Novel

Elegi Hati 11 - Sun Set

23:03 Melissa Dharmawan 2 Comments

Juli 2007

Hari ini aku dan Gio bertemu di taman segar. Aku bosan di rumah. Aku bosan dengan liburan kenaikan kelas.

"Kamu liburan gak kemana-mana?" tanya Gio.
"Belum ada rencana sih kali ini. Mungkin karena kakakku mau pulang dari Singapore," ucapku.
"Oh... " ucap Gio sambil minum teh.
"Gi, kemarin aku dah ketemu arti kata yang kamu bisikan saat konser waktu itu," ucapku.
"Emangnya apa?" tanya Gio.
"Gi, aku sudah sadar sejak kamu datang ke rumahku waktu itu, yang tiba-tiba memaksaku belajar lagu duet karanganmu itu. Rasanya aneh kalau gak ada apa-apa kamu minta aku pelajarin lagu itu sesering mungkin," ucapku.
"Lalu, apa jawabanmu?" ucap Gio.
"Aku rasa aku sudah tidak bisa menyembunyikan ini semua. Aku sudah capek menerima beberpa kali surat tanpa nama. Semakin lama semuanya semakin jelas. Pasti bukan Nick, karena Nick pasti mengatakan apapun lewat telepon atau memintaku bertemu langsung. Hanya ada satu teman cowok yang aku kenal yang sangat pemalu," ucapku.
"Jadi, kamu menerima cintaku tidak?" tanya Gio.
"Watashi mo anata o aishitemasu," ucapku.
"Hei, siapa yang orang jepang, siapa yang ngomong pake bahasa jepang?" ucap Gio sambil mengelitiki pinggangku.
"Aw, geli!" ucapku.
"Katakan, dari mana kamu tahu kalimat itu dalam bahasa jepang?" tanya Gio.
"Rahasia!" ucapku.
"Ayo ngaku!" ucap Gio.
"Gak mau!" ucapku.
"Hahahaha," ucap Gio.
"Oiya, Aku baru inget kalau kamu keturunan orang jepang beneran. Aku sempat ngira kalau mungkin papamu diberikan nama jepang, trus di turunkan ke anak-anaknya tanpa ada sesuatu. Ternyata, kamu memang orang jepang,walaupun sudah keturunan ke sekian," ucapku.
"Hahahaha... kakekku yang pernah tinggal di Jepang, lalu menikah dengan nenekku yang orang indonesia," ucap Gio.
"Gi, aku pingin kamu main piano untukku sekarang," ucapku.
"Sekarang? Mana ada piano di taman?" tanya Gio.
"Ayo kita jalan ke ruko, ke studio musik! Kita bikin rekaman yang bagus," ucapku.
"Gimana kalau sekarang kita pergi ke studio foto aja?" ajak Gio.
"Ih, ngapain kesana? Serasa dapet job jadi model aja," ucapku.
"Yang jelas, mian pianonya besok aja," ucap Gio.
"Yaudah, kalau gitu kita duduk aja disini! Sebentar lagi matahari akan tenggelam dan aku pingin melihatnya bersamamu," ucapku.

Aku dan Gio tetap duduk di kursi taman sambil menunggu matahari tenggelam. Kami melihat beberapa anak kecil mengendarai sepedanya di taman. Kami juga melihat anak kecil lainnya yang saling mengejar sambil berlari.

"Mika!" ucap Gio.
"Ya?" tanyaku.
"Kamu cantik banget sore ini. Walau kamu gak pakai bagu bagus dan gak pake make-up, kamu tetap cantik luar dan dalam. Aku rasa, aku tergila-gila denganmu," ucap Gio sambil merangkulku.
"Kamu juga cakep kok!" ucapku.
"Hehehe..." ucap Gio malu-malu.
"Lihat! Langit sudah mulai memerah," ucapku.
"Ayo, keluarkan kamera-mu!" ucap Gio.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Mari kita membuat selfi portrait!" jawab Gio.

Aku dan Gio saling merangkul sambil memotret diri kami sendiri, diiringi langit yang kemerahan.

Bersambung.....

2 comments: