Novel

When I Was Your Man #6

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Hari ini Joo-ahn, Ji-hyun, dan Mi-yeon pergi bersama untuk memberikan proposal kepada beberapa toko yang menjadi rekanan dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Satu demi satu toko dikunjungi pada hari ini.

"Hari ini kita akan mengunjungi berapa toko?" tanya Mi-yeon.
"Ada lima toko hari ini dan empat toko besok," ucap Joo-ahn. "Oiya Ji-hyun, apakah semua dokumennya sudah siap?" tanya Joo-ahn.
"Tentu saja!" jawab Ji-hyun.
"Baiklah," jawab Joo-ahn.

Ketiga orang itu pergi bersama menggunakan mobil perusahaan. Seperti biasa, Joo-ahn yang menyetir karena dia bisa menyetir dan memiliki SIM. Mi-yeon dan Ji-hyun belum bisa menyetir walaupun Mi-yeon sudah belajar menyetir beberapa kali.

"Ketua Kim, bisa mampir ke mini market sebentar?" tanya Ji-hyun.
"Ya, tapi jangan lama-lama ya!" ucap Joo-ahn.

Ji-hyun turun sebentar dari mobil perusahaan dan masuk ke dalam minimarket yang dilewati dalam perjalanan menuju ke sebuah toko. Joo-ahn dan Mi-yeon menunggu di dalam mobil.

"Lama sekali dia," ucap Joo-ahn.
"Iya ya, padahal cuma mau beli sesuatu," jawab Mi-yeon.

Karena Ji-hyun belum muncul juga, Joo-ahn meminta Mi-yeon untuk masuk dan mencari Ji-hyun dimdalam minimarket itu.

"Permisi, apakah tadi ada seorang wanita muda berambut panjang memakai pakaian berwarna pink dengan rok hitam selutut?" tanya Mi-yeon.
"Tidak ada, hanya ada seorang pria yang membayar di kasir," jawab petugas kasir minimarket.

Mi-yeon kembali masuk ke dalam mobil perusahaan. "Ketua, bagaimana ini? Kata petugas kasir, tidak ada wanita yang masuk ke dalam minimarket," ucap Mi-yeon.
"Apa katamu? Bagaimana bisa Ji-hyun hilang?" Astaga, dia juga membawa flash disk yang berisi dokumen," ucap Joo-ahn.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mi-yeon.
"Sebentar," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn membuka laptop milik Ji-hyun dan mencoba mencari dokumen yang dibawa Ji-hyun. Untung saja Ji-hyun lupa mengeluarkan emailnya dari sebuah aplikasi, sehingga masih ada simpanan benerapa dokumen yang dibutuhkan hari ini.

"Mi-yeon, tolong periksa CCTV minimarket san CCTV toko sebelah. Aku akan pergi sendirian ke beberapa toko. Nanti aku kembali kesini pasa waktu istirahat makan siang," ucap Joo-ahn.
"Kenapa kita tidak memeriksa black box mobil ini?" tanya Mi-yeon.
"Black boxnya rusak, belum diganti yang baru," jawab Joo-ahn.
"Baiklah, ketua pergi saja dulu," ucap Mi-yeon.
"Kabari aku kalau ada sesuatu," ucap Joo-ahn.

Mi-yeon masuk ke dalam minimarket dan ingin memeriksa CCTV yang ada di dalam minimarket itu. "Permisi," ucap Mi-yeon.
"Ah, kamu lagi. Ada apa?" tanya petugas kasir.
"Boleh aku lihat CCTV disini? Aku masih mencari temanku?" tanya Mi-yeon.

Petugas kasir mengambil memori dari alat CCTV dan membukanya di komputer yang ada di meja kasir. Kira-kira 25 menit yang lalu ada seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi masuk ke dalam minimarket dan membeli minuman. Gelagat pria itu mencurigakan.

"Ah, sayang sekali pria itu memakai kaca mata hitam," ucap Mi-yeon.
"Kamu bisa mendapatkan namanya melaluindata kartu yang dipakai untuk membayar minuman di kasir," ucap petugas kasir.
"Coba tunjukan nama orang itu padaku," ucap Mi-yeon.
"Ah, dia bukan membayar memakai kartu kredit atau kartu anggota minimarket," ucap petugas kasir setelah mengecek data di komputer.
"Dae-mul, apakah kamu melihat mobil hitam yang parkir di depan minimarket?" tanya petugas di toko sebelah minimarket.
"Tidak. Kenapa?" tanya petugas kasir.
"Pria yang mengendarai mobil itu membawa seorang wanita muda dan membawanya kabur. Aku melihatnya sendiri tadi. Dia menyerer wanit itu seperti ingin menculiknya," ucap petugas toko sebelah.
"Apakah wanita yang diculik berwajah seperti ini?" tanya Mi-yeon sambil menunjukan foto Ji-hyun.
"Ah iya, dia orangnya!" ucap petugas toko sebelah.
"Dia teman kerjaku," ucap Mi-yeon.
"Apakah kamu tidak ingin melapor kepada polisi?" tanya petugas kasir.
"Iya, aku akan pergi ke kantor polisi untuk melapor. Terima kasih bantuannya ya," ucap Mi-yeon.

***

"Ji-hyun diculik oleh seorang pria yang tidak dikenalinya karena pria itu berusaha menutupi wajahnya dengan topi dan kaca mata hitam. Ji-hyun juga tidak tahu kenapa dia bisa diculik seperti ini dan dibawa menuju tempat yang jauh.

"Suwon?" ucap Ji-hyun kaget saat membaca papan penunjuk jalan yang dibacanya.
"Apakah kamu adalah orang yang pernah menculik aku delapan tahun yang lalu?" tanya Ji-hyun.
"Selama bertemu kembali, Ji-hyun!" ucap pria yang sedang menyetir itu.
"Kenapa kamu menculik aku lagi setelah delalan tahun berlalu?" tanya Ji-hyun.
"Aku memang membenci keuargamu. Aku membenci ayahmu yang merebut Il-hwa dariku. Il-hwa sampai membatalkan pernikahannya karena ingin menikah dengan ayahmu. Aku belum puas untuk bersama Il-hwa pada beberapa malam. Aku berusaha untuk mendapatkannya, tetapi selalu saja ayahmu berhasil memergokiku membawa Il-hwa ke suatu tempat. Bisnis yang aku bangun dengan ayahmu tidak berjalan dengan baik dan dia meninggalkanku tanpa menolongku kembali. Itu yang membuatku sangat marah dan belum puas untuk menghabiskanmu, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa yang aku dengar," ucap pria itu.
"Apakah kamu sangat marah kepada ayahku dan menggunakanku sebagai gantinya?" tanya Ji-hyun.
"Kalau saja ayahmu tidak memergokiku malam itu, tentu saja aku sudah berhasil mendapatkan Il-hwa yang sedang mabuk dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya. Aku sudah pernah menyuruh ayahmu untuk menyerahkan Il-hwa kepadaku sebagai rasa bersalahnya karena membuat bisnis kami berantakan," ucap penculik itu.

Ji-hyun masih terikat di dalam mobil yan dikendarai oleh orang yang membenci ayahnya. Ji-hyun tidak dapat berbuat apa-apa, sebab ponsel miliknya disita oleh pria itu dan dimatikan. Pria itu juga membuang kartu sim milik Ji-hyun sbelum pergi ke Suwon.

***

Mi-yeon pergi ke tempat kerja Lee In-ho untuk memberi tahu mengenai penculikan Lee Ji-hyun. In-ho kaget mendengar kabar itu karena In-ho pikir, penculik itu tidak perna muncul lagi.

"Apa?" tanya In-ho kaget.
"Iya, dia dibawa oleh seorang laki-laki. Seorang petugas toko melihatnya sendiri dan aku sudah memeriksa black box dari sebuah mobil yang diparkir di sebelah mobil perusahaan," ucap Mi-yeon.
"Ayo kita pergi ke kantor polisi!" ucap In-ho.
"Tidak perlu, aku baru saja dari sana. Seroang detektif yang bekerja di sana membongkar beberapa dokumen yang dulu digunakan untuk menginvestigasi pria itu dan detektif itu sudah memebri tahu plat mobil milik pria itu, foto mobil pria itu, foto pria itu, dan beberapa hal lainnya," ucap Mi-yeon.
"Aku harus mendapatkan pria itu sebelum terlambat. Aku rasa, pria itu yang menabrak ayahku satu tahun yang lalu," ucap In-ho.

Tidak lama setelah Mi-yeon berbicara dengan In-ho, Joo-ahn tiba di kantor tempat In-ho bekerja. Joo-ahn nampak lelah karena berlari dan menyetir dengan kencang.

"Sunbae," ucap Joo-ahn panik.
"Tenang dulu. Lebih baik kita makan sang dulu di kantin," ucap In-ho.
"Aku tidak mau makan kalau belum tenang," ucap Joo-ahn.
"Ketua, jangan melewatkan makan siangmu," ucap Mi-yeon.

***

"Menurut keterangan dari detektif Park, pria itu berasal dari kota Suwon," ucap Mi-yeon.
"Aku harus berangkat ke Suwon. Tolong sampaikan kabar kepada manajer Jang," ucap Joo-ahn sambil membereskan meja kerjanya.
"Apakah ketua tidak menunggu kabar dari polisi saja?" tanya Mi-yeon.
"Aku harus bisa menemukannya juga," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, hati-hati ya!" ucap Mi-yeon.

Joo-ahn pulang ke rumahnya, lalu meletakan tas kerjanya. Setelah itu dia mengganti baju yang dipakainya dan mengambil kunci mobil milik ayahnya.

"Ayah, ada yang harus aku cari di luar kota. Aku pergi dulu ya!" ucap Joo-ahn.
"Malam-malam begini? Hati-hati ya!" ucap ayahnya.
"Oppa, semoga berhasil!" ucap Min-ji.
"Aku pergi dulu!" ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mengendarai mobil menuju kota Suwon. Joo-ahn mencoba mendatangi alamat tempat tinggal penculik itu yang diberi tahu oleh detektif.

"Ah sial! Tempatnya sudah dijual," ucap Joo-ahn sambil memukul stir mobil.

"Joo-ahn, aku punya teman yang tinggal di kota Suwon. Dia bilang, dia melihat mobil hitam milik penculik itu di dekat stasiun Suwon. Sepertinya ada pria itu masuk ke dalam daerah perumahan dekat stasiun," ucap In-ho saat menelepon Joo-ahn.
"Sunbae ada di mana sekarang?" tanya Joo-ahn.
"Aku baru saja mau menyalakan mobil dan menuju kesana," ucap In-ho.
"Baiklah, aku sudah sampai di kota Suwon," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mematikan mesin mobilnya dan langsung masuk ke sebuah rumah tua tempat mobil penculik itu terparkir. Ternyata, mobil itu sengaja di parkir di depan sebuah rumah untuk mengecoh siapapun yang mencari penculik itu. Penculik itu pergi menggunakan mobil lain yang belum pernah diketahui oleh polisi.

"Ji-hyun!" teriak Joo-ahn saat mengetahui kalau Ji-hyun tidak berada di dalam rumah itu.

Joo-ahn mengambil semua dokumen yang bertuliskan alamat apapun di kota Suwon. Joo-ahn berencana untuk mengunjungi satu per satu alamat yang mungkin menjadi tempat terakhir bagi penculik itu untuk meletakan Ji-hyun.

***

"Kedua orang tuaku sudah meninggal, kenapa kamu masih mengincarku? Kenapa kamu tidak mengincar orang lain saja?" tanya Ji-hyun saat duduk di atas sebuah kursi dan terikat.

"Kamu bodoh atau apa? Mana mungkin aku mengincar kakakmu? Dia kan laki-laki. Lagi pula, delapan tahun yang lalu kamu masih kecil. Aku tidak suka anak kecil berseragam sekolah. Karena kamu sudah dewasa, aku ingin memilikimu saja," ucap penculik itu.
"Apa maksudmu? Yaampun! Aku ini bukan wanta yang bisa kamu pakai seenaknya saja! Aku masih punya harga diri!" ucap Ji-hyun.
"Apa perlu aku telepon pacarmu? Pacarmu dan aku sudah saling kenal karena dulu kami tetangga," ucap penculik itu.
"Tidak bisa! Dia sedang berada di Jepang," ucap Ji-hyun.
"Sekarang, kamu pilih salah satu. Apakah kamu ingin aku mengejar pacarmu saja dan menghabisinya di Jepang atau kamu menyerahkan dirimu untuk bermalam bersamaku dan menemaniku terus? Pilih salah satu!" ucap penculik itu sambil memandang Ji-hyun.
"Kenapa kamu mengaitkn masalah ini kepada pacarku? Apakah dia membuatmu kesal juga?" tanya Ji-hyun.
"Apakah kalian akan menikah? Kalau kalian akan menikah, aku tidak bisa mendapatkanmu lagi. Jadi, sebelum aku terlambat lagi, aku ingin memilikimu sebagai pengganti ibumu yang gagal aku miliki," ucap penculik itu.
"Lepasakan aku!" teriak Ji-hyun.
"Silahkan kamu pilih saja! Aku tidak akan menggunakanmu malam ini. Kita bisa membiasakan diri untuk hidup bersama dulu sebelum aku memakaimu," ucap penculik itu.
"Aku... aku akan memilih untuk menyerahkan dirimu dari pada kamu menghabisi pacarku di Jepang," ucap Ji-hyun.
"Apakaha kamu serius dengan kata-katmu itu?" tanya penculik sambil berdiri menatap jendela.
"Aku tidak ingin dia dihabisi di Jepang karena ini bukan malahnya, melainkan masalah keluargaku sendiri. Demi menggantikan ibuku, aku akan menyerahkan diriku," ucap Ji-yun.
"Bagus nona Lee!" ucap penculik itu.

"Ji-hyun!" ucap seseroang yang berteriak di depan rumah kecil tempat Ji-hyun diculik.

BERSAMBUNG....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #5

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Ji-hyun, tolong periksa ulang dokumen yang kamu kirimkan ke email-ku. Ada kesalahan dalam menghitung biaya pemasaran produk untuk bulan depan," ucap Joo-ahn.
"Benarkah? Baiklah ketua, akan aku perbaiki," ucap Ji-hyun.
"Oiya, setelah jam kerja hari ini, ikutlah sebentar denganku. Ada yang ingin aku beri tahu kepadamu," ucap Joo-ahn.
"Apa itu? Apakah kamu ingin membohongiku lagi?" tanya Ji-hyun.
"Kali ini aku serius," ucap Joo-ahn.
"Oke," jawab Ji-hyun.
"Ji-hyun, tolong panggilkan Mi-yeon," ucap Joo-ahn.
"Oke," jawab Ji-hyun.

Joo-ahn masih memeriksa beberapa dokumen yang dikerjakan oleh tim marketing. Sebagai ketua tim marketing, Joo-ahn harus bisa bekerja dengan teliti dan membimbing semua anggota tim karena misa dari sebuah tim adalah bekerja bersama, bukan bos dan anak buah.

"Ketua, ada apa memanggilku ke mejamu?" tanya Mi-yeon.
"Bisakah kamu diskusi dengan tim desain produk? Tolong minta foto terbaru produk tas unuk musim dingin karena kita harus mengirim proposal ke banyak toko," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, aku akan pergi ke lantai bawah," ucap Mi-yeon.
"Mi-yeon," ucap Joo-ahn.
"Ya?" tanya Mi-yeon.
"Bolehkah aku minta tolong satu hal lagi?" tanya Joo-ahn.
"Ada apa?" tanya Mi-yeon.

Setelah Joo-ahn selesai memanggil semua anggota tim marketing, Joo-ahn memberi laporan kepada manajer bidang marketing. Setelah marketing menyetujui hasil kerja tim marketing, Joo-ahn bisa menikmati istirahat makan siang dengan tenang.

***

Hari ini kantin terlihat tidak seramai biasanya. Koki yang bekerja di kantin perusahaan memasak makanan yang terlalu umum dan membosankan hari ini.

Joo-ahn makan di kanton sendirian. Di meja lain ada karyawan bagian lain yang sedang makan. Karyawan baru yang tidak dikenalnya karena bekerja pada bagian lain yang jarang ditemuinya.

Sesekali Joo-ahn melirik jam tangan yang dipakainya. Joo-ahn berpikir apakah pada waktu yang singkat ini semua anggota tim marketing sudah mengambil jam istirahat dan makan siang. Joo-ahn pernah bilang kepada karyawannya kalau tidak baik terlalu keras bekerja, apalagi kalau sampai mengorbankan waktu makan siang mereka.

"Joo-ahn?" sapa manajer Jang.
"Manajer sudah makan?" tanya Joo-ahn.
"Baru saja kembali dari luar abis makan. Aku abis bertemu dengan teman lamaku sambil makan siang. Aku cuma mau beli minum di kantin," ucap manajer.
"Di atas ada siapa?" tanya Joo-ahn.
"Barusan aku meletakan barangku di atas meja dan aku hanya melihat Ji-hyun saja. Hanya dia yang belum turun untuk makan siang," ucap manajer.
"Oh," jawab Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku naik ke atas dulu ya!" ucap manajer.

Joo-ahn melanjutkan makan siangnya. Joo-ahn berpikir apakah Ji-hyun sudah makan siang atau belum. Joo-ahn ingin membawakan makan siang ke atas, tetapi Joo-ahn takut Ji-hyun sudah memesan makanan atau membawa makanan.

"Ah, pasti dia beli makan siang kok," ucap Joo-ahn.

***

"Joo-ahn, kita mau pergi kemana?" tanya Ji-hyun saat berdiri di dalam kereta bawah tanah.
"Aku ingin membelikan sesuatu untukmu. Aku ingin kamu ikut ke acara reuni sekolah akhir pekan ini. Kamu harus memakai pakaian yang bagus. Aku perhatikan selama seminggu lebih ini, bajumu itu-itu saja," ucap Joo-ahn.
"Yaampun, aku bisa kok pergi mencari baju sendiri. Lagi pula, apakah aku harus datang ke acara reuni sekolah kita?" ucap Ji-hyun.
"Kenapa tidak mau datang?" tanya Joo-ahn.
"Aku kan tidak banyak teman disana. Jumlah temanku bisa dihitung dengan jari," ucap Ji-hyun.
"Hahaha... jelas saja. Kamu dulu pemalu," ucap Joo-ahn.
"Lho, kok malah menertawakanku?" tanya Ji-hyun.

Setelah kereta bawah tanah sudah sampai di stasiun kereta yang dituju oleh Joo-ahn dan Ji-hyun, mereka berdua turun dan Joo-ahn membawa Ji-hyun ke salah satu toko baju langganan Min-ji.

"Aku tidak tahu apakah ini adalah style-mu atau bukan. Aku hanya ingin kamu memilih baju yang nyaman untukmu nanti. Pilih saja, nanti aku bayar," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku bisa bayar bajunya kok," ucap Ji-hyun.
"Sudahlah, simpan saja uangmu. Kamu kan masih perlu membayar biaya air, listrik, dan biaya lainnya. Kalau aku masih punya kedua orang tua lengkap yang mengurusi rumah," ucap Joo-ahn.
"Tapi, adikmu ada dua orang kan?" tanya Ji-hyun.
"Sudahlah, kamu pilih saja," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun mengambil beberapa gaun selutut yang disukainya. Setelah memilihnya, Ji-hyun menunjukan seleranya kepada Joo-ahn.

"Hmm... coba pilih yang lebih bagus lagi," ucap Joo-ahn.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Ji-hyun.
"Aku rasa, lebih bagus yang hitam atau yang biru tua itu," ucap Joo-ahn.
"Aku kurang suka warna biru. Aku coba yang hitam saja," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun mengambil gaun selutut berwarna hitam itu dan mencobanya. Setelah Joo-ahn melihatnya, Joo-ahn menyetujui gaun itu lalu pergi ke kasir untuk membayar.

"Terima kasih," ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun, kenapa nada bicaramu seperti orang lesu begitu? Dari tadi kamu tidak bersemangat sekali," ucap Joo-ahn.
"Aku sedang malas makan. Rasanya kurang enak badan. Aku hanya membawa roti saja tadi," ucap Ji-hyun.
"Apa? Jadi, kamu belum makan siang? Kenapa tidak makan? Bagaimana kalau kamu sakit?" tanya Joo-ahn kesal.
"Kenapa kamu marah-marah begitu? Kenapa kamu mempedulikan aku seperti ini? Aku ingin kita seperti teman biasa saja," ucap Ji-hyun.
"Memangnya aku tidak boleh memperlakukan temanku seperti ini?" tanya Joo-ahn.
"Bukan begitu maksudku," ucap Ji-hyun.

Setelah mereka keluar dari dalam toko baju, Joo-ahn masuk ke dalam sebuah toko penjual makanan ringan dan cepat saji. Joo-ahn meminta Ji-hun setidaknya untuk makan sekali walaupun sedang tidak enak badan.

"Kalau kamu tidak enak badan, besok dirumah saja," ucap Joo-ahn.
"Bukankah besok aku harus kerja?" tanya Ji-hyun.
"Sudah, dirumah saja! Jangan bandel. Nanti kalau pingsan atau kecapean bagaimana?" tanya Joo-ahn.
"Kamu masih sama saja ya, selalu marah kalau aku sedang sakit," ucap Ji-hyun.
"Ya, itu karena aku peduli padamu," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, apakah aku terima saja lamaran Sang-ho? Aku rasa, dialah jalan takdirku. Dia masih mencintaiku katanya," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn hanya melanjutkan makan malamnya tampa menjawab. Ji-hyun jadi bingung dan menatap Joo-ahn dengan tatapan bingung. Joo-ahn hanya meneruskan makan malamnya karena dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ji-hyun.

"Joo-ahn, kok diam saja?" tanya Ji-hyun.
"Ya, lakukan saja apapun yang kamu inginkan. Yang penting kamu bahagia," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun semakin bingung. Pria yang sedang makan bersamanya mendukung dirinya untuk menikah dengan orang lain, apalagi dengan Sang-ho. Ji-hyun akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Joo-ahn sudah melepaskannya.

***

Hari ini adalah hari diadakannya acara reuni sekolah menengah atas tempat Ji-hyun, Joo-ahn, dan Sang-ho bersekolah dulu. Mareka bertiga bertemu kembali bersama teman-teman lama mereka yang bisa hadir.

"Sang-ho, apa kabar?" tanya Kwon Geun-shin.
"Aku baik-baik saja," jawab Sang-ho.
"Wah, kamu datang dengan siapa?" tanya Geun-shin.
"Kemu tidak kenal? Dia adalah Lee Ji-hyun, teman kita dulu. Ya, dia memang tidak sekelas dengan kita," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun yang pendiam itu? Wow, dia cantik banget lho sekarang, membuatku ingin menjadikannya pacarku," ucap Geun-shin.
"Tidak bisa! Dia sudah jadi milikku. Dia pacarku," ucap Sang-ho.
"Apa katamu? Kalian pacaran? Kenapa kamu mendahuluiku? Sejak kapan?" tanya Gun-shin.
"Sejak kemarin. Ji-hyun, kemari!" ucap Sang-ho.
"Ji-hyun berjalan menuju tempat Sang-ho berbicara dengan temannya. "Ada apa?"
"Ini Geun-shin, teman dekatku sewaktu dulu," ucap Sang-ho.
"Halo," ucap Ji-hyun.
"Sang-ho beruntung ya bisa memilikimu," ucap Geun-shin.
"Sang-ho, siapa wanita ini?" tanya Bum-so.
"Ini Ji-hyun, teman satu sekolah kita," ucap Sang-ho.
"Apa? Ini Ji-hyun pacarnya Joo-ahn ya?" tanya Bum-so.
"Sekarang, dia adalah pacarku," ucap Sang-ho.
"Apa kabar? Kamu cantik sekali," ucap Bum-so.
"Maaf, aku tidak kenal kalian berdua," ucap Ji-hyun.
"Tentu saja kamu tidak mengenal kita berdua karena kamu berada di kelas 2-1 dan 3-1 kan? Kami bertiga berada di kelas 2-3 dan 3-3, tidak sepertimu yang berada di kelas unggulan," ucap Bum-so.
"Jadi, kalain akan menikah?" goda Geun-shin.
"Kami belum memikirkan tanggal pernikahan dan persiapannya. Bagaimana menurutmu, Ji-hyun?" tanya Sang-ho.
"Ha?" tanya Ji-hyun kaget.
"Kalau kalian jadi menikah, jangan lupa untuk undang kami!" ucap Bum-so.
"Iya," jawab Sang-ho.

Joo-ahn berjalan sendirian untuk mencari sosok Ji-hyun. Teman dekatnya tidak dapat hadir dalam acara reuni kali ini, sehingga Joo-ahn tidak ada teman bicara. Kebanyakan tamu yang datang adalah murid dari angkatan yang berbeda dengan dirinya.

"Hahaha, kalian sudah sejak kapan dekat?" tanya Geun-shin.
"Kami teman dari sekolah dasar. Ayahku kenal dengan ayah dia," ucap Ji-hyun.
"Benarkah? Aku pikir, hubungan antara teman yang dusah dikenal sejak kecil hanya ada di drama saja," ucap Geun-shin.
"Tentu saja tidak! Kami adalah bukti nyatanya," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun, kamu kemana saja?" tanya Joo-ahn saat menemukan sosok Ji-hyun.

Joo-ahn kaget melihat sosok Ji-hyun malam ini. Joo-ahn bukan kaget karena Ji-hyun memakai gaun yang dibelikannya dan terlihat cantik, tetapi yang membuat Joo-ahn menjadi kaget adalah keberadaan Ji-hyun disamping Sang-ho dan teman dekat Sang-ho. Terlebih, Sang-ho merangkul Ji-hyun dari tadi.

"Joo-ahn," ucap Ji-hyun kaget.
"Aku mencarimu dari tadi," ucap Joo-ahn.
"Hei, untuk apa kamu mencari sesuatu yang bukan milikmu lagi?" tanya Sang-ho.
"Apa katamu?" tanya Joo-ahn kesal.
"Dia milikku sekarang," ucap Sang-ho.
"Kalian berhubungan lagi?" tanya Joo-ahn.
"Iya," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun, kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Joo-ahn.
"Memangnya dia siapa harus memberi kabar padamu tentang semua hal?" tanya Sang-ho.
"Apakah kamu berusaha untuk merahasiakannya dariku? Atau kamu melarang dia untuk menceritakan kepada orang lain?" tanya Joo-ahn.
"Aku ini sudah mengenal Ji-hyun sejak kecil. Aku lebih tahu tentangnya dari pada kamu. Aku lebih mengerti dia dari pada kamu. Bukankah dia sudah menolak permintaan maafmu delapan tahun yang lalu? Kenapa kamu masih mencarinya?" tanya Sang-ho.
"Bum-so, aku rasa mereka sudah bertengkar," ucap Geun-shin.
"Iya, lebih baik kita mengambil makanan saja," ucap Bum-so.
"Hei, kenapa kalian berdua berantem?" tanya Ji-hyun.
"Joo-ahn, tolong jauhi Ji-hyun!" ucap Sang-ho.
"Joo-ahn, maafkan aku," ucap Ji-hyun.
"Oke, lakukan saja sesukamu! Tapi, kalau kamu membuat hati Ji-hyun terluka, aku tidak akan tinggal diam. Aku teman dekatnya," ucap Joo-ahn.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: