Short Story

To Fulfill My Dream

20:20 Fu Xue Mei 0 Comments

Menurut banyak orang, cinta itu setia. Cinta itu tulus apa adanya. Begitu yang dikatakan oleh ibuku beberapa waktu lalu.

"Tidak apa-apa kalau kamu terluka sekarang. Kamu akan punya pengalaman dan menjadi orang yang lebih kuat di kemudian hari," ucap ibuku.

Ibuku pernah merasa terluka dan tertekan pada masa remajanya. Tidak semua perjalanan hidup seseorang akan selalu berjalan mulus. Ibuku harus mengalami beberapa rasa sakit hati hingga akhirnya dapat bertemu dengan ayahku.

Semua yang telah dikatakan oleh ibuku aku ingat baik-baik. Tidak apa-apa kalau aku gagal dalam hubungan cinta pertamaku. Aku masih muda, masih berumur 18 tahun. Aku masih menjadi siswi di sekolah menengah atas.

"Tunggu!" teriak seseorang dari dekat pintu asrama sekolah.

Tanpa berpikir panjang, aku tetap berjalan. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku sendiri saja malam ini. Rasanya, aku hanya ingin duduk-duduk di kursi depan gedung asrama sambil menatap bintang di langit.

"Kenapa kamu menghindariku?" tanya orang itu.

Akupun menyerah dan memutar balik tubuhku. Aku melihat siapa pemilik suara itu. Ternyata, orang itu bukanlah Lee Sung-hyun, melainkan suara teman lain.

"Ada apa?" tanyaku.
"Kenapa kamu suka berjalan sendirian? Apa yang kamu cari di malam hari seperti ini?" tanya Choi Jung-ran.
"Ah... Hmmm... AKu hanya bosan berada di kamarku terus. Aku tidak ingin menganggu Na-ra yang sedang serius belajar," ucapku.
"Ayo kita jalan jalan di sekitar sini! Aku temani ya?" tanya Jung-ran.
"Baiklah," ucapku.

***

"Dua gelas americano," ucap Jung-ran.
"Ini pesananmu!" ucap seorang barista."
"Terima kasih," jawab Jung-ran.

Jung-ran memberikan sebuah gelas kertas yang berisi kopi americano. Aku jadi merasa tidak enak karena Jung-ran yang membayarnya.

"Jung-an, seharusnya kamu tidak perlu membelikannya untukku. Aku merasa berhutang padamu," ucapku.
"Lain kali kamu belikan aku makanan atau minuman apa saja," ucapnya.

Jung-an membuka pintu kedai kopi yang kami kunjungi. Aku tidak tahu dia ingin berjalan kemana. Aku hanya mengikutinya kesana kemari.

"Kenapa kita mengunjungi tempat kosong ini?" tanyaku.
"Sebentar lagi akan ada kembang api yang bisa kita lihat dari sini. Kembang apinya memmang jauh, tetapi terlihat jelas dari sini," ucap Jung-ran.
"Jung-ran, kamu tahu ini sudah jam berapa? Jam sepuluh pintu asrama akan ditutup. Sekarang sudah lewat dari jam setengah sembilan," ucapku.
"Tadaaaa!" ucap Jung-ran saat mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Apa itu?" tanyaku.
"Kunci cadangan pintu belakang geung asrama. Aku tidak sengaja menemukannya. Mungkin petugas asrama menjatuhkannya di dekat lorong asrama laki-laki," ucap Jung-ran.
"Kamu tidak takut dimarahi oleh guru?" tanyaku.
"Tenang saja! Guru Kim hari ini pulang ke rumahnya karena istrinya sakit," ucap Jung-ran.

Aku menyeduh kopiku, lalu meminumnya sedikit demi sedikit. AKu dan Jung-ran duduk bersama di atas rumput sambil menunggu kapan kembang apinya menyala.

"Hei, kembang apinya sudah kelihatan!" ucap Jung-ran.
"Iya, bagus ya!" ucapku.
"Jessie," ucap Jung-ran.
"YA?" tanyaku kaget.
"Saranghae," ucapnya.
"Apa katamu?" tanyaku.
"Sa...ah! Lupakan saja kalau kamu tidak mendengar ucapanku sebelumnya," ucap Jung-ran.
"Aku mendengar apa yang kamu bilang tadi. Tapi, bukanah kamu tahu kalau aku baru saja gagal dalam hubunganku satu setengah bulan lalu?" ucapku.
"Aku tahu itu. Justru itu, aku memilihmu karena kamu sudah punya penagalaman. Aku tidak peduli apakah orang yang aku cintai pernah terjatuh berapa kali. Entah satu kali, dua kali, seratus kali, bahkan kalaupun orang itu terjatuh setiap hari, kalau aku mencintai orang itu, aku akan mengatakan perasaanku padanya," ucap Jung-ran.
"Dingin sekali disini," ucapku tiba-tiba.

Jung-ran memepas jaketnya. Diberkannya jaket itu dan dipakaikan di atas kedua kakiku yang merasa kedinginan karena memakai celana pendek.

"Jadi, apakah kamu mau menerima perasaanku tidak?" tanya Jung-ran.
"Apakah kamu tidak masalah berhubungan denganku yang sering dipermalukan diantara teman-teman sekolah kita?" tanyaku.
"Aku tidak peduli tentang itu," ucap Jung-ran.
"Baiklah, aku akan menerimamu," ucapku.
Jung-ran memegang tanganku dan mengajaku untuk berdiri dari tempat kami duduk. "Ayo kita kembali ke asrama!" ucapnya.

Jung-ran membantuku berdiri dengan uluran tangan kanannya. Setelah aku berdiri di hadapannya, Jung-ran memeluk tubuhku.

"Jessie, tolong hentikan tangisan dan perasaan burukmu. Mulai sekarang, kamu harus melupakan apa yang terjadi di masa lalu dan memulainya bersamaku!" ucap Jung-ran.

Aku dan Jung-ran berpelukan sebelum kami kembali ke gedung asrama dengan menaiki bus kota.
Aku dan Jung-ran menaiki bus kota yang tiba di halte dekat tempat kami duduk tadi. Jung-ran mengeluarkan earphone dari dalam saku celananya dan mendengarkan sbeuah lagu.

gidaryeojwo nege ganeun gil na chajeul ttaekkaji
uriui byeoldeuri du beon dasi
seorol jinachyeo eosgalliji anhge
jogeumman gidaryeo naega neoui byeore daheul ttaekkaji
Kyuhyun - Till I Reach Your Star (Hogu's Love OST)

Lagu milik penyanyi terkenal bernama Kyuhyun yang sering aku dengar sewaktu diputarnya drama berjudul 'Hogu's Love' mengalun dengan lembut dari pemutar musik di dalam ponsel milik Jung-ran. Walaupun drama itu tidak terlalu berkesan bagiku, namun aku menyukai soundtrack yang dinyanyikan oleh Kyuhyun, salah satu penyanyi kesukaanku.

"Jung-ran, kapan pertandingan basketmu?" tanyaku.
"Dua minggu lagi. Kamu akan menonton kan?" tanyanya.
"Tentu!" jawabku.

***

Kring....

Aku terbangun setelah mendengar suara weker yang terletak di ata meja belajar Na-ra. AKu mengambil ponselku yang terletak di samping tempat tidurku dan mengecek jam. Ternyata, waktu baru menunjukan pukul setengah enam pagi. Aku heran kenapa Na-ra sering memeasang weker sepagi ini. Padahal, sekolah baru akan dimulai pukul sembilan nanti.

"Na-ra, kamu mau kemana sepagi ini?" tanyaku.
"Olahraga pagi," jawabnya.
"Ha?" tanyaku.
"Aku adalah pemain bulu tangkis sewaktu masih di skeolah menengah pertama. Jadi, sebelum tubuhku menjadi kaku dan meolak untuk bermain bulu tangkis lagi, aku harus olahraga pagi," ucapnya.
"Oh," jawabku.
"Ayo ikut denganku!" ucap Na-ra.
"Apa?" tanyaku.
"Ayo ikut denganku! Banyak cowo cakep yang suka berolah raga lho!" ucap Na-ra.

Aku duduk di atas kasurku. Na-ra menarik lenganku dan membuatku berdiri di hadapannya.
Aku dan Na-ra melakukan lari pagi bersama di pinggir lapangan sekolah. aku melihat petugas bersih-bersih Park sudah bekerja dengan sapu lidi besarnya. Beberapa murid yang senang bermain sepak bola sudah berlatih sendiri tanpa pelatih mereka. Aku juga melihat beberapa anak klub basket, tetapi tidak menemukan sosok Jung-ran.

Na-ra membawaku berjalan mendekati gerombolan anak-anak dari klub basket. Yang aku tahu, Na-ra cukup dekat dengan beberapa anak dari klub basket.

"Hai Lee Sung-hyun!" ucap Na-ra.

Lee Sung-hyun adalah mantan pacarku. Kami putus setelah aku merasa aku tidak nyaman berada bersamanya. Orang itu hanya memanfaatku dalam hubungan kami dan menggodaku saja. Aku hanya kesenangan baginya, sedangkan dia adalah cinta pertamaku yang benar-benar aku cintai.

"Memangnya, aku hanya sebuah mainan bagimu?" ucapku satu setengah bulan yang lalu.

Sung-hyun menatapku beberapa kali. Aku membuang pandanganku ke arah gerombolan anak-anak klub  basket lainnya. Ternyata, Jung-ran sedang rebahan di atas kursi kosong. Pantas saja aku tidak melihat tubuhnya karena tertutup oleh orang lain.

"Kenapa kalian beruda musuhan? Kalian masih bisa berteman kan?" tanya Na-ra.

Aku hanya memandang sosok Jung-ran. Orang itu sedang memegang poselnya sambil rebahan.

[Choi Jung-ran]
Ayo kita sarapan bersama!

Aku membaca pesan yang aku terima dari Jung-ran. Setelah aku selesai membacanya, aku memasukan kembali poselku ke dalam saku celanaku.

"Aku tidak ingin berteman dengannya! Bagaimana bisa aku berteman dengan orang yang telah mempermainkanku dan mencapakkanku?" ucapku kepada Na-ra.
"Aku juga! Bagiku, kamu hanyalah mainan untukku!" ucap Sung-hyun.

Mendengar pertengkaranku, aku melihat Jung-ran yang bangkit dari posisinya. Jung-ran berdiri dan menghampiriku dan Sung-hyun.

"Apa kamu bilang tadi? Bagimu, Jessie bukan apa-apa?" ucap Jung-ran sambil mengancam Sung-hyun dengan menarik kaos yang dipakai oleh Sung-hyun.
"Memangnya kau siapanya dia? Ikut campur saja!" ucap Sung-hyun.
"Aku adalah...." ucap Jung-ran.
"Hei, sudah-sudah!" ucap Jae-bum.
"Dia adalah pacarku," ucapku.
"Apa katamu?" ucap Na-ra kaget.
"Jung-ran, kamu pacaran dengan dia?" tanya Jae-bum dan beberapa anggota klub basket lainnya.
"Aku yang menyatakan perasaanku padanya," ucap Jung-ran.

***

"Eh, kalian tau tidak? Jung-ran yang ganteng itu sudah punya pacar?" ucap Da-hye.
"Siapa? Ah, aku sedih! Kenapa dia tidak memilihku saja?" tanya Ja-ae.
"Shin Jessie!" ucap Da-hye.
"Apa katamu? Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Kye-ri.
"Aku serius! Tadi pagi, Jung-ran dan Sung-hyun hampir berkelahi di pinggir lapangan sekolah karena Jung-ran ingin membela Jessie yang diejek oleh Sung-hyun," ucap Da-hye.
"Ih, gadis itu mau apa sih? Kemarin dia pacarang dengan Sung-hyun. Setelah Sung-hyun sering membelikannya barang-barang dan menraktir makan enak, gadis itu memutuskan hubungan mereka tiba-tiba. Sekarang, dia mengincar Jung-ran? Memangnya dia tidak tahu malu apa?" ejek Kye-ri.

Aku mendengar semua ejekan itu dari dalam ruang kelas. Rasanya, aku ingin marah dan menghajar ketiga gadis sombong itu. Kalau saja ini bukan di sekolah dan aku bukanlah anak dari seorang polisi. Kenapa dunia ini terasa tidak adil bagiku?

"Da-hye, berhentilah!" ucap Na-ra dihadapan Da-hye dan temannya.
"Memang benar kan?" tanya Da-hye.
"Hanya karena kamu adalah anak dari pemilik sekolah ini, kamu bisa sesuka hatimu merendahkan orang lain?" tanya Na-ra.
"Seharusnya, kamu yang sadar siapa dirimu? Orang tuamu hanya bekerja sebagai pemilik kedai kecil kan?" tanya Da-hyun.
"Awas ya!"  ucap Na-ra sambil menarik rambut Da-hyun.

***

Hari ini adalah hari saat klub basket di sekolahku bertanding melawan klub basket dari sekolah lain. Aku dan Na-ra menonton pertandingan ini karena diadakan di sekolah kami sendiri.

"Choi Jung-ran!"
"Lee Sung-hyun!"

Para murid saling meneriaki nama anggota klub basket dari sekolah kami yang menurutnya paling cakep atau pintar bermain basket. Aku tidak seperti kebanyakan penonton yang berteriak sekencang-kencangnya.

"Ya,  pemain nomor lima dari sekolah Dongju berhasil merebut bola yang dipegang oleh Jung-ran," ucap Ki-tae murid ssekolahku yang menjadi pembawa acara.

Pemain itu mendribel bola basket yang berhasil direbut. Pemain itu membawa bolanya menuju dekat ring. Jung-ran memandangku sejenak dan membuat banyak gadis berteriak karena merasa dipandangi oleh Jung-ran.

Lee Sung-hyun yang bermin pada posisi samping mencoba untuk merebut bola basket yang didribble oleh pemain nomor lima.

Jung-ran kembali ke dalam permainan basket setelah hampir lima detik menatapku dari lapangan. Tanpa disadari, pemain nomor lima yang sedang berusaha untuk menghindar dari rebutan Sung-hyun memegang bola basket sambil berjalan mundur dan menabrak tubuh Jung-ran. Jung-ran terjatuh dan tidak bisa bangun. Bola yang dipegang oleh pemain nomor lima itu terlempar dan mengenai kepala Jung-ran.

Wasit membunyikan peluit, tanda diberhentikannya pertandingan ini sejenak. Tim kesehatan membawa tandu dan membawa Jung-ran ke ruang kesehatan. Posisi Jung-ran digantikan oleh Jae-bum, pemain basket cadangan.

Aku berdiri dari tepat duduku di balkon, lalu berlari menuruni tangga dan masuk ke dalam ruang kesehatan di pinggir lapangan basket. Jung-ran masih pingsan akibat kepalanya yang terbentur oleh bola basket.

"Sebentar lagi ambulans akan datang!" ucap guru Han, guru pelajaran olah raga.

Aku memeluk erat tubuh Jung-ran yang tak berdaya. Aku memberi pelukan terakhir kalinya sebelum dia dibawa ke rumah sakit.

***

Satu bulan sejak insiden di lapangan basket sekolah, libur musim panas telah tiba. Masing-masing murid sudah dapat pulang ke rumah mereka masing-masing. Jung-ran tentu saja kembali ke rumahnya yang terletak di Seoul. Aku? aku tetap berada di asrma ini setidaknya untuk beberapa waktu. Kedua orang tuaku tinggal di Boston, sedangkan keluarga pamanku sedang beribur ke Eropa. Tidak ada orang di rumah pamanku.

"Kamu tidak pulang?" tanya Jung-ran lewat telepon.
"Pulang kemana? Ke Amerika maksudmu?" tanyaku.
"Iya," ucap Jung-ran.
"Orang tuaku akan datang ke Seoul setelah keluarga pamanku kembali dari liburannya," ucapku.
"Nanti malam, berpakaian yang rapih ya! Aku jemput di depan asrama," ucap Jung-ran.
"Memangnya, kita mau pergi kemana?" tanyaku.
"Ikut saja! Aku akan memenuhi mimpimu sebagai rasa terima kasihku telah menemaniku selama aku dirawat di rumah sakit," ucap Jung-ran.
"Jung-ran, aku tidak mengharapkan balasan apapun. Terima kasih telah memberikan aku balasan," ucapku.
"Sampai bertemu jam enam ya!" ucap Jung-ran.

Aku melihat jam yang ada di layar ponselku. Waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Aku membuka lemari bajuku dan mencari pakaian terbaik yang aku punya.

"Pakailah pakaian yang rapih," ucap Jung-ran di telepon tadi.

Akhirnya, aku mengambil gaun selutut berwarna peach. Aku mengambil handuku, lalu masuk ke kamar mandi. Kali ini, aku tidak harus berebut kamar mandi dengan Na-ra karena Na-ra sudah pulang ke rumah orang tuanya.

***

Waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Aku berdiri di depan gedung asrama. Jung-ran datang menjemputku dengan sepedanya.

"Ayo naik!" ucap Jung-ran.
"Aku tidak tahu kalau kamu mengendarai sepeda. Tau seperti ini, aku tidak memakai gaun," ucapku.
"Tidak apa-apa! Kita akan menuju stasiun kereta. Sepedaku bisa dilipat," ucap Jung-ran.

Aku menaiki sepeda milik Jung-ran. Sampai di stasiun, Jae-ran membeli dua buah sandwich dan kami makan makanan itu sebelum masuk ke dalam kereta. Setelah kami selesai makan, kami masuk ke dalam kereta yang menuju ke daerah Jongno, di sebelah utara sungai Han dan di utara daerah tempat tinggal kami, yaitu daerah Dongjak.

Akhirnya, kami sampai di stasiun Dongjak. Jung-ran membuka sepeda lipatnya dan mengendarainya. Jung-ran berhenti di depan sebuah gedung yang agak besar.

Banyak orang berdiri mengantri di depan pintu masuk gedung itu. Di samping pintu masuk kedung itu, terdapat sebuah poster tinggi bergambar wajah idolaku, Cho Kyuhyun dan ada tulisan 'Solo Fan Meeting Summer 2016'.

"Untuk apa kita ikut mengantri di sini? Memangnya, kita punya tiket masuknya?" tanyaku.
"Kamu tidak tahu ya kalau aku adalah sepupu dari Choi Sooyoung, anggota dari grup SNSD? Aku mendapatkan dua tiket gratis dari eonni," ucap Jung-ran.
"Choi Jung-ran, kenapa kamu tidak mengatakan padakutadi sore?" tanyaku.
"Karena aku ingin memberikan kejutan padamu. Aku ingin memenuhi mimpimu untuk bertemu dengan idolamu itu. Aku sudah pernah bertemu dengan Kyuhyun dan bahkan aku dekat dengannya. Aku beberapa kali menghadiri acara ulang tahun sepupuku," ucap Jung-ran.
"Astaga! Aaaaaa terima kasih!" ucapku senang sambil melompat kecil.
"Kamu senang?" tanya Jung-ae.
"Tentu saja!" ucapku.

Setelah antri untuk pemeriksaan tiket, aku dan Jung-ran mengantri sekali lagi untuk meminta tanda tangan Kyuhun. Untungnya, di dapam tasku ada album milik Kyuhyun yang sering aku bawa-bawa.

"Hai hyung, apa kabar?" tanya Jung-ran.
"Kamu siapa?" tanya Kyuhyun.
"Aku Choi Jung-ran. Memangnya hyung tidak mengenaliku ya?" tanya Jung-ran.
"Maaf, habisnya kamu pakai topi sih!" ucap Kyuhyun.
"Hyung, ini adalah pacarku yang ingin meminta tanda tanganmu," ucap JUng-ran.
"Annyeonghaseyo!" ucapku.
"Annyeonghaseyo! Siapa namanu?" tanya Kyuhyun.
"Shin Jessie!" ucapku.
"Siapa? Shin Je-shi?" tanya Kyuhyun.
"Jessie. J-e-s-s-i-e. Ah, kalau tidak, tulis saja nama koreaku. Shin Jae-shi," ucapku.
"Wow, kamu punya nama korea juga?" tanya Jae-ran.
"Iya, tapi aku jarang memakainya di sekolah," ucapku.
"Ini albummu," ucap Kyuhyun.
"Terima kasih!" ucapku.
"Sama-sama," ucap Kyuhyun.
"Oppa, boleh aku menjabat tanganmu?" tanyaku.
"Tentu!" ucap Kyuhyun.

Kyuhyun memberikan tangan kanannya dan aku menjabat tangannya. Aku memegang tangannya dan kami berjabat tangan. Mulai hari ini, aku berkenalan dengan idolaku yang aku impi-impikan sebelumnya.

Setelah acara tada tangan, Kyuhyun berdiri dan menyanyikan beberapa lagu di atas panggung di dalam ruangan. Penyanyi yang tenar karena album solo keduanya itu menyanyikan lagu andalannya yang berjudul At Gwanghwamun dan A Million Piece. Terakhir, untuk menutup acara jumpa penggemar, Kyuhyun menyanyikan lagu kesukaanku yang berjudul Till I Reach Your Star yang ternyata di request oleh Jung-ran minggu lalu lewat bantuan kakak sepupunya.

naui deodin balgeoreum
himgyeopge neoreul dwi jjoja geotgo isseo
haejilnyeok geu georie neoui geurimjaneun
waenji seulpeo boyeossji
apeun geu maeumcheoreom eoduwojin haneul wiro
banjjagideon byeol hana
nae babo gateun kkum, jikigopeun sarangeul
jeo byeore saegyeossji
gidaryeojwo nege ganeun gil na chajeul ttaekkaji
uriui byeoldeuri du beon dasi
seorol jinachyeo eosgalliji anhge
jogeumman gidaryeo naega neoui byeore daheul ttaekkaji
Kyuhyun - Till I Reach Your Star (Hogu's Love OST)

Hari ini benar-benar adalah hari yang paling bahagia untukku. Di malam hari seperti ini, setelah aku bertemu dengan idolaku dan mendapat tanda tangan serta foto bertiga dengannya dan Jung-ran, aku dan Jung-ran berjalan sebentar di atas jembatan Han sebelum aku pergi ke rumahnya untuk menginap karena asrama tutup pada pukul 10 malam. Di atas jembatan itu, Jung-ran mencium hangat mulutku. Kami berciuman sebelum kami menuju ke rumah Jung-ran. Aku akan bermalam di dalam kamar kakak perempuannya malam ini. Untuknya, aku ucapkan terima kasih karena telah mewujudkan mimpiku diusiaku yang ke 18. Tidak apa-apa bila aku gagal pada cinta pertamaku, tetapi aku menemukan pasangan yang lebih baik dan benar-benar sayang padaku.


TAMAT

0 komentar: