Novel

When I Was Your Man #4

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Sampai kapanpun, kamu adalah atasanku. Tidak lebih dari itu," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn masih mengingat perkataan yang diberikan oleh Ji-hyun semalam. Berkali-kali Joo-ahn meyakinkan dirinya sendiri apakah benar Ji-hyun berkata seperti itu kepadanya.

"Ah, aku rasa bumerang sudah kembali kepadaku," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn menatap adik laki-lakinya yang sedang berbaring di atas kasur adiknya. Joo-ahn mengecek jam pada layar ponselnya, lalu memanggil adiknya itu.

"Tae-hwan, ayo kita jalan-jalan!" ucap Joo-ahn.
"Jalan-jalan? Tumben sekali hyung mengajak jalan-jalan," ucap Tae-hwan.
"Aku sedang banyak pikiran. Aku rasa, aku perlu jalan-jalan sebentar," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, ayo kita pergi!" ucap Tae-hwan.

Setelah ganti baju dan bersiap, Tae-hwan dam Joo-ahn berjalan ke garasi untuk naik mobil. Joo-ahn sudah memegang kunci mobil milik ayahnya dan pintu mobil sudah dibuka.

"Oppa, mau pergi kemana? Aku ikut ya?" tanya Min-ji.
"Ini acara laki-laki," ucap Tae-hwan.
"Oppa," bujuk Min-ji.
"Kamu dirumah saja!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, kenapa kamu dan Min-ji selalu adu mulut begitu? Ayo Min-ji," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mengendarai mobilnya mengelilingi beberapa daerah di Seoul. Joo-ahn juga membawa pakaian renang karena Joo-ahn ingin berenang nanti sore.

"Kita mau kemana?" tanya Tae-hwan.
"Mmm, jam makan siang sudah hampir tiba. Bagaimana kalau kita mencari makanan di sepanjang jalan? Aku bosan makan makanan restoran cepat saji," ucap Joo-ahn.
"Ayo!" ucap Min-ji.

Ketika saudara itu pergi menuju daerah yang banyak penjual makanan pinggir jalan. Joo-ahn sudah lama tidak membali jajanan di pinggir jalan karena sibuk bekerja dan sering makan di kantin perusahaan. Hanya Tae-hwan yang sering membeli jajanan seperti itu karena dia sering melewati penjual jajanan saat jalan pulang ke rumah.

"Ah, musim gugur telah tiba!" ucap Min-ji.
"Iya, daun sudah berguguran," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn berdiri di depan wanita penjual hotteok, pancake ala korea. Seorang wanita juga sedang berdiri untuk membeli hotteok.

"Ketua Kim?" sapa seseorang.
"Kamu?" ucap Joo-ahn kaget.
"Ketua suka makan hotteok disini juga?" tanya Ji-hyun.
"Aku jarang sekali membeli hotteok di sini," jawab Joo-ahn.
"Ketua, aku pergi dulu ya," ucap Ji-hyun.
"Tunggu! Temani aku makan hotteok," ucap Joo-ahn.
"Maaf, aku tidak bisa ketua. Aku sudah ditunggu oleh orang lain," ucap Ji-hyun.
"Siapa? Oiya, bukankah aku sudah memintamu untuk jangan memanggilku dengan sebutan ketua kalau di luar urusan kerja?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, aku pergi dulu ya," ucap Ji-hyun.

Sementara Joo-ahn sedang duduk di kedai penjual hotteok,  Tae-hwan dan Min-ji duduk di kedai penjual tteokbokki.

"Oppa, bukankah itu Ji-hyun eonni?" tanya Min-ji.
"Mana? Oh iya, kamu benar! Tapi, dia sedang jalan dengan seseorang. Rasanya, aku pernah mengenal pria itu," ucap Tae-hwan.
"Siapa dia?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, orang yang bekerja di sebuah restoran kecil. Waktu aku ada tugas kuliah, aku meninjau dua restoran, salah satunya restoran tempat orang itu bekerja," ucap Tae-hwan.
"Benarkah? Apakah dia pemilik restorannya?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, dia adalah keponakan dari pemilik restoran. Pemilik restoran tidak mempunyai anak karena tidak menikah," ucap Tae-hwan.
"Ji-hyun eonni beruntung sekali," ucap Min-ji.
"Min-ji, bukankah kita harus mendekatkan kembali kakak kita dengan dia?" tanya Tae-hwan.
"Untuk apa? Bukankah oppa sudah membenci dia?" tanya Min-ji.
"Ya, kita lihat saja apa yang akan terjadi di kemudian hari. Aku punya feeling kalau mereka akan kembali lagi," ucap Tae-hwan.

***

Sore ini membosankan sekali. Joo-ahn pergi ke kolam renang sendiri. Kedua adiknya pergi menonton pertandingan tenis di lapangan tenis yang berada dalam satu area dengan kolam renang tempat Joo-ahn berada. Joo-ahn membuka daftar nomor telepon dan mengirim pesan kepada beberapa orang yang menurutnya cocok untuk menemaninya berenang sore ini.

Karena beberapa teman yang dihubunginya tidak bisa datang, akhirnya Joo-ahn mengirim pesan kepada Ji-hyun saja. Joo-ahn sudah tidak tahu ingin menghubungi siapa lagi.

"Joo-ahn, ada apa memintaku untuk datang kesini?" tanya Ji-hyun begitu tiba di pinggir kolam renang.
"Kamu masih belum paham? Tentu saja kita akan berenang disini," ucap Joo-ahn.
"Apa? Kamu bilang, ada yang ingin kamu diskusikan. Tapi anehnya, kamu juga memintaku untuk membawa pakaian berenangku," ucap Ji-hyun.
"Kalau aku tidak mengatakan bahwa ada yang harus didiskusikan setelah berenang, kamu tidak akan mau datang kemari kan?" tanya Joo-ahn.
"Jadi begini caramu untuk mendapatkanku lagi?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, mau pergi kemana? Karena kamu sudah membawa pakaian berenangmu, ikutlah berenang bersamaku," ucap Joo-ahn.
"Ketua, maksudku Joo-ahn, kamu kan tahu kalau aku takut kolam renang yang dalam," ucap Ji-hyun.
"Hari ini kamu aman bersamaku," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn yang sudah berada di dalam kolam renang, memegang salah satu lengan Ji-hyun yang sedang duduk di pinggir kolam renang dan menarik wanita itu ke dalam kolam renang. Wanita itu berteriak dihadapannya.

"Aaaa Joo-ahn! Lepaskan! Aaaa..." ucap Ji-hyun.
"Sudahlah, tenang saja! Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berenang," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn memegang tubuh Ji-hyun saat Ji-hyun mencoba untuk berenang. Ji-hyun mencoba gaya dasar, yaitu gaya dada. Joo-ahn membimbingnya perlahan.

"Kamu masih trauma?" tanya Joo-ahn.
"Iya, aku takut sekali. Ibuku meninggal karena terbawa arus pantai dan aku dari kecil jarang pergi berenang. Itu alasannya," jawab Ji-hyun.
"Aku sudah tahu alasanmu itu," ucap Joo-ahn.

Sudah setengah jam Ji-hyun belajar berenang bersama dengan Joo-ahn sampai akhirnya wanita itu merasa lelah. Akhirnya, Joo-ahn memperbolehkan Ji-hyun untuk duduk di pinggir kolam renang dan Joo-ahn kembali berenang sendirian.

Ji-hyun memandang kolam renang. Banyak anak-anak yang sedang bermain air di kolam renang anak-anak. Ada juga anak-anak yang sedang bermain bola di dalam kolam. Rasanya seru sekali.

"Hei, kok bengong?" tanya Joo-ahn saat berhenti sejenak di hadapan Ji-hyun.
"Rasanya seru sekali bisa bermain di kolam renang seperti anak-anak itu," ucap Ji-hyun.
"Setiap hari minggu kamu harus belajar berenang bersamaku," ucap Joo-ahn.
"Untuk apa?" tanya Ji-hyun.
"Supaya kamu tidak takut berenang lagi!" ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku jadi tidak enak padamu. Kamu mau mengajariku berenang," ucap Ji-hyun.
"Kalau kamu merasa tidak enak, sekali-sekali traktir aku makan," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn kembali berenang dengan gaya bebas andalannya. Saat berenang, dia teringat akan masa lalunya yang menyenangkan di hari Minggu sore, yaitu saat dia dan Ji-hyun pergi ke kolam renang.

FLASHBACK

"Ji-hyun, kenapa kamu tidak masuk ke dalam kolam renang? Kenapa kamu hanya duduk-duduk saja sambil membasahi kedua kakimu?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, aku tidak bisa berenang dan aku takut. Kamu saja yang berenang," ucap Ji-hyun.
"Kamu mau aku ajari caranya berenang?" tanya Joo-ahn.
"Lain kali saja kalau aku sudah siap," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun duduk di pinggir kolam renang sambil memercikan air kolam renang setiap Joo-ahn berada di hadapannya. Sesekali, Joo-ahn membalas percikan air itu dan membuat wajah dan rambut Ji-hyun menjadi basah.

Setelah memberi percikan air, Joo-ahn menarik lengan Ji-hyun secara spontan dan ingin memastikan apakah benar Ji-hyun takut dengan kolam renang. Ji-hyun langsung terbawa ke dalam kolam renang itu.

"Lepaskan! Joo-ahn!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun! Ternyata kamu memang tidak bisa berenang ya? Aku pikir kamu hanya berpura-pura tidak bisa berenang," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, keluarkan aku dari kolam ini. Uhuk! Joo-ahn, aku tidak bisa bernafas," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn panik dan langsung meraih lengan Ji-hyun. Setelah itu, Joo-an menggotong tubuh kurus Ji-hyun dan membawanya keluar dari kolam renang. Ji-hyun batuk dan air keluar dari dalam mulutnya.

"Mianhae," ucap Joo-ahn.
"Uhuk," ucap Ji-hyun.
"Mianhae," ucap Joo-ahn.
"Kamu tidak tahu kenapa aku takut dengan kolam renang dan air pantai," ucap Ji-hyun.
"Kenapa? Maafkan aku," ucap Joo-ahn.
"Karena... Karena ibuku meninggal akibat terseret arus pantai saat menyelamatkanku. Aku yang lebih dulu terbawa arus air pantai," ucap Ji-hyun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Joo-ahn sambil memeluk wajah Ji-hyun yang terbaring di pinggir kolam renang.
"Aku sudah tidak ada apa-apa," ucap Ji-hyun.

***

"Oppa!" teriak Min-ji saat masuk ke dalam ruang kolam renang.
"Joo-ahn!" teriak Ji-hyun setelah Joo-ahn memberi percikan air kepada Ji-hyun.

Setelah memberi percikan air kepada Ji-hyun, Joo-ahn menyadari kedatangan kedua adiknya. Joo-ahn langsung memberhentikan percikan air dan Ji-hyun langsung melihat ke arah lain. Walaupun begitu, tetap saja kedua adik Joo-ahn akan mengira yang tidak-tidak.

"Hyung?" tanya Tae-hwan.
"Sudah selesai pertandingan tenisnya? Aku mandi dulu ya," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn keluar dari dalam kolam renang, lalu pergi menuju ruang loker untuk mengambil pakaian ganti, lalu disusul oleh Ji-hyun yang juga berjalan ke ruang loker perempuan. Tae-hwan dan Min-ji saling berpandangan satu sama lain karena kaget melihat kakak mereka kembali dekat dengan mantan pacarnya.

"Ji-hyun, aku antar pulang ya?" ucap Joo-ahn setelah keluar dari ruang loker.
"Ah, aku pulang sendiri saja. Terima kasih untuk sore ini," ucap Ji-hyun.
"Ayolah, kita semua mau pergi makan malam. Ikutlah dengan kami, lalu aku antar pulang," ucap Joo-ahn.
"Baiklah kalau kamu menginginkanku untuk ikut," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn dan seisi mobilnya pergi makan malam bersama di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mahal harganya. Tidak ketinggalan, pria itu memsan sebotol soju walau Min-ji tidak boleh untuk meminumnya. Min-ji hanya dipesankan jus saja.

"Kenapa kalian bisa berdua di ruang kolam renang?" tanya Tae-hwan penasaran.
"Dia yang menyuruhku untuk datang. Dia bilang, ada diskusi penting setelah berenang," ucap Ji-hyun.
"Dan aku membohonginya," ucap Joo-ahn.
"Kakak, aku tidak menyangka kalau kakak sudah sejauh ini," ucap Tae-hwan.
"Joo-ahn, aku dilamar oleh Sang-ho sebelum menemuimu tadi," ucap Ji-hyun.
"Apa?" ucap Joo-ahn kaget. Joo-ahn meletakan sumpit yang dipakainya ke atas meja karena kaget.
"Dia melamarku," ucap Ji-hyun.
"Lalu? Kamu sudah menjawabnya?" tanya Joo-ahn.
"Aku belum memberi jawaban karena kamu menyuruhku untuk segera datang. Aku pikir kamu serius ada urusan penting," ucap Ji-hyun.
"Kamu ingin menjawab apa?" tanya Joo-ahn.
"Aku belum tahu," ucap Ji-hyun.

Diam-diam, Joo-ahn merasa sedikit tenang. Joo-ahn tenang karena Ji-hyun belum memberikan jawaban untuk Sang-ho. Joo-ahn masih punya harapan untuk Ji-hyun walau dia tahu bahwa Ji-hyun menolaknya. Joo-ahn belum tahu bagaimana perasaan Ji-hyun yang sesungguhnya.

Sementara itu, Ji-hyun masih ragu karena di satu sisi, Ji-hyun tidak ingin membuat hati Sang-ho menjadi kacau, tetapi, di satu sisi, dia merindukan Joo-ahn. Walaupun Ji-hyun berusaha untuk menjauhakn diri dari Joo-ahn, tetapi selama delapan tahun ini, dia masih merindukan Joo-ahn. Ji-hyun yang sudah pernah berpacaran dengan Sang-ho pun tetap tidak bisa benar-benar terlepas dari Joo-ahn.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: