Novel

When I Was Your Man #4

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Sampai kapanpun, kamu adalah atasanku. Tidak lebih dari itu," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn masih mengingat perkataan yang diberikan oleh Ji-hyun semalam. Berkali-kali Joo-ahn meyakinkan dirinya sendiri apakah benar Ji-hyun berkata seperti itu kepadanya.

"Ah, aku rasa bumerang sudah kembali kepadaku," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn menatap adik laki-lakinya yang sedang berbaring di atas kasur adiknya. Joo-ahn mengecek jam pada layar ponselnya, lalu memanggil adiknya itu.

"Tae-hwan, ayo kita jalan-jalan!" ucap Joo-ahn.
"Jalan-jalan? Tumben sekali hyung mengajak jalan-jalan," ucap Tae-hwan.
"Aku sedang banyak pikiran. Aku rasa, aku perlu jalan-jalan sebentar," ucap Joo-ahn.
"Baiklah, ayo kita pergi!" ucap Tae-hwan.

Setelah ganti baju dan bersiap, Tae-hwan dam Joo-ahn berjalan ke garasi untuk naik mobil. Joo-ahn sudah memegang kunci mobil milik ayahnya dan pintu mobil sudah dibuka.

"Oppa, mau pergi kemana? Aku ikut ya?" tanya Min-ji.
"Ini acara laki-laki," ucap Tae-hwan.
"Oppa," bujuk Min-ji.
"Kamu dirumah saja!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, kenapa kamu dan Min-ji selalu adu mulut begitu? Ayo Min-ji," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn mengendarai mobilnya mengelilingi beberapa daerah di Seoul. Joo-ahn juga membawa pakaian renang karena Joo-ahn ingin berenang nanti sore.

"Kita mau kemana?" tanya Tae-hwan.
"Mmm, jam makan siang sudah hampir tiba. Bagaimana kalau kita mencari makanan di sepanjang jalan? Aku bosan makan makanan restoran cepat saji," ucap Joo-ahn.
"Ayo!" ucap Min-ji.

Ketika saudara itu pergi menuju daerah yang banyak penjual makanan pinggir jalan. Joo-ahn sudah lama tidak membali jajanan di pinggir jalan karena sibuk bekerja dan sering makan di kantin perusahaan. Hanya Tae-hwan yang sering membeli jajanan seperti itu karena dia sering melewati penjual jajanan saat jalan pulang ke rumah.

"Ah, musim gugur telah tiba!" ucap Min-ji.
"Iya, daun sudah berguguran," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn berdiri di depan wanita penjual hotteok, pancake ala korea. Seorang wanita juga sedang berdiri untuk membeli hotteok.

"Ketua Kim?" sapa seseorang.
"Kamu?" ucap Joo-ahn kaget.
"Ketua suka makan hotteok disini juga?" tanya Ji-hyun.
"Aku jarang sekali membeli hotteok di sini," jawab Joo-ahn.
"Ketua, aku pergi dulu ya," ucap Ji-hyun.
"Tunggu! Temani aku makan hotteok," ucap Joo-ahn.
"Maaf, aku tidak bisa ketua. Aku sudah ditunggu oleh orang lain," ucap Ji-hyun.
"Siapa? Oiya, bukankah aku sudah memintamu untuk jangan memanggilku dengan sebutan ketua kalau di luar urusan kerja?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, aku pergi dulu ya," ucap Ji-hyun.

Sementara Joo-ahn sedang duduk di kedai penjual hotteok,  Tae-hwan dan Min-ji duduk di kedai penjual tteokbokki.

"Oppa, bukankah itu Ji-hyun eonni?" tanya Min-ji.
"Mana? Oh iya, kamu benar! Tapi, dia sedang jalan dengan seseorang. Rasanya, aku pernah mengenal pria itu," ucap Tae-hwan.
"Siapa dia?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, orang yang bekerja di sebuah restoran kecil. Waktu aku ada tugas kuliah, aku meninjau dua restoran, salah satunya restoran tempat orang itu bekerja," ucap Tae-hwan.
"Benarkah? Apakah dia pemilik restorannya?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, dia adalah keponakan dari pemilik restoran. Pemilik restoran tidak mempunyai anak karena tidak menikah," ucap Tae-hwan.
"Ji-hyun eonni beruntung sekali," ucap Min-ji.
"Min-ji, bukankah kita harus mendekatkan kembali kakak kita dengan dia?" tanya Tae-hwan.
"Untuk apa? Bukankah oppa sudah membenci dia?" tanya Min-ji.
"Ya, kita lihat saja apa yang akan terjadi di kemudian hari. Aku punya feeling kalau mereka akan kembali lagi," ucap Tae-hwan.

***

Sore ini membosankan sekali. Joo-ahn pergi ke kolam renang sendiri. Kedua adiknya pergi menonton pertandingan tenis di lapangan tenis yang berada dalam satu area dengan kolam renang tempat Joo-ahn berada. Joo-ahn membuka daftar nomor telepon dan mengirim pesan kepada beberapa orang yang menurutnya cocok untuk menemaninya berenang sore ini.

Karena beberapa teman yang dihubunginya tidak bisa datang, akhirnya Joo-ahn mengirim pesan kepada Ji-hyun saja. Joo-ahn sudah tidak tahu ingin menghubungi siapa lagi.

"Joo-ahn, ada apa memintaku untuk datang kesini?" tanya Ji-hyun begitu tiba di pinggir kolam renang.
"Kamu masih belum paham? Tentu saja kita akan berenang disini," ucap Joo-ahn.
"Apa? Kamu bilang, ada yang ingin kamu diskusikan. Tapi anehnya, kamu juga memintaku untuk membawa pakaian berenangku," ucap Ji-hyun.
"Kalau aku tidak mengatakan bahwa ada yang harus didiskusikan setelah berenang, kamu tidak akan mau datang kemari kan?" tanya Joo-ahn.
"Jadi begini caramu untuk mendapatkanku lagi?" tanya Ji-hyun.
"Ji-hyun, mau pergi kemana? Karena kamu sudah membawa pakaian berenangmu, ikutlah berenang bersamaku," ucap Joo-ahn.
"Ketua, maksudku Joo-ahn, kamu kan tahu kalau aku takut kolam renang yang dalam," ucap Ji-hyun.
"Hari ini kamu aman bersamaku," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn yang sudah berada di dalam kolam renang, memegang salah satu lengan Ji-hyun yang sedang duduk di pinggir kolam renang dan menarik wanita itu ke dalam kolam renang. Wanita itu berteriak dihadapannya.

"Aaaa Joo-ahn! Lepaskan! Aaaa..." ucap Ji-hyun.
"Sudahlah, tenang saja! Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berenang," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn memegang tubuh Ji-hyun saat Ji-hyun mencoba untuk berenang. Ji-hyun mencoba gaya dasar, yaitu gaya dada. Joo-ahn membimbingnya perlahan.

"Kamu masih trauma?" tanya Joo-ahn.
"Iya, aku takut sekali. Ibuku meninggal karena terbawa arus pantai dan aku dari kecil jarang pergi berenang. Itu alasannya," jawab Ji-hyun.
"Aku sudah tahu alasanmu itu," ucap Joo-ahn.

Sudah setengah jam Ji-hyun belajar berenang bersama dengan Joo-ahn sampai akhirnya wanita itu merasa lelah. Akhirnya, Joo-ahn memperbolehkan Ji-hyun untuk duduk di pinggir kolam renang dan Joo-ahn kembali berenang sendirian.

Ji-hyun memandang kolam renang. Banyak anak-anak yang sedang bermain air di kolam renang anak-anak. Ada juga anak-anak yang sedang bermain bola di dalam kolam. Rasanya seru sekali.

"Hei, kok bengong?" tanya Joo-ahn saat berhenti sejenak di hadapan Ji-hyun.
"Rasanya seru sekali bisa bermain di kolam renang seperti anak-anak itu," ucap Ji-hyun.
"Setiap hari minggu kamu harus belajar berenang bersamaku," ucap Joo-ahn.
"Untuk apa?" tanya Ji-hyun.
"Supaya kamu tidak takut berenang lagi!" ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, aku jadi tidak enak padamu. Kamu mau mengajariku berenang," ucap Ji-hyun.
"Kalau kamu merasa tidak enak, sekali-sekali traktir aku makan," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn kembali berenang dengan gaya bebas andalannya. Saat berenang, dia teringat akan masa lalunya yang menyenangkan di hari Minggu sore, yaitu saat dia dan Ji-hyun pergi ke kolam renang.

FLASHBACK

"Ji-hyun, kenapa kamu tidak masuk ke dalam kolam renang? Kenapa kamu hanya duduk-duduk saja sambil membasahi kedua kakimu?" tanya Joo-ahn.
"Maaf, aku tidak bisa berenang dan aku takut. Kamu saja yang berenang," ucap Ji-hyun.
"Kamu mau aku ajari caranya berenang?" tanya Joo-ahn.
"Lain kali saja kalau aku sudah siap," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun duduk di pinggir kolam renang sambil memercikan air kolam renang setiap Joo-ahn berada di hadapannya. Sesekali, Joo-ahn membalas percikan air itu dan membuat wajah dan rambut Ji-hyun menjadi basah.

Setelah memberi percikan air, Joo-ahn menarik lengan Ji-hyun secara spontan dan ingin memastikan apakah benar Ji-hyun takut dengan kolam renang. Ji-hyun langsung terbawa ke dalam kolam renang itu.

"Lepaskan! Joo-ahn!" ucap Ji-hyun.
"Ji-hyun! Ternyata kamu memang tidak bisa berenang ya? Aku pikir kamu hanya berpura-pura tidak bisa berenang," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn, keluarkan aku dari kolam ini. Uhuk! Joo-ahn, aku tidak bisa bernafas," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn panik dan langsung meraih lengan Ji-hyun. Setelah itu, Joo-an menggotong tubuh kurus Ji-hyun dan membawanya keluar dari kolam renang. Ji-hyun batuk dan air keluar dari dalam mulutnya.

"Mianhae," ucap Joo-ahn.
"Uhuk," ucap Ji-hyun.
"Mianhae," ucap Joo-ahn.
"Kamu tidak tahu kenapa aku takut dengan kolam renang dan air pantai," ucap Ji-hyun.
"Kenapa? Maafkan aku," ucap Joo-ahn.
"Karena... Karena ibuku meninggal akibat terseret arus pantai saat menyelamatkanku. Aku yang lebih dulu terbawa arus air pantai," ucap Ji-hyun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Joo-ahn sambil memeluk wajah Ji-hyun yang terbaring di pinggir kolam renang.
"Aku sudah tidak ada apa-apa," ucap Ji-hyun.

***

"Oppa!" teriak Min-ji saat masuk ke dalam ruang kolam renang.
"Joo-ahn!" teriak Ji-hyun setelah Joo-ahn memberi percikan air kepada Ji-hyun.

Setelah memberi percikan air kepada Ji-hyun, Joo-ahn menyadari kedatangan kedua adiknya. Joo-ahn langsung memberhentikan percikan air dan Ji-hyun langsung melihat ke arah lain. Walaupun begitu, tetap saja kedua adik Joo-ahn akan mengira yang tidak-tidak.

"Hyung?" tanya Tae-hwan.
"Sudah selesai pertandingan tenisnya? Aku mandi dulu ya," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn keluar dari dalam kolam renang, lalu pergi menuju ruang loker untuk mengambil pakaian ganti, lalu disusul oleh Ji-hyun yang juga berjalan ke ruang loker perempuan. Tae-hwan dan Min-ji saling berpandangan satu sama lain karena kaget melihat kakak mereka kembali dekat dengan mantan pacarnya.

"Ji-hyun, aku antar pulang ya?" ucap Joo-ahn setelah keluar dari ruang loker.
"Ah, aku pulang sendiri saja. Terima kasih untuk sore ini," ucap Ji-hyun.
"Ayolah, kita semua mau pergi makan malam. Ikutlah dengan kami, lalu aku antar pulang," ucap Joo-ahn.
"Baiklah kalau kamu menginginkanku untuk ikut," ucap Ji-hyun.

Joo-ahn dan seisi mobilnya pergi makan malam bersama di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mahal harganya. Tidak ketinggalan, pria itu memsan sebotol soju walau Min-ji tidak boleh untuk meminumnya. Min-ji hanya dipesankan jus saja.

"Kenapa kalian bisa berdua di ruang kolam renang?" tanya Tae-hwan penasaran.
"Dia yang menyuruhku untuk datang. Dia bilang, ada diskusi penting setelah berenang," ucap Ji-hyun.
"Dan aku membohonginya," ucap Joo-ahn.
"Kakak, aku tidak menyangka kalau kakak sudah sejauh ini," ucap Tae-hwan.
"Joo-ahn, aku dilamar oleh Sang-ho sebelum menemuimu tadi," ucap Ji-hyun.
"Apa?" ucap Joo-ahn kaget. Joo-ahn meletakan sumpit yang dipakainya ke atas meja karena kaget.
"Dia melamarku," ucap Ji-hyun.
"Lalu? Kamu sudah menjawabnya?" tanya Joo-ahn.
"Aku belum memberi jawaban karena kamu menyuruhku untuk segera datang. Aku pikir kamu serius ada urusan penting," ucap Ji-hyun.
"Kamu ingin menjawab apa?" tanya Joo-ahn.
"Aku belum tahu," ucap Ji-hyun.

Diam-diam, Joo-ahn merasa sedikit tenang. Joo-ahn tenang karena Ji-hyun belum memberikan jawaban untuk Sang-ho. Joo-ahn masih punya harapan untuk Ji-hyun walau dia tahu bahwa Ji-hyun menolaknya. Joo-ahn belum tahu bagaimana perasaan Ji-hyun yang sesungguhnya.

Sementara itu, Ji-hyun masih ragu karena di satu sisi, Ji-hyun tidak ingin membuat hati Sang-ho menjadi kacau, tetapi, di satu sisi, dia merindukan Joo-ahn. Walaupun Ji-hyun berusaha untuk menjauhakn diri dari Joo-ahn, tetapi selama delapan tahun ini, dia masih merindukan Joo-ahn. Ji-hyun yang sudah pernah berpacaran dengan Sang-ho pun tetap tidak bisa benar-benar terlepas dari Joo-ahn.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #3

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Aku pulang!" ucap Joo-ahn saat membuka pintu rumahnya.

Kdua adik kandung dari Joo-ahn sudah duduk di meja makan bersama ayah mereka. Joo-ahn meletakan sepasang sepatu yang dipakainya tadi di dalam lemari sepatu. Setelah itu, dilemparnya sepasang kaus kaki hitamnya ke dalam keranjang pakaian kotor.

"Kamu terlihat lelah," ucap ayah Joo-ahn.
"Iya," jawab Joo-ahn.
"Yasudah, kamu mandi saja. Kamu bisa makan malam nanti setelah mandi," ucap ayah Joo-ahn.
"Baiklah appa," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn masuk ke dalam kamar mandi di lantai dua rumahnya. Dirinya merasa lelah karena bekerja seharian di kantor. Mandi dapat membuat badanya terasa lebih segar.

Sambil berdiri di bawah shower yang menyala,  Joo-ahn membasahi seluruh bagian tubuhnya. Jo-ahn berbikir kenapa dia bisa bersikap tegas dan sedikit galak terhadap Ji-hyun di hari pertamanya bekerja. Jo-ahn sudah berusaha untuk mengendalikan emosinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Dia tetap saja ingin marah setiap kali melihat wajah Ji-hyun.

Setelah mandi dan memakai pakian, Joo-ahn keluar dari kamar mandi sambil memakai handuk kecil di lehernya. Tae-hwan berpapasan dengannya di depan kamar mandi lantai dua.

"Hyung, tadi teman eomma memberikan kita buah apel yang segar," ucap Tae-hwan.
"Apakah masih ada untukku?" tanya Joo-ahn.
"Tentu saja! Aku tidak mungkin memakan semua apel itu. Hyung kan sangat suka makan apel," ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan," ucap Joo-ahn.
"Ada apa kak?" tanya Tae-hwan.
"Apakah kehidupan perkuliahanmu menyulitkanmu? Kamu terlihat kesulitan setaip hari," ucap Joo-ahn.
"Ah kakak, aku bisa mengatasi semua masalahku sendiri," ucap Tae-hwan.
"Kalau kamu ada kesulitan, seharusnya kamu bisa cerita kepada kakak," ucap Joo-ahn.
"Kakak, aku rasa aku salah memilih tempat kuliah," ucap Tae-hwan.
"Kenapa?" tanya Joo-ahn.
"Aku rasa, aku hanya membuang-buang uang yang ayah berikan dan kakak bantu. Aku memaksakan diriku untuk masuk ke universitas bergengsi dan sekarang aku tidak suka dengan beberapa teman-temanku yang terus menyombongkan apa yang mereka pakai atau mereka bawa. Kata mereka, aku hanya tahu soal belajar. Memang, kita bukan orang kaya seperti mereka," ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, kamu masih memiliki satu tahun sebelum lulus. Lebih baik, gunakan sisa waktumu itu untuk lulus dan mendapatkan gelar dari pada memikirkan hal yang mengganggumu," ucap Joo-ahn.
"Terima kasih kakak atas nasihatmu," ucap Tae-hwan.
"Kakak turun ke dapur dulu ya!" ucap Joo-ahn.
"Oke," jawab Tae-hwan.

***

"Oppa, apakah oppa mau pergi nonton konser bersamaku?" tanya Min-ji sambil menonton tv.
"Konser apa?" tanya Joo-ahn yang duduk sendirian di meja makan depan dapur.
"Konser EXO yang akan diadakan dua minggu lagi," ucap Min-ji.
"Hei, memangnya kamu punya banyak uang? Lagi pula, aku tidak tertarik untuk melihat EXO. Kalau kamu mengajakku untuk menonton konser Girls' Generation, akan akan pertimbangkan," ucap Joo-ahn.
"Tentu saja aku menabung selama beberapa bulan," ucap Min-ji.
"Pergilah dengan temanmu atau ajak saja Tae-hwan," ucap Joo-ahn.
"Oppa, apakah oppa takut akan dikejar-kejar oleh temanku?" tanya Min-ji.
"Bukan itu. Aku memang tidak tertarik saja," ucap Joo-ahn.
"Huh, baiklah," ucap Min-ji.

Setelah selesai makan malam, Joo-ahn seperti biasa menyuci sendiri piring bekas dia gunakan. Setelah itu, dia duduk pada sofa yang sama dengan Min-ji untuk menemani adiknya menonton acara tv kesukaannya.

"Oppa, lucu kan?" tanya Min-ji.
"Apanya yang lucu?" tanya Joo-ahn.
"Jadi, kakak tetap tidak menganggap acara ini lucu ya? Tapi, tadi kakak tertawa," ucap Min-ji.
"Siapa yang tertawa?" tanya Joo-ahn.
"Tuh kan, kakak tertawa lagi," ledek Min-ji.
"Baru kali ini aku menonton acara ini dan merasa lucu," ucap Joo-ahn.
"Dari dulu, acara ini memang sudah lucu. Kakak saja yang tidak ada selera humor," ucap Min-ji.
"Hahaha..." ucap Joo-ahn.
"Oppa, apakah oppa akan menerima kembali Ji-hyun eonni?" tanya Min-ji.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tanya Joo-ahn.
"Ah, aku hanya penasaran saja. Apakah oppa bertemu lagi dengannya di kereta saat pulang?" tanya Min-ji.
"Dia adalah bawahanku yang baru. Dia dipindahkan oleh pimpinan dari kantor cabang ke kantor utama. Kami satu tim. Kenapa kami dipertemukan lagi ya?" ucap Joo-ahn.
"WOW!" ucap Min-ji saat memperhatikan acara Let's Go Dream Team di tv.
"Min-ji, kenapa berteriak seperti itu?" tanya Tae-hwan yang sedang mengisi minum di gelasnya.
"Ini seru sekali oppa!" ucap Min-ji.
"Kakak, kakak sekarang satu perusahaan dengan Ji-hyun eonni?" tanya Tae-hwan.
"Iya," jawab Joo-ahn.
"Oppa, dua minggu lagi temani aku pergi nonton konser EXO ya?" ucap Min-ji.
"Kakak tidak punya banyak uang," ucap Tae-hwan.
"Ah, kakak! Aku iri pada temanku yang sudah punya pacar. Mereka bisa datang bersama. Aku tidak punya pacar, bahkan teman dekat pria saja tidak punya. Ah, terpaksa aku nonton sendiri," keluh Min-ji.
"Lebih baik simpan saja uangmu itu. Nanti kita pergi nonton SM Town Live Tour saja," ucap Joo-ahn.
"Benarkah? Kapan?" tanya Min-ji.
"Kalau tidak salah, yang tahun ini sudah lewat. Tahun depan kita nonton ya!" ucap Joo-ahn.
"Ah kakak, kenapa lama sekali?" tanya Min-ji.
"Justru lebih bagus kan? Kita bisa menabung untuk harga tiket yang lebih mahal," ucap Joo-ahn.
"Tell me why why why neoman wonhago ittjanha. No bye bye bye keureon seulpeun mareun hajima," ucap Tae-hwan sambil mengambil es batu dari dalam kulkas.
"Oppa, kenapa selalu menyanyikan lagu milik CNBLUE? Lebih keren lagu milik EXO atau Super Junior," ucap Min-ji.
"Biarin saja dia!" ucap Joo-ahn.
"Menurutku, mereka berempat jauh lebih keren dari pada sembilan orang idolamu," ucap Tae-hwan.
"Oppa!" ucap Min-ji.
"Apa? Sudah sana, tidur saja! Sudah jam sebelas malam," ucap Tae-hwan.
"Kakak sendiri kenapa belum tidur juga?" tanya Min-ji.
"Besok kan hari sabtu, hari libur," ucap Tae-hwan.
"Astaga, aku belum meberinya kabar!" ucap Joo-ahn.
"Kabar apa?" tanya Tae-hwan.
"Ji-hyun mengundang beberapa kenalan untuk menghadiri peringatan sembilan tahun ibunya meninggal besok malam. Aku belum menjawab aku akan datang atau tidak," ucap Joo-ahn.

***

Ji-hyun duduk di atas kasurnya sambil memegang ponselnya. Berkali-kali ia melihat layar ponselnya. Tak ada pesan ataupun telepon yang masuk dari pria yang ditunggunya.

"Aku dulu memarahinya di hari terakhir dia datang ke rumah ini. Tapi, kenapa sekarang aku menunggunya?" desah Ji-hyun.

[Kim Joo-ahn]
Ji-hyun, besok malam aku akan datang ke rumahmu. Maaf baru mengirim pesan malam-malam begini.

Ji-hyun membaca pesan itu. Dia tidak menyangka atasannya akan datang besok. Walaupun Joo-ahn akan datang, tetapi Ji-hyun tidak boleh terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Mungkin saja, orang itu datang karena orang itu menghormati rekan kerjanya atau karena dekat dengan kakaknya sewaktu bermain bulutangkis, bukan karena ingin kembali bersama dengan dirinya seperti dulu.

***

"Silahkan masuk!" ucap In-ho, kakak Ji-hyun.

Malam ini, sudah ada beberapa orang yang datang. Ada Mi-yeon dan Joo-hwan sebagai perwakilan dari perusahaan, lalu ada teman dekat In-ho yang bernama Dong-il. Selain itu, Sang-ho juga datang ke rumah Ji-hyun.

Ji-hyun dan In-ho berlutut di depan foto ibunya yang diberi beberapa karangan bunga di samping foto ibunya. Mereka menghormati sosok ibunya dengan tradisi orang korea. Berbeda dengan tradisi dari negara lain yang menghormati sosok orang yang sudah meninggal dengan pergi ke Gereja atau tempat lainnya.

Setelah kakak beradik itu menghormati foto ibunya, mereka menata meja makan dengan lauk-lauk yang dibeli oleh In-ho tadi sore. Para tamu makan malam bersama sebelum pulang.

"Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Mi-yeon.
"Mashita!" ucap In-ho.
"Oppa, apakah malam ini oppa akan menginap di rumah kami?" tanya Ji-hyun.
"Iya, sudah lama aku tidak menginap ya," ucap Dong-il.
"Ji-hyun, siapa pria itu?" tanya In-ho.
"Dia? Dia adalah Nam Sang-ho. Oppa sudah lupa?" tanya Ji-hyun.
"Sang-ho? Sang-ho mantan pacarmu itu? Wah, aku sampai tidak mengenali wajahnya lagi," ucap In-ho.
"Apa? Dia mantan pacarmu juga?" bisik Mi-yeon di depan telinga Ji-hyun.
"Dia adalah pacarku sewaktu aku kuliah," bisik Ji-hyun.
"Apa kabar kakak?" ucap Sang-ho sambil membungkukan badannya.
"Ayo diambil makanannya!" ucap In-ho.
"Terima kasih," jawab Sang-ho.

Lee In-ho tidak tahu kalau Joo-ahn dan Ji-hyun pernah menjalin hubungan selama satu tahun. Yang In-ho tahu hanyalah ayahnya tidak ingin Ji-hyun punya pacar selain Sang-ho, kecuali mereka sudah putus setelah mencoba pacaran.

Dulu, semasa kuliah, In-ho memang sering pergi ke perpustakaan atau kerja kelompok atau bermain bulu tangkis, sehingga dia tidak terlalu tahu soal masalah keluarga, apalagi masalah yang menyangkut adiknya. Hal itu yang membuatnya tidak tahu bahwa adiknya kenal dengan Joo-ahn, teman main bulu tangkisnya.

"Ketua Kim, aku pikir ketua tidak akan datang malam ini," ucap Mi-yeon.
"Aku datang karena aku juga mengenal kakak Ji-hyun. Aku adalah ketua tim marketing, sehingga aku tidak enak untuk tidak datang," ucap Joo-ahn.
"Apakah kamu berusaha untuk mendekati Ji-hyun lagi?" tanya Sang-ho.
"Mendekati Ji-hyun? Apakah kalian sebelumnya sangat dekat?" tanya In-ho.
"Sang-ho, apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Joo-ahn kesal.
"Apakah hyung tidak tahu soal mereka berdua?" tanya Sang-ho.
"Memangnya ada apa diantara kalian berdua?" tanya In-ho.
"Tidak ada apa-apa," ucap Ji-hyun.
"Kami dulu berpacaran," ucap Joo-ahn.
"Joo-ahn. maksudku, ketua Kim, kenapa kamu mengatakan hal itu?' tanya Ji-hyun.
"Apa salah kalau aku mengakui apa yang terjadi kepada kita setelah delapan tahun berlalu?" tanya Joo-ahn.
"Kalian...." ucap In-ho.
"Maafkan kami yang menyembunyikan hal ini. Tetapi, aku mencintainya. Aku menyayanginya. Karena aku masih mencintaimu," ucap Joo-ahn tiba-tiba.

Joo-ahn kaget setelah mengakui hal itu. Ji-hyun juga kaget dan hampir tak berkutik. Ji-hyun langsung berdiri dari kursi makannya dan berjalan keluar pintu rumah.

Joo-ahn mengejar Ji-hyun sampai berhasil meraihnya. Akhirnya, Joo-ahn meraih lengan Ji-hyun dan memndekatinya. Joo-ahn juga mencium Ji-hyun di depan rumahnya begitu dia sudah meraih lengan Ji-hyun.

"Apa-apaan ini ketua Kim?" tanya Ji-hyun.
"Jangan panggil aku ketua kalau kita sedang tidak ada urusan kerja," ucap Joo-ahn.
"Lepaskan!" ucap Ji-hyun.

Ji-hyun melepaskan pegangan Joo-ahn. Ji-hyun juga tidak ingin dicium oleh Joo-ahn. Ji-hyun tidak ingin sakit hati lagi seperi delapan tahun yang lalu saat dirinya dan Joo-ahn mengakhiri hubungan mereka.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Ji-hyun juga merindukan masa-masa itu. Ji-hyun ingin kembali bersama Joo-ahn. Tetapi, Ji-hyun bingung dan ragu. Ji-hyun tidak berani melangkah maju dan langsung mengakui semua perasanannya. Apalagi, Sang-ho akan terluka karena Sang-ho juga masih ada perasaan dengannya. Ji-hyun dan Sang-ho mengakhiri hubungan mereka karena Ji-hyun tidak ingin menjalani cinta yang tidak tulus. Ji-hyun lebih memilih untuk berteman dekat dengan Sang-ho saja.

"Tolong jangan lakukan hal ini lagi kepadaku!" ucap Ji-hyun.
"Maaf, tetapi aku tidak dapat mengontrol perasaanku sendiri," ucap Joo-ahn.
"Sampai kapanpun, kamu adalah atasanku. Tidak lebih dari itu," ucap Ji-hyun.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: