosong ya?" tanya Joo-ahn.
"Ketua, tunggu! Jangan pergi," ucap Ji-hyun.
"Tuh kan, kamu tidak ingin aku pergi kan? Apa karena tidak ada Sang-ho disini?" tanya Joo-ahn.
"Aduh, bukan itu maksudnya! Sudahlah, lebih baik kita makan saja," ucap Ji-hyun.

Hari ini Joo-ahn senang karena Ji-hyun bersemangat untuk makan siang, tidak seperti waktu masih di rumah sakit. Bahkan, hari ini Ji-hyun makan lebih banyak dari pada sebelumnya. Dia tidak lagi memilih-milih makanan seperti Ji-hyun yang dia kenal dulu.

"Kenapa kamu jadi suka wortel?" tanya Joo-ahn.
"Aku sendiri tidak tahu, Tiba-tiba aku mau makan wortel," ucap Ji-hyun.
"Bagus kalau kamu sudah tidak pilih-pilih makanan lagi," ucap Joo-ahn.
"Ketua, kamu masih ingat tentang aku sewaktu dulu ya?" tanya Ji-hyun.
"Tentu saja! Sewaktu dulu hanya aku yang memperhatikanmu selain keluargamu," ucap Joo-ahn.
"Ketua, aku minta maaf," ucap Ji-hyun.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Joo-ahn.
"Dulu saat kamu datang ke depan rumahku dan ingin kita kembali berhubungan lagi, aku mengusirmu. Seharusnya, aku bisa bicara lebih baik lagi padamu," ucap Ji-hyun.
"Ah, itu kan masa lalu. Semua orang bisa berubah dan semua orang pernah berbuat salah di masa lalu. Sudahlah, lupakan saja," ucap Joo-ahn.
"Jadi, kamu tidak marah? Lalu, kenapa kamu sering memarahiku di ruang kerja lantai atas?" tanya Ji-hyun.
"Karena... karena aku mencintaimu," ucap Joo-ahn.
"Apa?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, tidak bisakah kita kembali lagi? Aku merindukanmu," ucap Joo-ahn.
"Ketua, sudah aku bilang kalau aku akan menikah," ucap Ji-hyun.
"Aku akan terus menunggumu," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun dan Joo-ahn melanjutkan makan siang mereka. Sesekali Joo-ahn mengecek ponselnya kalau saja ada pesan dari detektif Park mengenai kasus penculikan Ji-hyun yang baru saja terjadi.

"Ji-hyun, ada kabar dari detektif park," ucap Joo-ahn.
"Ada apa?" tanya Ji-hyun.
"Katanya dia ingin memberi tahu di kantor mereka saja," ucap Joo-ahn.
"Ketua, aku ikut ke kantor polisi nanti malam ya!" ucap Ji-hyun.
"Baiklah," jawab Joo-ahn.

***

"Ada kabar apa detektif?" tanya Joo-ahn.
"Kami sudah menganalisa. Ternyata benar, penculik itu yang mencelakakan ayahmu, nona Lee," ucap detektif Park.
"Lalu?" tanya Ji-hyun.
"Orang itu mengalami gangguan jiwa. Aku telah bertanya ke ahli psikologi menurut keterangan yang kemarin kamu katakan kepadaku. Bagaimana tidak, dia dulu menculik ibumu sewaktu kamu masih dibawah lima tahun. Setelah itu, dia juga pernah menculikmu sewaktu masih sekolah dan sekarang menculikmu lagi setelah mencelakakakn ayahmu. Apalagi mendengarmu mengatakan bahwa alasan utamanya adalah karena dendam dengan ayahmu yang merebut ibumu dari dia. Seharusnya, kalau dendam seperti itu tidak perlu sampai mencelakakan orang lain atau menculik, bahkan dia melakukan tindak kekerasan terhadap kakakmu," ucap detektif Park.
"Apakah orang itu sudahh tertangkap?" tanya Joo-ahn.
"Sudah. Baru saja tiga jam yang lalu polisi di Suwon berhasil menangkapnya. Polisi disana juga memeriksa ponsel milik pria itu dan anehnya, ada pembicaraan mencurigakan di dalam ponsel itu yang tidak diketahui berbicara dengan siapa. Yang jelas, seseorang membayar penculik itu untuk menculikmu," ucap detektif park.
"Jadi, bisa saja orang lain yang menyuruh penculik itu untuk menculik aku?" tanya Ji-hyun.
"Bisa jadi. Kalau kita berhasil menemukan pelakunya, kita juga akan menahan orang itu," ucap detektif Park.
"Detektif Park, sudah ketemu!" ucap detektif Seo.
"Apanya yang sudah ketemu?" tanya detektif Park.
"Lokasi ponsel dari orang yang punya akun samaran itu. Orang itu berada di luar Korea, di Jepang. Mungkin sedang kabur," ucap detektif Seo.
"Apakah kamu berhasil melacak nama asli orang itu?" tanya detektif Park.
"Kalau itu aku belum bisa. Kita harus memanggil ahli di bidang teknologi," ucap detektif Seo.
"Detektif Park, kita pamit pergi dulu ya," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, nanti aku kasih kabar kalau ada perkembangan," ucap detektif Park.

Setelah mereka keluar dari kantor polisi, mereka jalan-jalan sebentar di sekitar kantor polisi. Joo-ahn membawa Ji-hyun ke salah satu kedai yang biasa dikunjunginya bersama Tae-hwan sewaktu dulu.

"Ini kedai apa?" tanya Ji-hyun.
"Ini kedai yang menjual jjajangmyun. Aku dan Tae-hwan dulu sering kesini setelah dia selesai les gitar," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun dan Joo-ahn membeli jjajangmyun satu porsi. Ji-hyun yang memintanya untuk memesan satu porsi saja karena tidak ingin banyak makan malam.

"Terima kasih," ucap Ji-hyun saat pemilik kedai mengantarkan pesanan mereka.
"Mashita!" ucap Joo-ahn.
"Mashita!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, kenapa kamu selalu menabrak sumpitku?" tanya Joo-ahn.
"Bukan aku yang memulainya. Kamu duluan!" ucap Ji-hyun.
"Aku? Aku tidak menabrak sumpitmu!" ucap Joo-ahn.
"Yakin?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun," ucap Joo-ahn.
"Apa?" tanya Joo-ahn.

Joo-ahn mengambil selembar tisu yang ada di atas meja, lalu memebersihkan pinggir bibir Ji-hyun yang belepotan karena makan jjajangmyun. Ji-hyun jadi merasa malu dan langsung berdiri dan meninggalkan meja makan mereka.

"Oiya, sebelum aku lupa. Hari ini dompetku tertinggal, jadi maafkan aku tidak bisa ikut membayar jjajangmyun kita," ucap Ji-hyun yang kemudian pergi keluar.
"Ji-hyun, tunggu!' ucap Joo-ahn.

Ji-hyun berlari menuju sebuah taman dekat jalan itu. Ji-hyun duduk sendiri di atas ayunan sambil memikirkan perasaannya sendiri.

"Apakah aku mencintainya melebihi pacarku sendiri?" desah Ji-hyun sambil menangis.
"Ji-hyun!" teriak Joo-ahn sambil berlari mencari Ji-hyun.
"Ji-hyun!" ucap Joo-ahn sambil memeluk tubuh Ji-hyun dari belakang.
"Joo-ahn," ucap Ji-hyun.
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi keluar dari kedai?" tanya Joo-ahn.
"Karena, aku rasa aku belum bisa sepenuhnya melepaskanmu," ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun..." ucap Joo-ahn kaget.
"Selama ini aku berusaha semampuku untuk mengabaikan perasaanku dan menjadi pacar Sang-ho yang baik padaku. Karena kami sudah lama berteman, aku rasa kalau kami menikah, kami tidak akan canggung," ucap Ji-hyun.
"Jadi, apakah kamu ingin kembali kepadaku?" tanya Joo-ahn.
"Seandainya aku bisa. Aku tidak ingin melukai perasaan Sang-ho juga. Aku dan dia sudah berjanji untuk menikah. Bahkan, aku sudah berjanji di depan kedua orang tua kami. Selain itu, sewaktu kita belum kenal, aku pernah mengatakan dihadapannya kalau aku ingin menikah dengannya. Mana mungkin aku menghianati kata-kataku sendiri dan meninggalkannya begitu saja?" tanya Ji-hyun.

Joo-ahn melepaskan pelukannya dan sedih. Air matanya mengalir dan tidak dapat berkata-kata lagi. Pupus sudah harapannya untuk bersama dengan Ji-hyun yang sudah lama dinantinya.

"Maaf," ucap Ji-hyun.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #7

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

FLASHBACK

Kejadian ini mirip dengan kejadian delapan tahun yang lalu saat Ji-yun diculik oleh orang yang sama. Bedanya, pertama-tama Ji-hyun diculik sepulang sekolah dengan pria yang dibayar oleh pennculik sebenarnya, bukan diculik langsung oleh penculik sebenarnya. Dan satu lagi, waktu itu Ji-hyun hanya disembunyikan di Seoul, tidak sampai dibawa pergi ke luar kota.

Pada waktu itu, Joo-ahn mengejar Ji-hyun bersama seorang detektif. Joo-ahn sangat panik dan tidak berhasil menemukan Ji-hyun pada hari saat Ji-hyun diculik. Akhirnya, semuanya diserahkan oleh polisi karen Joo-ahn masih remaja dan tidak dapat berbuat apa-apa.

"Ji-hyun!" ucap Joo-ahn saat polisi sudah menemukan Ji-hyun yang pingsan karena diculik selama seminggu. Ji-hyun yang menderita kelainan jantung sewaktu kecil memang lemah. Walaupun jantungnya sudah dioperasi, tetap saja Ji-hyun lemah bila idbandingkan dengan masnusia normal seumurnya.

"Ji-hyun!" teriak Joo-ahn saat Ji-hyun dibawa ke mobil ambulans.
"Kamu siapa?" tanya ayah Ji-hyun.
"Aku Kim Joo-ahn, pacarnya Ji-hyun," ucap Joo-ahn.
"Menjauhlah dari anakku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Aku tidak ingin Ji-hyun berhubungan dengan pria manapun kecuali dengan orang yang sangat aku kenal sejak dia kecil. Aku tidak mau melihat Ji-hyun menderita," ucap ayah Ji-hyun.
"Tapi paman, aku bukan orang jahat," ucap Joo-ahn.
"Tetap saja, aku tidak bisa melihatnya bersamamu!" ucap ayah Ji-hyun.

Ayah Ji-hyun masuk ke dalam mobil ambulans dan mobil ambulans pergi menuju rumah sakit terdekat. Joo-ahn kembali pulang diantar oleh mobil polisi.

***

Sudah dua hari Ji-hyun diculik. Sekarang, Ji-hyun masih duduk di atas sebuah kursi kayu dengan tangan dan badan yang terikat dengan tali tambang. Penculik itu hanya memberinya air minum yang jumlahnya tidak begitu banyak.

"Buka pintunya!" teriak sebuah suara dari luar rumah kecil itu.

Seorang polisi menendang-nendang pintu trumah yang terkunci itu. Dengan cepat, sang penculik membuka ikatan tali pada tubuh Ji-hyun dan menyeret wanita itu untuk pergi melewati pintu tersembunyai di dalam rumah itu. Setelah itu, penculik itu membawa Ji-hyun menggunakan sebuah mobil yang entah milik siapa dan bagaimana bisa ada di belakang rumah kecil itu.

"MMMM....!!" teriak Ji-hyun dari dalam mobil.
"Mari kita pergi ke sebuah penginapan milik teman dekatku," ucap penculik itu.

Penculit itu membawa Ji-hyun pergi ke sebuah penginapan keciil milik teman dekat si penculik. Penculik itu berencana untuk membawa Ji-hyun ke dalam sebuah kamar untuk bersembunyi dari polisi.

***

Hari sudah malam. Joo-ahn masih berputar-putar di dalam kota Suwon. Begitu juga dengan In-ho. In-ho dan Joo-ahn sudah membagi daerah tempat pencarian agar tidak perlu mencari dalam tempat yang sama secara bersamaan.

"Permisi, apakah ada tamu pria dan wanita yang baru saja datang ke hotel ini untuk menginap?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, hari ini belum ada tamu sepasang pria dan wanita," ucap petugas hotel.
"Terima kasih," ucap petugas hotel.

Joo-ahn keluar dari sebuah hotel dan pergi ke tempat lain lagi. Sementara itu, penculik dan Ji-hyun turun dari mobil yang terparkir di tempat parkir, lalu masuk ke dalam hotel yang baru saja dikunjungi oleh Joo-ahn. Penculik itu meminta kunci kamar hotel yang telah dipesannya lewat aplikasi.

Ketika piintu kamar hotel telah dibuka oleh sang penculik, penculik itu mendorong tubuh Ji-hyun ke tas ranjang, lalu mengikat kedua kakinya agar tidak bisa berdiri. Setelah itu, sang pria membuka kaos yang dipakainya dan berbaring di samping Ji-hyun. Ji-hyun ketakutan dan berteriak kencang.

"AAAAA! Jangan lakukan apapun denganku!" ucap Ji-hyun.
"Apakah kamu mau besok aku menghabisi pacarmu itu?" tanya penculik.
"Jangan sentuh aku!" teriak Ji-hyun.
"Hahahaha, tidak ada yang bisa kamu lakukan nona Lee!" ucap penculik.

Penculik itu menarik pakaian yang dipakai oleh Ji-hyun. Penculik itu juga menyentuh rok hitam selutut yang dipakai oleh Ji-hyun.

"Minum ini!" ucap penculik itu.

Penculik itu memberikan air minum kemasan dan Ji-hyun minum air itu karena dipaksa oleh penculik itu. Kebetulan juga, Ji-hyun merasa sangat haus.

Penculik itu merasa sangat senang karena Ji-hyun telat minum minuman itu. Minuman itu sudah diracik dengan diberi tambahan zat yang dapat membuat seseorang akan pingsan dalam beberapa jam.

"AAAAA, kepalaku sakit sekali!" ucap Ji-hyun.

Ji-hyun langsung pingsan di atas kasur hotel. Penculik itu memegang rok Ji-hyun dan berusaha untuk membukanya.

"LEPASKAN!" teriak seorang pria yang membuka pintu kamar hotel.
"Kamu siapa?" tanya penculik itu.
"Kamu tidak perlu tahu aku ini siapa. Yang jelas, cepat lepaskan dia!' teriak In-ho.
"Untuk apa? Dia sudah menyerahkan dirinya kepadaku. Apakah kamu mau merebutnya dariku dan menjadikan dia milikmu? Atau kamu ingin berbagi denganku di kamar ini?" tanya penculik itu.
"Menyerahlah!" ucap In-ho.
"Beraninya kamu!" ucap penculik itu.

Penculik itu menarik baju yang dipakai oleh In-ho dan menyeret pria itu masuk ke dalam kamar hotel. In-ho memberi perlawanan dengan menendang tubuh pria itu, tetapi In-ho gagal dan pria itu lebih kuat dari pada dirinya. Akhirnya, In-ho terjatuh dengan badan yang lemas. Pria itu meletakan tubuh In-ho di atas kursi hotel dan mengikatnya.

"Kalau kamu macam-macam padaku, aku akan keluarkan senjata yang aku punya!" ucap penculik itu.

Sekali lagi, pria itu mendekati tubuh Ji-hyun yang sedang pingsan di atas kasur setelah In-ho tak sadarkan diri karena dihajar oleh penculik itu.

Penculik itu melepaskan blazer yang dipakai oleh Ji-hyun, setelah itu, pria itu berusaha untuk menyentuh tubuh Ji-hyun lagi.

"Lepaskan!" ucap seorang polisi yang membuka pintu kamar hotel.

Melihat ada seorang polisi yang datang, penculik itu menghajar polisi itu sampai polisi itu terjatuh di lantai kamar. Setelah itu, penculik membawa tasnya dan kabur. Polisi itu langsung bangun dan mengecek keadaan Ji-hyun dan In-ho.

Seorang polisi yang dihajar oleh penculik itu tidak bodoh. Di lantai bawah, dia sudah menyuruh rekannya untuk berjaga dan langsung menahan penculik itu kalau penculik itu lewat. Tidak hanya pintu lobi utama hotel yang dijaga, tetapi seluruh celah yang mungkin dilewati oleh si penculik. Polisi yang ada di dalam kamar hotel memakai alat kecil yang bila ditekan atau tertekan akan mengirim sinyal kepada alat yang dipegang oleh salah satu rekannya sehingga rekannya dapat mengetahui kalau si penculik sudah kabur ke lantai bawah.

"Polisi, tolong telepon Kim Joo-ahn. Kim Joo-ahn di dalam kontak ponselku," ucap In-ho tak berdaya.

Polisi yang sedang merasa tak berdaya langsung meraih ponsel milik In-ho yang ada di lantai. Polisi itu menekan tombol telepon untuk menelepon Joo-ahn.

"Joo-ahn..." ucap In-ho yang lemas.
"Sunbae, kamu ada dimana?" tanya Joo-ahn.
"Joo-ahn, hotel Gwonseon lantai tiga," ucap Joo-ahn.
"Sunbae, ada apa disana?" tanya Joo-ahn.
"Joo-ahn..." ucap In-ho. In-ho berbicara dengan sangat lemas dan In-ho pingsan di atas kursi kamar hotel.

***

"Gawat! Aku ketahuan oleh polisi," ucap penculik saat menelepon Sang-ho.
"Apa? Kamu tidak berhasil mendapatkan Ji-hyun dari Joo-ahn?" tanya Sang-ho.
"Tidak. Dia tertinggal di kamar hotel. Saat aku ketahuan, aku meninggalkannya dan langsung kabur," ucap penculik itu.
"Memangnya, apa yang kamu lakukan sampai ketahuan? Bukannya aku hanya memintamu untuk membawa Ji-hyun ke rumahmu atau kemana sampai aku tiba dari Jepang? Tujuanku kan hanya supaya dia menjadi milikku seutuhnya," ucap Sang-ho.
"Maaf Sang-ho. Aku tergoda oleh hawa nafsuku. Aku berniat untuk sedikit bermain dengannya. Kamu pasti mengerti apa yang aku maksud. Aku menculik Ji-hyun ke dalam kamar hotel dan ingin bermalam dengannya. Ji-hyun seksi sekali," ucap penculik.
"Apa? Aku membayarmu untuk mengamankan dia dari Joo-ahn, bukan memberikan Ji-hyun untuk kamu permainkan seperti itu!" ucap Sang-ho.
"Maafkan aku," ucap penculik itu.

***

Lee In-ho dan Lee Ji-hyun dilarikan ke rumah sakit di kota Suwon. Joo-ahn dan seorang polisi mengantar dua kakak beradik ke rumah sakit.

In-ho terluka parah karena berkelahi dengan penculik yang menculik adiknya, sehingga harus masuk ruang operasi dan dijahit. Ji-hyun hanya masuk ke kamar inap biasa dan dipasangkan infus saja.

"TIDAAAAKKK!!!" teriak Ji-hyun saat sadar dari pingsan selama hampir dua jam.
"Ji-hyun?" ucap Joo-ahn.
"Apa yang terjadi? Apakah aku baru saja bermimpi buruk?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun!" ucap Joo-ahn sambil memeluk tubuh Ji-hyun.
"Lepaskan! Kenapa kamu memeluk diriku?" ucap Ji-hyun.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Joo-ahn.
"Hei, aku ini sudah mau menikah dua bulan lagi!" ucap Ji-hyun.
"Kamu yakin sudah ingin menikah secepat itu?" tanya Joo-ahn.
"Kenapa kamu mencampuri urusan pernikahanku?" tanya Ji-hyun.
"Aku senang kamu sudah sadar setelah dua jam pingsan. Dari tadi aku mengkhawatirkanmu. Penculik itu sudah kabur dan sedang dicari oleh polisi. Kamu tenang saja, biar polisi yang bekerja," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn..." ucap Ji-hyun.
"Joo-ahn, jangan pergi!" ucap Ji-hyun.
Joo-ahn bingung mendengar permintaan Ji-hyun untuk tidak pergi. "Baiklah, aku akan ada disini selama kamu dirawat. Aku akan bersamamu walau aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Kamu sudah punya kekasih," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku takut sekali. Tolong jangan tinggalkan aku," ucap Ji-hyun.
"Kapan pacarmu kembali dari Jepang?" tanya Joo-ahn.
"Akhir bulan ini. Masih ada dua minggu lagi waktu pelatihannya," ucap Ji-hyun.
"Baiklah, aku akan menjagamu disini," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, apakah Sang-ho tetap akan menikahiku kalau saja dia tahu bahwa pria itu sudah memegang-megang tubuhku, apalagi bagian terlarang itu? Apakah Sang-ho mau menikahiku walau aku sudah dibawa ke hotel seperti tadi?" tanya Ji-hyun sambil menangis.
"Ji-hyun, selama Sang-ho tidak tahu, aku rasa semua akan berjalan dengan baik," ucap Joo-ahn.
"Benarkah?" tanya Ji-hyun.
"Tentu saja!" Jawab Joo-ahn.
"Oiya Joo-ahn, apakah kamu masih ingat kejadian delapan tahun yang lalu saat aku diculik oleh orang itu?" tanya Ji-hyun.
"Aku masih ingat. Waktu itu aku yang menolongmu kan?" tanya Joo-ahn.
"Iya, kamu yang menolongku. Terima kasih ya!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, mau melihat kakakmu?" tanya Joo-ahn.
"Memangnya oppa ada dimana?" tanya Ji-hyun.
"Di ruang rawat lorong pria. Dia baru saja selesai dijahit," ucap Joo-ahn.
"Apa katamu? Dijahit? Memangnya, apa yang terjadi?" tanya Ji-hyun.
"Ceritanya nanti saja. Ayo kita lihat dia!" ucap Joo-ahn.

Joo-ahn membantu Ji-hyun bangun dan Ji-hyun berjalan bersama Joo-ahn sambil mendorong tongkat pengait infus.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #6

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Hari ini Joo-ahn, Ji-hyun, dan Mi-yeon pergi bersama untuk memberikan proposal kepada beberapa toko yang menjadi rekanan dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Satu demi satu toko dikunjungi pada hari ini.

"Hari ini kita akan mengunjungi berapa toko?" tanya Mi-yeon.
"Ada lima toko hari ini dan empat toko besok," ucap Joo-ahn. "Oiya Ji-hyun, apakah semua dokumennya sudah siap?" tanya Joo-ahn.
"Tentu saja!" jawab Ji-hyun.
"Baiklah," jawab Joo-ahn.

Ketiga orang itu pergi bersama menggunakan mobil perusahaan. Seperti biasa, Joo-ahn yang menyetir karena dia bisa menyetir dan memiliki SIM. Mi-yeon dan Ji-hyun belum bisa menyetir walaupun Mi-yeon sudah belajar menyetir beberapa kali.

"Ketua Kim, bisa mampir ke mini market sebentar?" tanya Ji-hyun.
"Ya, tapi jangan lama-lama ya!" ucap Joo-ahn.

Ji-hyun turun sebentar dari mobil perusahaan dan masuk ke dalam minimarket yang dilewati dalam perjalanan menuju ke sebuah toko. Joo-ahn dan Mi-yeon menunggu di dalam mobil.

"Lama sekali dia," ucap Joo-ahn.
"Iya ya, padahal cuma mau beli sesuatu," jawab Mi-yeon.

Karena Ji-hyun belum muncul juga, Joo-ahn meminta Mi-yeon untuk masuk dan mencari Ji-hyun dimdalam minimarket itu.

"Permisi, apakah tadi ada seorang wanita muda berambut panjang memakai pakaian berwarna pink dengan rok hitam selutut?" tanya Mi-yeon.
"Tidak ada, hanya ada seorang pria yang membayar di kasir," jawab petugas kasir minimarket.

Mi-yeon kembali masuk ke dalam mobil perusahaan. "Ketua, bagaimana ini? Kata petugas kasir, tidak ada wanita yang masuk ke dalam minimarket," ucap Mi-yeon.
"Apa katamu? Bagaimana bisa Ji-hyun hilang?" Astaga, dia juga membawa flash disk yang berisi dokumen," ucap Joo-ahn.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mi-yeon.
"Sebentar," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn membuka laptop milik Ji-hyun dan mencoba mencari dokumen yang dibawa Ji-hyun. Untung saja Ji-hyun lupa mengeluarkan emailnya dari sebuah aplikasi, sehingga masih ada simpanan benerapa dokumen yang dibutuhkan hari ini.

"Mi-yeon, tolong periksa CCTV minimarket san CCTV toko sebelah. Aku akan pergi sendirian ke beberapa toko. Nanti aku kembali kesini pasa waktu istirahat makan siang," ucap Joo-ahn.
"Kenapa kita tidak memeriksa black box mobil ini?" tanya Mi-yeon.
"Black boxnya rusak, belum diganti yang baru," jawab Joo-ahn.
"Baiklah, ketua pergi saja dulu," ucap Mi-yeon.
"Kabari aku kalau ada sesuatu," ucap Joo-ahn.

Mi-yeon masuk ke dalam minimarket dan ingin memeriksa CCTV yang ada di dalam minimarket itu. "Permisi," ucap Mi-yeon.
"Ah, kamu lagi. Ada apa?" tanya petugas kasir.
"Boleh aku lihat CCTV disini? Aku masih mencari temanku?" tanya Mi-yeon.

Petugas kasir mengambil memori dari alat CCTV dan membukanya di komputer yang ada di meja kasir. Kira-kira 25 menit yang lalu ada seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi masuk ke dalam minimarket dan membeli minuman. Gelagat pria itu mencurigakan.

"Ah, sayang sekali pria itu memakai kaca mata hitam," ucap Mi-yeon.
"Kamu bisa mendapatkan namanya melaluindata kartu yang dipakai untuk membayar minuman di kasir," ucap petugas kasir.
"Coba tunjukan nama orang itu padaku," ucap Mi-yeon.
"Ah, dia bukan membayar memakai kartu kredit atau kartu anggota minimarket," ucap petugas kasir setelah mengecek data di komputer.
"Dae-mul, apakah kamu melihat mobil hitam yang parkir di depan minimarket?" tanya petugas di toko sebelah minimarket.
"Tidak. Kenapa?" tanya petugas kasir.
"Pria yang mengendarai mobil itu membawa seorang wanita muda dan membawanya kabur. Aku melihatnya sendiri tadi. Dia menyerer wanit itu seperti ingin menculiknya," ucap petugas toko sebelah.
"Apakah wanita yang diculik berwajah seperti ini?" tanya Mi-yeon sambil menunjukan foto Ji-hyun.
"Ah iya, dia orangnya!" ucap petugas toko sebelah.
"Dia teman kerjaku," ucap Mi-yeon.
"Apakah kamu tidak ingin melapor kepada polisi?" tanya petugas kasir.
"Iya, aku akan pergi ke kantor polisi untuk melapor. Terima kasih bantuannya ya," ucap Mi-yeon.

***

"Ji-hyun diculik oleh seorang pria yang tidak dikenalinya karena pria itu berusaha menutupi wajahnya dengan topi dan kaca mata hitam. Ji-hyun juga tidak tahu kenapa dia bisa diculik seperti ini dan dibawa menuju tempat yang jauh.

"Suwon?" ucap Ji-hyun kaget saat membaca papan penunjuk jalan yang dibacanya.
"Apakah kamu adalah orang yang pernah menculik aku delapan tahun yang lalu?" tanya Ji-hyun.
"Selama bertemu kembali, Ji-hyun!" ucap pria yang sedang menyetir itu.
"Kenapa kamu menculik aku lagi setelah delalan tahun berlalu?" tanya Ji-hyun.
"Aku memang membenci keuargamu. Aku membenci ayahmu yang merebut Il-hwa dariku. Il-hwa sampai membatalkan pernikahannya karena ingin menikah dengan ayahmu. Aku belum puas untuk bersama Il-hwa pada beberapa malam. Aku berusaha untuk mendapatkannya, tetapi selalu saja ayahmu berhasil memergokiku membawa Il-hwa ke suatu tempat. Bisnis yang aku bangun dengan ayahmu tidak berjalan dengan baik dan dia meninggalkanku tanpa menolongku kembali. Itu yang membuatku sangat marah dan belum puas untuk menghabiskanmu, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa yang aku dengar," ucap pria itu.
"Apakah kamu sangat marah kepada ayahku dan menggunakanku sebagai gantinya?" tanya Ji-hyun.
"Kalau saja ayahmu tidak memergokiku malam itu, tentu saja aku sudah berhasil mendapatkan Il-hwa yang sedang mabuk dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya. Aku sudah pernah menyuruh ayahmu untuk menyerahkan Il-hwa kepadaku sebagai rasa bersalahnya karena membuat bisnis kami berantakan," ucap penculik itu.

Ji-hyun masih terikat di dalam mobil yan dikendarai oleh orang yang membenci ayahnya. Ji-hyun tidak dapat berbuat apa-apa, sebab ponsel miliknya disita oleh pria itu dan dimatikan. Pria itu juga membuang kartu sim milik Ji-hyun sbelum pergi ke Suwon.

***

Mi-yeon pergi ke tempat kerja Lee In-ho untuk memberi tahu mengenai penculikan Lee Ji-hyun. In-ho kaget mendengar kabar itu karena In-ho pikir, penculik itu tidak perna muncul lagi.

"Apa?" tanya In-ho kaget.
"Iya, dia dibawa oleh seorang laki-laki. Seorang petugas toko melihatnya sendiri dan aku sudah memeriksa black box dari sebuah mobil yang diparkir di sebelah mobil perusahaan," ucap Mi-yeon.
"Ayo kita pergi ke kantor polisi!" ucap In-ho.
"Tidak perlu, aku baru saja dari sana. Seroang detektif yang bekerja di sana membongkar beberapa dokumen yang dulu digunakan untuk menginvestigasi pria itu dan detektif itu sudah memebri tahu plat mobil milik pria itu, foto mobil pria itu, foto pria itu, dan beberapa hal lainnya," ucap Mi-yeon.
"Aku harus mendapatkan pria itu sebelum terlambat. Aku rasa, pria itu yang menabrak ayahku satu tahun yang lalu," ucap In-ho.

Tidak lama setelah Mi-yeon berbicara dengan In-ho, Joo-ahn tiba di kantor tempat In-ho bekerja. Joo-ahn nampak lelah karena berlari dan menyetir dengan kencang.

"Sunbae," ucap Joo-ahn panik.
"Tenang dulu. Lebih baik kita makan sang dulu di kantin," ucap In-ho.
"Aku tidak mau makan kalau belum tenang," ucap Joo-ahn.
"Ketua, jangan melewatkan makan siangmu," ucap Mi-yeon.

***

"Menurut keterangan dari detektif Park, pria itu berasal dari kota Suwon," ucap Mi-yeon.
"Aku harus berangkat ke Suwon. Tolong sampaikan kabar kepada manajer Jang," ucap Joo-ahn sambil membereskan meja kerjanya.
"Apakah ketua tidak menunggu kabar dari polisi saja?" tanya Mi-yeon.
"Aku harus bisa menemukannya juga," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, hati-hati ya!" ucap Mi-yeon.

Joo-ahn pulang ke rumahnya, lalu meletakan tas kerjanya. Setelah itu dia mengganti baju yang dipakainya dan mengambil kunci mobil milik ayahnya.

"Ayah, ada yang harus aku cari di luar kota. Aku pergi dulu ya!" ucap Joo-ahn.
"Malam-malam begini? Hati-hati ya!" ucap ayahnya.
"Oppa, semoga berhasil!" ucap Min-ji.
"Aku pergi dulu!" ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mengendarai mobil menuju kota Suwon. Joo-ahn mencoba mendatangi alamat tempat tinggal penculik itu yang diberi tahu oleh detektif.

"Ah sial! Tempatnya sudah dijual," ucap Joo-ahn sambil memukul stir mobil.

"Joo-ahn, aku punya teman yang tinggal di kota Suwon. Dia bilang, dia melihat mobil hitam milik penculik itu di dekat stasiun Suwon. Sepertinya ada pria itu masuk ke dalam daerah perumahan dekat stasiun," ucap In-ho saat menelepon Joo-ahn.
"Sunbae ada di mana sekarang?" tanya Joo-ahn.
"Aku baru saja mau menyalakan mobil dan menuju kesana," ucap In-ho.
"Baiklah, aku sudah sampai di kota Suwon," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mematikan mesin mobilnya dan langsung masuk ke sebuah rumah tua tempat mobil penculik itu terparkir. Ternyata, mobil itu sengaja di parkir di depan sebuah rumah untuk mengecoh siapapun yang mencari penculik itu. Penculik itu pergi menggunakan mobil lain yang belum pernah diketahui oleh polisi.

"Ji-hyun!" teriak Joo-ahn saat mengetahui kalau Ji-hyun tidak berada di dalam rumah itu.

Joo-ahn mengambil semua dokumen yang bertuliskan alamat apapun di kota Suwon. Joo-ahn berencana untuk mengunjungi satu per satu alamat yang mungkin menjadi tempat terakhir bagi penculik itu untuk meletakan Ji-hyun.

***

"Kedua orang tuaku sudah meninggal, kenapa kamu masih mengincarku? Kenapa kamu tidak mengincar orang lain saja?" tanya Ji-hyun saat duduk di atas sebuah kursi dan terikat.

"Kamu bodoh atau apa? Mana mungkin aku mengincar kakakmu? Dia kan laki-laki. Lagi pula, delapan tahun yang lalu kamu masih kecil. Aku tidak suka anak kecil berseragam sekolah. Karena kamu sudah dewasa, aku ingin memilikimu saja," ucap penculik itu.
"Apa maksudmu? Yaampun! Aku ini bukan wanta yang bisa kamu pakai seenaknya saja! Aku masih punya harga diri!" ucap Ji-hyun.
"Apa perlu aku telepon pacarmu? Pacarmu dan aku sudah saling kenal karena dulu kami tetangga," ucap penculik itu.
"Tidak bisa! Dia sedang berada di Jepang," ucap Ji-hyun.
"Sekarang, kamu pilih salah satu. Apakah kamu ingin aku mengejar pacarmu saja dan menghabisinya di Jepang atau kamu menyerahkan dirimu untuk bermalam bersamaku dan menemaniku terus? Pilih salah satu!" ucap penculik itu sambil memandang Ji-hyun.
"Kenapa kamu mengaitkn masalah ini kepada pacarku? Apakah dia membuatmu kesal juga?" tanya Ji-hyun.
"Apakah kalian akan menikah? Kalau kalian akan menikah, aku tidak bisa mendapatkanmu lagi. Jadi, sebelum aku terlambat lagi, aku ingin memilikimu sebagai pengganti ibumu yang gagal aku miliki," ucap penculik itu.
"Lepasakan aku!" teriak Ji-hyun.
"Silahkan kamu pilih saja! Aku tidak akan menggunakanmu malam ini. Kita bisa membiasakan diri untuk hidup bersama dulu sebelum aku memakaimu," ucap penculik itu.
"Aku... aku akan memilih untuk menyerahkan dirimu dari pada kamu menghabisi pacarku di Jepang," ucap Ji-hyun.
"Apakaha kamu serius dengan kata-katmu itu?" tanya penculik sambil berdiri menatap jendela.
"Aku tidak ingin dia dihabisi di Jepang karena ini bukan malahnya, melainkan masalah keluargaku sendiri. Demi menggantikan ibuku, aku akan menyerahkan diriku," ucap Ji-yun.
"Bagus nona Lee!" ucap penculik itu.

"Ji-hyun!" ucap seseroang yang berteriak di depan rumah kecil tempat Ji-hyun diculik.

BERSAMBUNG....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #5

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Ji-hyun, tolong periksa ulang dokumen yang kamu kirimkan ke email-ku. Ada kesalahan dalam menghitung biaya pemasaran produk untuk bulan depan," ucap Joo-ahn.
"Benarkah? Baiklah ketua, akan aku perbaiki," ucap Ji-hyun.
"Oiya, setelah jam kerja hari ini, ikutlah sebentar denganku. Ada yang ingin aku beri tahu kepadamu," ucap Joo-ahn.
"Apa itu? Apakah kamu ingin membohongiku lagi?" tanya Ji-hyun.
"Kali ini aku serius," ucap Joo-ahn.
"Oke," jawab Ji-hyun.
"Ji-hyun, tolong panggilkan Mi-yeon," ucap Joo-ahn.
"Oke," jawab Ji-hyun.

Joo-ahn masih memeriksa beberapa dokumen yang dikerjakan oleh tim marketing. Sebagai ketua tim marketing, Joo-ahn harus bisa bekerja dengan teliti dan membimbing semua anggota tim karena misa dari sebuah tim adalah bekerja bersama, bukan bos dan anak buah.

"Ketua, ada apa memanggilku ke mejamu?" tanya Mi-yeon.
"Bisakah kamu diskusi dengan tim desain produk? Tolong minta foto terbaru produk tas unuk musim dingin karena kita harus mengirim proposal ke banyak toko," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, aku akan pergi ke lantai bawah," ucap Mi-yeon.
"Mi-yeon," ucap Joo-ahn.
"Ya?" tanya Mi-yeon.
"Bolehkah aku minta tolong satu hal lagi?" tanya Joo-ahn.
"Ada apa?" tanya Mi-yeon.

Setelah Joo-ahn selesai memanggil semua anggota tim marketing, Joo-ahn memberi laporan kepada manajer bidang marketing. Setelah marketing menyetujui hasil kerja tim marketing, Joo-ahn bisa menikmati istirahat makan siang dengan tenang.

***

Hari ini kantin terlihat tidak seramai biasanya. Koki yang bekerja di kantin perusahaan memasak makanan yang terlalu umum dan membosankan hari ini.

Joo-ahn makan di kanton sendirian. Di meja lain ada karyawan bagian lain yang sedang makan. Karyawan baru yang tidak dikenalnya karena bekerja pada bagian lain yang jarang ditemuinya.

Sesekali Joo-ahn melirik jam tangan yang dipakainya. Joo-ahn berpikir apakah pada waktu yang singkat ini semua anggota tim marketing sudah mengambil jam istirahat dan makan siang. Joo-ahn pernah bilang kepada karyawannya kalau tidak baik terlalu keras bekerja, apalagi kalau sampai mengorbankan waktu makan siang mereka.

"Joo-ahn?" sapa manajer Jang.
"Manajer sudah makan?" tanya Joo-ahn.
"Baru saja kembali dari luar abis makan. Aku abis bertemu dengan teman lamaku sambil makan siang. Aku cuma mau beli minum di kantin," ucap manajer.
"Di atas ada siapa?" tanya Joo-ahn.
"Barusan aku meletakan barangku di atas meja dan aku hanya melihat Ji-hyun saja. Hanya dia yang belum turun untuk makan siang," ucap manajer.
"Oh," jawab Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku naik ke atas dulu ya!" ucap manajer.

Joo-ahn melanjutkan makan siangnya. Joo-ahn berpikir apakah Ji-hyun sudah makan siang atau belum. Joo-ahn ingin membawakan makan siang ke atas, tetapi Joo-ahn takut Ji-hyun sudah memesan makanan atau membawa makanan.

"Ah, pasti dia beli makan siang kok," ucap Joo-ahn.

***

"Joo-ahn, kita mau pergi kemana?" tanya Ji-hyun saat berdiri di dalam kereta bawah tanah.
"Aku ingin membelikan sesuatu untukmu. Aku ingin kamu ikut ke acara reuni sekolah akhir pekan ini. Kamu harus memakai pakaian yang bagus. Aku perhatikan selama seminggu lebih ini, bajumu itu-itu saja," ucap Joo-ahn.
"Yaampun, aku bisa kok pergi mencari baju sendiri. Lagi pula, apakah aku harus datang ke acara reuni sekolah kita?" ucap Ji-hyun.
"Kenapa tidak mau datang?" tanya Joo-ahn.
"Aku kan tidak banyak teman disana. Jumlah temanku bisa dihitung dengan jari," ucap Ji-hyun.
"Hahaha... jelas saja. Kamu dulu pemalu," ucap Joo-ahn.
"Lho, kok malah menertawakanku?" tanya Ji-hyun.

Setelah kereta bawah tanah sudah sampai di stasiun kereta yang dituju oleh Joo-ahn dan Ji-hyun, mereka berdua turun dan Joo-ahn membawa Ji-hyun ke salah satu toko baju langganan Min-ji.

"Aku tidak tahu apakah ini adalah style-mu atau bukan. Aku hanya ingin kamu memilih baju yang nyaman untukmu nanti. Pilih saja, nanti aku bayar," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku bisa bayar bajunya kok," ucap Ji-hyun.
"Sudahlah, simpan saja uangmu. Kamu kan masih perlu membayar biaya air, listrik, dan biaya lainnya. Kalau aku masih punya kedua orang tua lengkap yang mengurusi rumah," ucap Joo-ahn.
"Tapi, adikmu ada dua orang kan?" tanya Ji-hyun.
"Sudahlah, kamu pilih saja," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun mengambil beberapa gaun selutut yang disukainya. Setelah memilihnya, Ji-hyun menunjukan seleranya kepada Joo-ahn.

"Hmm... coba pilih yang lebih bagus lagi," ucap Joo-ahn.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Ji-hyun.
"Aku rasa, lebih bagus yang hitam atau yang biru tua itu," ucap Joo-ahn.
"Aku kurang suka warna biru. Aku coba yang hitam saja," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun mengambil gaun selutut berwarna hitam itu dan mencobanya. Setelah Joo-ahn melihatnya, Joo-ahn menyetujui gaun itu lalu pergi ke kasir untuk membayar.

"Terima kasih," ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, kenapa nada bicaramu seperti orang lesu begitu? Dari tadi kamu tidak bersemangat sekali," ucap Joo-ahn.
"Aku sedang malas makan. Rasanya kurang enak badan. Aku hanya membawa roti saja tadi," ucap Ji-hyun.
"Apa? Jadi, kamu belum makan siang? Kenapa tidak makan? Bagaimana kalau kamu sakit?" tanya Joo-ahn kesal.
"Kenapa kamu marah-marah begitu? Kenapa kamu mempedulikan aku seperti ini? Aku ingin kita seperti teman biasa saja," ucap Ji-hyun.
"Memangnya aku tidak boleh memperlakukan temanku seperti ini?" tanya Joo-ahn.
"Bukan begitu maksudku," ucap Ji-hyun.

Setelah mereka keluar dari dalam toko baju, Joo-ahn masuk ke dalam sebuah toko penjual makanan ringan dan cepat saji. Joo-ahn meminta Ji-hun setidaknya untuk makan sekali walaupun sedang tidak enak badan.

"Kalau kamu tidak enak badan, besok dirumah saja," ucap Joo-ahn.
"Bukankah besok aku harus kerja?" tanya Ji-hyun.
"Sudah, dirumah saja! Jangan bandel. Nanti kalau pingsan atau kecapean bagaimana?" tanya Joo-ahn.
"Kamu masih sama saja ya, selalu marah kalau aku sedang sakit," ucap Ji-hyun.
"Ya, itu karena aku peduli padamu," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, apakah aku terima saja lamaran Sang-ho? Aku rasa, dialah jalan takdirku. Dia masih mencintaiku katanya," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn hanya melanjutkan makan malamnya tampa menjawab. Ji-hyun jadi bingung dan menatap Joo-ahn dengan tatapan bingung. Joo-ahn hanya meneruskan makan malamnya karena dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ji-hyun.

"Joo-ahn, kok diam saja?" tanya Ji-hyun.
"Ya, lakukan saja apapun yang kamu inginkan. Yang penting kamu bahagia," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun semakin bingung. Pria yang sedang makan bersamanya mendukung dirinya untuk menikah dengan orang lain, apalagi dengan Sang-ho. Ji-hyun akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Joo-ahn sudah melepaskannya.

***

Hari ini adalah hari diadakannya acara reuni sekolah menengah atas tempat Ji-hyun, Joo-ahn, dan Sang-ho bersekolah dulu. Mareka bertiga bertemu kembali bersama teman-teman lama mereka yang bisa hadir.

"Sang-ho, apa kabar?" tanya Kwon Geun-shin.
"Aku baik-baik saja," jawab Sang-ho.
"Wah, kamu datang dengan siapa?" tanya Geun-shin.
"Kemu tidak kenal? Dia adalah Lee Ji-hyun, teman kita dulu. Ya, dia memang tidak sekelas dengan kita," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun yang pendiam itu? Wow, dia cantik banget lho sekarang, membuatku ingin menjadikannya pacarku," ucap Geun-shin.
"Tidak bisa! Dia sudah jadi milikku. Dia pacarku," ucap Sang-ho.
"Apa katamu? Kalian pacaran? Kenapa kamu mendahuluiku? Sejak kapan?" tanya Gun-shin.
"Sejak kemarin. Ji-hyun, kemari!" ucap Sang-ho.
"Ji-hyun berjalan menuju tempat Sang-ho berbicara dengan temannya. "Ada apa?"
"Ini Geun-shin, teman dekatku sewaktu dulu," ucap Sang-ho.
"Halo," ucap Ji-hyun.
"Sang-ho beruntung ya bisa memilikimu," ucap Geun-shin.
"Sang-ho, siapa wanita ini?" tanya Bum-so.
"Ini Ji-hyun, teman satu sekolah kita," ucap Sang-ho.
"Apa? Ini Ji-hyun pacarnya Joo-ahn ya?" tanya Bum-so.
"Sekarang, dia adalah pacarku," ucap Sang-ho.
"Apa kabar? Kamu cantik sekali," ucap Bum-so.
"Maaf, aku tidak kenal kalian berdua," ucap Ji-hyun.
"Tentu saja kamu tidak mengenal kita berdua karena kamu berada di kelas 2-1 dan 3-1 kan? Kami bertiga berada di kelas 2-3 dan 3-3, tidak sepertimu yang berada di kelas unggulan," ucap Bum-so.
"Jadi, kalain akan menikah?" goda Geun-shin.
"Kami belum memikirkan tanggal pernikahan dan persiapannya. Bagaimana menurutmu, Ji-hyun?" tanya Sang-ho.
"Ha?" tanya Ji-hyun kaget.
"Kalau kalian jadi menikah, jangan lupa untuk undang kami!" ucap Bum-so.
"Iya," jawab Sang-ho.

Joo-ahn berjalan sendirian untuk mencari sosok Ji-hyun. Teman dekatnya tidak dapat hadir dalam acara reuni kali ini, sehingga Joo-ahn tidak ada teman bicara. Kebanyakan tamu yang datang adalah murid dari angkatan yang berbeda dengan dirinya.

"Hahaha, kalian sudah sejak kapan dekat?" tanya Geun-shin.
"Kami teman dari sekolah dasar. Ayahku kenal dengan ayah dia," ucap Ji-hyun.
"Benarkah? Aku pikir, hubungan antara teman yang dusah dikenal sejak kecil hanya ada di drama saja," ucap Geun-shin.
"Tentu saja tidak! Kami adalah bukti nyatanya," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun, kamu kemana saja?" tanya Joo-ahn saat menemukan sosok Ji-hyun.

Joo-ahn kaget melihat sosok Ji-hyun malam ini. Joo-ahn bukan kaget karena Ji-hyun memakai gaun yang dibelikannya dan terlihat cantik, tetapi yang membuat Joo-ahn menjadi kaget adalah keberadaan Ji-hyun disamping Sang-ho dan teman dekat Sang-ho. Terlebih, Sang-ho merangkul Ji-hyun dari tadi.

"Joo-ahn," ucap Ji-hyun kaget.
"Aku mencarimu dari tadi," ucap Joo-ahn.
"Hei, untuk apa kamu mencari sesuatu yang bukan milikmu lagi?" tanya Sang-ho.
"Apa katamu?" tanya Joo-ahn kesal.
"Dia milikku sekarang," ucap Sang-ho.
"Kalian berhubungan lagi?" tanya Joo-ahn.
"Iya," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun, kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Joo-ahn.
"Memangnya dia siapa harus memberi kabar padamu tentang semua hal?" tanya Sang-ho.
"Apakah kamu berusaha untuk merahasiakannya dariku? Atau kamu melarang dia untuk menceritakan kepada orang lain?" tanya Joo-ahn.
"Aku ini sudah mengenal Ji-hyun sejak kecil. Aku lebih tahu tentangnya dari pada kamu. Aku lebih mengerti dia dari pada kamu. Bukankah dia sudah menolak permintaan maafmu delapan tahun yang lalu? Kenapa kamu masih mencarinya?" tanya Sang-ho.
"Bum-so, aku rasa mereka sudah bertengkar," ucap Geun-shin.
"Iya, lebih baik kita mengambil makanan saja," ucap Bum-so.
"Hei, kenapa kalian berdua berantem?" tanya Ji-hyun.
"Joo-ahn, tolong jauhi Ji-hyun!" ucap Sang-ho.
"Joo-ahn, maafkan aku," ucap Ji-hyun.
"Oke, lakukan saja sesukamu! Tapi, kalau kamu membuat hati Ji-hyun terluka, aku tidak akan tinggal diam. Aku teman dekatnya," ucap Joo-ahn.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #4

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Sampai kapanpun, kamu adalah atasanku. Tidak lebih dari itu," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn masih mengingat perkataan yang diberikan oleh Ji-hyun semalam. Berkali-kali Joo-ahn meyakinkan dirinya sendiri apakah benar Ji-hyun berkata seperti itu kepadanya.

"Ah, aku rasa bumerang sudah kembali kepadaku," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn menatap adik laki-lakinya yang sedang berbaring di atas kasur adiknya. Joo-ahn mengecek jam pada layar ponselnya, lalu memanggil adiknya itu.

"Tae-hwan, ayo kita jalan-jalan!" ucap Joo-ahn.
"Jalan-jalan? Tumben sekali hyung mengajak jalan-jalan," ucap Tae-hwan.
"Aku sedang banyak pikiran. Aku rasa, aku perlu jalan-jalan sebentar," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, ayo kita pergi!" ucap Tae-hwan.

Setelah ganti baju dan bersiap, Tae-hwan dam Joo-ahn berjalan ke garasi untuk naik mobil. Joo-ahn sudah memegang kunci mobil milik ayahnya dan pintu mobil sudah dibuka.

"Oppa, mau pergi kemana? Aku ikut ya?" tanya Min-ji.
"Ini acara laki-laki," ucap Tae-hwan.
"Oppa," bujuk Min-ji.
"Kamu dirumah saja!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, kenapa kamu dan Min-ji selalu adu mulut begitu? Ayo Min-ji," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mengendarai mobilnya mengelilingi beberapa daerah di Seoul. Joo-ahn juga membawa pakaian renang karena Joo-ahn ingin berenang nanti sore.

"Kita mau kemana?" tanya Tae-hwan.
"Mmm, jam makan siang sudah hampir tiba. Bagaimana kalau kita mencari makanan di sepanjang jalan? Aku bosan makan makanan restoran cepat saji," ucap Joo-ahn.
"Ayo!" ucap Min-ji.

Ketika saudara itu pergi menuju daerah yang banyak penjual makanan pinggir jalan. Joo-ahn sudah lama tidak membali jajanan di pinggir jalan karena sibuk bekerja dan sering makan di kantin perusahaan. Hanya Tae-hwan yang sering membeli jajanan seperti itu karena dia sering melewati penjual jajanan saat jalan pulang ke rumah.

"Ah, musim gugur telah tiba!" ucap Min-ji.
"Iya, daun sudah berguguran," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn berdiri di depan wanita penjual hotteok, pancake ala korea. Seorang wanita juga sedang berdiri untuk membeli hotteok.

"Ketua Kim?" sapa seseorang.
"Kamu?" ucap Joo-ahn kaget.
"Ketua suka makan hotteok disini juga?" tanya Ji-hyun.
"Aku jarang sekali membeli hotteok di sini," jawab Joo-ahn.
"Ketua, aku pergi dulu ya," ucap Ji-hyun.
"Tunggu! Temani aku makan hotteok," ucap Joo-ahn.
"Maaf, aku tidak bisa ketua. Aku sudah ditunggu oleh orang lain," ucap Ji-hyun.
"Siapa? Oiya, bukankah aku sudah memintamu untuk jangan memanggilku dengan sebutan ketua kalau di luar urusan kerja?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, aku pergi dulu ya," ucap Ji-hyun.

Sementara Joo-ahn sedang duduk di kedai penjual hotteok,  Tae-hwan dan Min-ji duduk di kedai penjual tteokbokki.

"Oppa, bukankah itu Ji-hyun eonni?" tanya Min-ji.
"Mana? Oh iya, kamu benar! Tapi, dia sedang jalan dengan seseorang. Rasanya, aku pernah mengenal pria itu," ucap Tae-hwan.
"Siapa dia?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, orang yang bekerja di sebuah restoran kecil. Waktu aku ada tugas kuliah, aku meninjau dua restoran, salah satunya restoran tempat orang itu bekerja," ucap Tae-hwan.
"Benarkah? Apakah dia pemilik restorannya?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, dia adalah keponakan dari pemilik restoran. Pemilik restoran tidak mempunyai anak karena tidak menikah," ucap Tae-hwan.
"Ji-hyun eonni beruntung sekali," ucap Min-ji.
"Min-ji, bukankah kita harus mendekatkan kembali kakak kita dengan dia?" tanya Tae-hwan.
"Untuk apa? Bukankah oppa sudah membenci dia?" tanya Min-ji.
"Ya, kita lihat saja apa yang akan terjadi di kemudian hari. Aku punya feeling kalau mereka akan kembali lagi," ucap Tae-hwan.

***

Sore ini membosankan sekali. Joo-ahn pergi ke kolam renang sendiri. Kedua adiknya pergi menonton pertandingan tenis di lapangan tenis yang berada dalam satu area dengan kolam renang tempat Joo-ahn berada. Joo-ahn membuka daftar nomor telepon dan mengirim pesan kepada beberapa orang yang menurutnya cocok untuk menemaninya berenang sore ini.

Karena beberapa teman yang dihubunginya tidak bisa datang, akhirnya Joo-ahn mengirim pesan kepada Ji-hyun saja. Joo-ahn sudah tidak tahu ingin menghubungi siapa lagi.

"Joo-ahn, ada apa memintaku untuk datang kesini?" tanya Ji-hyun begitu tiba di pinggir kolam renang.
"Kamu masih belum paham? Tentu saja kita akan berenang disini," ucap Joo-ahn.
"Apa? Kamu bilang, ada yang ingin kamu diskusikan. Tapi anehnya, kamu juga memintaku untuk membawa pakaian berenangku," ucap Ji-hyun.
"Kalau aku tidak mengatakan bahwa ada yang harus didiskusikan setelah berenang, kamu tidak akan mau datang kemari kan?" tanya Joo-ahn.
"Jadi begini caramu untuk mendapatkanku lagi?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, mau pergi kemana? Karena kamu sudah membawa pakaian berenangmu, ikutlah berenang bersamaku," ucap Joo-ahn.
"Ketua, maksudku Joo-ahn, kamu kan tahu kalau aku takut kolam renang yang dalam," ucap Ji-hyun.
"Hari ini kamu aman bersamaku," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn yang sudah berada di dalam kolam renang, memegang salah satu lengan Ji-hyun yang sedang duduk di pinggir kolam renang dan menarik wanita itu ke dalam kolam renang. Wanita itu berteriak dihadapannya.

"Aaaa Joo-ahn! Lepaskan! Aaaa..." ucap Ji-hyun.
"Sudahlah, tenang saja! Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berenang," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn memegang tubuh Ji-hyun saat Ji-hyun mencoba untuk berenang. Ji-hyun mencoba gaya dasar, yaitu gaya dada. Joo-ahn membimbingnya perlahan.

"Kamu masih trauma?" tanya Joo-ahn.
"Iya, aku takut sekali. Ibuku meninggal karena terbawa arus pantai dan aku dari kecil jarang pergi berenang. Itu alasannya," jawab Ji-hyun.
"Aku sudah tahu alasanmu itu," ucap Joo-ahn.

Sudah setengah jam Ji-hyun belajar berenang bersama dengan Joo-ahn sampai akhirnya wanita itu merasa lelah. Akhirnya, Joo-ahn memperbolehkan Ji-hyun untuk duduk di pinggir kolam renang dan Joo-ahn kembali berenang sendirian.

Ji-hyun memandang kolam renang. Banyak anak-anak yang sedang bermain air di kolam renang anak-anak. Ada juga anak-anak yang sedang bermain bola di dalam kolam. Rasanya seru sekali.

"Hei, kok bengong?" tanya Joo-ahn saat berhenti sejenak di hadapan Ji-hyun.
"Rasanya seru sekali bisa bermain di kolam renang seperti anak-anak itu," ucap Ji-hyun.
"Setiap hari minggu kamu harus belajar berenang bersamaku," ucap Joo-ahn.
"Untuk apa?" tanya Ji-hyun.
"Supaya kamu tidak takut berenang lagi!" ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku jadi tidak enak padamu. Kamu mau mengajariku berenang," ucap Ji-hyun.
"Kalau kamu merasa tidak enak, sekali-sekali traktir aku makan," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn kembali berenang dengan gaya bebas andalannya. Saat berenang, dia teringat akan masa lalunya yang menyenangkan di hari Minggu sore, yaitu saat dia dan Ji-hyun pergi ke kolam renang.

FLASHBACK

"Ji-hyun, kenapa kamu tidak masuk ke dalam kolam renang? Kenapa kamu hanya duduk-duduk saja sambil membasahi kedua kakimu?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, aku tidak bisa berenang dan aku takut. Kamu saja yang berenang," ucap Ji-hyun.
"Kamu mau aku ajari caranya berenang?" tanya Joo-ahn.
"Lain kali saja kalau aku sudah siap," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun duduk di pinggir kolam renang sambil memercikan air kolam renang setiap Joo-ahn berada di hadapannya. Sesekali, Joo-ahn membalas percikan air itu dan membuat wajah dan rambut Ji-hyun menjadi basah.

Setelah memberi percikan air, Joo-ahn menarik lengan Ji-hyun secara spontan dan ingin memastikan apakah benar Ji-hyun takut dengan kolam renang. Ji-hyun langsung terbawa ke dalam kolam renang itu.

"Lepaskan! Joo-ahn!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun! Ternyata kamu memang tidak bisa berenang ya? Aku pikir kamu hanya berpura-pura tidak bisa berenang," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, keluarkan aku dari kolam ini. Uhuk! Joo-ahn, aku tidak bisa bernafas," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn panik dan langsung meraih lengan Ji-hyun. Setelah itu, Joo-an menggotong tubuh kurus Ji-hyun dan membawanya keluar dari kolam renang. Ji-hyun batuk dan air keluar dari dalam mulutnya.

"Mianhae," ucap Joo-ahn.
"Uhuk," ucap Ji-hyun.
"Mianhae," ucap Joo-ahn.
"Kamu tidak tahu kenapa aku takut dengan kolam renang dan air pantai," ucap Ji-hyun.
"Kenapa? Maafkan aku," ucap Joo-ahn.
"Karena... Karena ibuku meninggal akibat terseret arus pantai saat menyelamatkanku. Aku yang lebih dulu terbawa arus air pantai," ucap Ji-hyun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Joo-ahn sambil memeluk wajah Ji-hyun yang terbaring di pinggir kolam renang.
"Aku sudah tidak ada apa-apa," ucap Ji-hyun.

***

"Oppa!" teriak Min-ji saat masuk ke dalam ruang kolam renang.
"Joo-ahn!" teriak Ji-hyun setelah Joo-ahn memberi percikan air kepada Ji-hyun.

Setelah memberi percikan air kepada Ji-hyun, Joo-ahn menyadari kedatangan kedua adiknya. Joo-ahn langsung memberhentikan percikan air dan Ji-hyun langsung melihat ke arah lain. Walaupun begitu, tetap saja kedua adik Joo-ahn akan mengira yang tidak-tidak.

"Hyung?" tanya Tae-hwan.
"Sudah selesai pertandingan tenisnya? Aku mandi dulu ya," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn keluar dari dalam kolam renang, lalu pergi menuju ruang loker untuk mengambil pakaian ganti, lalu disusul oleh Ji-hyun yang juga berjalan ke ruang loker perempuan. Tae-hwan dan Min-ji saling berpandangan satu sama lain karena kaget melihat kakak mereka kembali dekat dengan mantan pacarnya.

"Ji-hyun, aku antar pulang ya?" ucap Joo-ahn setelah keluar dari ruang loker.
"Ah, aku pulang sendiri saja. Terima kasih untuk sore ini," ucap Ji-hyun.
"Ayolah, kita semua mau pergi makan malam. Ikutlah dengan kami, lalu aku antar pulang," ucap Joo-ahn.
"Baiklah kalau kamu menginginkanku untuk ikut," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn dan seisi mobilnya pergi makan malam bersama di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mahal harganya. Tidak ketinggalan, pria itu memsan sebotol soju walau Min-ji tidak boleh untuk meminumnya. Min-ji hanya dipesankan jus saja.

"Kenapa kalian bisa berdua di ruang kolam renang?" tanya Tae-hwan penasaran.
"Dia yang menyuruhku untuk datang. Dia bilang, ada diskusi penting setelah berenang," ucap Ji-hyun.
"Dan aku membohonginya," ucap Joo-ahn.
"Kakak, aku tidak menyangka kalau kakak sudah sejauh ini," ucap Tae-hwan.
"Joo-ahn, aku dilamar oleh Sang-ho sebelum menemuimu tadi," ucap Ji-hyun.
"Apa?" ucap Joo-ahn kaget. Joo-ahn meletakan sumpit yang dipakainya ke atas meja karena kaget.
"Dia melamarku," ucap Ji-hyun.
"Lalu? Kamu sudah menjawabnya?" tanya Joo-ahn.
"Aku belum memberi jawaban karena kamu menyuruhku untuk segera datang. Aku pikir kamu serius ada urusan penting," ucap Ji-hyun.
"Kamu ingin menjawab apa?" tanya Joo-ahn.
"Aku belum tahu," ucap Ji-hyun.

Diam-diam, Joo-ahn merasa sedikit tenang. Joo-ahn tenang karena Ji-hyun belum memberikan jawaban untuk Sang-ho. Joo-ahn masih punya harapan untuk Ji-hyun walau dia tahu bahwa Ji-hyun menolaknya. Joo-ahn belum tahu bagaimana perasaan Ji-hyun yang sesungguhnya.

Sementara itu, Ji-hyun masih ragu karena di satu sisi, Ji-hyun tidak ingin membuat hati Sang-ho menjadi kacau, tetapi, di satu sisi, dia merindukan Joo-ahn. Walaupun Ji-hyun berusaha untuk menjauhakn diri dari Joo-ahn, tetapi selama delapan tahun ini, dia masih merindukan Joo-ahn. Ji-hyun yang sudah pernah berpacaran dengan Sang-ho pun tetap tidak bisa benar-benar terlepas dari Joo-ahn.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #3

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Aku pulang!" ucap Joo-ahn saat membuka pintu rumahnya.

Kdua adik kandung dari Joo-ahn sudah duduk di meja makan bersama ayah mereka. Joo-ahn meletakan sepasang sepatu yang dipakainya tadi di dalam lemari sepatu. Setelah itu, dilemparnya sepasang kaus kaki hitamnya ke dalam keranjang pakaian kotor.

"Kamu terlihat lelah," ucap ayah Joo-ahn.
"Iya," jawab Joo-ahn.
"Yasudah, kamu mandi saja. Kamu bisa makan malam nanti setelah mandi," ucap ayah Joo-ahn.
"Baiklah appa," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn masuk ke dalam kamar mandi di lantai dua rumahnya. Dirinya merasa lelah karena bekerja seharian di kantor. Mandi dapat membuat badanya terasa lebih segar.

Sambil berdiri di bawah shower yang menyala,  Joo-ahn membasahi seluruh bagian tubuhnya. Jo-ahn berbikir kenapa dia bisa bersikap tegas dan sedikit galak terhadap Ji-hyun di hari pertamanya bekerja. Jo-ahn sudah berusaha untuk mengendalikan emosinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Dia tetap saja ingin marah setiap kali melihat wajah Ji-hyun.

Setelah mandi dan memakai pakian, Joo-ahn keluar dari kamar mandi sambil memakai handuk kecil di lehernya. Tae-hwan berpapasan dengannya di depan kamar mandi lantai dua.

"Hyung, tadi teman eomma memberikan kita buah apel yang segar," ucap Tae-hwan.
"Apakah masih ada untukku?" tanya Joo-ahn.
"Tentu saja! Aku tidak mungkin memakan semua apel itu. Hyung kan sangat suka makan apel," ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan," ucap Joo-ahn.
"Ada apa kak?" tanya Tae-hwan.
"Apakah kehidupan perkuliahanmu menyulitkanmu? Kamu terlihat kesulitan setaip hari," ucap Joo-ahn.
"Ah kakak, aku bisa mengatasi semua masalahku sendiri," ucap Tae-hwan.
"Kalau kamu ada kesulitan, seharusnya kamu bisa cerita kepada kakak," ucap Joo-ahn.
"Kakak, aku rasa aku salah memilih tempat kuliah," ucap Tae-hwan.
"Kenapa?" tanya Joo-ahn.
"Aku rasa, aku hanya membuang-buang uang yang ayah berikan dan kakak bantu. Aku memaksakan diriku untuk masuk ke universitas bergengsi dan sekarang aku tidak suka dengan beberapa teman-temanku yang terus menyombongkan apa yang mereka pakai atau mereka bawa. Kata mereka, aku hanya tahu soal belajar. Memang, kita bukan orang kaya seperti mereka," ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, kamu masih memiliki satu tahun sebelum lulus. Lebih baik, gunakan sisa waktumu itu untuk lulus dan mendapatkan gelar dari pada memikirkan hal yang mengganggumu," ucap Joo-ahn.
"Terima kasih kakak atas nasihatmu," ucap Tae-hwan.
"Kakak turun ke dapur dulu ya!" ucap Joo-ahn.
"Oke," jawab Tae-hwan.

***

"Oppa, apakah oppa mau pergi nonton konser bersamaku?" tanya Min-ji sambil menonton tv.
"Konser apa?" tanya Joo-ahn yang duduk sendirian di meja makan depan dapur.
"Konser EXO yang akan diadakan dua minggu lagi," ucap Min-ji.
"Hei, memangnya kamu punya banyak uang? Lagi pula, aku tidak tertarik untuk melihat EXO. Kalau kamu mengajakku untuk menonton konser Girls' Generation, akan akan pertimbangkan," ucap Joo-ahn.
"Tentu saja aku menabung selama beberapa bulan," ucap Min-ji.
"Pergilah dengan temanmu atau ajak saja Tae-hwan," ucap Joo-ahn.
"Oppa, apakah oppa takut akan dikejar-kejar oleh temanku?" tanya Min-ji.
"Bukan itu. Aku memang tidak tertarik saja," ucap Joo-ahn.
"Huh, baiklah," ucap Min-ji.

Setelah selesai makan malam, Joo-ahn seperti biasa menyuci sendiri piring bekas dia gunakan. Setelah itu, dia duduk pada sofa yang sama dengan Min-ji untuk menemani adiknya menonton acara tv kesukaannya.

"Oppa, lucu kan?" tanya Min-ji.
"Apanya yang lucu?" tanya Joo-ahn.
"Jadi, kakak tetap tidak menganggap acara ini lucu ya? Tapi, tadi kakak tertawa," ucap Min-ji.
"Siapa yang tertawa?" tanya Joo-ahn.
"Tuh kan, kakak tertawa lagi," ledek Min-ji.
"Baru kali ini aku menonton acara ini dan merasa lucu," ucap Joo-ahn.
"Dari dulu, acara ini memang sudah lucu. Kakak saja yang tidak ada selera humor," ucap Min-ji.
"Hahaha..." ucap Joo-ahn.
"Oppa, apakah oppa akan menerima kembali Ji-hyun eonni?" tanya Min-ji.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tanya Joo-ahn.
"Ah, aku hanya penasaran saja. Apakah oppa bertemu lagi dengannya di kereta saat pulang?" tanya Min-ji.
"Dia adalah bawahanku yang baru. Dia dipindahkan oleh pimpinan dari kantor cabang ke kantor utama. Kami satu tim. Kenapa kami dipertemukan lagi ya?" ucap Joo-ahn.
"WOW!" ucap Min-ji saat memperhatikan acara Let's Go Dream Team di tv.
"Min-ji, kenapa berteriak seperti itu?" tanya Tae-hwan yang sedang mengisi minum di gelasnya.
"Ini seru sekali oppa!" ucap Min-ji.
"Kakak, kakak sekarang satu perusahaan dengan Ji-hyun eonni?" tanya Tae-hwan.
"Iya," jawab Joo-ahn.
"Oppa, dua minggu lagi temani aku pergi nonton konser EXO ya?" ucap Min-ji.
"Kakak tidak punya banyak uang," ucap Tae-hwan.
"Ah, kakak! Aku iri pada temanku yang sudah punya pacar. Mereka bisa datang bersama. Aku tidak punya pacar, bahkan teman dekat pria saja tidak punya. Ah, terpaksa aku nonton sendiri," keluh Min-ji.
"Lebih baik simpan saja uangmu itu. Nanti kita pergi nonton SM Town Live Tour saja," ucap Joo-ahn.
"Benarkah? Kapan?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, yang tahun ini sudah lewat. Tahun depan kita nonton ya!" ucap Joo-ahn.
"Ah kakak, kenapa lama sekali?" tanya Min-ji.
"Justru lebih bagus kan? Kita bisa menabung untuk harga tiket yang lebih mahal," ucap Joo-ahn.
"Tell me why why why neoman wonhago ittjanha. No bye bye bye keureon seulpeun mareun hajima," ucap Tae-hwan sambil mengambil es batu dari dalam kulkas.
"Oppa, kenapa selalu menyanyikan lagu milik CNBLUE? Lebih keren lagu milik EXO atau Super Junior," ucap Min-ji.
"Biarin saja dia!" ucap Joo-ahn.
"Menurutku, mereka berempat jauh lebih keren dari pada sembilan orang idolamu," ucap Tae-hwan.
"Oppa!" ucap Min-ji.
"Apa? Sudah sana, tidur saja! Sudah jam sebelas malam," ucap Tae-hwan.
"Kakak sendiri kenapa belum tidur juga?" tanya Min-ji.
"Besok kan hari sabtu, hari libur," ucap Tae-hwan.
"Astaga, aku belum meberinya kabar!" ucap Joo-ahn.
"Kabar apa?" tanya Tae-hwan.
"Ji-hyun mengundang beberapa kenalan untuk menghadiri peringatan sembilan tahun ibunya meninggal besok malam. Aku belum menjawab aku akan datang atau tidak," ucap Joo-ahn.

***

Ji-hyun duduk di atas kasurnya sambil memegang ponselnya. Berkali-kali ia melihat layar ponselnya. Tak ada pesan ataupun telepon yang masuk dari pria yang ditunggunya.

"Aku dulu memarahinya di hari terakhir dia datang ke rumah ini. Tapi, kenapa sekarang aku menunggunya?" desah Ji-hyun.

[Kim Joo-ahn]
Ji-hyun, besok malam aku akan datang ke rumahmu. Maaf baru mengirim pesan malam-malam begini.

Ji-hyun membaca pesan itu. Dia tidak menyangka atasannya akan datang besok. Walaupun Joo-ahn akan datang, tetapi Ji-hyun tidak boleh terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Mungkin saja, orang itu datang karena orang itu menghormati rekan kerjanya atau karena dekat dengan kakaknya sewaktu bermain bulutangkis, bukan karena ingin kembali bersama dengan dirinya seperti dulu.

***

"Silahkan masuk!" ucap In-ho, kakak Ji-hyun.

Malam ini, sudah ada beberapa orang yang datang. Ada Mi-yeon dan Joo-hwan sebagai perwakilan dari perusahaan, lalu ada teman dekat In-ho yang bernama Dong-il. Selain itu, Sang-ho juga datang ke rumah Ji-hyun.

Ji-hyun dan In-ho berlutut di depan foto ibunya yang diberi beberapa karangan bunga di samping foto ibunya. Mereka menghormati sosok ibunya dengan tradisi orang korea. Berbeda dengan tradisi dari negara lain yang menghormati sosok orang yang sudah meninggal dengan pergi ke Gereja atau tempat lainnya.

Setelah kakak beradik itu menghormati foto ibunya, mereka menata meja makan dengan lauk-lauk yang dibeli oleh In-ho tadi sore. Para tamu makan malam bersama sebelum pulang.

"Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Mi-yeon.
"Mashita!" ucap In-ho.
"Oppa, apakah malam ini oppa akan menginap di rumah kami?" tanya Ji-hyun.
"Iya, sudah lama aku tidak menginap ya," ucap Dong-il.
"Ji-hyun, siapa pria itu?" tanya In-ho.
"Dia? Dia adalah Nam Sang-ho. Oppa sudah lupa?" tanya Ji-hyun.
"Sang-ho? Sang-ho mantan pacarmu itu? Wah, aku sampai tidak mengenali wajahnya lagi," ucap In-ho.
"Apa? Dia mantan pacarmu juga?" bisik Mi-yeon di depan telinga Ji-hyun.
"Dia adalah pacarku sewaktu aku kuliah," bisik Ji-hyun.
"Apa kabar kakak?" ucap Sang-ho sambil membungkukan badannya.
"Ayo diambil makanannya!" ucap In-ho.
"Terima kasih," jawab Sang-ho.

Lee In-ho tidak tahu kalau Joo-ahn dan Ji-hyun pernah menjalin hubungan selama satu tahun. Yang In-ho tahu hanyalah ayahnya tidak ingin Ji-hyun punya pacar selain Sang-ho, kecuali mereka sudah putus setelah mencoba pacaran.

Dulu, semasa kuliah, In-ho memang sering pergi ke perpustakaan atau kerja kelompok atau bermain bulu tangkis, sehingga dia tidak terlalu tahu soal masalah keluarga, apalagi masalah yang menyangkut adiknya. Hal itu yang membuatnya tidak tahu bahwa adiknya kenal dengan Joo-ahn, teman main bulu tangkisnya.

"Ketua Kim, aku pikir ketua tidak akan datang malam ini," ucap Mi-yeon.
"Aku datang karena aku juga mengenal kakak Ji-hyun. Aku adalah ketua tim marketing, sehingga aku tidak enak untuk tidak datang," ucap Joo-ahn.
"Apakah kamu berusaha untuk mendekati Ji-hyun lagi?" tanya Sang-ho.
"Mendekati Ji-hyun? Apakah kalian sebelumnya sangat dekat?" tanya In-ho.
"Sang-ho, apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Joo-ahn kesal.
"Apakah hyung tidak tahu soal mereka berdua?" tanya Sang-ho.
"Memangnya ada apa diantara kalian berdua?" tanya In-ho.
"Tidak ada apa-apa," ucap Ji-hyun.
"Kami dulu berpacaran," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn. maksudku, ketua Kim, kenapa kamu mengatakan hal itu?' tanya Ji-hyun.
"Apa salah kalau aku mengakui apa yang terjadi kepada kita setelah delapan tahun berlalu?" tanya Joo-ahn.
"Kalian...." ucap In-ho.
"Maafkan kami yang menyembunyikan hal ini. Tetapi, aku mencintainya. Aku menyayanginya. Karena aku masih mencintaimu," ucap Joo-ahn tiba-tiba.

Joo-ahn kaget setelah mengakui hal itu. Ji-hyun juga kaget dan hampir tak berkutik. Ji-hyun langsung berdiri dari kursi makannya dan berjalan keluar pintu rumah.

Joo-ahn mengejar Ji-hyun sampai berhasil meraihnya. Akhirnya, Joo-ahn meraih lengan Ji-hyun dan memndekatinya. Joo-ahn juga mencium Ji-hyun di depan rumahnya begitu dia sudah meraih lengan Ji-hyun.

"Apa-apaan ini ketua Kim?" tanya Ji-hyun.
"Jangan panggil aku ketua kalau kita sedang tidak ada urusan kerja," ucap Joo-ahn.
"Lepaskan!" ucap Ji-hyun.

Ji-hyun melepaskan pegangan Joo-ahn. Ji-hyun juga tidak ingin dicium oleh Joo-ahn. Ji-hyun tidak ingin sakit hati lagi seperi delapan tahun yang lalu saat dirinya dan Joo-ahn mengakhiri hubungan mereka.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Ji-hyun juga merindukan masa-masa itu. Ji-hyun ingin kembali bersama Joo-ahn. Tetapi, Ji-hyun bingung dan ragu. Ji-hyun tidak berani melangkah maju dan langsung mengakui semua perasanannya. Apalagi, Sang-ho akan terluka karena Sang-ho juga masih ada perasaan dengannya. Ji-hyun dan Sang-ho mengakhiri hubungan mereka karena Ji-hyun tidak ingin menjalani cinta yang tidak tulus. Ji-hyun lebih memilih untuk berteman dekat dengan Sang-ho saja.

"Tolong jangan lakukan hal ini lagi kepadaku!" ucap Ji-hyun.
"Maaf, tetapi aku tidak dapat mengontrol perasaanku sendiri," ucap Joo-ahn.
"Sampai kapanpun, kamu adalah atasanku. Tidak lebih dari itu," ucap Ji-hyun.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #2

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

FLASHBACK

Joo-ahn yang masih berseragam sekolah delapan tahun yang lalu membawa satu kantong plastik yang berisi apel segar yang dibawakan oleh neneknya dari kebun keluarga di desa. Sebagian buah apel itu akan diberikan kepada Ji-hyun, tepat pada hari perayaan satu tahun mereka berpacaran.

Hari itu tepat dua hari setelah pertengkaran hebat antara Joo-ahn dan Ji-hyun di depan sekolah mereka. Joo-ahn menyesal dan ingin minta maaf kepada Ji-hyun atas semua perkataan kasarnya. Maka dari itu, Joo-ahn mengunjungi rumah Ji-hyun.

Pintu rumah terbuka. Joo-ahn berdiri di depan pintu rumah yang terbuka. Nampaknya, keluarga Ji-hyun sedang kedatangan tamu penting. Joo-ahn berdiri sambil menunggu tamu itu pulang.

"Ji-hyun, hari ini keluarga Nam datang ke rumah kita. Aku yang mengundangnya. Ayo beri salam kepadanya," ucap ayah Ji-hyun.
"Halo, apa kabar?" ucap Ji-hyun sambil duduk di atas sofa.
"Wah, sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah ini! Sudah lama juga sejak Il-hwa meninggal," ucap ayah Sang-ho.
"Iya, sudah lama sekali," ucap ayah Ji-hyun.
"Ini Sang-ho," ucap ayah Sang-ho.
"Aku dengar, mereka bersekolah di sekolah yang sama," ucap ayah Ji-hyun.
"Iya, aku juga sudah dengar kabar baik itu. Ah, akhirnya kita bisa mewujudkan keinginan kita. Ternyata anak kita memiliki jenis kelamin yang berbeda," ucap ayah Sang-ho.
"Appa," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun, minggu depan pergilah bersama Sang-ho. Aku mempunyai dua tiket untuk menonton teater dan kupon makan malam," ucap ayah Sang-ho.
"Ah, appa!" ucap Sang-ho lagi.
"Kamsahamnida ahjussi," ucap Ji-hyun sambil menerima sebuah tiket teater.

Joo-ahn kaget mendengar percakapan itu. Tidak sengaja, kantong plastik yang dipegangnya jatuh dan dia segera mengambilnya.

Ji-hyun melihat sosok Joo-ahn tidak sengaja melalui jendela rumahnya. Ji-hyun segera keluar sebentar dari dalam rumahnya untuk menemui Joo-ahn.

"Joo-ahn, kami gila apa?" bisik Ji-hyun sambil memukul lengan mantan pacarnya itu.
"Memangnya aku tidak boleh sekali saja datang kesini?" tanya Joo-ahn.
"Kamu gila apa? Ayahku tidak menyukaimu. Kenapa kamu masih muncul di depan rumahku?" tanya Ji-hyun.

Ji-hyun menarik lengan Joo-ahn dan berjalan sebentar menjauhi rumah Ji-hyun. Ji-hyun melepaskan tarikannya dan mempersilahkan Joo-ahn untuk berbicara kepadanya.

"Katakan, ada apa menemuiku? Bukankah kamu tidak ingin berurusan lagi denganku?" tanya Ji-hyun.

Jo-ahn memeluk tubuh Ji-hyun dengan erat, tetapi Ji-hyun langsung melepaskan pelukan itu dengan mendorong dada Joo-ahn.

"Maafkan aku. Aku salah telah berkata kasar kepadamu dua hari yang lalu. Aku ingin minta maaf kepadamu," ucap Joo-ahn.
"Apa perlu aku menerima permintaan maafmu?' tanya Ji-hyun.
"Apa katamu?" balas Joo-ahn.
"Aku tidak mau memaafkanmu. Bahkan, kalau kita bertemu di masa depan, aku tidak akan mau memaafkanmu. Sekarang, aku ingin memulai kisahku yang baru," ucap Ji-hyun.
"Jadi, kamu ingin bersama anak itu?" tanya Joo-ahn.
"Yang jelas, orang itu tidak pernah berkata kasar kepadaku dan membentakku!" ucap Ji-hyun.

Ji-hyun berjalan ke dalam rumahnya, lalu menutup pagar rumahnya dan menggemboknya. Joo-ahn berdiri sambil memegang kantong plastik berisi buah apel dan kesal.

***

"Bersadarkan diagram yang sudah aku buat, terdapat kenaikan persentase sebesar 5% untuk produk tas punggung model terbaru kita dibandingkan dengan persentase minggu lalu, sedangkan ada penurunan persentase sebesar 3% untuk produk tas punggung anak-anak yang diluncurkan tiga bulan lalu. Seperti rencana awal kita, produk tas punggung anak-anak itu memang hanya akan diminati pada musim panas saja," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun mencatat apa yang dipresentasikan oleh Joo-ahn, atasannya. Manajer memintanya untuk mencatat isi presentasi pada hari ini bersama Mi-yeon.

"Bagaimana dari tim desain produk?" tanya manajer Jang.

Wanita bernama Go In-ha berdiri dari kursinya dan melanjutkan presentasinya. Sekarang giliran Joo-ahn untuk duduk setelah berdiri lama di depan ruang rapat.

"Tim desain sudah merencanakan produk tas wanita terbaru untuk musim dingin dua bulan lagi. Ini adalah beberapa sketsa tas yang akan kami rancang nanti," ucap Go In-ha sambil mengganti halaman presentasi.

Setelah presentasi selesai, semua orang yang berada di ruang rapat keluar dan mulai bekerja pada tugasnya masing-masing kecuali Ji-hyun yang masih berada dalam tahap bimbingan satu bulan.

"Lee Ji-hyun, jadwalmu hari ini adalah pergi bersama ketua tim Kim untuk meninjau toko utama kita di daerah Myeongdong," ucap manajer Jang.
"Jam berapa kami akan berangkat?" tanya Ji-hyun.
"Jam sepuluh, setengah jam lagi. Sekarang, bersiaplah bersama tuan Kim. Setelah kalian selesai dari toko Myeongdong, kalian akan mengunjungi kantor pembuatan iklan tidak jauh dari daerah Myeongdong untuk bertemu dengan salah satu staf. Setelah itu, pergilah makan siang dengan tuan Kim," ucap manajer Jang.
"Apa yang harus aku persiapkan?" tanya Ji-hyun.
"Bawa saja semua dokumen yang diperlukan untuk klien," ucap manager Jang.
"Baiklah, aku mengerti," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun berjalan meninggalkan ruang kerja manajer Jang menuju ruang kerja tim marketing. Ji-hyun merapihkan meja kerja barunya dan memasukan beberapa alat tulis ke dalam tasnya. Setelah itu, Ji-hyun berjalan ke arah meja kerja Joo-ahn.

"Ketua, apa yang harus aku bawa nanti?" tanya Ji-hyun.
'Bawa semua dokumen ini!" ucap Joo-ahn sambil memebrikan setumpuk dokumen yang entah apa isinya.
"Sebanyak ini?" tanya Ji-hyun.
"Tentu saja tidak! Sekarang, selama masih ada waktu, tolong kamu pilihkan mana dokumen yang berhubungan dengan proyek iklan baru kita seperti surat perjanjian asli, proposal asli, dan sebagainya. Sekarang, aku akan mengecek file yang ada di dalam flash disk dulu," ucap Joo-ahn.
"Baik," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun berjalan ke meja kerjanya sambil mengelus dadanya. Baru hari pertamanya bekerja di kantor utama, dirinya sudah kena marah oleh ketua tim. Ji-hyun jadi mepasaran, apakah selama ini mantan pacarnya itu selalu bersikap seperti itu terhadap karyawan bimbingan?

"Tenang saja, ketua Joo-ahn adalah orang yang ramah dan hangat. Dia terbuka terhadap masukan-masukan baru dan tidak mudah marah," ucap Mi-yeon yang meja kerjanya persis di sebelah meja kerja Ji-hyun.

"Apa katamu? dia ramah dan hangat? Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Ji-hyun sambil membaca semua dokumen yang diterimanya.

"Kamu tidak salah dengar! Memangnya, kalian sudah kenal sebelumnya? Rasanya, ketua tidak pernah memarahi orang yang baru saja bertemu dengannya," ucap Mi-yeon.

"Dia... dia adalah mantan pacarku delapan tahun yang lalu," ucap Ji-hyun sambil membaca dokumen.
"Apa?" ucap Mi-yeon.
"Ssstt.. tolong jangan bilang siapa-siapa," ucap Ji-hyun.
"Baiklah," ucap Mi-yeon.

[Kim Joo-ahn]
Ji-hyun, jam 10 tepat kamu sudah harus berada di parkiran. Kita akan segera berangkat. Jangan lupa dokumennya,

Ji-hyun melihat jam tangannya setelah menerima pesan itu. Waktu hanya tersisa lima menit lagi, sedangkan masih ada beberapa dokumen yang belum selesai dibacanya. Ji-hyun tidak ingin terlihat bodoh di hadapan atasannya itu. Maka dari itu, Ji-hyun harus bisa mencerna isi dokumen itu secara cepat kalau saja Joo-ahn bertanya-tanya padanya.

***

Joo-ahn sudah berdiri di depan perusahaan dua menit sebelum jam 10 tepat. Sekarang, waktu sudah menunjukan pukul 10 tepat, tetapi asisten tim marketing Ji-hyun belum muncul juga.

Joo-ahn masih berdiri sambil memegang kunci mobil. Akhirnya, Ji-hyun muncul pada pukul 10 lewat tiga menit.

"Hei Ji-hyun, kenapa kamu baru muncul?" tanya Joo-ahn.
"Maafkan aku ketua, tadi liftnya penuh sekali," ucap Ji-hyun.
"Alasan apa itu? Seharusnya kamu menekan tombol lift lebih awal. Sudahlah, ayo kita berangkat!" ucap Joo-ahn.

Kedua orang itu masuk ke dalam mobil perusahaan yang akan dikendarai oleh Joo-ahn. Ji-hyun dan Joo-ahn memakai sabuk pengaman mereka sebelum mobil perusahaan melaju.

"Apakah kamu sudah membawa semua yang aku minta tadi?" tanya Joo-ahn.
"Aku sudah membawa proposal, perjanjian, lembaran deskripsi produk, dan isi presentasi tadi pagi yang akan kamu berikan kepada pemimpin toko utama," ucap Ji-hyun.
"Kerja yang bagus," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn menyetir tanpa melihat sosok Ji-hyun yang duduk di sampingnya. Walaupun lampu lalu lintas berwarna merah, tetap saja Joo-ahn tidak melihat sosok asistennya itu.

"Mau minum? Aku ada air minum di kursi belakang," ucap Joo-ahn tampa menatap wajah Ji-hyun.
"Terima kasih ketua," ucap Ji-hyun.

***

Setelah mengunjungi dua tempat pada hari yang sama, akhirnya Joo-ahn memarkirkan mobilnya pada sebuah restoran kecil yang sudah pernah didengarnya. Joo-ahn penasaran bagaimana rasa masakanannya dan akhirnya pada hari ini dia mengunjungi tempat itu bersama Ji-hyun.

"Mau pesan apa?" tanya Joo-ahn sambil membaca buku menu.
"Aku ingin pesan bulgogi saja," ucap Ji-hyun.
"Dua porsi bulgogi ukuran sedang dan dua gelas teh hangat," ucap Joo-ahn.
"Baiklah," ucap pelayan itu.
"Ketua, bagaimana kamu tahu kalau aku menyukai teh hangat dari pada teh dingin?" tanya Ji-hyun.
"Hei, kamu ini bagaimana sih? Kita kan dulu sering pergi bersama sepulang sekolah," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun terdiam mendengar jawaban itu. Ji-hyun hanya memandang ke sekeliling meja makannya sambil menunggu pelayan datang. Jo-ahn juga melakukan hal yang sama.

"Kenapa kamu memilih untuk makan siang di tempat ini?" tanya Ji-hyun spontan.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Karena aku yang bayar, jadi aku berhak menentukan," ucap Joo-ahn.
"Ah, bukan begitu maksudku," ucap Ji-hyun.

Setelah Ji-hyun selesai mengucapkan jawaban dari pertanyaan Joo-ahn, seorang pria turun dari lantai atas restoran ini. Joo-ahn kaget melihat sosok pria itu.

"Ji-hyun? Apa kabar?" tanya pria itu.
"Nam Sang-ho?" ucap Ji-hyun kaget.
"Ini adalah restoran pamanku. Aku bekerja disini," ucap Sang-ho.
"Oh," jawab Ji-hyun.
"Kamu?" tanya Sang-ho.
"Dia adalah Joo-ahn," ucap Ji-hyun.
"Kalian berhubungan kembali?" tanya Sang-ho.
"Apa? Oh, kebetulan kami bekerja pada perusahaan yang sama. Sebelumnya, aku bekerja pada kantor cabang di Daejeon dekat rumah kakekku. Mulai hari ini, aku dipindahkan ke kantor utama karena kantor utama memerlukan asisten ketua tim baru," ucap Ji-hyun.
"Walaupun kalian berdua satu perusahaan dan tidak ada hubungan, tetapi kalau kalian makan siang bersama, orang lain bisa salah sangka," ucap Sang-ho.
"Hei, apakah kamu berpikir yang tidak-tidak?" tanya Joo-ahn kesal.
"Sang-ho, besok adalah hari peringatan meninggalnya ibuku. Apakah kamu akan menemaniku seperti dulu sebelum aku pindah ke Daejeon?" tanya Ji-hyun.
"Memangnya ada acara apa?" tanya Sang-ho.
"Hanya makan malam bersama di rumahku. Ketua mau ikut juga?" tanya Ji-hyun.
"Kamu bilang waktu itu.... Oh, nanti aku kabari ya, apakah aku bisa ikut atau tidak," jawab Joo-ahn.
"Kenapa? Tenang saja, tidak akan ada yang memarahi kedatanganmu lagi. Ayahku sudah meninggal satu tahun yang lalu," ucap Ji-hyun.
"Ya, nanti aku beri kabar padamu malam ini. Sekarang, makanan sudah datang," ucap Joo-ahn.
"Ya, kalian berdua silahkan makan! Aku akan kembali ke ruanganku diatas," ucap Sang-ho.

Sang-ho berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya di atas, sementara Joo-ahn dan Ji-hyun menyantap pesanan mereka yang sama persis.

"Ketua, apakah kamu masih suka menyisihkan potongan bawang bombay?" tanya Ji-hyun.
"Aku tetap tidak suka bawang bombay," jawab Joo-ahn.

Joo-ahn memindahkan semua potongan bawang bombay menggunakan sumpit ke atas piring Ji-hyun. Ji-hyun sedikit senang karena orang yang berhadapan dengannya masih melakukan hal itu kepadanya, persis seperti delapan tahun yang lalu.

"Ketua," ucap Ji-hyun.
"Apa?" tanya Joo-ahn.
"Setelah ini, apakah aku ada tugas besar lagi?" tanya Ji-hyun.
"Untuk hari ini kita tidak akan mengunjungi tempat lain lagi. Kembalilah ke meja kerjamu. Lakukanlah apa saja yang ingin kamu lakukan sampai aku atau manajer membutuhkan bantuanmu." ucap Joo-ahn.
"Apa maksudmu?" tanya Ji-hyun.
"Kenapa kamu bingung? Jadi, kamu ingin aku beri tugas lagi?" tanya Joo-ahn.
"Tidak," ucap Ji-hyun.
"Kalau begitu, jangan bingung seperti itu!" ucap Joo-ahn.

Joo-ahn dan Ji-hyun melanjutkan makan siang mereka sebelum kembali ke kantor mereka. Sebelum mereka kembali, Joo-ahn tidak lupa membeli tteokbokki kesukaan adik bungsunya yang dijual pada toko di dekat restoran tempatnya membeli makan siang.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #1

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Kim Joo-ahn berjalan di depan tempat kerjanya sambil memakai tas punggungnya. Lelaki berusia 20-an itu masih memegang sebotol air minum yang tadi dibelinya di mesin minuman. Lelaki itu minum beberapa teguk air putih sambil berjalan di trotoar.

Joo-ahn berjalan memasuki statiun kereta bawah tanah. Disampingnya, seorang wanita muda yang juga berusia 20-an berdiri untuk menunggu kereta bawah tanah yang sama dengan dirinya. Wanita itu membawa tas kecil berwarna hitam. Sesekali, wanita itu merapihkan rambutnya.

Kereta yang mereka tunggu akhirnya tiba. Kereta itu berhenti dan pintunya terbuka. Para penumpang yang akan turun dipersilahkan untuk turun terlebih dahulu sebelum ada penumpang yang baru. Setelah banyak penumpang yang turun, Joo-ahn dan wanita itu masuk ke dalam kereta bersama banyak orang yang ingin menumpang kereta itu.

"Maaf," ucap wanita itu. Wanita itu tidak sengaja menabrak lengan Joo-ahn.
"Oh, tidak apa-apa," ucap Joo-ahn.
"Ji-hyun!" teriak seseorang.
"Oppa," ucap wanita itu.
"Joo-ahn?" tanya seorang pria yang baru saja menyapa wanita bernama Ji-hyun.
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Joo-ahn.
"Kamu tidak mengenalku atau pura-pura lupa? Aku ini In-ho, teman di klub bulu tangkis kampus," ucap In-ho.
"Halo, apa kabar sunbae?" ucap Joo-ahn sambil membungkukan badan di hadapan seniornya itu.
"Ah, aku baik-baik saja. Kalian berdua saling mengenal?" tanya In-ho.
"Kami baru saja bertemu saat ini," jawab Ji-hyun.
"Joo-ahn, perkenalkan, ini adikku yang pernah aku ceritakan. Namanya Lee Ji-hyun," ucap Lee In-ho.
"Halo," ucap Ji-hyun.
"Lee Ji-hyun? Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya," ucap Joo-ahn.
"Apakah kamu adalah Kim Joo-ahn?" tanya Ji-hyun.
"Darimana kamu mengenal namaku?" tanya Joo-ahn.
"Apa kabar? Aku me..." ucap Ji-hyun.
"Sunbae, aku turun dulu. Sampai bertemu lagi!" ucap Joo-ahn.
"Sampai bertemu lagi," ucap In-ho.

Joo-ahn berjalan menelusuri trotoar. Rumah keluarganya terletak tidak terlalu jauh dari stasiun bawah tanah, sehingga cukup berjalan kaki dari rumahnya menuju stasiun bawah tanah.

"Appa!" teriak Joo-ahn.
"Joo-han, sudah pulang kerja?" tanya ayahnya.
"Aku baru saja tiba disini. Eh, appa membawa apa? Sini, aku saja yang bawa belanjaannya," ucap Joo-ahn.
"Tidak apa-apa, ini tidak terlalu berat. Eomma minta appa untuk membeli daging sapi setelah appa pergi menemui teman appa," ucap ayahnya.
"Bagaimana keadaan toko hari ini?" tanya Joo-ahn.
"Ya, sama seperti biasanya," jawab ayahnya.

Joo-ahn dan ayahnya membuka pintu rumah mereka. Ibu Joo-ahn dan adik perempuan Joo-ahn menyamput kedatangan anak tertua keluarga Kim dan ayahnya.

"Appa!" ucap Min-ji.
"Dimana kakakmu yang satunya?" tanya ayahnya.
"Entahlah. Setelah pulang kuliah, dia menaruh tasnya di kamar, lalu pergi lagi. Mungkin ada pertemuan kelompok," ucap Min-ji.
"Sayang, apakah kamu sudah membeli daging untuk makan malam kita?" tanya ibunya.
"Tentu saja," jawab ayahnya.
"Kalian mandi saja. Sementara itu, aku akan memasak sup daging yang enak," ucap ibunya.
"Terima kasih eomma!" ucap Joo-ahn.

***

Malam yang sejuk. Semua anggota keluarga kecuali Tae-hwan sudah duduk di kursi makan. Ibu sudah menata isi meja makan seperti nasi, sup daging, kimchi, dan peralatan makan.

"Aku pulang!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, dari mana saja kamu?" tanya ayah.

Tae-hwan terlihat kotor. Bukan hanya terlihat kotor saja, tetapi terlihat seperti habis berkelahi dengan seseorang. Hal itu yang membuat ayahnya marah padanya.

"Ayah sudah membiayai kuliahmu, tetapi kamu malah pergi berkelahi. Inikah balas budimu?' tanya ayah.
"Ayah, aku berkelahi karena orang itu yang memulainya. Dia yang membuat semua kekacauan ini," ucap Tae-hwan berusaha membela diri.
"Apapun alasannya, appa tidak mau melihatmu berkelahi sekali lagi. Kalau kamu berkelahi sekali lagi, appa tidak mau menganggapmu sebagai anak dalam keluarga ini lagi!" ucap ayah.
"Appa tidak perlu mengkhawatirkan diriku lagi! Aku ini bukan anak kecil lagi! Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagi pula, apa pernah appa bangga kepadaku? Dari dulu selalu memarahiku," ucap Tae-hwan.
"Apa katamu?" tanya ayah.
"Sudahlah," ucap ibu.

Tae-hwan meninggalkan ruang makan dan naik ke lantai atas. Tae-hwan membuka pintu kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasurnya yang terletak bersebelahan dengan kasur milik Joo-ahn. Inilah salah satu hal yang paling dibenci oleh adik laki-laki dari Joo-ahn, yaitu harus berbagi kamar dengan orang lain. Tae-hwan merasa seperti tidak punya privasi sendiri.

"Tae-hwan," ucap Joo-ahn sambil membuka pintu kamar mereka.
"Hyung mau apa memanggilku?" tanya Tae-hwan yang sedang berbaring menghadap tembok kamar.
"Makanlah sup daging buatan eomma ini," ucap Joo-ahn.
"Aku tidak mau makan malam," ucap Tae-hwan.
"Hei, kamu tidak tahu bagaimana eomma berusaha membuat sup enak ini?" tanya Joo-ahn.
"Iya, nanti akan aku makan kalau moodku sudah baik," jawab Tae-hwan.
"Kamu kenapa berkelahi lagi?" tanya Joo-hwan.
"Hyung, aku berkelahi karena cinta. Aku benci melihat orang itu terus merayu orang yang ingin aku lindungi. Apakah hyung tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan?" ucap Tae-hwan samil berbaring menghadap sosok kakaknya yang duduk di atas kasurnya.

Kim Joo-ahn hanya diam sambil duduk di atas kasur adiknya. Joo-ahn teringat akan sesuatu yang selama ini berusaha dilupakannya. Memori itu kembali mincul secara tiba-tiba dan menyadarkannya akan satu hal.

"Astaga!" ucap Joo-ahn.
"Ada apa?" tanya Tae-hwan kaget.
"Wanita itu..." ucap Joo-ahn.
"Wanita? Siapa yang hyung maksud?" tanya Tae-hwan.
"Tadi aku bertemu dengan wanita yang sangat cantik di kereta. Wanita itu manis juga. Ternyata, wanita itu adalah mantan pacarku delapan tahun yang lalu," ucap Joo-ahn.
"Maksud hyung, Lee Ji-hyun noona?" tanya Tae-hwan.
"Iya, dia orangnya! Ternyata, selama ini aku mengenal kakaknya dengan baik karena kami satu klub bulu tangkis di kampus dulu," ucap Joo-ahn.
"Mungkin, Tuhan ingin mempertemukan kembali kalian berdua," ucap Tae-hwan.
"Tidak! Aku sudah pernah bicara di hadapan wanita itu untuk tidak mau menjalin hubungan lagi dengannya setelah pertengkaran terakhir kami," ucap Joo-ahn.
"Hyung, berhati-hatilah saat berbicara. Bisa jadi, hal sebaliknya yang akan terjadi," ucap Tae-hwan.
"Ah, tidak mungkin!" ucap Joo-hwan dengan sangat yakin.
"Lihat saja nanti!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan!" tegur Joo-ahn.

***

Seperti biasanya, Joo-ahn masuk kerja pada pukul delapan pagi. Pada pukul tujuh pagi, Joo-ahn sudah menyelesaikan sarapannya dan sudah bersiap dengan pakaian kerjanya yang rapih. Tak ketinggalan, Min-ji, adik bungsunya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Kegiatan belajar mengajar akan dimulai pada pukul delapan pagi, sehingga kedua saudara kandung itu bisa berangkat menaiki kereta pada jam yang sama. Hanya Tae-hwan yang berpisah kereta karena tujuan yang berbeda. Kampus tempatnya mencari ilmu tidak searah dengan kakak maupun adiknya.

"Kami pergi dulu!" ucap Joo-ahn dan Min-ji.
"Tae-hwan, hari ini masuk kuliah jam berapa?" tanya ayah.
"Jam sebelas siang," jawab Tae-hwan.

Joo-ahn dan Min-ji berjalan bersebelahan menuju kereta bawah tanah. Kereta yang mereka tumpangi datang lima menit setelah mereka tiba di stasiun kereta.

"Selamat pagi," ucap wanita itu.
"Kamu lagi?" tanya Joo-ahn kaget.
"Kita bertemu lagi," ucap Ji-hyun.
"Ah, apa kabar eonni?" tanya Min-ji.
"Kamu Min-ji ya?" tanya Ji-hyun.
"Apakah eonni melupakanku?" tanya Min-ji.
"Ah, kita terakhir kali bertemu sudah delapan tahun yang lalu. Waktu itu kamu masih kecil," ucap Ji-hyun.
"Min-ji, berapa uang di saku rokmu? Bagaimana kalau kita menaiki taksi saja?" tanya Joo-ahn.
"Oppa," ucap Min-ji bingung.
"Joo-ahn, apakah kamu sudah ingat denganku? Kenapa kamu masih saja seperti terakhir kita bertemu? Itu kan sudah lewat delapan tahun," ucap Ji-hyun.
"Ayo Min-ji, kita turun saja di perhentian selanjutnya," ucap Joo-ahn.
"Tunggu! Apakah kita tidak bisa berteman saja?" tanya Ji-hyun.

Joo-ahn turun di perhentian kereta selanjutnya dan memanggil taksi di depan stasiun kereta bawah tanah.

***

"Teman-teman, hari ini kita akan kedatangan seorang anggota tim marketing baru yang dipindahkan dari kantor cabang di luar kota. Wanita itu sedang berada di kantor direktur dan sebentar lagi akan masuk ke dalam ruang rapat ini," ucap Jang Do-yeon, manajer bagian marketing.

Kim Joo-ahn adalah anggota tim marketing paling pintar. Joo-ahn sudah diangkat menjadi ketua tim marketing, menggantikan Jang Do-yeon yang diangkat menjadi manajer bagian marketing. Pria berusia 26 tahun itu sedang merapihkan materi rapat hari ini yang akan dipresentasikan di hadapan rekan kerjanya nanti.

"Halo, namaku adalah Lee Ji-hyun, anggota tim marketing yang baru," ucap wanita itu.
"Nona Lee, silahkan mengambil posisi pada kursi yang kosong," ucap manajer Jang.
"Iya," jawab Ji-hyun.

Joo-ahn kaget bukan main. Bagaimana tidak, dirinya harus bekerja dalam tim yang sama dengan mantan kekasihnya mulai hari ini. Baru saja dia ingin menghindari wanita itu, tetapi wanita itu dipindahkan ke kantor utama perusahaan dan bergabung bersana tim yang diketuainya.

"Ketua tim Kim, tolong bimbingannya ya!" ucap Ji-hyun dengan semangat.

Kim Joo-ahn berdiri di hadapan anggota tim dan manajer untum memulai presentasi mingguan mereka. Semua anggota rapat sudah diberi fotokopian bahan presentasi oleh Joo-ahn.

"Aku akan mempresentasikan peningkatan penjualan produk terbaru kita dan hasil pemantauan terhadap produk lama kita," ucap Joo-ahn.

"Kenapa ketua Kim berbicara dengan nada yang sedikit lebih tegas dari pada biasanya ya?" bisik Song Mi-yeon kepada Yoo Eun-ha.

FLASHBACK

delapan tahun yang lalu

"Aku tidak suka kamu seperti ini terus menerus! Kamu keanak-anakan saja! Kamu belum dewasa! Apakah kamu lupa kalau aku adalah pacarmu satu-satunya? Kenapa kamu semalam perga dengan Nam Sang-ho?" tanya Joo-ahn.
"Maafkan aku! Aku sudah pernah berjanji padanya untuk pergi makan malam bersama karena aku mengenalnya lebih dulu sebelum aku mengenalmu," ucap Ji-hyun.
"Alasan macam apa itu? Apakah kamu mencoba untuk berpindah hati kepadanya?" tanya Joo-ahn.
"Joo-ahn, dengarkan aku dulu! Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Kami dekat karena ayah kami adalah teman lama," ucap Ji-hyun.
"Lalu? Apakah karena kalian berdua sedang dijodohkan? Sudah cukup! Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu di sekolah atau dimanapun. Kamu tidak pernah berubah ya! Kita akhiri saja hubungan satu tahun kita," ucap Joo-hyun.
"Joo-hyun, dengarkan aku dulu!" ucap Ji-hyun sambil memegang lengan kiri Joo-hyun.
"Lepaskan! Aku mau masuk ke dalam kelasku dulu," ucap Joo-hyun.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: