Short Story

Spring Love #2

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Seoul, April 2012

Musim semi yang indah. So-ra menganggap bahwa musim semi tahun ini sangat indah. So-ra berharap bahwa musim semi tahun ini memberikan kenangan manis bagi dirinya.

Hari ini adalah libur paskah, sekaligus libur musim semi. Kira-kira seminggu lamanya. Kang So-ra, Kim Ji-tae, dan Kim Ji-hoon berencana akan bertemu di taman Yeouido sore ini.

Kang So-ra pergi sendiri ke taman itu setelah selesai pergi jalan-jalan dengan Lee Chae-rin, salah satu teman kuliahnya. So-ra berjanji untuk menemaninya membeli baju baru untuk menghadiri acara pernikahan anak dari teman kuliah ayah Chae-rin.

"Chae-rin, terima kasih ya sudah mengantarkanku ke Yeouido!" ucap So-ra setelah turun dari dalam mobil yang dikendarai oleh Chae-rin.
"Aku pergi dulu ya!" ucap Chae-rin.
"Hati-hati!" ucap So-ra.
.
Hari sidah pukul empat sore. Si kembar Kim belum juga tiba di taman itu. So-ra tidak mendapat kabar dari salah satunya. So-ra terus saja menunggu kedatangan mereka berdua.

"Kang So-ra!" ucap seseorang dari belakang tubuhnya.
"Aaaa! Siapa kalian?" teriak So-ra kaget.

Salah satu dari ketiga pria itu menutup mulut So-ra, sehingga So-ra tidak dapat mengatakan apapun.

"Tangkap tangan gadis itu!" ucap ketua gangster itu.

Pria lainnya menangkap kedua tangan So-ra dan mengikatnya dengan sebuah tali yang panjang dan kuat. Pria itu membawa So-ra keluar dari taman dan membawa So-ra masuk ke dalam sebuah mobil kecil. Mobil itu melaju kencang ke sebuah tempat.

"HEI! HENTIKAN!!!!!" ucap Kim Ji-hoon.

Melihat kejadian penculikan So-ra, Kim Ji-tae langsung berlari sekuat tenaga untuk masuk ke dalam mobil milik ayahnya dan mengejar mobil yang membawa So-ra. Ji-hoon memegang kembali semua barang-barang yang dipegangnya.

Semua rencana yang akan dilakukan oleh Ji-tae dan Ji-hoon berantakan. Semua kejutan yang sudah dipersiapkan secara matang akhirnya sia-sia. Orang itu mengacaukan segalanya.

Kim Ji-hoon duduk termenung di kursi taman Yeouido. Langit semakin gelap. Hari sudah hampir malam. Matahari sudah setengah terbenam. Dirinya masih menantikan kabar dari saudara kembarnya.

Kim Ji-tae menambahkan kecepatan mobil yang dikendarainya. Mobil yang membawa So-ra semakin kencang dan semakin sulit untuk dikejar. Kim Ji-tae sudah kehabisan tenaga, sehingga dirinya tak mampu untuk menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.

"Cepat!" tegur seseorang dari dalam mobil hitam itu.
"Bos, remnya blong. Kami tidak bisa menahan mobil ini. Di samping sana ada batu besar," ucap orang yang mengendarai mobil itu.
"Tae-joon, cepat buka pintu dan lompat keluar!" ucap bos Shin.

Orang yang bernama Kwon Tae-joon lompat dari mobil hitam itu untuk berlari menangkap Kim Ji-tae yang mengejar mobil bos Shin.

"Bos, apa yang harus kita lakukan? Mobil ini tidak dapat dihentikan," ucap orang itu.
"Buka pintu mobil ini dan melompatlah!" ucap bos Shin.

Bos Shin dan Lee Min-hong melompat dari mobil itu. Mobil yang membawa Kang So-ra menabrak sebuah batu di sudut jalan raya itu dan membuat So-ra terbentur kursi mobil.

Kim Ji-tae memberhentikan mobil yang dikendarainya di pinggir jalan raya itu. Dengan cepat dirinya menekan tombol speed dial nomor dua, tempat dirinya menyimpan nomor ponsel ayahnya. Ayahnya adalah seorang polisi terkenal di kota Seoul. Hanya ayahnya yang dapat menolongnya saat ini.

"Appa!" teriak Ji-tae.
"Ada apa anakku?" tanya polisi Kim dengan panik.
"Jalur cepat Gyeongbu! Cepat!" ucap Kim Ji-tae dengan panik.

Seseorang dari belakang tubuh Kim Ji-tae memukul tubuh Ji-tae dengan sebuah batu yang diambil dari pinggir jalan.

BRUK!

"Yoboseyo? Ji-tae?" teriak polisi Kim.
"Ada apa ketua Kim?" tanya polisi Baek.
"Polisi Baek, mari kita menuju ke jalur cepat Gyeongbu! Sesuatu terjadi kepada anakku," ucap polisi Kim.
"Siap!" ucap Polisi Baek.

Kerua polisi Kim dan polisi Baek segera pergi menuju ke jalur cepat Gyeongbu dengan mobil dinas. Secepat mungkin mereka menuju jalan itu dengan perasaan panik dan was-was. Bagaimana tidak, seseorang melukai anaknya sendiri.

***

Kim Ji-hoon memegang ponsel miliknya. Tidak ada pesan maupun panggilan yang masuk sejak Ji-tae mengejar gangster itu. Dirinya panik memikirkan orang yang dicintainya. Orang yang membuat dirinya bahagia selama ini telah diculik oleh sekelompok gangster entah dari mana.

Kim Ji-hoon hanya bisa berdoa. Sambil termenung di kursi Taman Yeouido, dirinya mengucapkan doa. Raut wajahnya menjadi pucat saat mengucapkan doa.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Ji-hoon. Ji-hoon langsung membuka pesan itu.

Kim Ji-tae
Jalur cepat Gyeongbu. Tuan Shin.

Kim Ji-hoon tidak paham apa maksud dari pesan singkat itu. Dirinya mencoba menghubungi kakak kembarnya itu, namun ponsel milik kakak kembarnya mati.

"Panggilan anda akan dialihkan....." ucap operator telepon.

Kim Ji-hoon mencoba menelepon orang yang dikenalnya. Ji-hoon ingat satu nama: Lee Chae-rin. Ji-hoon segera menghubungi teman sekelasnya itu.

"Yoboseyo?" tanya Chae-rin.
"Chae-rin!" ucap Ji-hoon panik.
"Ji-hoon, ada apa?" tanya Chae-rin kaget.
"Kang So-ra.... diculik.... oleh gangster......" ucap Ji-hoon.
"Apa katamu? Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Chae-rin.
"Tidak! Aku serius. Aku melihat mobil milik kelompok gangster itu kabur membawa So-ra yang di bekapnya. Saudaraku, Ji-tae sedang mengejarnya, tapi anehnya aku tidak dapat menghubungi Ji-tae. Firasatku tidak enak," ucap Ji-hoon.
"Kamu sudah memberitahu ayahmu?" tanya Chae-rin.
"Ayahku juga tidak mengangkat ponselnya. Aku sudah menelepon ke kantor polisi dan salah satu polisi mengatakan bahwa ayahku pergi bersama seorang polisi untuk mengejar sesuatu. Aku rasa, ayahku sudah berangkat ke sana," ucap Ji-hoon.
"Yang bisa kita lakukan hanya menunggu kabar dari ayahmu dan kakak kembarmu. Itu saja. Ji-hoon, nanti kabari aku kalau ada perkembangan ya!" ucap Chae-rin.
"Oke!" ucap Ji-hoon.

***

Ambulans datang. Polisi Baek sudah menelepon rumah sakit untuk mengirimkan ambulans. Dua orang dari gangster itu berhasil ditangkap, sedangkan bos Shin belum dapat ditangkap. Bos Shin lari entah kemana.

Ji-tae dan So-ra tak sadarkan diri. Dua sahabat itu pingsan pada hari yang sama. Segera, petugas dari pihak rumah sakit membawa tubuh mereka ke dalam ambulans. Polisi Baek mengantarkan ketua polisi Kim menuju rumah sakit setelah membawa kedua gangster itu ke penjara.

Kim Dae-hwan
Anakku, kakakmu dan So-ra berada di rumah sakit Seoul. Beritahu nyonya Jung untuk melihat keadaan So-ra.

Setelah membaca pesan yang dikirim oleh ayahnya, Ji-hoon segera menuju rumah So-ra dan memberitahu ibu So-ra. Ibu So-ra tampak panik dan pucat.

"Ibu, So-ra mengalami kecelakaan setelah diculik oleh sekelompok gangster. Sekarang, So-ra dan kakak kembarku berada di rumah sakir Seoul," ucap Ji-hoon saat ibu So-ra membuka pintu rumahnya.
"Apa?" ucap ibu So-ra sambil lemas dan menjatuhkan dirinya di lantai rumahnya.
"Ibu!" ucap Ji-hoon sambil membantu ibu So-ra berdiri lagi.
"Ayo kita pergi ke sana!" ucap Ibu So-ra sambil meraih kunci mobil yang terletak di atas meja ruang tamu.
"Biar aku saja yang menyetir mobilnya!" ucap Ji-hoon.
"Terima kasih Ji-hoon!" ucap Ibu So-ra.

Ji-hoon dan Ibu So-ra langsung lari ke lantai tiga, tempat So-ra dan Ji-tae berada. So-ra masuk ke dalam ruang operasi, sedangkan Ji-tae hanya berada di dalam ruang inap biasa. Ji-tae hanya luka karena terkena pukulan batu, sedangkan So-ra harus dioperasi dan dijahit.

"Kenapa semua ini terjadi lagi? Kenapa harus keluargaku yang mengalami hal buruk seperti ini? Kenapa?" ucap Ibu So-ra sambil menangis dan memukul-mukul dada ketua polisi Kim.
"Nyonya Jung tenang dulu! Lebih baik kita duduk di ruang tunggu," ucap ketua polisi Kim.

Ji-hoon duduk di samping ayahnya. Ji-hoon merasa deja vu. Ji-hoon merasa hal semacam ini pernah terjadi sebelumnya. Kalau tidak salah, saat mereka semua masih menjadi murid tahun pertama di sekolah menengah atas yang sama.

Flashback

"Kamu tidak apa-apa pergi sendirian?" tanya Ji-hoon.
"Kalian berdua tidak perlu mengikutiku hari ini. Aku ingin pergi sendirian," ucap So-ra.
"Kenapa? Apakah karena nilai pelajaranmu yang menurun? Apakah hal itu yang membuatmu tidak semangat?" tanya Ji-hoon.
"Sudahlah! Aku hari ini hanya ingin sendirian!" ucap So-ra.
"Sudah, biarkan saja dia!" ucap Ji-tae.
"Hyung! Kenapa tiba-tiba seperti ini?" ucap Ji-hoon.
"Ayo kita makan jajangmyun! Hari ini aku yang traktir!" ucap Ji-tae sambil merangkul adik kembarnya.
"Baiklah!" ucap Ji-hoon.

Ji-hoon dan Ji-tae pergi ke sebuah restoran yang terkenal dengan menu jajangmyun. Hari ini pembagian hasil ujian tengah semester dan Ji-tae menempati posisi juara satu di kelasnya, sedangkan So-ra meraih juara ketiga. Hanya Ji-hoon yang tidak berada di posisi lima besar kelas.

Ji-hoon dan Ji-tae memesan jajangmyun dan duduk pada posisi yang sama setiap kali mereka mengunjungi restoran itu. Tempat di samping jendela pilihan So-ra. Mereka selalu menempati tempat itu.

"Lepaskan!" ucap Kang So-ra.
"Kali ini kamu tidak dapat berlari lagi dariku. Sudah aku katakan kalau aku menyukaimu. Hai gadis manis, mari ikut denganku!" ucap pria itu.
"Aku tidak menyukaimu!" teriak So-ra.
Teman dari pria itu memegang erat kedua tangan So-ra. "Mari menghabiskan malam bersama kami!" ucap pria itu.
"Lepaskan!" ucap So-ra sekali lagi.
Tangan dari pria itu meraih ujung rok yang dipakai oleh So-ra dan ingin membukanya. Dengan cepat So-ra menepis tangan pria itu.
"Kamu tidak kenal siapa aku? Aku ini Shin Min-jae, anak tahun ketiga dari sekolah tinggi Seoul. Hanya kamu yang mencuri perhatianku saat ini," ucap pria itu.

Sekali lagi, pria yang bernama Shin Min-jae mengayunkan tangannya untuk menyentuh ujung rok yang dipakai oleh So-ra.

"Hei, hentikan!" ucap Ji-hoon.
"Lepaskan dia!" ucap Ji-tae.
"Kalian ini siapa? Bodyguard gadis ini? Hebat sekali gadis ini!" ucap Min-jae.
"Jangan berani-berani menyentuh gadis ini atau akan aku laporkan kepada ayahku!" ucap Ji-hoon.
"Memangnya aku takut dengan ayahmu yang bekerja sebagai polisi? Aku tidak takut!" ucap Min-jae.
Ji-hoon mengeluarkan jurus taekwondo yang dikuasainya. "Rasakan ini!" ucap Ji-hoon.

Shin Min-jae terjatuh setelah mendapatkan serangan hebat dari tubuh Kim Ji-hoon. Ji-hoon menarik tubuh So-ra dan menggenggamnya dengan erat. Teman dari Shin Min-jae lari sekuat tenaga melewati jalan kecil. Hanya tersisa Min-jae yang berusaha melawan Ji-hoon.

"Wah, hebat sekali pukulan anak ini!' ucap Min-jae.
"Kamu tidak tahu siapa aku? Aku ini pernah menjuarai kompetisi taekwondo antar sekolah," ucap Ji-hoon.
"Ada apa ini?" teriak kepala polisi Kim dari sudut jalan.
"Appa!" ucap Ji-hoon.
"Polisi Kim, kami sedang berlatih taekwondo disini," ucap Shin Min-jae.
"Benarkah?" tanya kepala polisi Kim.

Ji-hoon terdiam. Tatapan tajam dari kedua mata milik Shin Min-jae mengisyaratkan bahwa dirinya harus membuat alasan di depan ayahnya agar ayahnya tidak memenjarakan siapapun hari ini. Akhirnya, Ji-hoon terpaksa berbohong pada ayahnya.

"Iya, kami hanya main-main dan sedikit berlatih taekwondo disini," ucap Ji-hoon sambil mengeluarkan senyum yang agak dipaksa.
"Baiklah, ayah akan melanjutkan dinas. Sampai bertemu nanti malam di rumah!" ucap kepala polisi Kim.

Setelah kepala polisi Kim pergi mengendarai mobil dinas, Shin Min-jae bangkit dan mengancam Ji-hoon.

"Awas kalau sampai kamu melaporkan hal ini kepada ayahmu!" ucap Shin Min-jae sambil mendorong tubuh Ji-hoon.

***

Sudah tiga jam lamanya Ji-tae terbaring di atas kasur yang berada di kamar rumah sakit itu. Kepala polisi Kim masih duduk di samping kasur itu sambil merenung. Kepala polisi Kim tidak ingin kehilangan anaknya. Dirinya sudah terpukul atas kepergian istri tercintanya dua tahun yang lalu karena mengalami kanker.

"Appa, Ji-tae sudah sadar! Jari tangannya bergerak!" ucap Ji-hoon.
"Cepat panggilkan dokter!" ucap kepala polisi Kim.

Dokter Nam datang menuju ruang tempat Ji-tae berbaring. Dokter itu memeriksa keadaan Ji-tae setelah Ji-tae membuka kedua matanya.

"Anak bapak sudah sadar. Tekanan darah normal. Anak bapak hanya mengalami sedikit pusing dan ras asakit saja. Semoga dua hari kedepan anak bapak sudah pulih dan bisa pulang ke rumah," ucap dokter Nam.
"Terima kasih dokter!" ucap kepala polisi Kim.

Ji-hoon masih duduk di dalam ruang tempat Ji-tae berbaring. Dirinya masih memikirkan kejadian yang pernah terjadi empat tahun yang lalu. Mendengar nama ketua gangster yang mencelakakn kakak dan temannya itu, dirinya semakin yakin bahwa pelaku utamanya adalah orang yang sama dengan orang yang pernah dihajarnya empat tahun yang lalu.

"Shin Min-jae... Shin Min-jae... Aku rasa nama pria itu adalah Shin Min-jae," ucap Ji-hoon
"Siapa itu Shin Min-jae?" tanya kepala polisi Kim.
"Orang yang pernah ingin menculik So-ra empat tahun yang lalu. Ayah ingat tidak? Kalu tidak salah saat aku menghajar seorang senior di dekat sebuah restoran jajangmyun. Sore hari ketika pulang sekolah," ucap Ji-hoon.
"Hmm.. kalau tidak salah, saat kamu mengatakan bahwa kamu dan seniormu sedang berlatih taekwondo bersama?" tanya kepala polisi Kim.
"Ya! Sebenarnya saat itu aku menghajar dia karena dia terus menggoda So-ra. Orang itu ingin menarik rok yang dipakai oleh So-ra dan ingin mempermalukan So-ra di depan umum. Maafkan aku yang telah berbohong waktu itu," ucap Ji-hoon.
"Tidak apa-apa, ayah dan rekan ayah akan berusaha mencari pria itu. Sudah menjadi tugas kami untuk menangkap pelakunya," ucap kepala polisi Kim.
"Terima kasih!" ucap Ji-hoon.
"Dimana Kang So-ra?" ucap Ji-tae kepada Ji-hoon.
"Di ruang 302. Dia masih belum sadarkan diri," ucap Ji-hoon.

Ji-tae bangun dari atas kasur yang ditempatinya. Dipegangnya tiang infus seerat mungkin. Dirinya langsun berlari menuju kamar nomor 302.

"Hyung, kamu tidak boleh berlari!" ucap Ji-hoon.

Ji-hoon membuka pintu kamar 302 dan berlari untuk meraih tubuh Kang So-ra. Dipegangnya salah satu tangan So-ra dan dirinya langsung memeluk tubuh So-ra yang masih tak sadarkan diri.

Ji-hoon menyaksikan kejadian itu. Baru kali ini dirinya melihat So-ra dipeluk oleh seorang lelaki selain ayahnya. Setelah mengenalnya selama sepuluh tahun, baru kali ini gadis itu dipeluk oleh seorang lelaki selain ayahnya. Ji-hoon langsung mengalihkan pandangannya dari depan pintu kamar 302 dan lesu. Ternyata, dirinya dan kakak kembarnya menyukai wanita yang sama. Tinggal menunggu jawaban dari So-ra siapa yang akan dia pilih.

"Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa aku berbohong setiap hari? Bagaimana bisa aku tidak pernah mengatakan sedikitpun perasaanku? Aku menyukai orang itu," ucap so-ra yang sedang mabuk.
"Saranghae," ucap So-ra tiba-tiba.
"So-ra!" ucap Ji-hoon.

Semua kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepala Ji-hoon. Ji-hoon ingat betul apa yang pernah terucap dari mulut So-ra sebulan yang lalu. Ji-hoon masih penasaran, sebenarnya siapa pria yang dicintai oleh So-ra. Apakah dia atau kakak kembarnya?

BERSAMBUNG.....

0 komentar: