Novel

When I Was Your Man #2

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

FLASHBACK

Joo-ahn yang masih berseragam sekolah delapan tahun yang lalu membawa satu kantong plastik yang berisi apel segar yang dibawakan oleh neneknya dari kebun keluarga di desa. Sebagian buah apel itu akan diberikan kepada Ji-hyun, tepat pada hari perayaan satu tahun mereka berpacaran.

Hari itu tepat dua hari setelah pertengkaran hebat antara Joo-ahn dan Ji-hyun di depan sekolah mereka. Joo-ahn menyesal dan ingin minta maaf kepada Ji-hyun atas semua perkataan kasarnya. Maka dari itu, Joo-ahn mengunjungi rumah Ji-hyun.

Pintu rumah terbuka. Joo-ahn berdiri di depan pintu rumah yang terbuka. Nampaknya, keluarga Ji-hyun sedang kedatangan tamu penting. Joo-ahn berdiri sambil menunggu tamu itu pulang.

"Ji-hyun, hari ini keluarga Nam datang ke rumah kita. Aku yang mengundangnya. Ayo beri salam kepadanya," ucap ayah Ji-hyun.
"Halo, apa kabar?" ucap Ji-hyun sambil duduk di atas sofa.
"Wah, sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah ini! Sudah lama juga sejak Il-hwa meninggal," ucap ayah Sang-ho.
"Iya, sudah lama sekali," ucap ayah Ji-hyun.
"Ini Sang-ho," ucap ayah Sang-ho.
"Aku dengar, mereka bersekolah di sekolah yang sama," ucap ayah Ji-hyun.
"Iya, aku juga sudah dengar kabar baik itu. Ah, akhirnya kita bisa mewujudkan keinginan kita. Ternyata anak kita memiliki jenis kelamin yang berbeda," ucap ayah Sang-ho.
"Appa," ucap Sang-ho.
"Ji-hyun, minggu depan pergilah bersama Sang-ho. Aku mempunyai dua tiket untuk menonton teater dan kupon makan malam," ucap ayah Sang-ho.
"Ah, appa!" ucap Sang-ho lagi.
"Kamsahamnida ahjussi," ucap Ji-hyun sambil menerima sebuah tiket teater.

Joo-ahn kaget mendengar percakapan itu. Tidak sengaja, kantong plastik yang dipegangnya jatuh dan dia segera mengambilnya.

Ji-hyun melihat sosok Joo-ahn tidak sengaja melalui jendela rumahnya. Ji-hyun segera keluar sebentar dari dalam rumahnya untuk menemui Joo-ahn.

"Joo-ahn, kami gila apa?" bisik Ji-hyun sambil memukul lengan mantan pacarnya itu.
"Memangnya aku tidak boleh sekali saja datang kesini?" tanya Joo-ahn.
"Kamu gila apa? Ayahku tidak menyukaimu. Kenapa kamu masih muncul di depan rumahku?" tanya Ji-hyun.

Ji-hyun menarik lengan Joo-ahn dan berjalan sebentar menjauhi rumah Ji-hyun. Ji-hyun melepaskan tarikannya dan mempersilahkan Joo-ahn untuk berbicara kepadanya.

"Katakan, ada apa menemuiku? Bukankah kamu tidak ingin berurusan lagi denganku?" tanya Ji-hyun.

Jo-ahn memeluk tubuh Ji-hyun dengan erat, tetapi Ji-hyun langsung melepaskan pelukan itu dengan mendorong dada Joo-ahn.

"Maafkan aku. Aku salah telah berkata kasar kepadamu dua hari yang lalu. Aku ingin minta maaf kepadamu," ucap Joo-ahn.
"Apa perlu aku menerima permintaan maafmu?' tanya Ji-hyun.
"Apa katamu?" balas Joo-ahn.
"Aku tidak mau memaafkanmu. Bahkan, kalau kita bertemu di masa depan, aku tidak akan mau memaafkanmu. Sekarang, aku ingin memulai kisahku yang baru," ucap Ji-hyun.
"Jadi, kamu ingin bersama anak itu?" tanya Joo-ahn.
"Yang jelas, orang itu tidak pernah berkata kasar kepadaku dan membentakku!" ucap Ji-hyun.

Ji-hyun berjalan ke dalam rumahnya, lalu menutup pagar rumahnya dan menggemboknya. Joo-ahn berdiri sambil memegang kantong plastik berisi buah apel dan kesal.

***

"Bersadarkan diagram yang sudah aku buat, terdapat kenaikan persentase sebesar 5% untuk produk tas punggung model terbaru kita dibandingkan dengan persentase minggu lalu, sedangkan ada penurunan persentase sebesar 3% untuk produk tas punggung anak-anak yang diluncurkan tiga bulan lalu. Seperti rencana awal kita, produk tas punggung anak-anak itu memang hanya akan diminati pada musim panas saja," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun mencatat apa yang dipresentasikan oleh Joo-ahn, atasannya. Manajer memintanya untuk mencatat isi presentasi pada hari ini bersama Mi-yeon.

"Bagaimana dari tim desain produk?" tanya manajer Jang.

Wanita bernama Go In-ha berdiri dari kursinya dan melanjutkan presentasinya. Sekarang giliran Joo-ahn untuk duduk setelah berdiri lama di depan ruang rapat.

"Tim desain sudah merencanakan produk tas wanita terbaru untuk musim dingin dua bulan lagi. Ini adalah beberapa sketsa tas yang akan kami rancang nanti," ucap Go In-ha sambil mengganti halaman presentasi.

Setelah presentasi selesai, semua orang yang berada di ruang rapat keluar dan mulai bekerja pada tugasnya masing-masing kecuali Ji-hyun yang masih berada dalam tahap bimbingan satu bulan.

"Lee Ji-hyun, jadwalmu hari ini adalah pergi bersama ketua tim Kim untuk meninjau toko utama kita di daerah Myeongdong," ucap manajer Jang.
"Jam berapa kami akan berangkat?" tanya Ji-hyun.
"Jam sepuluh, setengah jam lagi. Sekarang, bersiaplah bersama tuan Kim. Setelah kalian selesai dari toko Myeongdong, kalian akan mengunjungi kantor pembuatan iklan tidak jauh dari daerah Myeongdong untuk bertemu dengan salah satu staf. Setelah itu, pergilah makan siang dengan tuan Kim," ucap manajer Jang.
"Apa yang harus aku persiapkan?" tanya Ji-hyun.
"Bawa saja semua dokumen yang diperlukan untuk klien," ucap manager Jang.
"Baiklah, aku mengerti," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun berjalan meninggalkan ruang kerja manajer Jang menuju ruang kerja tim marketing. Ji-hyun merapihkan meja kerja barunya dan memasukan beberapa alat tulis ke dalam tasnya. Setelah itu, Ji-hyun berjalan ke arah meja kerja Joo-ahn.

"Ketua, apa yang harus aku bawa nanti?" tanya Ji-hyun.
'Bawa semua dokumen ini!" ucap Joo-ahn sambil memebrikan setumpuk dokumen yang entah apa isinya.
"Sebanyak ini?" tanya Ji-hyun.
"Tentu saja tidak! Sekarang, selama masih ada waktu, tolong kamu pilihkan mana dokumen yang berhubungan dengan proyek iklan baru kita seperti surat perjanjian asli, proposal asli, dan sebagainya. Sekarang, aku akan mengecek file yang ada di dalam flash disk dulu," ucap Joo-ahn.
"Baik," ucap Ji-hyun.

Ji-hyun berjalan ke meja kerjanya sambil mengelus dadanya. Baru hari pertamanya bekerja di kantor utama, dirinya sudah kena marah oleh ketua tim. Ji-hyun jadi mepasaran, apakah selama ini mantan pacarnya itu selalu bersikap seperti itu terhadap karyawan bimbingan?

"Tenang saja, ketua Joo-ahn adalah orang yang ramah dan hangat. Dia terbuka terhadap masukan-masukan baru dan tidak mudah marah," ucap Mi-yeon yang meja kerjanya persis di sebelah meja kerja Ji-hyun.

"Apa katamu? dia ramah dan hangat? Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Ji-hyun sambil membaca semua dokumen yang diterimanya.

"Kamu tidak salah dengar! Memangnya, kalian sudah kenal sebelumnya? Rasanya, ketua tidak pernah memarahi orang yang baru saja bertemu dengannya," ucap Mi-yeon.

"Dia... dia adalah mantan pacarku delapan tahun yang lalu," ucap Ji-hyun sambil membaca dokumen.
"Apa?" ucap Mi-yeon.
"Ssstt.. tolong jangan bilang siapa-siapa," ucap Ji-hyun.
"Baiklah," ucap Mi-yeon.

[Kim Joo-ahn]
Ji-hyun, jam 10 tepat kamu sudah harus berada di parkiran. Kita akan segera berangkat. Jangan lupa dokumennya,

Ji-hyun melihat jam tangannya setelah menerima pesan itu. Waktu hanya tersisa lima menit lagi, sedangkan masih ada beberapa dokumen yang belum selesai dibacanya. Ji-hyun tidak ingin terlihat bodoh di hadapan atasannya itu. Maka dari itu, Ji-hyun harus bisa mencerna isi dokumen itu secara cepat kalau saja Joo-ahn bertanya-tanya padanya.

***

Joo-ahn sudah berdiri di depan perusahaan dua menit sebelum jam 10 tepat. Sekarang, waktu sudah menunjukan pukul 10 tepat, tetapi asisten tim marketing Ji-hyun belum muncul juga.

Joo-ahn masih berdiri sambil memegang kunci mobil. Akhirnya, Ji-hyun muncul pada pukul 10 lewat tiga menit.

"Hei Ji-hyun, kenapa kamu baru muncul?" tanya Joo-ahn.
"Maafkan aku ketua, tadi liftnya penuh sekali," ucap Ji-hyun.
"Alasan apa itu? Seharusnya kamu menekan tombol lift lebih awal. Sudahlah, ayo kita berangkat!" ucap Joo-ahn.

Kedua orang itu masuk ke dalam mobil perusahaan yang akan dikendarai oleh Joo-ahn. Ji-hyun dan Joo-ahn memakai sabuk pengaman mereka sebelum mobil perusahaan melaju.

"Apakah kamu sudah membawa semua yang aku minta tadi?" tanya Joo-ahn.
"Aku sudah membawa proposal, perjanjian, lembaran deskripsi produk, dan isi presentasi tadi pagi yang akan kamu berikan kepada pemimpin toko utama," ucap Ji-hyun.
"Kerja yang bagus," ucap Joo-ahn.

Joo-ahn menyetir tanpa melihat sosok Ji-hyun yang duduk di sampingnya. Walaupun lampu lalu lintas berwarna merah, tetap saja Joo-ahn tidak melihat sosok asistennya itu.

"Mau minum? Aku ada air minum di kursi belakang," ucap Joo-ahn tampa menatap wajah Ji-hyun.
"Terima kasih ketua," ucap Ji-hyun.

***

Setelah mengunjungi dua tempat pada hari yang sama, akhirnya Joo-ahn memarkirkan mobilnya pada sebuah restoran kecil yang sudah pernah didengarnya. Joo-ahn penasaran bagaimana rasa masakanannya dan akhirnya pada hari ini dia mengunjungi tempat itu bersama Ji-hyun.

"Mau pesan apa?" tanya Joo-ahn sambil membaca buku menu.
"Aku ingin pesan bulgogi saja," ucap Ji-hyun.
"Dua porsi bulgogi ukuran sedang dan dua gelas teh hangat," ucap Joo-ahn.
"Baiklah," ucap pelayan itu.
"Ketua, bagaimana kamu tahu kalau aku menyukai teh hangat dari pada teh dingin?" tanya Ji-hyun.
"Hei, kamu ini bagaimana sih? Kita kan dulu sering pergi bersama sepulang sekolah," ucap Joo-ahn.

Ji-hyun terdiam mendengar jawaban itu. Ji-hyun hanya memandang ke sekeliling meja makannya sambil menunggu pelayan datang. Jo-ahn juga melakukan hal yang sama.

"Kenapa kamu memilih untuk makan siang di tempat ini?" tanya Ji-hyun spontan.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Karena aku yang bayar, jadi aku berhak menentukan," ucap Joo-ahn.
"Ah, bukan begitu maksudku," ucap Ji-hyun.

Setelah Ji-hyun selesai mengucapkan jawaban dari pertanyaan Joo-ahn, seorang pria turun dari lantai atas restoran ini. Joo-ahn kaget melihat sosok pria itu.

"Ji-hyun? Apa kabar?" tanya pria itu.
"Nam Sang-ho?" ucap Ji-hyun kaget.
"Ini adalah restoran pamanku. Aku bekerja disini," ucap Sang-ho.
"Oh," jawab Ji-hyun.
"Kamu?" tanya Sang-ho.
"Dia adalah Joo-ahn," ucap Ji-hyun.
"Kalian berhubungan kembali?" tanya Sang-ho.
"Apa? Oh, kebetulan kami bekerja pada perusahaan yang sama. Sebelumnya, aku bekerja pada kantor cabang di Daejeon dekat rumah kakekku. Mulai hari ini, aku dipindahkan ke kantor utama karena kantor utama memerlukan asisten ketua tim baru," ucap Ji-hyun.
"Walaupun kalian berdua satu perusahaan dan tidak ada hubungan, tetapi kalau kalian makan siang bersama, orang lain bisa salah sangka," ucap Sang-ho.
"Hei, apakah kamu berpikir yang tidak-tidak?" tanya Joo-ahn kesal.
"Sang-ho, besok adalah hari peringatan meninggalnya ibuku. Apakah kamu akan menemaniku seperti dulu sebelum aku pindah ke Daejeon?" tanya Ji-hyun.
"Memangnya ada acara apa?" tanya Sang-ho.
"Hanya makan malam bersama di rumahku. Ketua mau ikut juga?" tanya Ji-hyun.
"Kamu bilang waktu itu.... Oh, nanti aku kabari ya, apakah aku bisa ikut atau tidak," jawab Joo-ahn.
"Kenapa? Tenang saja, tidak akan ada yang memarahi kedatanganmu lagi. Ayahku sudah meninggal satu tahun yang lalu," ucap Ji-hyun.
"Ya, nanti aku beri kabar padamu malam ini. Sekarang, makanan sudah datang," ucap Joo-ahn.
"Ya, kalian berdua silahkan makan! Aku akan kembali ke ruanganku diatas," ucap Sang-ho.

Sang-ho berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya di atas, sementara Joo-ahn dan Ji-hyun menyantap pesanan mereka yang sama persis.

"Ketua, apakah kamu masih suka menyisihkan potongan bawang bombay?" tanya Ji-hyun.
"Aku tetap tidak suka bawang bombay," jawab Joo-ahn.

Joo-ahn memindahkan semua potongan bawang bombay menggunakan sumpit ke atas piring Ji-hyun. Ji-hyun sedikit senang karena orang yang berhadapan dengannya masih melakukan hal itu kepadanya, persis seperti delapan tahun yang lalu.

"Ketua," ucap Ji-hyun.
"Apa?" tanya Joo-ahn.
"Setelah ini, apakah aku ada tugas besar lagi?" tanya Ji-hyun.
"Untuk hari ini kita tidak akan mengunjungi tempat lain lagi. Kembalilah ke meja kerjamu. Lakukanlah apa saja yang ingin kamu lakukan sampai aku atau manajer membutuhkan bantuanmu." ucap Joo-ahn.
"Apa maksudmu?" tanya Ji-hyun.
"Kenapa kamu bingung? Jadi, kamu ingin aku beri tugas lagi?" tanya Joo-ahn.
"Tidak," ucap Ji-hyun.
"Kalau begitu, jangan bingung seperti itu!" ucap Joo-ahn.

Joo-ahn dan Ji-hyun melanjutkan makan siang mereka sebelum kembali ke kantor mereka. Sebelum mereka kembali, Joo-ahn tidak lupa membeli tteokbokki kesukaan adik bungsunya yang dijual pada toko di dekat restoran tempatnya membeli makan siang.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

When I Was Your Man #1

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Kim Joo-ahn berjalan di depan tempat kerjanya sambil memakai tas punggungnya. Lelaki berusia 20-an itu masih memegang sebotol air minum yang tadi dibelinya di mesin minuman. Lelaki itu minum beberapa teguk air putih sambil berjalan di trotoar.

Joo-ahn berjalan memasuki statiun kereta bawah tanah. Disampingnya, seorang wanita muda yang juga berusia 20-an berdiri untuk menunggu kereta bawah tanah yang sama dengan dirinya. Wanita itu membawa tas kecil berwarna hitam. Sesekali, wanita itu merapihkan rambutnya.

Kereta yang mereka tunggu akhirnya tiba. Kereta itu berhenti dan pintunya terbuka. Para penumpang yang akan turun dipersilahkan untuk turun terlebih dahulu sebelum ada penumpang yang baru. Setelah banyak penumpang yang turun, Joo-ahn dan wanita itu masuk ke dalam kereta bersama banyak orang yang ingin menumpang kereta itu.

"Maaf," ucap wanita itu. Wanita itu tidak sengaja menabrak lengan Joo-ahn.
"Oh, tidak apa-apa," ucap Joo-ahn.
"Ji-hyun!" teriak seseorang.
"Oppa," ucap wanita itu.
"Joo-ahn?" tanya seorang pria yang baru saja menyapa wanita bernama Ji-hyun.
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Joo-ahn.
"Kamu tidak mengenalku atau pura-pura lupa? Aku ini In-ho, teman di klub bulu tangkis kampus," ucap In-ho.
"Halo, apa kabar sunbae?" ucap Joo-ahn sambil membungkukan badan di hadapan seniornya itu.
"Ah, aku baik-baik saja. Kalian berdua saling mengenal?" tanya In-ho.
"Kami baru saja bertemu saat ini," jawab Ji-hyun.
"Joo-ahn, perkenalkan, ini adikku yang pernah aku ceritakan. Namanya Lee Ji-hyun," ucap Lee In-ho.
"Halo," ucap Ji-hyun.
"Lee Ji-hyun? Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya," ucap Joo-ahn.
"Apakah kamu adalah Kim Joo-ahn?" tanya Ji-hyun.
"Darimana kamu mengenal namaku?" tanya Joo-ahn.
"Apa kabar? Aku me..." ucap Ji-hyun.
"Sunbae, aku turun dulu. Sampai bertemu lagi!" ucap Joo-ahn.
"Sampai bertemu lagi," ucap In-ho.

Joo-ahn berjalan menelusuri trotoar. Rumah keluarganya terletak tidak terlalu jauh dari stasiun bawah tanah, sehingga cukup berjalan kaki dari rumahnya menuju stasiun bawah tanah.

"Appa!" teriak Joo-ahn.
"Joo-han, sudah pulang kerja?" tanya ayahnya.
"Aku baru saja tiba disini. Eh, appa membawa apa? Sini, aku saja yang bawa belanjaannya," ucap Joo-ahn.
"Tidak apa-apa, ini tidak terlalu berat. Eomma minta appa untuk membeli daging sapi setelah appa pergi menemui teman appa," ucap ayahnya.
"Bagaimana keadaan toko hari ini?" tanya Joo-ahn.
"Ya, sama seperti biasanya," jawab ayahnya.

Joo-ahn dan ayahnya membuka pintu rumah mereka. Ibu Joo-ahn dan adik perempuan Joo-ahn menyamput kedatangan anak tertua keluarga Kim dan ayahnya.

"Appa!" ucap Min-ji.
"Dimana kakakmu yang satunya?" tanya ayahnya.
"Entahlah. Setelah pulang kuliah, dia menaruh tasnya di kamar, lalu pergi lagi. Mungkin ada pertemuan kelompok," ucap Min-ji.
"Sayang, apakah kamu sudah membeli daging untuk makan malam kita?" tanya ibunya.
"Tentu saja," jawab ayahnya.
"Kalian mandi saja. Sementara itu, aku akan memasak sup daging yang enak," ucap ibunya.
"Terima kasih eomma!" ucap Joo-ahn.

***

Malam yang sejuk. Semua anggota keluarga kecuali Tae-hwan sudah duduk di kursi makan. Ibu sudah menata isi meja makan seperti nasi, sup daging, kimchi, dan peralatan makan.

"Aku pulang!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan, dari mana saja kamu?" tanya ayah.

Tae-hwan terlihat kotor. Bukan hanya terlihat kotor saja, tetapi terlihat seperti habis berkelahi dengan seseorang. Hal itu yang membuat ayahnya marah padanya.

"Ayah sudah membiayai kuliahmu, tetapi kamu malah pergi berkelahi. Inikah balas budimu?' tanya ayah.
"Ayah, aku berkelahi karena orang itu yang memulainya. Dia yang membuat semua kekacauan ini," ucap Tae-hwan berusaha membela diri.
"Apapun alasannya, appa tidak mau melihatmu berkelahi sekali lagi. Kalau kamu berkelahi sekali lagi, appa tidak mau menganggapmu sebagai anak dalam keluarga ini lagi!" ucap ayah.
"Appa tidak perlu mengkhawatirkan diriku lagi! Aku ini bukan anak kecil lagi! Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagi pula, apa pernah appa bangga kepadaku? Dari dulu selalu memarahiku," ucap Tae-hwan.
"Apa katamu?" tanya ayah.
"Sudahlah," ucap ibu.

Tae-hwan meninggalkan ruang makan dan naik ke lantai atas. Tae-hwan membuka pintu kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasurnya yang terletak bersebelahan dengan kasur milik Joo-ahn. Inilah salah satu hal yang paling dibenci oleh adik laki-laki dari Joo-ahn, yaitu harus berbagi kamar dengan orang lain. Tae-hwan merasa seperti tidak punya privasi sendiri.

"Tae-hwan," ucap Joo-ahn sambil membuka pintu kamar mereka.
"Hyung mau apa memanggilku?" tanya Tae-hwan yang sedang berbaring menghadap tembok kamar.
"Makanlah sup daging buatan eomma ini," ucap Joo-ahn.
"Aku tidak mau makan malam," ucap Tae-hwan.
"Hei, kamu tidak tahu bagaimana eomma berusaha membuat sup enak ini?" tanya Joo-ahn.
"Iya, nanti akan aku makan kalau moodku sudah baik," jawab Tae-hwan.
"Kamu kenapa berkelahi lagi?" tanya Joo-hwan.
"Hyung, aku berkelahi karena cinta. Aku benci melihat orang itu terus merayu orang yang ingin aku lindungi. Apakah hyung tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan?" ucap Tae-hwan samil berbaring menghadap sosok kakaknya yang duduk di atas kasurnya.

Kim Joo-ahn hanya diam sambil duduk di atas kasur adiknya. Joo-ahn teringat akan sesuatu yang selama ini berusaha dilupakannya. Memori itu kembali mincul secara tiba-tiba dan menyadarkannya akan satu hal.

"Astaga!" ucap Joo-ahn.
"Ada apa?" tanya Tae-hwan kaget.
"Wanita itu..." ucap Joo-ahn.
"Wanita? Siapa yang hyung maksud?" tanya Tae-hwan.
"Tadi aku bertemu dengan wanita yang sangat cantik di kereta. Wanita itu manis juga. Ternyata, wanita itu adalah mantan pacarku delapan tahun yang lalu," ucap Joo-ahn.
"Maksud hyung, Lee Ji-hyun noona?" tanya Tae-hwan.
"Iya, dia orangnya! Ternyata, selama ini aku mengenal kakaknya dengan baik karena kami satu klub bulu tangkis di kampus dulu," ucap Joo-ahn.
"Mungkin, Tuhan ingin mempertemukan kembali kalian berdua," ucap Tae-hwan.
"Tidak! Aku sudah pernah bicara di hadapan wanita itu untuk tidak mau menjalin hubungan lagi dengannya setelah pertengkaran terakhir kami," ucap Joo-ahn.
"Hyung, berhati-hatilah saat berbicara. Bisa jadi, hal sebaliknya yang akan terjadi," ucap Tae-hwan.
"Ah, tidak mungkin!" ucap Joo-hwan dengan sangat yakin.
"Lihat saja nanti!" ucap Tae-hwan.
"Tae-hwan!" tegur Joo-ahn.

***

Seperti biasanya, Joo-ahn masuk kerja pada pukul delapan pagi. Pada pukul tujuh pagi, Joo-ahn sudah menyelesaikan sarapannya dan sudah bersiap dengan pakaian kerjanya yang rapih. Tak ketinggalan, Min-ji, adik bungsunya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Kegiatan belajar mengajar akan dimulai pada pukul delapan pagi, sehingga kedua saudara kandung itu bisa berangkat menaiki kereta pada jam yang sama. Hanya Tae-hwan yang berpisah kereta karena tujuan yang berbeda. Kampus tempatnya mencari ilmu tidak searah dengan kakak maupun adiknya.

"Kami pergi dulu!" ucap Joo-ahn dan Min-ji.
"Tae-hwan, hari ini masuk kuliah jam berapa?" tanya ayah.
"Jam sebelas siang," jawab Tae-hwan.

Joo-ahn dan Min-ji berjalan bersebelahan menuju kereta bawah tanah. Kereta yang mereka tumpangi datang lima menit setelah mereka tiba di stasiun kereta.

"Selamat pagi," ucap wanita itu.
"Kamu lagi?" tanya Joo-ahn kaget.
"Kita bertemu lagi," ucap Ji-hyun.
"Ah, apa kabar eonni?" tanya Min-ji.
"Kamu Min-ji ya?" tanya Ji-hyun.
"Apakah eonni melupakanku?" tanya Min-ji.
"Ah, kita terakhir kali bertemu sudah delapan tahun yang lalu. Waktu itu kamu masih kecil," ucap Ji-hyun.
"Min-ji, berapa uang di saku rokmu? Bagaimana kalau kita menaiki taksi saja?" tanya Joo-ahn.
"Oppa," ucap Min-ji bingung.
"Joo-ahn, apakah kamu sudah ingat denganku? Kenapa kamu masih saja seperti terakhir kita bertemu? Itu kan sudah lewat delapan tahun," ucap Ji-hyun.
"Ayo Min-ji, kita turun saja di perhentian selanjutnya," ucap Joo-ahn.
"Tunggu! Apakah kita tidak bisa berteman saja?" tanya Ji-hyun.

Joo-ahn turun di perhentian kereta selanjutnya dan memanggil taksi di depan stasiun kereta bawah tanah.

***

"Teman-teman, hari ini kita akan kedatangan seorang anggota tim marketing baru yang dipindahkan dari kantor cabang di luar kota. Wanita itu sedang berada di kantor direktur dan sebentar lagi akan masuk ke dalam ruang rapat ini," ucap Jang Do-yeon, manajer bagian marketing.

Kim Joo-ahn adalah anggota tim marketing paling pintar. Joo-ahn sudah diangkat menjadi ketua tim marketing, menggantikan Jang Do-yeon yang diangkat menjadi manajer bagian marketing. Pria berusia 26 tahun itu sedang merapihkan materi rapat hari ini yang akan dipresentasikan di hadapan rekan kerjanya nanti.

"Halo, namaku adalah Lee Ji-hyun, anggota tim marketing yang baru," ucap wanita itu.
"Nona Lee, silahkan mengambil posisi pada kursi yang kosong," ucap manajer Jang.
"Iya," jawab Ji-hyun.

Joo-ahn kaget bukan main. Bagaimana tidak, dirinya harus bekerja dalam tim yang sama dengan mantan kekasihnya mulai hari ini. Baru saja dia ingin menghindari wanita itu, tetapi wanita itu dipindahkan ke kantor utama perusahaan dan bergabung bersana tim yang diketuainya.

"Ketua tim Kim, tolong bimbingannya ya!" ucap Ji-hyun dengan semangat.

Kim Joo-ahn berdiri di hadapan anggota tim dan manajer untum memulai presentasi mingguan mereka. Semua anggota rapat sudah diberi fotokopian bahan presentasi oleh Joo-ahn.

"Aku akan mempresentasikan peningkatan penjualan produk terbaru kita dan hasil pemantauan terhadap produk lama kita," ucap Joo-ahn.

"Kenapa ketua Kim berbicara dengan nada yang sedikit lebih tegas dari pada biasanya ya?" bisik Song Mi-yeon kepada Yoo Eun-ha.

FLASHBACK

delapan tahun yang lalu

"Aku tidak suka kamu seperti ini terus menerus! Kamu keanak-anakan saja! Kamu belum dewasa! Apakah kamu lupa kalau aku adalah pacarmu satu-satunya? Kenapa kamu semalam perga dengan Nam Sang-ho?" tanya Joo-ahn.
"Maafkan aku! Aku sudah pernah berjanji padanya untuk pergi makan malam bersama karena aku mengenalnya lebih dulu sebelum aku mengenalmu," ucap Ji-hyun.
"Alasan macam apa itu? Apakah kamu mencoba untuk berpindah hati kepadanya?" tanya Joo-ahn.
"Joo-ahn, dengarkan aku dulu! Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Kami dekat karena ayah kami adalah teman lama," ucap Ji-hyun.
"Lalu? Apakah karena kalian berdua sedang dijodohkan? Sudah cukup! Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu di sekolah atau dimanapun. Kamu tidak pernah berubah ya! Kita akhiri saja hubungan satu tahun kita," ucap Joo-hyun.
"Joo-hyun, dengarkan aku dulu!" ucap Ji-hyun sambil memegang lengan kiri Joo-hyun.
"Lepaskan! Aku mau masuk ke dalam kelasku dulu," ucap Joo-hyun.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: