Novel

You are You - 11

22:21 Melissa Dharmawan 0 Comments

Hari ini adalah hari minggu, dua hari setelah Yoon-bi dan Yoon-na berulang tahun. Hari ini seluruh anggota hadir. Eomma, Jong-seok, calon ayah angkat, dan mereka mengundang Yi-an.

"Minggu depan eomma dan appa akan menikah. Mulai hari ini, Eomma tinggal di rumah ini. Butik sudah tutup sejak kemarin dan bulan depan eomma akan membuka butik baru di Seoul," ucap Kyo Eun-ri.
"Chukkae, bu-in, nim!" ucap Yi-an.
"Gamsahabnida, Yi-an!" ucap Kyo Eun-ri.

Semua anggota keluarga dan Yi-an melanjutkan acara makan malam bersama. Hari ini Jong-seok memasak makanan yang sangat enak. Semua anggota menyukai masakannya.

"Yoon-bi, apakah kamu sudah ingat tentang Yi-an?" tanya Yoon-na.
"Hanya ingat sedikit, saat pertama kali bertemu," ucap Yoon-bi.
"Wah, ingatanmu sudah mulai kembali!" ucap Jong-seok.
"Hanya sedikit," ucap Yoon-bi.

Setelah selesai makan malam bersama, Yoon-bi duduk di kursi depan rumah. Yi-an keluar dari rumah dan ikut duduk di kursi yang sama dengan Yoon-bi.

"Yi-an, tolong jangan terlalu dekat," ucap Yoon-bi.
"Wae?" tanya Yi-an.

Yoon-na membawa nampan berisi gelas-gelas berisi jus jeruk. Saat Yoon-na ingin mengantarkan kepada Yoon-bi dan Yi-an, dia tidak sengaja mendengar percakapan diantara mereka berdua.

"Aku tahu kalau kamu menyukaiku. Kamu pernah mengatakannya waktu kita masih kecil di pinggir sungai Han bahwa kamu menungguku hingga kita besar dan selalu ingin bersama denganku. Benar kan? Sekarang, rasanya aku egois jika aku datang setelah tujuh tahun menghilang, lalu aku merebut semuanya dari kakak kembarku. Dia menyukaimu, Yi-an! Dia menyukaimu. Mianhae, aku tidak bisa memegang janjiku tujuh tahun yang lalu, saat aku mengatakan bahwa aku juga aka nselalu bersamamu. Tidak adil aku merebut perasaan orang yang sudah menunggumu sejak masuk sekolah menengah pertama. Aku membaca buku harian Yoon-na yangtak sengaja aku temukan di salah satu laci. Dia bilang, dia selalu menunggumu," ucap Yoon-bi.

Yoon-na kaget mendengar semua yang dikatakan oleh adik kembarnya itu. Yoon-na memang menyukai Yi-an, tapi dia tidak pernah berani mengatakannya. Baru saja dia ingin mengatakan bahwa Yoon-bi seharusnya menerima perasaan Yi-an, tapi Yoon-bi malah menceritakan isi buku harian itu.

"Mianhae," ucap Yoon-bi sambil menangis.
"Jangan merasa bersalah!" ucap Yi-an.
"Yoon-bi!" ucap Yoon-na sambil menganarkan dua gelas jus jeruk kepada Yoon-bi dan Yi-an.
"Eonni!" ucap Yoon-bi.
"Yoon-na, apakah yang dikatakan oleh Yoon-bi benar?" tanya Yi-an.
"Ye! Tapi, hari ini aku ingin memberikan hadiah ulang tahun paling untuk Yoon-bi.
"Apa itu?" tanya Yoon-bi.
"Aku ingin memberikan semua perasaanku kepadamu. Aku ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Aku ingin Yi-an menjadi pelindungmu. Aku tahu, bahwa sulit sekali menjadi dirimu, apalagi di hadapan Hye-jin. Aku tidak tega mendengar semua cerita yang kamu ceritakan padaku. Rasanya, lebih tidak adil kalau aku merebut perasaanmu. Tanpa kamu bilang, aku tahu bahwa kamu menyukai Yi-an. Kamu menyukainya sejak pindah kesini bulan lalu. Tolong terima dia," ucap Yoon-na.

Yi-an jadi bingung dan canggung. Yoon-bi juga. Yoon-bi bingung kenapa Yoon-na memberikan semua perasaannya kepadanya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Yoon-bi.
"Ye!" jawab Yoon-na.
"Yi-an..." ucap Yoon-bi.

Yi-an menatap Yoon-bi saat Yoon-bi menyebutkan namanya. Yi-an memegang kedua bahu Yoon-bi dan mendekatinya. Yi-an mencium Yoon-bi di depan ointu rumahnya. Jong-seok melihat kejadian itu melalu jendela ruang tamu.

"Bahagialah dengan Yi-an," ucap Yoon-na.
"Gomawo, eonni!" ucap Yoon-bi.

***

"Yoon-bi, nilai matemaikamu hampir sempurna," ucap Hye-jin saat melewati tempat duduk Yoon-bi.
"Wae?" tanya Yoon-bi.
"Apakah kamu mencuri soal atau mendekati guru untuk mendapat nilai bagus?" tanya Hye-jin.
"Hye-jin! Kenapa kamu menuduhku seperti itu?" tanya Yoon-bi.
"Lee Yoon-bi! Kamu belum puas? Disini kamu mendapat banyak sekali teman. Semuanya bisa bersikap manis terhadapmu. Apakah kamu memaksam ereka untuk berteman denganmu?" tanya Hye-jin.
"Choi Hye-jin! Ternyata kamu rebih rendah dari pada apa yang aku kira. Kamu mengatakan bahwa aku pecundang. Sekarang, tak ada yang mau berteman denganmu kecuai sepupumu. Siapa yang pecundang, huh?" ucap Yoon-bi.

Hye-jin mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar pipi Yoon-bi. Saat dia melayangkan tangan kanannya, tiba-tiba sepupunya itu datang dan menahan tangannya.

"Hentikan!" ucap Kang Gang-so.
"Wae?" tanya Choi Hye-jin.
"Kamu sudah keterlaluan!" ucap Gang-so.
"Mwe? Hyung, apakah kamu membela dia karena kamu menyukainya?"
"Mwe?" tanya Gang-so.

Yoon-bi berjalan keluar kelas dengan cepat. Gang-so mengejarnya. Yi-an yang sedang membawa sebuah buku dari perpustakaan kaget dan melihat bahwa ada yang tidak beres.

"Ada apa ini?" tanya Yi-an sebagai ketua kelas.

Yi-an melihat ekspresi wajah Yoon-bi dan mulai mengerti. Pasti Yoon-bi mertengkar dengan Hye-jin lagi.

***

Siang ini guru Kim, Yi-an, Gang-so, dan Hye-jin berada di ruang kepala sekolah. Kepala sekolah Choi melihat ada keributan melalui CCTV. Sekarang, beliau sudah tahu siapa anaknya.

"Yoon-bi, apakah benar bahwa kamu pernah mencuri soal sehingga kamu mendapatkan nilai tertinggi di kelas?" tanya kepala sekolah Choi.
"Ani! Aku tidak melakukan kesalahan," ucap Yoon-bi.
"Yi-an, sebagai ketua kelas, tolong ceritakan semua ini seperti apa yang aku dengar darimu," ucap guru Kim.
"Anak anda telah melakukan kejahatan terhadap Yoon-bi. Dia selalu membuat Yoon-bi tersiksa selama sebulan ini. Bukan hanya itu, sewaktu anak anda dan Yoon-bi satu sekolah di Incheon, Hye-jin menyiksa Yoon-bi lebih parah lagi," ucap Yi-an.
"Choi Hye-jin!" ucap kepala sekolah Kim.
"Appa... Tidak seperti itu," ucap Hye-jin berusaha mengelak.
"Sejak kapan aku mengajarimu untuk berbuat kasar dengan orang lain?" tanya kepala sekolah Choi.
"Appa..." ucap Hye-jin.
Mulai sekarang, aku tidak akan mempedulikan kehidupanmu lagi. Setelah pulang sekolah, langsung pulang! Aku tidak akan menanyakan bagaimana harimu di sekolah. Aku tidak tahu mau diletakkan dimana mukaku ini. Guru Kim, tolong pindahkan anak saya ke kelas 2-2 saja," ucap kepala sekolah Choi.
"Ye!" ucap guru Kim.

Semua orang keluar dari ruang kepala sekolah kecuali kepala sekolah Choi. Hari ini, Hye-jin dimarahi oleh ayahnya sendiri.

***

"Yi-an, gomawo!" ucap Yoon-bi.
"Gwaenchanh-a?" tanya Yi-an.
"Ye! Nan gwaenchanh-a," ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi..." ucap Yi-an sambil sedikit menangis.

Yi-an memeluk Yoon-bi di pinggir sungai Han. Hari ini, tepat sudah lewat tujuh tahun semenjak Yi-an mengatakan bahwa dia selalu menunggu Yoon-bi. Dulu, Yi-an mengatakan di tempat ini, pinggi sungai Han.

"Yoon-bi, aku selalu menunggumu," ucap Yi-an.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku!" ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi, apakah kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Yi-an.
"Ye! Kita dulu pernah ke tempat ini beberapa kali dan kamu pernah memintaku untuk bersamamu. Kamu berjanji akan selalu menungguku. Mianhae, aku tidak ada di sisimu selama tujuh tahun ini, karena lima hari setelah hari itu aku mengalami kecelakaan," ucap Yoon-bi.
"Gwaenchanh-a! Kembalinya dirimu ke Seoul adalah hadiah terbaik setelah tujuh tahun kita berpisah," ucap Yi-an.
"Yoon-na, terima kasih sudah mau menerima perasaanku hari ini," ucap Yi-an.
"Nega joa," ucap Yoon-bi.

Yoon-bi dan Yi-an berpelukan di pinggir sungai Han pada malam ini. Suasana menjadi romantis. Yoon-bi dan Yi-an berjanji untuk saling menjaga satu sama lain.

TAMAT

0 komentar: