Novel

When I Was Your Man #8

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Seoul, 1 minggu kemudian

Kakak beradik Lee telah kembali ke Seoul setelah dirawat di sebuah rumah sakit di kota Suwon. Joo-ahn dan Tae-hwan membantu mereka untuk diantar pulang ke rumah mereka di Seoul.

"Joo-ahn, Tae-hwan, terima kasih ya!' ucaap Ji-hyun.
"Sama-sama," ucap Tae-hwan.
"Ah, adikmu manis sekali!" ucap Ji-hyun.
"Manis? Apakah kamu tidak sedang bercanda?" tanya Tae-hwan.
"Tidak, aku serius!" ucap Ji-hyun.
"Ah noona," ucap Tae-hwan.
"Joo-ahn, terima kasih sudah bersama Ji-hyun beberapa kal iselama di rumah sakit. Aku jadi berhutang budi padamu," ucap In-ho.
"Ah sunbae, tidak usah sungkan seperti itu," ucap Joo-ahn.

Setelah selesai mengantar Ji-hyun dan In-ho pulang ke rumahnya, Joo-ahn harus pergi ke kantor polisi karena polisi ingin mendapatkan keterangan dari Joo-ahn sebagai teman dekat Ji-hyun.

"Hyung, kita mau kemana?" tanya Tae-hwan.
"Ke kantor polisi," jawab Joo-ahn.
"Ha? Untuk apa kita pergi kesana?" tanya Tae-hwan.
"Mereka membutuhkan keterangan dariku. Aku adalah orang yang pernah menolong Ji-hyun delapan tahun yang lalu," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn dan Tae-hwan masuk ke dalam kantor polisi. Mereka berdua duduk di hadapan seorang detektif yang menelepon Joo-ahn untuk datang. Tae-hwan hanya diam saja di samping Joo-ahn.

"Jadi, bisa diceritakan kejadian waktu dulu?" tanya detektif Park.
"Waktu itu kami masih kelas 3 sekolah menengah atas. Waktu itu kalau tidak salah kejadiannya setelah jam pulang sekolah. Tiba-tiba Ji-hyun diculik begitu saja saat sedang jalan kaki di sampingku," ucap Joo-ahn.
"Apakah kamu tahu apa tujuan utama penculik itu menculik Ji-hyun?" tanya detektif Park.
"Aku tidak tahu," jawab Joo-ahn.
"Detektif Park, aku sudah mendapat kabar kalau orang yang menabrak tuan Lee Ja-myung adalah penculik yang menculik Ji-hyun," ucap detektif Seo.
"Hmm, ternyata penculik itu tidak hanya menyerang Ji-hyun, tetapi juga menyerang ayahnya. Ini pasti ada hubungannya dengan masalah keluarga mereka," ucap detektif Park.
"Tapi, kalau menyangkut urusan keluarga, kenapa kakak Ji-hyun tidak pernah diculik?" tanya detekfif Seo.
"Hmm.. aku juga tidak tahu, Kita harus mencari tahu lagi," ucap detektif Park.
"Baik detektif Park!" ucap detektif Seo.

***

Joo-ahn duduk di kursi kerjanya bersama anggota tim marketing lainnya. Joo-ahn masih membereskan beberapa dokumen yang harus diperiksa karena Ji-hyun baru saja masuk kerja dan Joo-ahn tidak ingin membebani Ji-hyun yang baru saja diperbolehkan bekerja oleh dokter.

"Ketua, ini semua dokumen yang pernah kamu minta untuk aku perbaiki," ucap Ji-hyun.
"Astaga Ji-hyun, kamu kan baru saja kembali. Kamu tidak harus menyelesaikannya hari ini juga," ucap ketua Kim.
"Baru saja aku ingin membantu tugas dia, tapi dia sudah selesai duluan," ucap Mi-yeon.
"Semalam aku menyelesaikan beberapa," ucap Ji-hyun.
"Kamu seharusnya istirahat saja!" ucap Joo-ahn.
"Kenapa ketua jadi marah kepadaku?" tanya Ji-hyun.
"Yasudah, terima kasih ya sudah selesai. Sekarang, kamu bantu tugas Mi-yeon saja sampai jam pulang kerja," ucap Joo-ahn.
"Baik ketua," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun kembali duduk di atas kursi kerjanya. "Kenapa dia marah-marah ya? Kan aku sudah menyelesaikan semuanya," ucap Ji-hyun mendesah.
"Apakah kamu tidak merasa aneh dengannya?" tanya Mi-yeon.
"Aneh kenapa?" tanya Ji-hyun.
"Setiap ada di kantor bersamamu, dia sering marah-marah. Tapi, kalau kalian bersama di luar kantor, dia tidak begitu kan? Bahkan, saat kamu diculik di depan minimarket waktu itu, dia sangat panik, seperti tidak habis memarahimu," ucap Mi-yeon.
"Jadi maksudmu, kamu bingung karena dia terlihat seperti punya dua kepribadian sekaligus ya?" tanya Ji-hyun.
"Iya, aku bingung," ucap Mi-yeon.
"Aku juga. Eh sebentar, ada telepon," ucap Ji-hyun.
"Halo," ucap Sang-ho.
"Sang-ho, apa kabar? Bagaimana pelatihannya? Maaf aku tidak membalas pesanmu waktu itu. Aku baru keluar dari rumah sakit," ucap Ji-hyun.
"Kamu masuk rumah sakit? Kenapa?" tanya Sang-ho pura-pura tidak mengerti.
"Ceritanya panjang. Kamu juga tidak perlu tahu. Aku rasa, setelah kamu kembali dari Jepang, kita perlu bicara," ucap Ji-hyun.
"Soal apa? Baiklah," ucap Sang-ho.

Setelah menerima telepon dari Sang-ho, Ji-hyun kembali memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Mi-yeon agar dia tahu dan bisa membantu Mi-yeon.

***

"Ji-hyun?" tanya Joo-ahn saat melihat ada seorang wanita berambut panjang hitam sedang makan di kantin sendirian.
"Ketua?" tanya Ji-hyun.
"Kenapa makan sendirian?" tanya Joo-ahn sambil menarik kursi yang ada di hadapan Ji-hyun dan meletakan piring di atas meja yang sama dengan Ji-hyun.
"Kenapa ketua duduk disini?" tanya Ji-hyun.
"Kenapa? Kita kan saling kenal," ucap Joo-ahn.
"Bukan begitu maksudku," ucap Ji-hyun.
"Lalu apa? Bukankah kamu yang memintaku untuk jangan pergi? Apakah kamu sudah lupa?" tanya Joo-ahn.
"Apa? Anggap saja waktu itu aku sedang asal bicara dan melantur tidak jelas," ucap Ji-hyun.
"Oke, aku pindah ke meja kosong ya?" tanya Joo-ahn.
"Ketua, tunggu! Jangan pergi," ucap Ji-hyun.
"Tuh kan, kamu tidak ingin aku pergi kan? Apa karena tidak ada Sang-ho disini?" tanya Joo-ahn.
"Aduh, bukan itu maksudnya! Sudahlah, lebih baik kita makan saja," ucap Ji-hyun.

Hari ini Joo-ahn senang karena Ji-hyun bersemangat untuk makan siang, tidak seperti waktu masih di rumah sakit. Bahkan, hari ini Ji-hyun makan lebih banyak dari pada sebelumnya. Dia tidak lagi memilih-milih makanan seperti Ji-hyun yang dia kenal dulu.

"Kenapa kamu jadi suka wortel?" tanya Joo-ahn.
"Aku sendiri tidak tahu, Tiba-tiba aku mau makan wortel," ucap Ji-hyun.
"Bagus kalau kamu sudah tidak pilih-pilih makanan lagi," ucap Joo-ahn.
"Ketua, kamu masih ingat tentang aku sewaktu dulu ya?" tanya Ji-hyun.
"Tentu saja! Sewaktu dulu hanya aku yang memperhatikanmu selain keluargamu," ucap Joo-ahn.
"Ketua, aku minta maaf," ucap Ji-hyun.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Joo-ahn.
"Dulu saat kamu datang ke depan rumahku dan ingin kita kembali berhubungan lagi, aku mengusirmu. Seharusnya, aku bisa bicara lebih baik lagi padamu," ucap Ji-hyun.
"Ah, itu kan masa lalu. Semua orang bisa berubah dan semua orang pernah berbuat salah di masa lalu. Sudahlah, lupakan saja," ucap Joo-ahn.
"Jadi, kamu tidak marah? Lalu, kenapa kamu sering memarahiku di ruang kerja lantai atas?" tanya Ji-hyun.
"Karena... karena aku mencintaimu," ucap Joo-ahn.
"Apa?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, tidak bisakah kita kembali lagi? Aku merindukanmu," ucap Joo-ahn.
"Ketua, sudah aku bilang kalau aku akan menikah," ucap Ji-hyun.
"Aku akan terus menunggumu," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun dan Joo-ahn melanjutkan makan siang mereka. Sesekali Joo-ahn mengecek ponselnya kalau saja ada pesan dari detektif Park mengenai kasus penculikan Ji-hyun yang baru saja terjadi.

"Ji-hyun, ada kabar dari detektif park," ucap Joo-ahn.
"Ada apa?" tanya Ji-hyun.
"Katanya dia ingin memberi tahu di kantor mereka saja," ucap Joo-ahn.
"Ketua, aku ikut ke kantor polisi nanti malam ya!" ucap Ji-hyun.
"Baiklah," jawab Joo-ahn.

***

"Ada kabar apa detektif?" tanya Joo-ahn.
"Kami sudah menganalisa. Ternyata benar, penculik itu yang mencelakakan ayahmu, nona Lee," ucap detektif Park.
"Lalu?" tanya Ji-hyun.
"Orang itu mengalami gangguan jiwa. Aku telah bertanya ke ahli psikologi menurut keterangan yang kemarin kamu katakan kepadaku. Bagaimana tidak, dia dulu menculik ibumu sewaktu kamu masih dibawah lima tahun. Setelah itu, dia juga pernah menculikmu sewaktu masih sekolah dan sekarang menculikmu lagi setelah mencelakakakn ayahmu. Apalagi mendengarmu mengatakan bahwa alasan utamanya adalah karena dendam dengan ayahmu yang merebut ibumu dari dia. Seharusnya, kalau dendam seperti itu tidak perlu sampai mencelakakan orang lain atau menculik, bahkan dia melakukan tindak kekerasan terhadap kakakmu," ucap detektif Park.
"Apakah orang itu sudahh tertangkap?" tanya Joo-ahn.
"Sudah. Baru saja tiga jam yang lalu polisi di Suwon berhasil menangkapnya. Polisi disana juga memeriksa ponsel milik pria itu dan anehnya, ada pembicaraan mencurigakan di dalam ponsel itu yang tidak diketahui berbicara dengan siapa. Yang jelas, seseorang membayar penculik itu untuk menculikmu," ucap detektif park.
"Jadi, bisa saja orang lain yang menyuruh penculik itu untuk menculik aku?" tanya Ji-hyun.
"Bisa jadi. Kalau kita berhasil menemukan pelakunya, kita juga akan menahan orang itu," ucap detektif Park.
"Detektif Park, sudah ketemu!" ucap detektif Seo.
"Apanya yang sudah ketemu?" tanya detektif Park.
"Lokasi ponsel dari orang yang punya akun samaran itu. Orang itu berada di luar Korea, di Jepang. Mungkin sedang kabur," ucap detektif Seo.
"Apakah kamu berhasil melacak nama asli orang itu?" tanya detektif Park.
"Kalau itu aku belum bisa. Kita harus memanggil ahli di bidang teknologi," ucap detektif Seo.
"Detektif Park, kita pamit pergi dulu ya," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, nanti aku kasih kabar kalau ada perkembangan," ucap detektif Park.

Setelah mereka keluar dari kantor polisi, mereka jalan-jalan sebentar di sekitar kantor polisi. Joo-ahn membawa Ji-hyun ke salah satu kedai yang biasa dikunjunginya bersama Tae-hwan sewaktu dulu.

"Ini kedai apa?" tanya Ji-hyun.
"Ini kedai yang menjual jjajangmyun. Aku dan Tae-hwan dulu sering kesini setelah dia selesai les gitar," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun dan Joo-ahn membeli jjajangmyun satu porsi. Ji-hyun yang memintanya untuk memesan satu porsi saja karena tidak ingin banyak makan malam.

"Terima kasih," ucap Ji-hyun saat pemilik kedai mengantarkan pesanan mereka.
"Mashita!" ucap Joo-ahn.
"Mashita!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, kenapa kamu selalu menabrak sumpitku?" tanya Joo-ahn.
"Bukan aku yang memulainya. Kamu duluan!" ucap Ji-hyun.
"Aku? Aku tidak menabrak sumpitmu!" ucap Joo-ahn.
"Yakin?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun," ucap Joo-ahn.
"Apa?" tanya Joo-ahn.

Joo-ahn mengambil selembar tisu yang ada di atas meja, lalu memebersihkan pinggir bibir Ji-hyun yang belepotan karena makan jjajangmyun. Ji-hyun jadi merasa malu dan langsung berdiri dan meninggalkan meja makan mereka.

"Oiya, sebelum aku lupa. Hari ini dompetku tertinggal, jadi maafkan aku tidak bisa ikut membayar jjajangmyun kita," ucap Ji-hyun yang kemudian pergi keluar.
"Ji-hyun, tunggu!' ucap Joo-ahn.

Ji-hyun berlari menuju sebuah taman dekat jalan itu. Ji-hyun duduk sendiri di atas ayunan sambil memikirkan perasaannya sendiri.

"Apakah aku mencintainya melebihi pacarku sendiri?" desah Ji-hyun sambil menangis.
"Ji-hyun!" teriak Joo-ahn sambil berlari mencari Ji-hyun.
"Ji-hyun!" ucap Joo-ahn sambil memeluk tubuh Ji-hyun dari belakang.
"Joo-ahn," ucap Ji-hyun.
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi keluar dari kedai?" tanya Joo-ahn.
"Karena, aku rasa aku belum bisa sepenuhnya melepaskanmu," ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun..." ucap Joo-ahn kaget.
"Selama ini aku berusaha semampuku untuk mengabaikan perasaanku dan menjadi pacar Sang-ho yang baik padaku. Karena kami sudah lama berteman, aku rasa kalau kami menikah, kami tidak akan canggung," ucap Ji-hyun.
"Jadi, apakah kamu ingin kembali kepadaku?" tanya Joo-ahn.
"Seandainya aku bisa. Aku tidak ingin melukai perasaan Sang-ho juga. Aku dan dia sudah berjanji untuk menikah. Bahkan, aku sudah berjanji di depan kedua orang tua kami. Selain itu, sewaktu kita belum kenal, aku pernah mengatakan dihadapannya kalau aku ingin menikah dengannya. Mana mungkin aku menghianati kata-kataku sendiri dan meninggalkannya begitu saja?" tanya Ji-hyun.

Joo-ahn melepaskan pelukannya dan sedih. Air matanya mengalir dan tidak dapat berkata-kata lagi. Pupus sudah harapannya untuk bersama dengan Ji-hyun yang sudah lama dinantinya.

"Maaf," ucap Ji-hyun.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #7

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

FLASHBACK

Kejadian ini mirip dengan kejadian delapan tahun yang lalu saat Ji-yun diculik oleh orang yang sama. Bedanya, pertama-tama Ji-hyun diculik sepulang sekolah dengan pria yang dibayar oleh pennculik sebenarnya, bukan diculik langsung oleh penculik sebenarnya. Dan satu lagi, waktu itu Ji-hyun hanya disembunyikan di Seoul, tidak sampai dibawa pergi ke luar kota.

Pada waktu itu, Joo-ahn mengejar Ji-hyun bersama seorang detektif. Joo-ahn sangat panik dan tidak berhasil menemukan Ji-hyun pada hari saat Ji-hyun diculik. Akhirnya, semuanya diserahkan oleh polisi karen Joo-ahn masih remaja dan tidak dapat berbuat apa-apa.

"Ji-hyun!" ucap Joo-ahn saat polisi sudah menemukan Ji-hyun yang pingsan karena diculik selama seminggu. Ji-hyun yang menderita kelainan jantung sewaktu kecil memang lemah. Walaupun jantungnya sudah dioperasi, tetap saja Ji-hyun lemah bila idbandingkan dengan masnusia normal seumurnya.

"Ji-hyun!" teriak Joo-ahn saat Ji-hyun dibawa ke mobil ambulans.
"Kamu siapa?" tanya ayah Ji-hyun.
"Aku Kim Joo-ahn, pacarnya Ji-hyun," ucap Joo-ahn.
"Menjauhlah dari anakku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Aku tidak ingin Ji-hyun berhubungan dengan pria manapun kecuali dengan orang yang sangat aku kenal sejak dia kecil. Aku tidak mau melihat Ji-hyun menderita," ucap ayah Ji-hyun.
"Tapi paman, aku bukan orang jahat," ucap Joo-ahn.
"Tetap saja, aku tidak bisa melihatnya bersamamu!" ucap ayah Ji-hyun.

Ayah Ji-hyun masuk ke dalam mobil ambulans dan mobil ambulans pergi menuju rumah sakit terdekat. Joo-ahn kembali pulang diantar oleh mobil polisi.

***

Sudah dua hari Ji-hyun diculik. Sekarang, Ji-hyun masih duduk di atas sebuah kursi kayu dengan tangan dan badan yang terikat dengan tali tambang. Penculik itu hanya memberinya air minum yang jumlahnya tidak begitu banyak.

"Buka pintunya!" teriak sebuah suara dari luar rumah kecil itu.

Seorang polisi menendang-nendang pintu trumah yang terkunci itu. Dengan cepat, sang penculik membuka ikatan tali pada tubuh Ji-hyun dan menyeret wanita itu untuk pergi melewati pintu tersembunyai di dalam rumah itu. Setelah itu, penculik itu membawa Ji-hyun menggunakan sebuah mobil yang entah milik siapa dan bagaimana bisa ada di belakang rumah kecil itu.

"MMMM....!!" teriak Ji-hyun dari dalam mobil.
"Mari kita pergi ke sebuah penginapan milik teman dekatku," ucap penculik itu.

Penculit itu membawa Ji-hyun pergi ke sebuah penginapan keciil milik teman dekat si penculik. Penculik itu berencana untuk membawa Ji-hyun ke dalam sebuah kamar untuk bersembunyi dari polisi.

***

Hari sudah malam. Joo-ahn masih berputar-putar di dalam kota Suwon. Begitu juga dengan In-ho. In-ho dan Joo-ahn sudah membagi daerah tempat pencarian agar tidak perlu mencari dalam tempat yang sama secara bersamaan.

"Permisi, apakah ada tamu pria dan wanita yang baru saja datang ke hotel ini untuk menginap?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, hari ini belum ada tamu sepasang pria dan wanita," ucap petugas hotel.
"Terima kasih," ucap petugas hotel.

Joo-ahn keluar dari sebuah hotel dan pergi ke tempat lain lagi. Sementara itu, penculik dan Ji-hyun turun dari mobil yang terparkir di tempat parkir, lalu masuk ke dalam hotel yang baru saja dikunjungi oleh Joo-ahn. Penculik itu meminta kunci kamar hotel yang telah dipesannya lewat aplikasi.

Ketika piintu kamar hotel telah dibuka oleh sang penculik, penculik itu mendorong tubuh Ji-hyun ke tas ranjang, lalu mengikat kedua kakinya agar tidak bisa berdiri. Setelah itu, sang pria membuka kaos yang dipakainya dan berbaring di samping Ji-hyun. Ji-hyun ketakutan dan berteriak kencang.

"AAAAA! Jangan lakukan apapun denganku!" ucap Ji-hyun.
"Apakah kamu mau besok aku menghabisi pacarmu itu?" tanya penculik.
"Jangan sentuh aku!" teriak Ji-hyun.
"Hahahaha, tidak ada yang bisa kamu lakukan nona Lee!" ucap penculik.

Penculik itu menarik pakaian yang dipakai oleh Ji-hyun. Penculik itu juga menyentuh rok hitam selutut yang dipakai oleh Ji-hyun.

"Minum ini!" ucap penculik itu.

Penculik itu memberikan air minum kemasan dan Ji-hyun minum air itu karena dipaksa oleh penculik itu. Kebetulan juga, Ji-hyun merasa sangat haus.

Penculik itu merasa sangat senang karena Ji-hyun telat minum minuman itu. Minuman itu sudah diracik dengan diberi tambahan zat yang dapat membuat seseorang akan pingsan dalam beberapa jam.

"AAAAA, kepalaku sakit sekali!" ucap Ji-hyun.

Ji-hyun langsung pingsan di atas kasur hotel. Penculik itu memegang rok Ji-hyun dan berusaha untuk membukanya.

"LEPASKAN!" teriak seorang pria yang membuka pintu kamar hotel.
"Kamu siapa?" tanya penculik itu.
"Kamu tidak perlu tahu aku ini siapa. Yang jelas, cepat lepaskan dia!' teriak In-ho.
"Untuk apa? Dia sudah menyerahkan dirinya kepadaku. Apakah kamu mau merebutnya dariku dan menjadikan dia milikmu? Atau kamu ingin berbagi denganku di kamar ini?" tanya penculik itu.
"Menyerahlah!" ucap In-ho.
"Beraninya kamu!" ucap penculik itu.

Penculik itu menarik baju yang dipakai oleh In-ho dan menyeret pria itu masuk ke dalam kamar hotel. In-ho memberi perlawanan dengan menendang tubuh pria itu, tetapi In-ho gagal dan pria itu lebih kuat dari pada dirinya. Akhirnya, In-ho terjatuh dengan badan yang lemas. Pria itu meletakan tubuh In-ho di atas kursi hotel dan mengikatnya.

"Kalau kamu macam-macam padaku, aku akan keluarkan senjata yang aku punya!" ucap penculik itu.

Sekali lagi, pria itu mendekati tubuh Ji-hyun yang sedang pingsan di atas kasur setelah In-ho tak sadarkan diri karena dihajar oleh penculik itu.

Penculik itu melepaskan blazer yang dipakai oleh Ji-hyun, setelah itu, pria itu berusaha untuk menyentuh tubuh Ji-hyun lagi.

"Lepaskan!" ucap seorang polisi yang membuka pintu kamar hotel.

Melihat ada seorang polisi yang datang, penculik itu menghajar polisi itu sampai polisi itu terjatuh di lantai kamar. Setelah itu, penculik membawa tasnya dan kabur. Polisi itu langsung bangun dan mengecek keadaan Ji-hyun dan In-ho.

Seorang polisi yang dihajar oleh penculik itu tidak bodoh. Di lantai bawah, dia sudah menyuruh rekannya untuk berjaga dan langsung menahan penculik itu kalau penculik itu lewat. Tidak hanya pintu lobi utama hotel yang dijaga, tetapi seluruh celah yang mungkin dilewati oleh si penculik. Polisi yang ada di dalam kamar hotel memakai alat kecil yang bila ditekan atau tertekan akan mengirim sinyal kepada alat yang dipegang oleh salah satu rekannya sehingga rekannya dapat mengetahui kalau si penculik sudah kabur ke lantai bawah.

"Polisi, tolong telepon Kim Joo-ahn. Kim Joo-ahn di dalam kontak ponselku," ucap In-ho tak berdaya.

Polisi yang sedang merasa tak berdaya langsung meraih ponsel milik In-ho yang ada di lantai. Polisi itu menekan tombol telepon untuk menelepon Joo-ahn.

"Joo-ahn..." ucap In-ho yang lemas.
"Sunbae, kamu ada dimana?" tanya Joo-ahn.
"Joo-ahn, hotel Gwonseon lantai tiga," ucap Joo-ahn.
"Sunbae, ada apa disana?" tanya Joo-ahn.
"Joo-ahn..." ucap In-ho. In-ho berbicara dengan sangat lemas dan In-ho pingsan di atas kursi kamar hotel.

***

"Gawat! Aku ketahuan oleh polisi," ucap penculik saat menelepon Sang-ho.
"Apa? Kamu tidak berhasil mendapatkan Ji-hyun dari Joo-ahn?" tanya Sang-ho.
"Tidak. Dia tertinggal di kamar hotel. Saat aku ketahuan, aku meninggalkannya dan langsung kabur," ucap penculik itu.
"Memangnya, apa yang kamu lakukan sampai ketahuan? Bukannya aku hanya memintamu untuk membawa Ji-hyun ke rumahmu atau kemana sampai aku tiba dari Jepang? Tujuanku kan hanya supaya dia menjadi milikku seutuhnya," ucap Sang-ho.
"Maaf Sang-ho. Aku tergoda oleh hawa nafsuku. Aku berniat untuk sedikit bermain dengannya. Kamu pasti mengerti apa yang aku maksud. Aku menculik Ji-hyun ke dalam kamar hotel dan ingin bermalam dengannya. Ji-hyun seksi sekali," ucap penculik.
"Apa? Aku membayarmu untuk mengamankan dia dari Joo-ahn, bukan memberikan Ji-hyun untuk kamu permainkan seperti itu!" ucap Sang-ho.
"Maafkan aku," ucap penculik itu.

***

Lee In-ho dan Lee Ji-hyun dilarikan ke rumah sakit di kota Suwon. Joo-ahn dan seorang polisi mengantar dua kakak beradik ke rumah sakit.

In-ho terluka parah karena berkelahi dengan penculik yang menculik adiknya, sehingga harus masuk ruang operasi dan dijahit. Ji-hyun hanya masuk ke kamar inap biasa dan dipasangkan infus saja.

"TIDAAAAKKK!!!" teriak Ji-hyun saat sadar dari pingsan selama hampir dua jam.
"Ji-hyun?" ucap Joo-ahn.
"Apa yang terjadi? Apakah aku baru saja bermimpi buruk?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun!" ucap Joo-ahn sambil memeluk tubuh Ji-hyun.
"Lepaskan! Kenapa kamu memeluk diriku?" ucap Ji-hyun.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Joo-ahn.
"Hei, aku ini sudah mau menikah dua bulan lagi!" ucap Ji-hyun.
"Kamu yakin sudah ingin menikah secepat itu?" tanya Joo-ahn.
"Kenapa kamu mencampuri urusan pernikahanku?" tanya Ji-hyun.
"Aku senang kamu sudah sadar setelah dua jam pingsan. Dari tadi aku mengkhawatirkanmu. Penculik itu sudah kabur dan sedang dicari oleh polisi. Kamu tenang saja, biar polisi yang bekerja," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn..." ucap Ji-hyun.
"Joo-ahn, jangan pergi!" ucap Ji-hyun.
Joo-ahn bingung mendengar permintaan Ji-hyun untuk tidak pergi. "Baiklah, aku akan ada disini selama kamu dirawat. Aku akan bersamamu walau aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Kamu sudah punya kekasih," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku takut sekali. Tolong jangan tinggalkan aku," ucap Ji-hyun.
"Kapan pacarmu kembali dari Jepang?" tanya Joo-ahn.
"Akhir bulan ini. Masih ada dua minggu lagi waktu pelatihannya," ucap Ji-hyun.
"Baiklah, aku akan menjagamu disini," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, apakah Sang-ho tetap akan menikahiku kalau saja dia tahu bahwa pria itu sudah memegang-megang tubuhku, apalagi bagian terlarang itu? Apakah Sang-ho mau menikahiku walau aku sudah dibawa ke hotel seperti tadi?" tanya Ji-hyun sambil menangis.
"Ji-hyun, selama Sang-ho tidak tahu, aku rasa semua akan berjalan dengan baik," ucap Joo-ahn.
"Benarkah?" tanya Ji-hyun.
"Tentu saja!" Jawab Joo-ahn.
"Oiya Joo-ahn, apakah kamu masih ingat kejadian delapan tahun yang lalu saat aku diculik oleh orang itu?" tanya Ji-hyun.
"Aku masih ingat. Waktu itu aku yang menolongmu kan?" tanya Joo-ahn.
"Iya, kamu yang menolongku. Terima kasih ya!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, mau melihat kakakmu?" tanya Joo-ahn.
"Memangnya oppa ada dimana?" tanya Ji-hyun.
"Di ruang rawat lorong pria. Dia baru saja selesai dijahit," ucap Joo-ahn.
"Apa katamu? Dijahit? Memangnya, apa yang terjadi?" tanya Ji-hyun.
"Ceritanya nanti saja. Ayo kita lihat dia!" ucap Joo-ahn.

Joo-ahn membantu Ji-hyun bangun dan Ji-hyun berjalan bersama Joo-ahn sambil mendorong tongkat pengait infus.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: