Short Story

The Past #3

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Aku harus melupakan cinta pertamaku yang diam-diam aku simpan selama lima bulan. Sekarang, aku harus kembali ke kenyataan bahwa tidak ada orang yang mengaku suka padaku.

"Hai Ye-rin!" ucap Bo-seok saat keluar dari rumahnya untuk membuang sampah.
"Halo!" ucapku.
"Ye-rin, tiga hari lagi aku akan berangkat ke Cina untuk perlombaan bulu tangkis. Mau ikut?" tanya Bo-seok.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Ayah atau ibuku tidak dapat menemaniku berangkat. Kakekku sakit. Mereka akan berkunjung ke rumah kakekku. Mau ikut tidak? Aku dengar, sekolahmu masih libur musim dingin," ucap Bo-seok.
"Tapi, aku tidak punya passport," ucapku.
"Aku bisa minta kepada asisten di klub bulutangkis untuk membuatkanya. Kamu hanya perlu berkemas," ucap Bo-seok.
"Baiklah," ucapku.
"Terima kasih ya sudah mau pergi untuk menemaniku," ucap Bo-seok.

Setelah percakapanku dengan Bo-seok, Bo-seok masuk ke dalam rumahnya dan Ji-hwan keluar dari dalam rumahnya. Aku menyapanya karena dia tetangga yang baik.

"Hai," ucapku.
"Umm Ye-rin, apakah sabtu ini kamu ada acara?" tanya Ji-hwan.
"Ji-hwan, sabtu ini aku akan ikut dengan Bo-seok ke Beijing. Kedua orang tuanya tidak dapat ikut karena kakeknya sakit. Mianhae," ucapku.

Aku melihat tangan Ji-hwan yang kembali memasukan dua tiket konser ke dalam saku celananya. Aku kasihan dan merasa bersalah padanya. Ini kedua kalinya aku tidak bisa memenuhi ajakannya.

"Ye-rin, apakah kamu menyukai Bo-seok? Kenapa aku selalu tidak bisa mengajakmu pergi bersama?" tanya Ji-hwan.
"Ji-hwan, Bo-seok adalah teman yang baik," ucapku.
"Kalian tidak ada hubungan?" tanya Ji-hwan.
"Tidak," ucapku.
"Apakah karena kamu masih menyukai Min-ki?" tanya Ji-hwan.
"Aku sudah membuang cinta pertamaku dan menganggap bahwa dia hanyalah teman dekat," ucapku.

Min-ki keluar dari gerbang rumahnya. "Aku baru saja ingin memanggil kalian! Ibuku masak banyak makanan," ucap Min-ki.
"Benarkah?" tanyaku.
"Ye-rin, tolong panggil Bo-seok!" ucap Min-ki.
"Baik!" ucapku.
"Ye-rin, biar aku saja yang memanggilnya!" ucap Ji-hwan.

***

Hari ini aku tiba di Beijing. Taksi mengantar aku, Bo-seok, dan seorang asisten dari klub bulu tangkis ke hotel tempat kami akan menginap. Besok pagi, Bo-seok akan bertanding melawan seorang pemain bulu tangkis pria dari Beijing.

"Permisi, aku ingin mengambil dua kunci kamar yang sudah dipesan," ucapku.
"Apa katamu?" ucap petugas hotel dengan bahasa mandarin.
"Aku ingin mengambil kunci kamar kami," ucapku.
"Ye-rin, biar aku saja yang bicara!" ucap Bo-seok.

Bo-seok berjalan ke depan meja resepsionis. Bo-seok berbicara dengan petugas hotel dengan bahasa Inggris.

"Permisi, aku adalah Kang Bo-seok. Aku ingin mengambil kunci kamar untuk dua kamar yang aku pesan lewat telepon," ucap Bo-seok.
"Ini kuncinya!" ucap petugas hotel.
"Terima kasih!" ucap Bo-seok.

Bo-seok memberikanku sebuah kunci kamar hotel dan kami masuk ke dalam lift. Kamar kami berada pada lantai yang sama.

"Ye-rin, kalau besok aku memenangkan pertandingan, apakah kamu mau mengabulkan satu permintaanku?" tanya Bo-seok.
"Oke, aku akan mengabulkan permintaanmu sebagai rasa terima kasih telah mengajakku menginap di Beijing," ucapku.
"Bo-seok, Ye-rin, malam ini kita makan malam di restoran hotel. Ada masakan yang sangat enak," ucap asisten Yoo.
"Aku akan menunggumu setelah selesai mandi," ucap Bo-seok.

***

Hari ini aku duduk manis di tempat penonton perlombaan bulu tangkis. Bo-seok akan bertanding melawan pemain bulu tangkis bernama Wan Ming Hua yang berusia dua tahun lebih tua dari pada Bo-seok. Aku berharap yang terbaik untuk Bo-seok.

"Skor yang didapat oleh Kang Bo-seok dan Wan Ming Hua adalah 20-20. Kita lihat siapa yang akan memenangkan pertandingan terakhir hari ini," ucap seorang komentator.
"Paman, komentator mengatakan apa?" tanyaku.
"Dia bilang kalau skornya 20-20," ucap asisten Yoo.

Bo-seok memandang ke arah kok yang dipukul oleh Ming Hua. Bo-seok memukul kok itu dan Ming Hua membalas pukulannya. Setelah itu, Bo-seok membalas pukulan itu dan melakukan smash. Petugas pengganti papan skor mengganti poin menjadi 20-21 karena Ming Hua tidak dapat membalas pukulan dari Bo-seok.

"Pertandingan tiga set hari ini dimenangkan oleh Bo-seok yang memenangkan set pertama dan set ketiga," ucap komentator.
"Bo-seok!" teriakku.

Bo-seok memegang raket saambil memberikan sebuah senyuman kepada penonton. Panitia memberikan sebuah piala dan Bo-seok berfoto dengan piala itu.

"Bo-seok, selamat ya!" ucapku.
"Tunggu!" ucap Bo-seok.
"Ada apa?" tanya forografer.
"Aku ingin berfoto dengan temanku," ucap Bo-seok.

Bo-seok merangkulku dan kami berfoto.

***

Malam hari setelah menyantap makan malam bersama asisten Yoo, aku dan Bo-seok jalan-jalan di depan sebuah restoran Jepang. Kami ingin menikmati malam ini sebelum besok kami berangkat kembali ke Seoul.

"Bo-seok, apa permintaanmu?" tanyaku.
Bo-seok yang berjalan di sampingku langsung berhenti sebentar dan menatapku. "Jadilah pacarku!" ucap Bo-seok.
"Apa katamu?" tanyaku.
"Aku ingin kamu menjadi kekasihku," ucap Bo-seok.
"Apakah karena kamu ingin bersamaku seperti saat kamu memasang selimut untukku dan mengelus rambutku?" tanyaku.
"Memasang selimut? Hei, aku pikir aku hanya bermimpi!" ucap Bo-seok.
"Tidak, kamu tidak sedang bermimpi!" ucapku.
"Jadi, apakah kamu mau menjadi pacarku?" tanya Bo-seok.
"Iya, aku ingin menjadi kekasihmu. Setelah aku ditolak oleh cinta pertamaku, hanya kamu yang perhatian padaku," ucapku.
"Terima kasih!" ucap Bo-seok.

Aku dan Bo-seok berpelukan sebelum kembali ke hotel tempat kami menginap.

Beginilah kisahku dengan Bo-seok. Aku senang karena Bo-seok menjadi tunanganku saat ini. Aku tidak sabar untuk menikah dengannya bulan depan.

"Sayang, apakah undangannya sudah dipesan?" ucap Bo-seok yang duduk denganku di apartemennya.
"Kemarin aku sudah datang ke percetakan," ucapku.
"Sayang, kamu sedang memikirkan apa?" tanya Bo-seok.
"Aku sedang berpikir kenapa kita berdua bisa pacaran pada akhirnya. Aku juga tidak menyangka kalau kamu menyimpan perasaan padaku walau tahu kalau aku menyukai Min-ki dan Ji-hwan menyukaiku. Aku juga berpikir kenapa hubungan 12 tahun kita berjalan lancar sampai hari ini," ucapku.
"Itu terjadi karena kita saling mencintai. Kita tidak sadar bahwa kita saling mencintai pada awalnya," ucap Bo-seok.
"Sayang, apakah malam ini Ji-hwan akan kembali ke Seoul?" tanyaku.
"Iya. Dia bilang, pesawatnya akan tiba siang ini," ucap Bo-seok.
"Lalu, bagaimana dengan Min-ki?" tanyaku.
"Ye-rin, Bo-seok!" teriak Min-ki dari depan pintu apartemen Bo-seok.
"Hahaha..." ucapku dan Bo-seok yang bersamaan.

TAMAT.....

0 komentar:

Short Story

The Past #2

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

"Kamu jelek kalau sedang menangis!" ucap Ji-hwan yang duduk di sampingku.

Aku tetap menangis. Aku menangis karena ternyata Min-ki menyukai teman sebangkuku. Aku pikir, dia menyukaiku. Dia sering mendekatiku di sekolah. Ternyata, dia mendekatiku karena ingin bertemu dengan Mi-cha.

"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam rumah Bo-seok saja? Tadi dia meneleponku dan ingin aku datang," ucap Ji-hwan.

Aku dan Ji-hwan membuka pagar rumah Bo-seok dan membuka pintu rumahnya. "Halo paman!" ucapku.
"Bo-seok ada di dalam kamarnya," ucap ayah Bo-seok yang sedang duduk di ruang depan.

Kamar Bo-seok terlihat berantakan. Beberapa buku berserakan di lantai. Piring bekas makan malam masih ada di atas meja kecil. Tisu tidak tergulung rapih. Selimut juga tidak dilpat dengan rapih.

"Kapan pertandingan buutangkismu?" tanya Ji-hwan.
"Bulan depan," ucap Bo-seok.
"Wah, kamu akan bertanding di negara Cina!" ucap Ji-hwan.
"Aduh, kamar ini berantakan!" ucapku.
"Ji-hwan, ada telepon dari ibumu!" ucap ayah Bo-seok.
"Sebentar ya!" ucap Ji-hwan.

Aku membereskan buku yang berserakan. Saat aku membereskan buku-buku itu, aku melihat Bo-seok yang sedang memperhatikanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya.

"Bo-seok, ini pil apa?" tanyaku.

Bo-seok kaget melihatu memegang sebuah botol bening kecil yang berisi beberapa pil. Bo-seok langsung mengambilnya dari tanganku dan memasukannya ke dalam lacinya.

"Itu bukan apa-apa," ucap Bo-seok.
"Bo-seok, apakah kamu sulit tidur?" tanyaku.

Bo-seok hanya diam. Aku tahu kalau pil itu adalah obat tidur. Mungkin Bo-seok sedang stres dan sulit tidur, sehingga dia membeli pil itu.

"Teman, maaf aku harus pulang! Ibuku bilang, akan ada tamu di rumah kami," ucap Ji-hwan. Ji-hwan keluar dari dalam kamar Bo-seok dan kembali ke rumahnya.

"Bo-seok, aku pulang juga ya!" ucapku.
"Tunggu!" ucap Bo-seok.
"Apa?" tanyaku.
"Temani aku sampai aku bisa tidur," ucap Bo-seok.

Bo-seok menarik lenganku dan menyuruhku untuk duduk di atas kursinya. Bo-seok duduk di atas kasurnya sambil menatapku.

"Ye-rin, apakah kamu masih ingin menangis?" tanya Bo-seok.
"Mmm, bagaimana kamu tahu kalau aku menangis?" tanyaku.
"Aku melihatnya. Saat tadi kamu bertemu dengan Min-ki, aku sedang membuka jendela kamarku," ucap Bo-seok.

Aku kaget. Aku tidak tahu bahwa Bo-seok, orang yang paling cuek diantara kami berempat mengetahui kalau aku menangis di depan rumahnya.

"Aku tidak apa-apa. Menangislah disni," ucap Bo-seok.

Alasan kenapa Bo-seok ingin aku berada di kamarnya sampai dia bisa tidur adalah agar aku bisa menangis sampai aku merasa lega. Aku tidak ingin menangis di hadapannya walau ternyata air mataku tidak dapat ditahan.

"Mau mendengarkan lagu?" tanya Bo-seok.

Aku menggelengkan kepalaku yang menunduk ke bawah. Bo-seok mengambil tisu gulung dan menghapus air mataku. Bo-seok memeluk tubuhku sama seperti Ji-hwan memeluk tubuhku sebelum aku masuk ke dalam rumah Bo-seok.

***

Hari ini adalah malam natal. Aku sudah membuat janji dengan Ji-hwan untuk pergi bersama. Kami akan jalan-jalan sebentar dan makan malam bersama.

"Halo," ucapku saat mengangkat telepon rumah.
"Ye-rin!" ucap ayah Bo-seok.
"Ada apa paman?" tanyaku.
"Bo-seok... Bo-seok ditabrak oleh pengendara sepeda motor. Temanku yang melihatnya di jalan raya meneleponku. Aku sedang berada di luar kota mengunjungi ayahku," ucap ayah Bo-seok.
"Oke paman, aku akan pergi ke rumah sakit tempat dia ditolong," ucapku.

Setelah aku menutup telepon, aku langusng bergegas pergi. Aku memanggil taksi yang lewat dan langsung menuju rumah sakit Seoul.

"Suster, apakah ada pasien bernama Kang Bo-seok?" tanyaku.
"Kang Bo-seok baru saja masuk ke dalam kamar nomor 505," ucap seorang suster.
"Terima kasih," ucapku.

Aku menekan tombol lift dan naik ke lantai lima. Aku membuka pintu kamar nomor 505 dan melihat sosok Bo-seok yang terbaring di atas kasur. Bo-seok sedang tidur.

"Aigo, lagi-lagi makanannya tidak dihabiskan!" ucapku.

Aku merapihkan apa yang ada di atas meja kecil. Aku membuang beberapa lembar tisu, lalu menumpuk sebuah mangkok di atas sebuah piring kotor. Setelah itu, aku duduk di atas kursi sambil memperhatikan Bo-seok.

"Yaampun, aku baru ingat!" ucapku.

Aku pergi ke luar kamar dan menuju ke meja tempat suster berkumpul. Aku meminjam telepon untuk menelepon Ji-hwan.

"Halo," ucapku.
"Halo," ucap seseorang.
"Oppa, apakah Ji-hwan ada di rumah?" tanyaku.
"Lho, bukankah Ji-hwan sedang pergi ke taman untuk menemuimu?" tanya Kim Ji-tae, kakak Ji-hwan.
"Apa?" ucapku kaget.
"Memangnya, kamu ada di mana?" tanya Ji-tae.
"Di rumah sakit Seoul. Bo-seok kecelakaan," ucapku.
"Kamu tunggu disitu! Biar aku yang menyusul Ji-hwan," ucap Ji-tae.
"Terima kasih oppa!' ucapku.

Dua puluh menit setelah aku meminjam telepon dari rumah sakit, Ji-hwan dan Ji-tae oppa datang ke kamar 505. Hari ini Min-ki juga sedang berada di rumah kakek dan neneknya, sehingga dia tidak bisa menjenguk Bo-seok.

"Ji-hwan, mianhe! Tadi paman meneleponku dan memintaku untuk menemani Bo-seok di rumah sakit," ucapku.
"Oh, tidak apa-apa," ucap Ji-hwan sambil menunduk.
"Sudah lama menunggu?" tanyaku.
"Baru 30 menit," ucap Ji-hwan.
"Ji-hwan, kamu tidak apa-apa kan?" tanyaku.
"Tenang saja! Masih ada hari lain," ucap Ji-hwan.
"Ji-hwan, oppa, kalian pulang saja! Kalain tidak perlu membantuku menemani dia," ucapku.
"Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal disini?" tanya Ji-hwan.
"Tidak apa-apa," jawabku.
"Baiklah, kamari aku kalau sudah ada kabar baik!" ucap Ji-hwan.
"Oke," ucapku.

Aku duduk di samping Bo-seok. Temanku yang satu ini masih tertidur pulas. Aku hanya bisa duduk di atas kursi kecil sambil meluruskan kaki. Untungnya, kursi ini bisa untuk meluruskan kakiku.

Aku mulai mengantuk. Aku ingin tidur, tetapi tidak bisa. Aku tidak bisa tidur karena merasa tidak enak dengan Ji-hwan yang sudah lama menunggu malam natal ini.

Aku merasa seseorang memegang tanganku. Aku merasa seseorang menggenggam hangat tanganku. Disaat cuaca sedang dingin, genggaman tangan ini terasa hangat.

Orang itu memakaikan sebuah selimut kepadaku. Orang itu memakaikan selimut dengan satu tangan. Tangannya yang sedang diinfus masih menggenggam tanganku.

Aku tidak tahu ini mimpi atau bukan. Aku merasakan sebuah kehangatan dan orang itu menciumku. Orang itu membelai rambut hitamku setelah menciumku.

***

Setelah matahari terbit, aku membuka kedua mataku. Aku melihat jam dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Setelah itu, aku langsung pulang ke rumahku tanpa berpamitan ke pada Bo-seok. Bo-seok masih tertidur pulas dan aku tidak ingin mengganggunya.

"Selamat natal!" ucap ayahku.
"Selamat natal!" ucap ibuku.
"Selamat natal noona!" ucap adikku.
"Selamat natal appa, eomma, dan Sung-ki!" ucapku.
"Ye-rin, Sung-ki, aku ada hadiah natal untuk kalian," ucap ayahku.

Aku dan Sung-ki menerima masing-masing sebuah hadiah yang diberikan oleh ayahku. Aku mendapat baju baru dan Sung-ki mendapat dompet baru.

"Terima kasih appa!" ucapku dan Sung-ki.

Aku masuk ke dalam kamarku untuk meletakan hadiah dari ayahku. Setelah itu, aku mengambil dompetku yang ada di dalam tasku. Saat aku memasukan tanganku ke dalam tasku, aku menemukan sebuah kartu ucapan natal dan sebuah dompet baru yang belum pernah aku lihat sebelumya.

"Selamat natal, Ye-rin!"

***

Aku keluar rumah untuk menghirup udara sejuk. Hari ini adalah satu hari setelah hari natal. Aku tidak tahu apakah Bo-seok sudah keluar dari rumah sakit atau belum. Aku juga penasaran siapa yang memberikan kartu natal dan dompet baru itu.

"Ye-rin!" ucap seseorang.
"Bo-seok! Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanyaku.
"Tadi pagi," jawabnya.
"Selamat natal!" ucapku.
"Selamat natal!' ucap Bo-seok sambil tersenyum.
"Hei, Kim Ji-hwan!" ucapku saat Ji-hwan keluar dari dalam pagar rumahnya.
"Hai!" ucap Ji-hwan.
"Selamat natal Ji-hwan!" ucap Bo-seok.
"Ya, selamat natal semuanya!" ucap Ji-hwan.
"Ibuku meminta kalian berdua untuk makan bersama di dalam rumah kami," ucap Ji-hwan.
"Baiklah!" ucapku.

Aku dan Bo-seok masuk ke dalam rumah Ji-hwan. Di atas meja makan sudah tersedia kimchi, tteokpokki, jjangmyun, sup, dan jus jeruk.

"Halo oppa!" ucapku.
"Halo hyung!" ucap Bo-seok.
"Aku mandi dulu ya!" ucap Ji-hwan.
"Aku pergi ke kamarku dulu ya!" ucap Ji-tae.

Hanya ada aku dan Bo-seok berdua di ruang tamu. Karena bosan menunggu pemilik rumah, aku berdiri sebentar di depan puntu rumah Ji-hwan untuk menghirup udara segar di sore hari.

"Ye-rin, terima kasih sudah menemaniku malam natal!" ucap Bo-seok.
"Kamu tahu kalau aku yang menemaniku? Bukankah kamu tertidur pulas dan baru bangun saat besok pagi?" tanyaku.
"Aku tidak tahu apakah aku berjalan sambil tidur atau aku sedang bermimpi. Aku melihat dirimu," ucap Bo-seok.
"Memangnya, apa yang kamu lakukan saat kamu berjalan setengah sadar?" tanyaku.
"Aku rasa, aku membuka selimut untukmu," ucap Bo-seok.
"Benarkah?" tanyaku.
"Kenapa?" tanya Bo-seok.
"Aku sudah tertidur pulas dan aku tidak tahu apakah kamu sedang berjalan setengah sadar atau sedang tidur juga," ucapku.

Ini bukan mimpi! Bo-seok mengakui kalau dia memasang selimut padaku waktu itu. Aku berpikir bahwa semua itu hanya mimpi dan ternyata semua itu bukan mimpi. Aku pura-pura tidak tahu karena aku malu. Aku malu mengakui kalau dia menciumku juga. Aku merasa tidak enak dengan Ji-hwan yang meungkin menyukaiku.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Short Story

The Past #1

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Aku adalah seorang gadis bernama Lee Ye-rin. Aku adalah orang yang selalu mengingat apapun yang terjadi di masa remajaku, 13 tahun yang lalu. Waktu itu, usiaku baru 17 tahun dan aku merasa senang. Aku punya beberapa teman dekat yang sering bermain denganku.

Kami hidup tanpa kecanggihan barang elektroknik. Kami hanya mengenal radio, televisi, telepon rumah, komputer milenium, telepon umum, dan alat pemutar kaset. Kami tidak berpikir bahwa pada zaman sekarang, begitu banyak diciptakan alat-alat yang sangat canggih. Hal itu yang membuat pertemanan kami terasa bahagia tanpa adanya smartphone dan laptop.

Inilah kisah kami...

November 1992

Musim gugur di kota Seoul. Ibu dan ayahku sudah mempersiapkan pakaian tebal untuk menyambut datangnya musim dingin bulan depan.

"Ibu, aku pergi ke sekolah dulu ya!" ucapku.
"Ye-rin, ini kotak makanmu!" ucap ibuku.
"Terima kasih ibu!" ucapku.
"Hati-hati ya!" ucap ibuku.

Aku membuka pagar rumahku. Di depan rumahku, Jung Ji Hwan sudah berdiri tegak samil membawa tas sekolahnya. "Sedang menunggu siapa?" tanyaku.

"Oh, kelihatannya Choi Min-ki belum keluar dari rumahnya," ucap Ji-Hwan.
"Apa? Oh," ucapku.

Choi Min-ki adalah pria paling pintar diantara kami berempat. Selain pintar, dia baik dan paling perhatian kepada orang tuanya. Sejak ayahnya meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu, Min-ki sangat perhatian kepada ibunya yang merawatnya seorang diri.

Aku satu sekolah dengan Min-ki, sedangkan Ji-hwan satu sekolah dengan Lee Sung-ki, adikku yang usianya hanya berbeda satu tahun dariku. Walaupun kami berbeda sekolah, tetapi setiap pagi kami selalu berangkat dengan bus yang sama karena sekolah kami berada pada arah yang sama.

Seongbuk High School

"Lee Ye-rin!" teriak Kim Mi-cha, teman sebangkuku.
"Kim Mi-cha!" teriakku.
"Berisik sekali!" ucap Min-ki saat berjalan melewati bangkuku.
"Ye-rin, tidakkah kamu berpikir bahwa ketua kelas kita adalah orang yang tampan?" tanya Ye-rin.
"Apa katamu? Kamu bilang Min-ki tampan?" tanyaku.
"Bukankah kamu menyukai dia?" tanya Mi-cha.
"Aku tidak tahu apakah aku menyukainya atau tidak," ucapku.
"Kamu ini bagaimana sih?" tanya Mi-cha.

***

Malam hari setelah jam sekolah selesai, aku pulang menaiki bis. Saat aku turun dari dalam bis, aku langsung jalan kaki menuju rumahku.

Aku takut sekali akan gelap. Aku tidak suka suasana gelap. Mungkin, aku trauma karena tasku pernah dicuri oleh pencuri yang mengendarai sepeda motor di malam hari.

"Sssshhh!" keluhku sambil melipat kedua tanganku di depan perutku.
"Apakah kamu merasa takut?" tanya seseorang.
"Bo-seok? Baru kembali dari tempat latihanmu?" tanyaku.
"Iya," jawabnya.

Bo-seok adalah temanku yang ingin menjadi atlit bulu tangkis. Bo-seok mendaftarkan dirinya di sekolah khusus atlit di daerah Seongdong. Diantara kami berempat, hanya Bo-seok yang tidak mendaftar di sekolah menengah manapun.

"Ye-rin!" teriak Bo-seok yang berjalan di belakangku.

Sebuah sepeda motor yang melaju tepat di sampingku dengan cepat. Sepeda motor itu hampir menabraku.

Bo-seok melindungiku. Bo-seok dengan cepat memeluk tubuhku sehingga bukan aku yang tertabrak.

"Bo-seok, kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja!" ucap Bo-seok sambil tersenyum.
"Umm, Bo-seok!" ucapku kaget saat melihat Bo-seok masih merangkulku. Aku langsung melepaskan rangkulan itu sebelum dilihat oleh Min-ki, orang yang aku sukai.

"Maaf," ucap Bo-seok.

***

Malam ini aku, Bo-seok, Min-ki, dan Ji-hwan duduk bersama di teras rumah Bo-seok. Sambil minum kopi buatan Ji-hwan, kami menghabiskan malam hari bersama.

"Hei, sebentar lagi musim dingin akan tiba. Salju akan turun," ucap Ji-hwan.
"Aku dengar, kalau menyatakan cinta saat salju pertama kali salju turun, cintamu akan abadi," ucap Min-ki.
"Benarkah?" tanyaku.
"Coba saja!" ucap Min-ki.
"Memangnya, ada orang yang kamu suka?" tanya Min-ki.
"Ada!" ucapku.
"Ooo... siapakah orang yang tidak beruntung itu?" ejek Min-ki.
"Hei!" ucapku.

Aku berlari mengejar Min-ki yang menertaiku dan mengejekku. Saat itu juga, aku melihat Ji-hwan dan Bo-seok yang memperhatikan kami. Bo-seok ikut tertawa sedikit, sedangkan wajah Ji-hwan datar. Tidak ada ekspresi apa-apa.

"Diantara kita berempat, mungkin hanya Bo-seok yang tidak menyukai siapa-siapa," ucap Ji-hwan.
"Bo-seok, kamu kuno sekali! Yang kamu tahu hanyalah raket bulu tangkis," ucap Min-ki.

Bo-seok hanya tersenyum. Yang dia lakukan hanya memberikan senyuman manisnya kepada kami semua. Bo-seok memang paling pendiam diantar kami berempat. Dia jarang menyampaikan apapun yang dia rasakan. Kalau dia merasa sakit, dia jarang mengatakan kepada orang lain yang berada di sekitarnya, termasuk kepada kedua orang tuanya.

Setelah mengobrol dengan mereka, aku puang ke rumah. Aku berjalan dengan Ji-hwan karena rumah kami bersebelahan.

"Bo-seok, habiskan malam natal ini denganku!" ucap Ji-hwan.
"Kenapa? Kamu tidak punya teman lain selain aku?" tanyaku.
"Bukankah kamu merasa salah padaku dan kamu berjanji untuk mengabuklan permintaanku? Aku ingin menghabiskan malam natal denganmu," ucap Ji-hwan.
"Maaf Ji-hwan, aku pikir-pikir dulu ya!" ucapku.
"Telepon aku kalau sudah tahu jawabannya ya!" ucap Ji-hwan.

***

Desember 1992

Musim dingin tiba di pada pertengahan bulan ini. Hari ini hari Minggu dan menurut ramalan cuaca, hari ini salju pertama akan turun.

Aku menyisir rapih rambutku setelah keluar dari kamar mandi. Aku tidak ingin terlihat jelek saat bertemu dengan orang yang aku suka. Aku ingin mengatakan isi hatiku hari ini.

Aku berdiri di depan rumahku. Aku berjalan ke depan pagar rumah Min-ki. Aku mundar-mandir di depan rumahnya sampai Min-ki keluar dari rumahnya.

Jantungku berdetak kencang. Aku tidak tahu apakah aku merasa senang atau takut.

"Ye-rin?" tanya Min-ki.
"Min-ki, ada yang ingin aku katakan," ucapku.

Aku dan Min-ki berdiri berhadapan didepan pagar rumahnya. Aku menatap kedua matanya yang memandang ke arah lain.

"Aku... Aku suka padamu!" ucapku.

Aku dengan berani mengatakan hal itu. Aku tidak tahu kenapa aku dengan berani mengatakannya. Semalam, aku takut hal buruk akan terjadi padaku. Aku hanya ingin mendengar hal bagus dari mulut Min-ki saat ini.

"Ye-rin, aku tidak menyukaimu. Aku menyukai Mi-cha," ucap Min-ki.
"Apakah kamu keluar dari rumahku karena kamu ingin pergi untuk menemui Mi-cha?" tanyaku.
"Iya, aku dan Mi-cha sudah membuat janji kemarin," ucap Min-ki.
"Kamu jahat! Aku pikir, cintaku tidak akan bertepuk sebelah tangan!" ucapku.
"Maaf," ucap Min-ki.

Min-ki pergi meninggalkanku sendirian didepan rumahnya. Aku menangis sambil duduk di depan rumah Bo-seok karena ada sebuah kursi panjang di depan rumahnya.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: