Novel

Elegi Hati 4 - Galau

23:24 Melissa Dharmawan 0 Comments

Januari, 2007

Libur natal dan tahun baru telau usai. Hari ini, kegiatan belajar mengajar kembali berjalan dengan normal. Masuk jam 7, pulang jam 2 siang.

"Mik, lo daftar konser natal dan tahun baru sekolah gak?" tanya Lisa.
"Belum Lis, emang kenapa?" tanyaku.
"Lo kan lumayan berbakat, kenapa gak ikutan aja. Punya bakat kok dipendam?" ucap Lisa.
"Iya nih Mik, sayang lho," bales Anne.
"Hmm... iya iya, sepulang skeolah aku akan mendaftar ke bu Weda. Oiya, kalian pada mau makan apa?" tanyaku.
"Mik, beli nasi goreng bang urip yuk!" ajak Lisa.
"Ayo Lis!" jawabku.

Aku, Lisa, dan Anne mengantri di depan lapak milik bang urip di kantin, sementara Dita dan Josse, temen sekelas Dita, terlihat sedang mengantri untuk memesan bakso.

"Mik, sini bentar deh!" ucap Nick tiba-tiba dari sampingku.
"Lis, tolong pesenin mie goreng bakso gak pedes ya," ucapku sambil berjalan ke pinggir kantin.
"Mik, jangan cuek kenapa sih?" ucap Nick.
"Emangnya kita harus nempel setiap detik?" jawabku.
"Ya, bukan itu maksudku," jawab Nick.
"Trus apa?" jawabku.
"Ah, kamu ini gak ngerti deh! Oiya, sabtu besok kamu nonton aku konser di sekolah ya! Aku pingin kamu hadir,"ucapnya.
"Iya, aku juga aka ntampil disana, tapi belum daftar sih," ucapku.
"Mau aku daftarin? Kamu gak perlu ke bu Weda, soalnya panitia acaranya kan semuanya dari kelas 3," ucap Nick.
"Yaudah deh!" jawabku.
"Oke, lanjutin jajannya gih!" ucap Nick.

***

Sepulang sekolah, aku menolak ajakan Nick untuk pergi ke Plaza. Aku ingin langsung sampai ke rumah dan memikirkan kira-kira lagu apa yang akan ku tampilkan nanti.

Aku sudah kehabisan ide, tapi aku sudah terlanjur mendaftarkan diri. Aku gak mau mundur dari konser musik itu, sebab aku tidak mau dibilang pemalu lagi.

"Ah, coba aku tanya ke Gio saja," ucapku dalam hati.

Mika
Gi, bisa kita ketemu di depan rumah?
Sent 14.30

Gio
Ada apa Mik? Boleh kok, tunggu bentar ya, 5 menit lagi.
Sent 14.37

Gio adalah salah satu tetanggaku yang bersekolah di sekolah yang sama denganku. Dia adalah seniorku yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri.

"Hai Mik, ada apa? Jangan bilang kamu mau curhat soal..."
"Sttt..." ucapku sambil menutup mulut Gio.
"Kenapa Mik?"
"Ini, aku mau minta bantuan. Aku sudah kehabisan ide. Aku mendaftarkan diri ke acara konser sekolah sabtu besok, tapi aku gak tau mau main lagu apa nanti."
"Oh.. kenapa bicarain disini sih? Ayo kita masuk ke dalam rumahku."

"Eh Mika!" sapa mama Gio.
"Halo tante!" ucapku.
"Gi, mama pergi dulu ya! Nanti makan malemnya ambil sendiri di dapur," ucap mama Gio.
"Siap ma!" jawab Gio.

Setelah mama Gio pergi, aku langsung masuk ke salam rumah Gio. Di dalam rumah Gio ada sebuah piano. Gio bisa bermain piano sepertiku.

"Mik, menurutku, kamu harusnya menampilkan lagu yang menggambarkan perasaanmu saat ini. Aku gak tahu apa yang sedang kamu rasakan, tapi menurutku, apapun yang kamu rasakan, terutama hal-hal yang kamu resahkan, sebaiknya segera kamu ungkapkan. Kamu bisa ungkapkan lewat sebuah lagu."
"Eh, bener juga ya Gi."
"Untuk soal aransemen, aku bisa bantu kok!"
"Makasih ya Gi!"
"Untuk apa?" tanyanya.

untuk perhatianmu selama ini.

"Untuk sarannya tadi."
"Yuk, kita mulai latihan."
"Latihan?" tanyaku kaget.
"Ya latihan piano. Kamu kira apa?" tanya Gio.
"OH..."

Aku mambuka piano Gio. Aku mencoba bermain sebuah lagu. Akhirnya, aku berniat untuk memainkan lagu milik Brian McKnight yang berjudul 'Stay Or Let It Go'.

"Gi, coba kamu nyanyiin lagunya deh, aku pingin cocokin nada yang aku mainkan udah pas belum." ucapku.
"Siap!" jawabnya.

I can't keep playing myself like this
There's only one thing I wanna know
Should I stay or should I go?



"Wah, bagus juga suara kamu Gi," ucapku dengan jujur dan kaget.
"Hehehe..." jawabnya.
"Gi, gimana kalau kamu jadi penyanyi buatku aja? Aku tetep main piano, tapi biar lebih menarik, kamu nyanyi juga. Ya, anggep aja kita duet," ucapku.
"Nyanyi?" tanya Gio.
"Iya Gi! Kata temenku, kalau kita punya bakat, jangan di pendam sendirian," ucapku.
"Iya deh, aku mau tampil juga. Oiya, kamu jangan bilang orang lain ya kalau aku yang nyanyi, nanti semua pada ketawa," ucap Gio.
"Santai aja Gi," jawabku.
"Ayo, kita latihan lagi," ajak Gio.

***

"Mik, nanti sore makan eskrim yuk!" ajak Nick.
"Males ah," ucapku sambil mengaduk bumbu kacang.
"Mik, kok cuma diaduk-aduk bumbu kacangnya? Gak dicampur ke batagornya?"
"Mik... kok diem?"
"Gak mood." ucapku.
"Lho kenapa? Cerita dong sama pacar sendiri," ucap Nick.
"Tau ah," ucapku.
"Kok ngambek gitu sih? Kalau ngambek terus, aku tinggal ke atas lho," ucap Nick.
"Yaudah gih!" ucapku.
"Aku pergi ya, bye! Sampai ketemu lusa," ucap Nick.

Aku langsung menyantap batagor pesananku sendirian. Pada jam istirahat ini Anne harus bertemu pak Joko karena Anne terpilih mewakili sekolah untuk ikut olimpiade matematika, sedangkan Lisa tidak masuk sekolah.

"Mik, sendirian aja?" ucap Dita sambil membawa segelas es jeruk.
"Iya nih Dit." ucapku.
"Sini tak temenin," ucap Dita.
"Dit, nanti siang kita gak bisa pulang bareng dulu," ucapku.
"Tumben, kenapa?" tanya Dita.
"Udah ada janji mau langsung pergi."
"Pergi? sama pacar?"
"Bukan, sama Gio."
"Gio? Bukan Nick?"
"Hmm..." ucapku sambil mengangguk.
"Mik, kamu mau sampai kapan kayak gini? Kamu makin lama makin aneh aja deh! Menurutku ya, kalau kamu naksir sama Gio, ya ngapain masih simpen status sama Nick?"
"Aku cuma gak mau bikin orng lain kecewa, Dit!"
"Kayak gini aja udah bikin Nick kecewa lho! Mungkin kamu gak tau apa yang dia rasain. Bisa aja dia kecewa, tapi gak mau kehilangan kamu. Jadi, dia diem-diem aja."
"Aku gak tau mau gimana lagi."
"Ikuti kata hatimu saja!"

Sepulang sekolah, Gio menungguku di depan gerbang sekolah, tapi tidak persis didepan gedung sekolah agar tidak ada yang curiga, termasuk Nick.

"Yuk Mik!"
"Yuk!"

Aku dan Gio berjalan kaki sampai ke depan halte bus. Gio tidak membawa kendaraan, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kemanapun aku melangkah dengannya, disitulah aku menemukan sebutir kebahagiaan.

"Mik, itu bus nya dateng!" ucap Gio.
"Yuk!" jawabku.

"Mas, mbak, mau kemana?" tanya satpam yang ada di dapam bus itu.
"Mas, turun di depan ruko Sitra ya! Ini uangnya untuk 2 orang," ucap Gio. Pak satpam langung memasukan uang itu ke dalam mesin tiket.
"Ini mas tiketnya," ucap satpam itu.
"Mik, kamu jarang naik bus ini ya?" ucap Gio.
"Beberapa kali pernah kok," jawabku.

***

"Wah, jadi ini yang mau kamu tunjukin tadi? Ternyata kamu ngajak aku ke studio musik," ucapku.
"Iya, kebetulan aku kenal dengan yang punya studio ini, jadi bookingnya gampang," jawab Gio.

Gio mengajakku ke studio musik yang tidak terlalu jauh. Gio bilang, kita harus mencoba untuk latihan disini supaya lebih serius saat tampil nanti.

"Jangan bilang kamu mau rekam permainan kita di sini," ucapku.
"Yups! Buat apa ke studio kalau gak di rekam juga? Supaya bisa diputer ulang di rumah kalau pingin latihan sendiri," jawabnya.
"OH," jawabku.

Setelah kami selesai latihan selama hampir 1 jam, Gio mengantarku ke rumahku. Kedua orang tuaku masih di luar kota, jadi hanya ada mbak Minah.

"Lho Nick?" ucapku kaget.
"Kamu kemana aja sih? jam segini baru pulang! Hpmu gak aktif pula. Lihat, di luar gerimis. Gak pake payung pula," ucap Nick khawatir.
"Maaf, batre HP ku habis tadi. Kamu kenapa sih? kok kayak ngatur-ngatur gitu?" tanyaku.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu pergi sama cowo lain sih?" tanya Nick balik.
"Aku yang harusnya tanya, kamu kok bisa kesini? Aku ka ngak pernah kasih tau alamat rumahku," tanyaku balik.
"Emangnya aku gak bisa tanya sana sini apa?" jawab Nick.
"Nick, maaf ya kalau aku tadi ajak Mika pergi," ucap Gio merasa bersalah.
"Ini bukan salah Gio," ucapku spontan.
"Mik, aku pulang dulu ya, makan eskrimnya kapan-kapan aja ya," ucap Gio.

Gio langsung berlari karena gerimis. Rencana makan eskrim dengan Gio aku batalkan karena ada Nick di depan rumahku.

"Nick, ayo masuk ke dalam! Kamu mau diliat tetangga?" ucapku.
"Kamu kenapa sih? Semakin aneh, bukan seperti Mika yang aku kenal," ucap Nick.
"Maaf... Tadi aku pergi ke studio musik sama Gio. Kami latihan untuk konser lusa," ucapku.
"Kamu mau tampil dengna Gio?" ucap Nick.
"Iya," jawabku.
"Kenapa sih? Kenapa musti dia?"tanya Nick.
"Entahlah, aku juga gak tau kenapa," jawabku.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: