Short Story

Spring Love #1

00:00 Fu Xue Mei 1 Comments

Seoul, 2012

Kang So-ra, Kim Ji-hoon, dan Kim Ji-tae berjalan bersama di salah satu jalan raya di kota Seoul. Mereka bertiga baru saja kembali menyelesaikan aktivitas mereka di universitas S. Kim Ji-tae adalah mahasiswa tingkat dua jurusan teknologi informasi. Kim Ji-hoon, saudara kembar dari Kim Ji-tae mengambil jurusan seni musik, begitu juga dengan Kang So-ra yang mengambil jurusan seni musik.

"Haruskah kita pergi makan malam bersama?" tanya Ji-tae.
"Setuju!" ucap Kang So-ra.
"Ayo!" ucap Ji-hoon.

Ketiga sahabat itu pergi ke sebuah tempat makan di dekat kampus mereka. Tempat itu adalah sebuah restoran kecil yang terkenal dengan jajangmyun.

"Paman!" teriak So-ra.
"Annyeonghaseo!" ucap Ji-tae dan Ji-hoon bersamaan.
"Silahkan duduk!" ucap Kang Il-joon, paman dari So-ra.

Mereka bertiga menempati kursi yang terletak di dekat jendela. Tempat itu adalah tempat kesukaan So-ra sejak pertama kali masuk ke restoran milik pamannya. So-ra suka melihat apapun dari jendela itu.

"Ji-tae, kenapa kamu terlihat lesu seperti itu?" tanya So-ra.
"Aku rasa, percobaanku membuat sebuah aplikasi tidak berhasil," ucap Ji-tae.
"Bagaimana mungkin? Kamu kan jenius!" ucap Ji-hoon.
"Ah," desah Ji-tae.
"Anak muda, silahkan menikmati jajangmyun ini!" ucap paman Kang.
"Terima kasih paman!" ucap So-ra.

Paman Kang memegang nampan dan berjalan menuju dapur restoran itu. Para pegawai lainnya sibuk melayani tamu yang semakin banyak.

"Paman!" ucap Ji-tae.
"Ada apa?" tanya paman Kang.
"Aku ingin minum soju," ucap Ji-tae.
"Baiklah," jawab paman Kang.

Paman Kang berjalan menuju meja tempat ketiga anak muda itu menikmati jajangmyun. Setelah ketiga anak muda itu selesai menyantap jajangmyun, mereka meneguk segelas kecil soju.

"So-ra!" tegur Ji-hoon.
"Apa?" tanya Sora setengah mabuk.
"Hentikan! Sudah berapa kali kamu meneguk soju?" tanya Ji-hoon.

Kang So-ra menepis lengan Ji-hoon saat Ji-hoon ingin mengangkat gelas yang dipakai oleh So-ra untuk meneguk soju. Ji-hoon terkejut karena sahabat dekatnya itu tiba-tiba menepis tangannya.

"Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa aku berbohong setiap hari? Bagaimana bisa aku tidak pernah mengatakan sedikitpun perasaanku? Aku menyukai orang itu," ucap so-ra yang sedang mabuk.

Ji-hoon dan Ji-tae kaget bersamaan. Ji-hoon ingin memegang pergelangan tangan So-ra, tetapi Ji-tae melarangnya. Ji-tae takut biila tangan Ji-hoon akan ditepis lagi.

"Saranghae," ucap So-ra tiba-tiba.
"So-ra!" ucap Ji-hoon.

So-ra mabuk dan mual. Dirinya ingin memuntahkan isi perutnya. So-ra yang manis itu berjalan sendirian ke arah kamar mandi yang terletak di dekat dapur restoran itu.

"Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Ji-tae.
"So-ra sudah mabuk seperti itu," ucap Ji-hoon.

Ji-hoon menarik lengan So-ra ketika So-ra keluar dari kamar mandi. Ji-hoon membawanya ke depan restoran itu. Ji-tae memgang tas milik So-ra setelah membayar tagihan restoran itu.

"So-ra," ucap Ji-hoon.
"Biar aku saja yang menggendongnya!" ucap Ji-tae.
"Baiklah kakak," ucap Ji-hoon.

Ji-tae menggendong tubuh So-ra sambil berjalan menelusuri jalan itu. Rumah mereka berada pada jalan yang sama, tidak terlalu jauh dari restoran milik paman Kang. Mereka bertiga biasa berjalan kaki setiap ingin ke kampus karena jaraknya yang dekat.

"Saranghae," ucap So-ra sekali lagi.

***

So-ra terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak. Tubuhnya terasa lebih segar, seolah-olah seperti tidak terjadi apapun semalam.

"Bukankah semalam aku sedang makan jajangmyun?" pikir So-ra.

So-ra melihat jam yang tertulis pada ponselnya. Sudah jam delapan pagi. Hari ini So-ra dan Ji-hoon ada kelas jam satu siang.

"Halo!" ucap So-ra saat ada panggilan masuk.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya penelepon itu.
"Ji-tae!" teriak So-ra.
"Dia sudah bangun?" goda Ji-hoon.
"Hei!" ucap So-ra.
"Apakah kamu ingat apa yang kamu katakan semalam?" goda Ji-hoon.
"Memangnya aku mengatakan apa?" tanya So-ra sambil gugup.
"Perlu aku kasih tahu?" tanya Ji-hoon.
"Ji-hoon, hentikan!" ucap Ji-tae.
"Kenapa? Bukannya menarik?" tanya Ji-hoon.
"Berhentilah menggoda dia!" ucap Ji-tae.
"Sudah ya, aku mau mandi dulu!" ucap So-ra.
"So-ra!" ucap Ji-tae.
"Hei, kenapa kamu matikan loudspeaker-nya?" tanya Ji-hoon.
"Ya?" tanya So-ra.
"Mau menemaniku pergi ke toko buku? Aku perlu membeli buku tambahan untuk tugasku," ucap Ji-tae.
"Hari ini?" tanya So-ra.
"Iya, sebelum jam satu. Aku hari ini tidak ada kelas karena profesor Baek berhalangan hadir," ucap Ji-tae.
"Hmmm, baiklah!" ucap So-ra.
"Aku jemput jam sepuluh ya!" ucap Ji-tae.
"Oke!" ucap So-ra.

Ji-tae mematikan layar ponselnya, lalu meletakan ponselnya di atas meja belajarnya. Ji-hoon masih duduk di atas ranjangnya sambil memasukan buku catatannya ke dalam tasnya.

"Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Ji-hoon.
"Bukannya kamu bilang hari ini kamu ingin bertemu pasangan duetmu?" tanya Ji-tae.
"Ya ampun! Aku membuat janji jam sembilan pagi hari ini di kampus," ucap Ji-hoon.
"Cepat berangkat sana!" ucap Ji-tae.
"Oke hyung!" ucap Ji-hoon.

***

So-ra berdiri di depan rak sepatu milik keluarganya. So-ra memilih-milih sepatu mana yang akan dia pakai hari ini. Akhirnya, So-ra memutuskan untuk memakai sepatu warna cokelat yang terletak pada susunan kedua dari atas.

"Cantik sekali anakku hari ini!" ucap ibu So-ra.
"Eomma!' ucap So-ra.
"Kamu mau ke kampus?" tanya ibu So-ra.
"Iya! Aku berangkat dulu ya!" ucap So-ra.
"So-ra, bawa ini!" ucap ibu So-ra sambil memberikan sebuah kantong yang berisi beberapa tempat makan.
"Apa ini?" tanya So-ra.
"Bekal untukmu. Eomma tidak ingin melihat kamu kurang makan. Makanlah makanan ini dengan temanmu," ucap ibu So-ra.
"Terima kasih!" ucap So-ra.

Ting tong.....

"Iya!" ucap So-ra dari dalam rumahnya.

Kim Ji-tae membuka pintu rumah So-ra. So-ra memakai sepatu cokelat yang hampir tidak pernah dipakainya. Sepatu itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas dari si kembar Kim. Sepatu itu tersimpan rapih pada kotaknya.

"So-ra!" ucap Ji-tae saat tak sengaja membuka pintu dan pintu itu menabrak wajah cantik So-ra.
"Ji-tae!" ucap So-ra sambil berusaha berdiri setelah tertabrak pintu.

Ji-tae mengulurkan tangan kanannya untuk membantu So-ra berdiri. "Mianhae," ucap So-ra sambil menatap wajah Ji-tae yang manis.

So-ra dan Ji-tae berjalan bersama menuju toko buku langganan mereka. So-ra merasa nyaman saat berjalan bersama Ji-tae maupun bersama Ji-hoon. Keduanya merupakan teman yang baik baginya.

"Memangnya semalam aku mengatakan apa?" tanya So-ra.
"Apakah kamu penasaran?" tanya Ji-tae.
"Ya, aku memang mudah penasaran," ucap So-ra.
"Nanti kapan-kapan aku kasih tahu. Sekarang jangan dibahas lagi," ucap Ji-tae.
"Baiklah!" ucap So-ra.
"So-ra, hari ini kamu terlihat beda sekali," ucap Ji-tae.
So-ra tersenyum sendirian tanpa mengatakan sepatah katapun padanya. "Akhirnya kamu mau memakai sepatu itu!" ucap Ji-tae.
"Maaf kalau aku baru memakainya hari ini," ucap So-ra.
"Ah, tidak apa-apa!" ucap Ji-tae.

Flashback
April 2009

"Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun So-ra..... Selamat ulang tahun!" ucap Ji-hoon.

Ji-tae membawa sebuah kue cokelat kesukaan So-ra dari depan kedai jajangmyun milik paman Kang. Lilin yang terpasang sudah menyala. Kue itu diletakan di atas meja dan So-ra meniup lilin itu.

"Selamat ya!" ucap Ji-tae.
"Terima kasih!" ucap So-ra.
"So-ra, ini ada hadiah untukmu. Semoga ukurannya pas," ucap Ji-hoon.
"Apa itu?" tanya So-ra.
"Sepatu. Aku ingin kamu sedikit berubah. Jangan memakai sneakers setiap hari," ucap Ji-hoon.
"Apa?" ucap So-ra kaget.
"Bagus tidak? Ji-tae yang memilihkan modelnya," ucap Ji-hoon.
"Iya, bagus kok!" ucap So-ra.
"Kamu suka?" tanya Ji-hoon.
"Suka! Sepatu itu adalah hadiah dari kalian berdua?" tanya So-ra.
"Sebenarnya..."
"Iya, hadiah dari kami berdua!" ucap Ji-tae.
"Gomawo," ucap So-ra.

So-ra merangkul kedua sahabat dekatnya itu dan mengatakan sesuatu. "Kalian berdua adalah hadiah terhebat yang diberikan Tuhan padaku."

***

Setelah keluar dari toko buku, Ji-tae mengajak So-ra untuk pergi menuju gedung fakultas sains. Sebenarnya, selama setahun penuh dirinya mencari ilmu di universitas S, dirinya belum pernah masuk ke dalam gedung sains. Ji-tae selalu menunggu So-ra di taman kampus.

"Wah, banyak sekali mahasiswa berpakaian putih berkeliaran disini," ucap So-ra.
"Ayo kita duduk di kursi kosong itu!" ucap Ji-tae.

So-ra dan Ji-tae duduk di salah satu kursi kosong. So-ra mengeluarkan tempat makan dari dalam kantong yang diberikan oleh ibunya pagi ini.

"Ji-tae, makanlah!" ucap So-ra.
"Apa ini?" tanya Ji-tae.
"Eomma membawakan ini untukmu," ucap So-ra.
"Sampaikan terima kasihku padanya," ucap Ji-tae.

Kim Ji-tae makan siang bersama dengan So-ra. Banyak orang lalu lalang yang memperhatikan mereka berdua. Ji-tae terkenal karena dirinya yang pintar, sehingga banyak orang yang mengenal dirinya.

"Ji-tae!" ucap salah satu teman kuliahnya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Ji-tae.
"Ji-tae, aku sudah membawakan makan siang untukmu," ucap gadis itu.
"Jung Min-ji, kamu tidak lihat kalau aku sedang makan siang? Makanan ini enak loh!" ucap Ji-tae.
"Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku membuat makanan ini?" tanya Min-ji.
"Makan saja dengan teman lain," ucap Ji-tae.
"Susah sekali diajak makan!" ucap Min-ji. Min-ji pergi meninggalkan Ji-tae dan So-ra.
"Siapa gadis itu?" tanya So-ra.
"Ah, dia teman anak teknik kimia," ucap Ji-tae.
"Dia sering menemuimu?" tanya So-ra.
"Iya, dia sering mendatangiku, tapi aku tidak mau dengannya," ucap Ji-tae.
"Kenapa?" tanya So-ra.
"Karena ada gadis lain yang aku suka," ucap Ji-tae.
"Wah, beruntung sekali gadis itu!" ucap So-ra.
"So-ra!" ucap Ji-tae.
"Ya?" tanya So-ra.
"Ada saus di dekat bibirmu!" ucap Ji-tae.

So-ra mecari-cari tissiu di dalam tasnya, namun dia tidak membawa selembar tissue. Ji-tae mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya. Ji-tae membersihkan saus itu dan memandangi So-ra sesaat. Ji-tae mendekati wajah So-ra, sehingga So-ra sedikit kaget.

Kim Ji-hoon melihat Ji-tae dan So-ra secara tidak sengaja. "So-ra!" teriak Ji-hoon.

Ji-tae memundurkan wajahnya dan manjauhkan pandangannya dari arah wajah cantik Kang So-ra. Sapu tangan yang dipegangnya dimasukan kembali ke dalam tasnya.

"Ji-hoon, ada apa?" tanya So-ra.
"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu ada di gedung ini," ucap Ji-hoon.
"Ada apa?" tanya So-ra.
"Cepat! Aku dengar hari ini akan ada kuis dadakan. Kyung-min tidak sengaja melihat judul soal kuis di meja kerja profesor yoon," ucap Ji-hoon.
"Ji-tae, aku pergi dulu ya!" ucap So-ra.
"Terima kasih untuk makan siangnya ya!" ucap Ji-tae.

Ji-hoon dan So-ra berjalan secara cepat menuju kelas mereka karena kelas akan dimulai lima menit lagi. Ji-hoon takut jika So-ra terlambat dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti kuis.

BERSAMBUNG.....

1 comment:

  1. kakak kayaknya lebih cocok kalau bikin cerita yang serinya cuma pendek

    ReplyDelete