Short Story

Sorry

20:17 Fu Xue Mei 0 Comments

Aku ingin dicintai.
Tetapi, mengapa saat ada seorang anak laki-laki yang mencintaiku, aku tidak bisa mencintainya?
Mengapa aku berpaling dan berusaha menjauhi orang yang mencintaiku?

Karena aku tidak merasa nyaman.
Aku tidak merasakan apa-apa.
Aku belum merasakan sebuah kehangatan darinya.

Aku takut.
Aku ragu.
Lebih baik aku bertingkah seperti semula.
Dan aku tidak ingin terburu-buru.

Satu kata yang ingin aku ucapkan adalah sebuah kata "Maaf"

Hanya ini yang dapat aku katakan untuknya.

***

Park Min-ah berdiri di depan rumahnya. Hujan turun pada sore itu. Walaupun hujan turun, udara panas masih terasa.

Libur musim panas belum berakhir. Semua pelajar masih berkeliaran memenuhi jalan besar di kota Seoul. Sama seperti Min-ah, banyak orang-orang yang sedang memegang payung berkeliaran di jalanan.

"Maaf, aku tidak mencintaimu," ucap Min-ah.
"Kenapa?" tanya Kim Tae-hyung.
"Aku tidak tahu. Aku tidak merasakan apa-apa saat bersamamu," ucap Min-ah.
"Kamu harus tahu kalau selama ini aku mencintaimu. Saat pertama kali kita berbicara, aku memang merasa biasa saja. Tetapi, setelah beberapa kali mendengar cerita tentangmu dan mengetahui bagaimana kepribadianmu, aku baru merasakan rasa yang tidak biasa," ucap Tae-hyung sambil memegang payungnya.
"Bagaimana bisa aku menyukai fans ku? Bagiku, kamu hanyalah fans dan teman bicaraku," ucap Min-ah.
"Kamu itu unik. Kamu pendiam, tetapi dibalik sifat pendiam yang kamu miliki, aku menemukan kisahmu yang menarik. Aku juga merasa bahwa tidak ada gadis yang bisa sepertimu. Aku tidak peduli seberapa berat perjuangan hidupmu sehingga bisa bermain piano di depan publik," ucap Tae-hyung.
"Mianhae," ucap Min-ah.
"Min-ah!" ucap Tae-hyung sambil menggenggam tangan kanan Min-ah yang sedang memegang payung.
"Lepaskan! Jangan pegang aku!" ucap Min-ah.
"Park Min-ah!" ucap Tae-hyung.
"Aku tidak bisa mencintai orang yang baru kali ini bertemu denganku," ucap Min-ah.

***

Biar angin yang membawa kisah hidupku.
Selangkah demi langkah aku berjalan.
Waktu demi waktu aku bertahan
untuk menemukan apa yang sebenarnya aku inginkan.

Park Min-ah dan Kim Tae-hyung adalah lulusan terbaik dari akademi musik Seoul bagian Piano. Bertahun-tahun, mereka bersama teman lainnya mengikuti kursus Piano. Namun, Min-ah dan Tae-hyung tidak pernah saling kenal sebelumnya karena jadwal kursus mereka yang tidak pernah sama.

"Misi dari konser berikutnya adalah pertunjukan duet. Kalian berenam akan dipasangkan berdua-dua dan akan memainkan masing-masing satu buah lagu," ucap guru Lee, pembimbing konser.

Guru Lee mengambil daftar peserta konser yang sudah dipasangkan. "Park Min-ah," ucap guru Lee.
"Ya?" tanya Min-ah.
"Kim Tae-hyung," ucap guru Lee.
"Ya?" tanya Tae-hyung.
"Kalian berdua berpasangan," ucap guru Lee.

Tae-hyung tersenyum lebar di hadapanku. Aku hanya diam menatap piano yang ada di dalam ruang kursus.

"Jadi, kita akan memainkan lagu apa?" tanya Tae-hyung.
"Kamu saja yang tentukan beberapa judul lagunya, lalu kita konsultasikan dengan ibu guru," ucap Min-ah.

Tae-hyung mengambil sebuah kertas kecil dan sebuah bolpoin dari dalam tas Min-ah. Tae-hyung menuliskan beberapa judul lagu yang menarik baginya.

"K.Will & Tiffany - A Girl Meets Love, Crush & Taeyeon - Don't forget, Suzy & Baekhyun - Dream, dan yang terakhir adalah G.Na & Rain What I Want to do When I Have a Lover," ucap Tae-hyung.
"Bagaimana kalau kalian berdua memainkan lagu yang berjudul dream saja? Menurutku, kalain berdua cocok sekali," ucap guru Lee.
"Baiklah, kami akan memainkan lagu itu," ucap Min-ah.

Setelah hari itu, hari demi hari Min-ah dan Tae-hyung berlatih bersama di tempat kursus. Mereka bertemu dua kali seminggu di sore hari.

"Dream, dasin kkuji motaneun. Neomu gibun joheun kkum. Naneun niga kkok geureon geo gateunde," ucap Min-ah sambil memainkan lagu itu.
"Partiturnya sudah aku aransemen ulang. Aku sudah menemukan aransemen yang lebih pas," ucap Tae-hyung.
"Oh ya?" tanyaku.
"Hmm," ucap Tae-hyung.

Min-ah menerima pemberian kertas yang berisi hasil aransemen yang tidulis oleh Tae-hyung. Tae-hyung yang sekarang telah berubah dibandingkan dengan dua bulan yang lalu sewaktu Tae-hyung masih mengejar Min-ah. Min-ah merasa ada yang berbeda. Sambil membaca hasil aransemen itu, Min-ah berpikir tentang Tae-hyung.

"Mengapa aku terlambat menyadarinya?" ucap Min-ah dalam hatinya.

***

Keenam pemain piano terbaik dari Akademi Musik Seoul sudah berada di ruang tunggu di belakang panggung. Para pemain gitar terbaik dari Akademi Musik Seoul sedang menunjukan bakatnya di hadapan para hadirin.

"Apakah Jung Sung-ha jadi diundang sebagai tamu spesial?" tanya Ae-rin.
"Entahlah," jawab Hye-rin.

"Kamu gugup?" tanya Tae-hyung.
"Bagaimana tidak gugup? Kita mendapat giliran pertama. Seandainya bukan tanganmu yang waktu itu mengambil nomor undian,' ucap Min-ah.
"Park Min-ah, sebentar lagi giliran kita!" ucap Tae-hyung.

Setelah ada aba-aba dari salah seorang panitia konser yang berdiri di depan pintu ruang tunggu, Min-ah dan Min-ah memasuki panggung konser dari samping. Mereka langsung duduk pada kursi piano yang sama. Min-ah memainkan nada tinggi, sedangkan Tae-hyung memainkan nada rendah.

"Min-ah, aku sudah minta ijin kepada guru Lee untuk menyanyikan lagu ini saat kita bermain piano. Aku harap, kamu juga bernyanyi karena suramu bagus," bisik Tae-hyung di sampingku.

Min-ah mulai memainkan intro yang diikuti oleh Tae-hyung. Saat bagian intro sudah selesai, Tae-hyung mulai membuka mulutnya. Min-ah dan Tae-hyung bernyanyi walau suara Tae-hyung tidak sebagus suara Min-ah.

Setelah Min-ah dan Tae-hyung selesai tampil bersama, mereka duduk berdua di depan ruang tunggu peserta konser. Min-ah dan Tae-hyung tidak saling mengajak. tetapi mereka hanya duduk di kursi itu atas kemauannya sendiri.

"Aku senang bisa punya teman bermusik," ucap Tae-hyung.
"Tae-hyung, apakah aku terlambat?" tanya Min-ah.
"Apa? Apanya yang terlambat?" tanya Tae-hyung yang tidak paham.
"Aku rasa, aku mulai mencintaimu," ucap Min-ah.

Tae-hyung hanya diam. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apakah dia harus menerima perasaan dari seorang gadi yang dulu mati-matian di perjuangkannya? Apakah dia harus menolak perasaan dari gadis yang dulu memnyakiti hatinya?

"Min-ah, aku..." ucap Tae-hyung sambil menatap kedua kakinya.
"Aku tahu kalau aku terlambat," ucap Min-ah.
"Maaf, aku sudah berusaha keras untuk membuang semua rasa cintaku padamu. Katamu, seorang fans tidak bisa mencintai idolanya kan?" uca[ Tae-hyung.
"Tae-hyung, kali ini aku benar-benar merasakan seusatu. Setelah kamu berubah padaku, aku semakin mencintaimu. Aku menyukai perubahanmu," ucap Min-ah.
"Tapi, aku mencintai Min-ah yang dulu. Aku tidak ska dirimu yang sudah berubah. Bagaimana bisa hanya dalam waktu dua bulan kamu sudah berubah sejauh ini?" ucap Tae-hyung.
"Kenapa? Apakah perubahanku ini salah?" tanya Min-ah.
"Maaf, aku sudah menutup perasaanku," ucap Tae-hyung.

Tae-hyung berjalan meninggalkan Min-ah yang duduk sendirian di depan ruang tunggu. Min-ah menangis dan melihat Tae-hyung pergi meninggalkannya.

"Sorry," ucap Tae-hyung dalam hatinya.

TAMAT.....

0 komentar: