Novel

When I Was Your Man #9

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Hari ini Sang-ho sudah kembali dari Jepang. Setelah kembal idari Jepang, Sang-ho langsung dipanggil ke kantor polisi bersama dengan Ji-hyun dan Joo-ahn.

"Sang-ho!" ucap Ji-hyun.
"Apakah kamu merindukanku?" tanya Sang-ho.
"Tentu saja," ucap Ji-hyun.
"Silahkan duduk," ucap detektif Park.
"Sebenarnya, ada apa memanggil kami kemari?" tanya detektif Park.
"Sang-ho, aku ingin memebrikan pertanyaan padamu. Jawab dengan jujur karena percakapanmu akan direkam dan disaksikan oleh detektif lain di luar," ucap detektif Park.
"Kenapa Sang-ho yang diintrograsi?" tanya Ji-hyun bingung.
"Ji-hyun dan Joo-ahn bisa menunggu di luar bersama detektif lainnya," ucap detektif Park.

Setelah Ji-hyun dan Joo-ahn keluar dari ruang wawancara khusus, wawancara langsung dimulai. "Apakah akun samaran ini adalah milikmu?" tanya detektif Park.
"Iya, itu memang milikku yang aku buat dulu untuk berbicara dengan orang lain," ucap Sang-ho.
"Apakah dua minggu yang lalu kamu berada di Jepang, di kota Osaka?" tanya detektif Park.
"Iya, aku sedang ada pelatihan memasak disana," jawab Sang-ho.
"Apakah benar kamu adalah orang yang membayar penculik yang menculik Ji-hyun?" tanya detektif Park.
"Aku memang memberikan uang dan makanan untuk orang itu, tetapi aku tidak memintanya untuk menculik Ji-hyun sampai sejauh itu. Aku hanya memintanya untuk memperhatikannya dan mengawasinya selama aku berada di Jepang. Aku tidak tahu kalau orang itu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Ji-hyun. Aku juga tidak tahu kalau sebelumnya orang itu pernah menculik Ji-hyun juga," ucap Sang-ho.
"Apakah kamu yakin dengan pernyataanmu barusan?" tanya detektif Park.
"Benar, memang seperti itu kenyataannya. Walaupun aku menyuruh penculik itu untuk mengawasi Ji-hyun, tetapi bukan aku yang memintanya untuk menculik Ji-hyun. Penculikan terjadi karena kemauan penculiknya sendiri," ucap Sang-ho.
"Walaupun kamu mengaku telah membayar penculik itu, kamu tetap terlibat dalam hal itu. Kamu tidak akan menerima hukuman dipenjara selama bertahun-tahun seperti orang itu, tetapi aku akan memasukanmu kepada sukarelawan tugas sosial bulanan selama enam bulan," ucap detektif Park.
"Ji-hyun, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukan hal ini," ucap Sang-ho.

Mendengar wawancara itu, Ji-hyun langsung pergi meninggalkan Sang-ho. Ji-hyun tidak ingin melihat wajah Sang-ho lagi.

"Ji-hyun!" panggil Sang-ho.
"Sang-ho, lebih baik kita sudahi saja hubungan kita! Batalkan saj rencana pernikahan kita!" ucap Ji-hyun di depan kantor polisi.
"Apa katamu? Kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kita? Kenapa? Bukankah kamu sudah berjanji padaku?" tanya Sang-ho.
"Semua ini karena kamu! Aku mengalami masalah karena kamu memanggil orang itu. Kamu juga tidak bertangungjawab padaku. Aku lelah dan tidak ingin berhubungan denganmu lagi. Aku kecewa padamu!" ucap Ji-hyun sambil memukul dada Sang-ho.
"Ji-hyun!" ucap Sang-ho.
"Biarkan saja dia pergi!" ucap Joo-ahn sambil menarik tubuh Sang-ho.
"Siapa kamu sampai mencampuri urusan orang lain?" tanya Sang-ho.
"Aku yang harusnya bertanya. Kenapa selama Ji-hyun mendapakan masalah itu sampai dia dirawat di rumah sakit kamu tidak meneleponnya? Pacar macam apa itu?" tanya Joo-ahn.
"Aku tidak tahu," ucap Sang-ho.
"Bohong besar! Apa perlu aku masuk ke dalam dan mengatakan bahwa kamu tidak memberhentikan penculik itu saat sudah menculik Ji-hyun? Sebenarnya, aku tahu kalau kamu tahu Ji-hyun sedang diculik. Detektif Park mengamankan ponsel penculik dan membongkar semua pesan yang telah dihapus. Bahkan, detektif juga memberitahu kalau kamu dan penculik itu berbicara lewat telepon beberapa kali waktu itu," ucap Joo-ahn.
"Apa katamu? Jadi Sang-ho tahu semuanya?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, sengarkan aku dulu," ucap Sang-ho.

PLAK!

Ji-hyun menampar pipi Sang-ho dan disusul dengan pukulan dari Joo-ahn. Ji-hyun langsung pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil miilik Joo-ahn, bukan mobil milik Sang-ho.

"Ayo kita pergi," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn menyetir jalan dan tidak tahu ingin membawa Ji-hyun kemana. Ji-hyun hanya menangis di samping kursi kemudi. Joo-ahn jadi bingung harus pergi kemana. Kalau membawa Ji-hyun pulang ke rumahnya, In-ho akan menjadi bingung.

"Kenapa kita pergi ke taman ini lagi?" tanya Ji-hyun.
"Disinilah kamu bisa meluapkan semua tangisanmu seharian," ucap Joo-ahn.
"Ketua, maksudku Joo-ah, terima kasih telah membawaku ke taman ini," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn duduk di atas kursi kosong di taman itu. Ji-hyun memeluk Joo-ahn dari belakang sambil menangis.

"Joo-ahn, aku mencintaimu," ucap Ji-hyun.
"Iya, aku tahu. Malam itu kamu mengatakannya kepadaku," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, tolong jangan marah-marah padaku di kantor. Aku tidak ingin kamu marah-marah lagi kepadaku. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Sebenarnya, sejak kita bertemu di kereta bawah tanah setelah delapan tahun berpisah, saat itu aku ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu. Tetapi, waktu itu kamu bersikap dingin kepadaku. Aku tidak jadi mengatakan kalau aku merindukanmu karena aku pikir kamu cuek dan tidak lagi peduli kepadaku. Kamu tahu tidak kenapa aku menerima tawaran kerja di Seoul sebagai asisten ketua tim marketing? Karena aku tahu bahwa kamu adalah ketuanya. Awalnya, aku memilih pindah ke Seoul karena aku merindukan kota kelahiranku. Lalu, di tengah jalan sebelum kepindahanku, aku sempat berniat untuk membatalkan perjanjian kepindahanku. Setelah aku dibujuk oleh atasanku di kantor cabang dan dia menceritakan keadaan anggota tim marketing beserta menjelaskan masing-masing anggotanya, aku tidak jadi menolak niatku karena aku yakin bahwa aku bisa kembali dekat denganmu lebih dari sekedar asisten dan atasan," ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, sebenarnya saat aku mengetahui bahwa kamu adalah asistenku, aku sempat ingin marah dan ingin minta untuk dicarikan asisten baru, tetapi aku tidak punya wewenang untuk itu. Semua sudah diatur oleh manajer dan staf HRD. Awalnya aku kesal dan memarahimu di hari pertama kamu bekerja denganku. Lama kelamaan, aku menyadari bahwa aku marah karena aku terkejut dan karena aku hanya berusaha untuk mengalihkan perasaanku sendiri. Sekarang, aku terjebak dalam amarahku sendiri," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, mari kita kembali seperti dulu lagi," ucap Ji-hyun.
"Aku juga ingin kita kembali lagi seperti delapan tahun yang lalu," ucap Joo-ahn.

***

Beberapa bulan kemudian

Tahun sudah berganti. Musim telah berganti. Ji-hyun dan Joo-ahn sudah bersama selama beberapa bulan. Mereka tampak bahagia karena mereka benar-benar saling mencintai satu sama lain.

Penculik yang sudah ditangkap dan dipenjarakan akhirnya dikirim ke rumah sakit jiwa oleh pihak kepolisian karena percuma saja bila penculik itu hanya dipenjara. Penculik itu harus diperiksa dan harus tinggal di rumah sakit jiwa.

Sang-ho masih menjadi sukarelawan kerja sosial yang diadakan oleh kepolisian untuk masyarakat di kota Seoul. Sang-ho harus hadir minimal seminggu sekali dalam acara ini dengan ancaman dipenjara bila mencoba tidak datang sesuai aturan.

"Hari ini tim marketing kita mendapat bonus besar berkat kerja keras ketua Kim," ucap Eun-ha.
"Asik!" ucap Ji-hyun.
Semua anggota tim marketing memandang Ji-hyun dengan bingung. "Kenapa kalian memandangku dengan tatapan seperti itu?" tanya Ji-hyun.
"Terima kasih untuk kerja sama kita semua dalam pemasaran produk tas musim panas dan musim dingin. Sebentar lagi musim semi akan tiba dan kita akan memulai kerja keras kita lagi," ucap ketua Kim di ruang rapat.
"Sebagai tanda terima kasih, perusahaan akan memberikan tiket konser gratis untuk ketua Kim dan asisten Lee," ucap Manajer Jang.
"Dalam rangka apa ini?" tanya Joo-ahn.
"Selamat atas pernikahan kalian!" ucap Manajer Jang.
"Apa? Mereka akan menikah? Rasanya, mereka baru saja pacaran," ucap Eun-ha kaget.
"Eh, kamu belum tahu kalau mereka sudah kenal sejak delapan tahun yang lalu? Mereka dulu jua pernah pacaran," ucap Mi-yeon.
"Selamat ya!" ucap para anggota tim marketing.

***

Setelah selesai bekerja, Joo-ahn pulang ke rumahnya. Disampingnya, Ji-hyun ikut ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tua Joo-ahn. Mereka akan minta restu kepada kedua orang tua Joo-ahn sebelum menikah. Walaupun mereka berdua sudah memilih tanggal pernikahan, tetap saja mereka harus minta restu dari orang tua.

"Appa, eomma, ini adalah Ji-hyun, wanita yang dikirim oleh Tuhan sebagai teman di sisa hidupku," ucap Joo-ahn.
"Annyeonghaseyo, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Ji-hyun.
"Rasanya terakhir kali aku melihatmu sembilan tahun yang lalu," ucap ibu Joo-ahn.
"Appa, eomma, mohon restui pernikahan kami satu setengah bulan lagi," ucap Joo-ahn.
"Mohon restunya," ucap Ji-hyun.
"Tentu saja kami merestui kalian berdua," ucap ayah Joo-ahn.
"Terima kasih!" ucap Joo-ahn senang.

Sementara itu, di depan ruuang baca keluarga, Min-ji masih menguping pembicaraan kakaknya di dalam. "Hei, tidak sopan menguping pembicaraan orang lain!" ejek Tae-hwan.
"Oppa, mereka akan menikah satu setengah bulan lagi," ucap Min-ji.
"Benarkah? Sudah aku duga mereka akan menikah. Berarti pemikiranmu dulu salah besar," ucap Tae-hwan.
"Aku tidak menyangka kalau mereka berdua akan menikah. Bukannya aku membenci eonni, tetapi aku tidak percaya karena oppa bersikap dingin dengan eonni sewaktu mereka bertemua lagi," ucap Min-ji.
"Sedang apa kammu disini?" tanya Joo-ahn saat membuka pintu ruang baca.
"Ah, akut idak sedang melakukan apa-apa," ucap Min-ji.
"Dia berbohong!" ejek Tae-hwan.
"Min-ji, aku dan Ji-hyun punya kabar baik untukmu," ucap Joo-ahn.
"Tentang pernikahan kalian? Aku sudah mendengarnya," ucap Min-ji.
"Ini bukan tenatang pernikahan, tetapi tentang janjiku kepadamu untuk pergi menonton konser SMTown. Bagaimana kalau kita pergi ke acara konser itu sebelum aku menikah? Aku mendapatkan tiket konser gratis dari perusahaan untuk dua orang yang masing-masing untuk aku dan Ji-hyun. Ji-hyun ingin memebrikan tiket itu padamu," ucap Joo-ahn.
"Kenapa tidak eonni saja yang nonton konser itu? Tiket itu kan diberikan khusus untuk eonni," ucap Min-ji.
"Aku memberikan tiket itu padamu karena aku tidak suka menonton konser SMTown. Aku penggemar group dari agensi JYP," ucap Ji-hyun. "Oiya, aku memebrikanmu hadiah tiket itu karena kamu baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Chukkae Min-ji! Kamu meraih peringkat tiga teratas dari seluruh peserta ujian kelulusan sekolah menengah atas di kota Seoul tahun ini," ucap Ji-hyun.
"Terima kasih eonni!" ucap Min-ji sambil memeluk calon kakak iparnya.
"Hyung, eonni, selamat atas pernikahan kalian! Aku senang mendengarnya," ucap Tae-hwan.
"Bagaimana kalau kita berempat pergi berlibur pada libur musim semi kalian minggu depan? Ini kan tahun terakhirmu kuliah. Bersenang-senanglah sebelum tugas akhir menyiksamu," ucap Ji-hyun.
"Aku setuju!" ucap Min-ji.
"Aku setuju!" ucap Tae-hwan.
"Ayo kita bersenang-senang!" ucap Ji-hyun.
"Aduh, kalian ini heboh sekali!" ucap Joo-ahn.
"Hyung!" ucap Tae-hwan kesal.
"Aku ikut berlibur asalkan Tae-hwan dan Min-ji berjanji tidak akan pernah bertengkar lagi," ucap Joo-ahn.
"Min-ji, oppa minta maaf telah mengejekmu terus menerus," ucap Tae-hwan.
"Oppa, aku juga minta maaf telah mengejek oppa," ucap Min-ji.

"Sayang, ayo kita jalan-jalan sebentar. Sore ini sayang untuk dilewatkan," ucap Joo-ahn.
Joo-ahn menarik tangan Ji-hyun dan mengeluarkan sepeda milikknya. "Hei, kamu mau menculik aku kemana?" tanya Ji-hyun.
"Mari kita menghabiskan sore ini sebelum kita sibuk mempersiapkan pernikahan kita dan mengerjakan pekerjaan kantor," ucap Joo-ahn.

TAMAT.....

0 komentar: