Short Story

Sakura #4

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Hari ini Kei sedikit terlambat. Kei tertinggal bis karena melihat antrian penumpang yang padat. Kei terpaksa menunggu bis lainnya.

Kei bergegas menuju ruang prakteknya. Hari ini, aada praktek mulai pukul sepuluh pagi. Lima menit lagi waktu akan menunjukan pukul sepuluh pagi.

"Ahhh!" ucap Kei.

Kei terus berlari. Tanpa disadari, dirinya terus berlari dan menabrak seseorang yang tidak dilihatnya. Orang itu adalah Nori.

"Maaf!" ucap Kei.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nori.
"Aduh, isi tasku berantakan," ucap Kei.
"Mau aku bantu?" tanya Nori.

Nori membantu Kei membereskan isi tas Nori. Nori mengambil beberapa barang yang jatuh, yaitu lipstick, bedak, tisu, dan selembar foto yang robek.

Nori kaget setelah melihat potongan foto yang robek itu. Foto itu persis sama dengan foto yang ditunjukan oleh Ren kemarin siang. Mungkin, bila dipasangkan, foto itu akan menyatu dengan sempurna.

Diam-diam Nori mengambil foto itu dan memasukan ke dalam saku jasnya. Kei mengangkat tasnya dan langsung menuju ruang prakteknya.

"Terima kasih Nori!" ucap Kei.
"Sama-sama," jawab Nori.

Kei berjalan menuju ruang praktek, lalu Nori duduk sebentar di kursi tunggu rumah sakit. Nori menunggu kedatangan Ren. Ren mengatakan bahwa dirinya akan datang ke rumah sakit untuk menemui Nori.

"Nori!" panggil Ren.
"Ada apa Ren?," ucap Nori.
"Foto kepalaku sekarang juga!" ucap Ren.
"Kenapa? Bukankah kemarin aku baru saja memfoto isi kepalamu?" tanya Nori.
"Cepat! Ada yang ingin aku ketahui," ucap Ren.
"Ada apa?" tanya Nori.
"Aku... aku ingat dimana aku mengalami kecelakaan. Aku mengalami kecelakaan itu di deka sungai Sumida," ucap Ren.
"Jadi, kamu sudah ingat masa lalumu?" tanya Nori.
"Aku ingat sedikit. Aku ingat kalau aku punya teman dekat dan cinta pertamaku," ucap Ren.
"Tenang dulu Ren! Bagaimana kalau kita pergi minum teh di kantin?" tanya Nori.
"Bolah," ucap Ren.

Ren dan Nori berjalan menuju kantin. Nori memesan dua gelas teh untuk dirinya dan Ren. Ren duduk sambil memegang robekan foto yang selama ini masih disimpannya.

"Aku yakin kalau orang yang ada di dalam foto ini adalah cinta pertamaku. Andai saja foto ini tidak dirobek," ucap Ren.
"Kamu mau aku bantu?" tanya Nori.
"Memangnya, kamu bisa mendapatkan pasangan dari foto yang hilang ini?" tanya Ren.
"Aku..." ucap Nori.

Nori memasukan tangannya ke dalam saku jas putihnya. Dipegangnya pasangan foto yang robek itu. Nori ragu-ragu. Dia tidak tahu apakah dia harus memberikan pasangna dari foto itu ataukah dia harus menyimpan rahasia yang diketahuinya secara diam-diam?

"Ada apa Nori?" tanya Ren.
"Ini," ucap Nori.

Nori memberikan pasangan foto yang diambilnya diam-diam. Diberikannya pasangan foto itu kepada Ren. Ren mencocokan bagian itu dan ternyata pas.

"Siapa orang ini?" tanya Ren.
"Kamu masih belum ingat?" tanya Nori.
"Aku seperti pernah melihat orang ini. Belum lama ini," ucap Ren.
"Ren..." ucap Nori.
"Ya?" tanya Ren.
"Ren, aku mendapat sebuah pesan. Ada pasien mendadak di ruang gawat darurat. Korban kecelakaan. Aku harus pergi dulu," ucap Nori.
"Baiklah! Sayonara," ucap Ren.

***

"Ibu dokter, kapan lukaku akan sembuh?" tanya Hikari, gadis kecil yang menjadi pasien di ruang praktek Kei.
"Dua hari lagi juga sembuh," ucap Kei sambil tersenyum.
"Dokter, aku takut melihat luka," ucap Hikari.
"Kamu tidak perlu takut," ucap Kei sambil memberikan obat luka pada tangan Hikari yang terluka.
"Sudah selesai?" tanya ibu dari Hikari.
"Sudah," ucap Kei.
"Terima kasih!" ucap Hikari.

Setelah Hikari meninggalkan ruang praktek Kei, Kei mengambil tas yang dibawanya hari ini. Kei melihat isi dari tas itu. Kei merasa ada sesuatu yang hilang.

"Dimana ya? Sepertinya aku tidak pernah mengeluarkannya dari dalam tas ini," ucap Kei.
"Dokter Saito, apakah ada barang yang hilang?" tanya suster Ishikawa.
"Ah, bukan apa-apa kok," ucap Kei.
"Di luar sudah tidak ada pasien yang menunggu lagi," ucap suster Ishikawa.
"Setelah jam istirahat selesai, kita akan keliling ke ruang rawat anak-anak ya!" ucap Kei.
"Baik!" ucap suster Ishikawa.

Kei keluar dari ruang prakterknya. Dikuncinya ruang praktek itu, lalu dimasukannya kunci ruang itu ke dalam saku jasnya. Kei berjalan menuju kantin.

"Kei?" tanya Nori.
"Nori?" tanya Kei.
"Kamu kelihatan sedang bingung," ucap Nori.
"Hmm... Sesuatu hilang dari dalam tasku," ucap Kei.
"Benda apa itu?" tanya Nori.
"Foto. Aku menyimpan sebuah foto yang robek. Entahlah, mungkin jatuh di jalan atau di rumah," ucap Kei.
"Kei, aku pergi dulu ya!" ucap Nori.
"Baiklah!" ucap Kei.

***

Ren duduk di studio foto tempat dirinya bekerja. Dipandanginya sebuah foto yang telah diberi lem. Ren memikirkan foto itu dalam-dalam. Ren sangat penasaran dengan gadis itu.

Karena sangat penasaran, Ren mencoba pergi ke gudang tempat menaruh barang-barang lama. Disitu terdapat sebuah kardus kecil miliknya. Semenjak dirinya menempati apartemen ini bersama kakak tirinya, Ren tidak pernah membuka kardus itu. Bahkan, bukan dirinya yang membawakan kardus itu, melainkan kakak tirinya.

Ren membuka kardus itu. Di dalam kardus itu ada beberapa lembar foto tentang dirinya. Selain itu, terdapaf film hasil foto dan sebuah kaset hasil rekaman video, lalu ada selembar kertas yang merupakan tulisan tangan milik orang lain.

Untuk Michi Shimizu

Selamat ulang tahun yang ke sebelas!
Aku akan selalu menjadi temanmu sampai kapanpun
Tolong jangan nakal ya!

Dari temanmu, Kei Saito.

p.s: kapan kamu akan memberikanku bunga Sakura?

Ren menjatuhkan kardus kecil yang dipegangnya. Ren sangat kaget. Ternyata, Ren bukan nama aslinya, melainkan Michi Shimizu.

Ren duduk di pinggir ruang kecil itu. Ren sedikit menangis. Ren menangisi masa lalu yang baru diketahuinya sekarang. Ren seperti ingin kembali ke masa lalunya dan ingin mengubah apa yang telah terjadi kepadanya.

Kini, sudah terungkap tentang cinta pertamanya. Selama ini, Ren tidak pernah tahu bahwa Kei yang dikenalnya selama sebulan ini adalah Kei yang dulu bersamanya. Andai Ren mengetahuinya lebih awal, Ren sudah pasti akan mendapatkan Kei lebih awal.

Ren membereskan isi kardus yang terjatuh. Diambilnya kertas yang berisi surat dari Kei, lalu dimasukannya kertas itu ke dalam saku celananya. Ren cepat-cepat menutup kembali pintu ruang itu. Diambilnya dompet, ponsel, dan kunci mobil. Ren segera pergi untuk menemui Kei.

***

Kei sudah selesai mengunjungi lima pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Setelah selesai, Kei menugaskan suster Ishikawa untuk membuat laporan sederhana.

Kei menekan tombol lift untuk menuju ke lantai satu. Kei ingin membuka ruang prakteknya karena tas yang dibawanya disimpan di dalam ruang itu.

"Kei!" teriak Ren.
"Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Kei.

Ren menarik lengan Kei. Dibawanya wanita manis itu menuju taman kecil di dekat kantin. Kei bingung dengan sikap Ren saat ini. Dilepasnya pegangan tangan yang diberikan oleh Ren kepadanya.

Hujan turun membasahi kota Tokyo sore ini. Walaupun hanya gerimis, tetapi semua orang di rumah sakit Matsuzawa lari untuk mengamankan diri kecuali Ken dan Ren yang masih berdiri di tengah taman itu.

"Ada apa ini?" tanya Kei sambil melepaskan pegangan Ren.
"Ini! Lihat ini!" ucap Ren sambil menunjukan kertas kecil yang diambilnya dari dalam saku celananya.

Kei membaca tulisan yang tertulis pada kertas kecil itu. Kei memperhatikan nama yang tertulis. Michi Shimizu.

Kei sangat bingung. Kenapa surat itu ada di tangan Ren. Surat itu milik Michi. Kenapa Ren bisa mendapatkan surat itu?

"Baaggaiimaanaaa kamu bisa mendapatkan surat itu?" tanya Kei.
"Maafkan aku! Seharusnya aku mengetahui hal ini lebih awal. Aku bukanlah Ren Okuda. Itu bukan nama asliku. Aku adalah Michi Shimizu," ucap Ren.
"Kamu Michi?" tanya Kei hampir tidak percaya.
"Ya! Aku memang Michi. Kamu bisa memfoto kepalaku di ruang ronsen kalau kamu tidak percaya. Ingatanku sudah kembali. Walau belum kembali sepenuhnya, tapi ingatan tentangk ita sudah banyak yang kembali," ucap Ren.
"Kamu berubah ya!" ucap Kei.
"Kamu tetap seperti Kei yang aku kenal sepuluh tahun lalu," ucap Ren.
"Kenapa kamu jahat? Kenapa? Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal? Kenapa? Kenapa?" tanya Kei sambil menangis dan memukul-mukul dada Ren.
"Kei, tenang dulu! Aku ada satu bukti lagi," ucap Ren.

Ren mengeluarkan selembar foto yang telah diberi lem. Kei menerima pemberian foto itu dengan ekspresi waget di wajahnya. Bagaimana bisa potongan foto yang hilang pagi ini bisa ada di tangan Ren?

"Bagaimana bisa pasangan foto yang aku pegang ada padamu?" tanya Kei.
"Tadi Nori memberikannya kepadaku," ucap Ren.
"Nori? Ah, pantas saja!" ucap Kei.
"Kei, apakah sekarang kamu sudah percaya kepadaku? Apakah kamu akan tetap memanggilku dengan nama Ren atau mulai memanggilku dengan nama Michi?" tanya Kei.
"Tentu saja aku percaya! Kamu ini bodoh ya! Dari tadi aku percaya padamu. Hanay saja, aku tidak berani untuk mengatakannya. Ren, gunakan saja nama Ren. Sudah banyak orang lain yang mengenalmu dengan nama itu," ucap Kei.
"Jadi, kamu tidak ingin mendengar nama Michi lagi?" tanya Ren.
"Bagaimana kalau kita memulai lagi semuanya dari awal? Konnichiwa, perkenalkan, namaku Kei Saito. Senang berkenalan denganmu!" ucap Kei sambil memberikan tangannya.
"Konnichiwa, perkenalkan! Namaku Ren Shimizu. Senang berkenalan denganmu," ucap Ren sambil bersalaman dengan Kei.
"Ah, hujan sudah reda," ucap Kei.
"Kei, mau jalan-jalan?" tanya Ren.
"Boleh!" ucap Kei.

***

Ren membawa Kei menuju pinggir sungai Sumida. Sesampainya di dekat sungai itu, Kei langsung turun dari dalam mobil hitam yang dikendarai oleh Ren.

Ren membuka bagasi mobilnya untuk mengambil sesuatu. Ren sudah menyiapkan bunga sakura yang dipetiknya dalam perjalan menuju ruamah sakit tadi.

"Otanjobi omedeto gozaimasu!" ucap Ren

Ren berdiri di hadapan Kei sambil memegang setangkai bunga sakura yang dibawanya. Kei menatap Ren sambil tersipu malu.

"Kamu ingat tanggal ulang tahunku?" tanya Kei.
"Kamu ulang tahun setiap tanggal dua april.Tepat tanggal dua april sepuluh tahun yang lalu, kita berdiri berdua disini dan membuat janji. Kita berjanji untuk tetap melihat bunga Sakura dari pohon yang sama. Hari ini semua janji kita sudah terpenuhi. Bunga sakura sudah mekar dan hari ini juga aku memberikanmu setangkai bunga sakura sebagai tanda rasa cintaku padamu. Semua ini jujur dari hatiku. Aku mencintaimu. Bahkan, sebelum aku mengalami hilang ingatan. Saat ingatanku hilang, aku pernah menyatakan perasaanku padamu. Saat itu, aku hanya melihat wajahmu yang manis karena kamu cantik saat kakak sepupuku mendandanimu. Sekarang, aku menyadari bahwa aku sudah menyukaimu dari dulu," ucap Ren.
"Ren, aku terharu dengan semua pernyataanmu," ucap Kei.
"Jadi, apakah kamu masih ingin mengejar cinta pertamamu? Bukankah itu adalah alasanmu kenapa kamu menolak pernyataan cintaku waktu itu?" tanya Ren.
"Ya, aku menunggu cinta pertamaku datang. Sekarang, aku sudah bertemu kembali dengannya, Dia adalah Ren Shimizu," ucap Kei sambil memegang bunga yang sama dengan bunga yang dipegang oleh Ren.

Ren memasangkan bunga Sakura itu di atas telinga Kei. Ditatapnya wajah Kei yang tidak pernah berubah sejak mereka masih kecil.

"Kamu tidak berubah ya!" ucap Ren sambil menatap wajah manis Kei.
"Tapi, kamu berubah!" ucap Kei.
"Kalau kamu merasa aku telah berubah, kenapa kamu masih ingin mengejar cinta pertammu ini?" tanya Ren.
"Aku jatuh cinta padamu sejak dulu. Sebenarnya, kehadiranmu sebagai orang lain tidak merubah perasaanku. Aku semakin jatuh cinta padamu. Maafkan aku yang terlambat untuk mengakui," ucap Kei.
"Aku yang terlambat mengakui semua ini. Aishiteru!" ucap Ren.
"Aishiteru!" ucap Kei.

Ren memegang pili manis Kei, lalu mencium bibir Kei. Sepuluh tahun sudah berlalu dan mereka sudah beranjak dewasa. Ren tidak lagi memberikan ciuman nakal pada pipi Kei. Kini, Ren sudah berani untuk mencium bibir Kei.

"Kita sudah bukan anak umur dua belas tahun lagi ya," ucap Kei.
"Iya," ucap Ren.
"Jadi, selama ini kamu benar-benar tinggal di Osaka?" tanya Kei.
"Iya! Aku kembali ke Tokyo karena aku kuliah di Tokyo. Aku tidak ingin bersama ibuku terus," ucap Ren.

Kei dan Ren kembali berciuman. Ren merangkul pinggang Kei saat mereka berciuman. Bunga sakura yang diberikan oleh Ren tetap terpasang di atas telinga Kei.

"Ren, jangan nakal lagi ya!" ucap Kei.
"Hei, memangnya aku anak kecil? Aku sudah tidak bodoh seperti katamu. Aku sudah menjadi fotografer terkenal," ucap Ren.
"Benarkah?" tanya Kei.
"Sedang dalam proses menjadi seorang fotografer terkenal," ucap Ren.
"Kamu bodoh ya? Tidak ada orang yang tiba-tiba langsung terkenal!" ucap Kei.

Michi mencium pipi Kei dan berlari setelahnya. Kei kaget dan pipi Kei sedikit memerah. Ren berlari sekencang mungkin agar Kei tidak dapat mengejarnya dan memukulnya. Kei ikut berlari untuk mengejar teman kecilnya itu.

"Terima kasih telah kembali kedalam hidupku," ucap Kei dalam hati.

TAMAT

0 komentar:

Short Story

Sakura #3

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Kei dan Saki pergi bersama mengelilingi kota Tokyo. Hari ini adalah hari Minggu. Mereka akan menikmati hari minggu ini dengan tenang.

"Yeah, program kerja praktek kita sudah berakhir. Minggu depan, kita akan meneguhkan janji dokter," ucap Kei.
"Yeah, akhirnya kita dapat lulus tepat waktu!" ucap Saki.
Kei menekan tombol jendela pada mobil Saki, "Ah, udara yang sejuk!" ucap Kei.
"Bunga Sakura yang mulai tumbuh," ucap Saki.
"Saki, apakah kamu ingat kalau aku punya teman kecil yang berjanji kepadaku untuk melihat bunga sakura yang bermekaran?" tanya Kei.
"Ah, tentu saja aku masih ingat! Siapa namanya?" tanya Saki.
"Michi Shimizu," ucap Kei.
"Seperti apa wajahnya?" tanya Saki.
"Hmm... pokoknya dia manis. Itu saja. Aku kehilangna satu-satunya foto kami berdua. Karena hanya ada satu foto kami, sebelum dia berangkat ke Osaka, aku merobek foto itu dan memberikan bagian wajahnya untuk dia simpan," ucap Kei.
"Sudah lewat hampir sepuluh tahun, kenapa kamu masih ingin mecarinya? Bukankah itu terlalu lama?" tanya Saki.
"Aku,,, aku pernah dicium dengannya. Dialah cinta pertamaku. Satu-satunya laki-laki yang pernah mencium pipiku," ucap Kei.
"Kalau kalian bertemu lagi, apakah dia masih mengingatmu?" tanya Saki.
"Entahlah," ucap Kei.
"Kei, mau pergi ke Harajuku? Aku ingin melihat baju," ucap Saki.
"Ayo!" ucap Kei.

***

"Moshi-moshi," ucap Ren.
"Ada apa Ren?" tanya Kei.
"Kamu dimana?" tanya Ren.
"Aku sedang ada di Harajuku. Aku pergi dengan Saki. Ada apa?" tanya Kei sekali lagi.
"Tunggu disitu ya! Aku akan menjemputmu. Aku ada di daerah Shibuya," ucap Ren.
"Halo? Ren?" ucap Kei bingung.
"Ada apa Kei?" tanya Saki setelah keluar dari ruang ganti baju.
"Ren tiba-tiba mengatakan kalau dia ingin menjemputku di Harajuku. Entahlah, dia tidak mengatakan ada apa," ucap Kei.
"Ah, kenapa kamu tidak menjadikan Ren sebagai kekasihmu? Sudah ada di depan mata, kamu malah mencari yang jauh," ucap Saki.
"Aku merasa hanya menganggap dia seperti temanku saja. Sebenarnya dia baik dan manis. Tapi...." ucap Kei.
"Tapi apa? Sudah ada di depan mata," ucap Saki.
"Aku kan baru mengenalnya," ucap Kei.
"Tapi, kamu terlihat langsung akrab dan nyaman dengannya," ucap Saki.
"Ah," ucap Kei.
"Sebentar ya, aku bayar di kasir dulu," ucap Saki.

Setelah Saki membayar belanjaannya, mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Saki. Saki menyalakan mesin mobilnya.

"Jadi, sekarang kita akan kemana? Kamu ingin aku turunkan dimana?" tanya Saki.
"Di dekat halte saja supaya gampang," ucap Kei.
"Baiklah," ucap Saki.

Kei turun di depan halte bis dekat toko baju yang dikunjunginya. Saki kembali melaju untuk pulang ke rumahnya.

Seseorang dari dalam mobil hitam membunyikan klakson mobilnya. "Kei, ayo masuk!" ucap Ren.
"Kita mau kemana?" tanya Kei sambil duduk di samping kursi kemudi.
"Aku ingin membawamu ke toko baju milik sepupuku. Aku ingin dia mendandanimu. Semacam make over," ucap Ren.
"Untuk apa?" tanya Kei.
"Hari ini onesan akan menikah," ucap Ren.
"Kamu punya kakak perempuan?" tanya Kei kaget.

Kei berpikir sejenak. Kei menduga bahwa Ren adalah Michi. Tapi, sejenak Kei menyalahkan pikirannya sendiri. Michi adalah anak tunggalm sedangkan Ren mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kakak perempuan yang akan menikah malam ini. Semua terasa aneh. Kei juga merasa bahwa Ren dan Michi sangat mirip.

"Oh, dia bukan kakak kandungku. Dia kakak tiriku. Setelah dua tahun aku tinggal di kota Osaka, ibuku menikah lagi. Ayah tiriku sudah meninggal dua tahun yang lalu," ucap Ren.

Ren memarkirkan mobil hitam miliknya di depan sebuah toko baju yang besar. Dicabutnya kunci mobil yang terpasang, lalu dirinya membuka pintu mobil. Ren dan Kei langsung turun dari dalam mobil.

"Ini toko milik kakak sepupuku. Aku ingin kamu memakai pakaian yang bagus untuk acara malam ini. Aku ingin memperkenalkanmu kepada ibuku dan keluargaku," ucap Ren.
"Oh," ucap Kei,

Kei membuka pintu toko baju itu. Seorang wanita muda datang untuk menyapanya ketika Kei sudah menginjak lantai toko baju itu.

"Halo," ucap wanita itu.
"Onesan!" ucap Ren.
"Hai Ren!" ucap wanita itu.
"Kei, ini kakak sepupuku," ucap Ren.
"Halo, aku Kei Saito," ucap Kei.
"Halo, aku Rika Maeda," ucap wanita itu.
"Onesan, tolong dandani dia. Pilihkan gaun yang pantas untuk acara malam ini," ucap Ren.
"Baiklah!" ucap Kei.

Rika Maeda mengambil tiga gaun yang menurutnya cocok untuk Kei. Satu per satu dicoba oleh Kei. Akhirnya, Kei memilih gaun yang berwarna pink keunguan.

"Kei, berapa ukuran sepatumu?" tanya Rika.
"23,5" ucap Kei.
"Aku akan mengambilkan beberapa sepatu untuk kamu pilih," ucap Rika.
"Ah, aku pakai sepatu ini saja," ucap Kei.
"Sepatumu sudah jelek! Lagi pula, apakah cocok memakai sepatu seperti itu dengan gaun?" tanya Rika.

Rika mengambilkan beberapa pilihan sepatu hak. Kei mencoba satu per satu dan membuat keputusan. Akhirnya, dipilihnya sepatu berwarna abu-abu.

"Sekarang, apa lagi?" tanya Kei.
"Tinggal memakai makeup saja. Mari, ikut aku sebentar!" ucap Rika.

Rika membawa Kei ke lantai dua toko baju itu. Di lantai dua, ada sebuah ruangan kosong yang sudah tersedia dengan peralatan makeup yang cukup lengkap. Kei takjub kepada wanita muda itu. Wanita muda itu ternyata merangkap sebagai penata rias.

"Tadaaaa!" ucap Rika.

Rika mengambil sebuah cermin besar, lalu memberikannya kepada Kei agar Kei dapat melihat dirinya. Rika sudah selesai merubah penampilan Kei.

"Bagaimana?" tanya Rika.
"Aku suka!" ucap Kei.
"Kei, sebelum acara pernikahan berlangsung, aku dengar keluarga Ren dan keluarga dari calon suami Yuri onesan akan mengadakan acara minum teh bersama di apartemen tempat Ren dan Yuri onesan tinggal," ucap Rika.
"Oh ya? Ren tidak mengatakan apapun padaku," ucap Kei.
"Kenapa? Apakah kamu belum siap untuk bertemu dengan ibu kandung Ren?" tanya Rika.
"Onesan, sebenarnya, Ren itu siapa?" tanya Kei.
"Apa maksudmu?" tanya Rika.
"Aku penasaran siapa sebenarnya dia," ucap Kei.
"Sebenarnya, dia kehilangan ingatannya kurang lebih sepuluh atua sebelas tahun yang lalu. Dia sendiri yang memilih nama Ren sebelum bertanya mengenai siapa nama aslinya. Setelah itu, ibu kandungnya dengan sengaja pindah ke luar kota dan memakai nama Ren untuk mendaftar di sekolah," ucap Rika.
"Oh, begitu," ucap Kei.
"Kei, sudah saatnya kamu menemui Ren di bawah. Acara minum teh akan dimulai setengah jam lagi," ucap Rika.
"Terima kasih onesan!" ucap Kei.

Kei berjalan menuruni tangga menuju lantai satu. Kei berjalan menuju meja kasir untuk membayar semua pakaian yang dipakainya saat ini.

"Berapa harganya?" tanya Kei kepada petugas kasir.
"Pakaian yang kamu kenakan sudah lunas," ucap petugas kasir itu.
"Lunas? Bagaimana bisa? Aku belum membayarnya," ucap Kei.
"Pria itu sudah mengurusnya," ucap petugas kasir.
"Baiklah, terima kasih!" ucap Kei.

Kei berjalan menuju kursi tempat Ren duduk. Ren memandangi Kei tanpa berkedip. Hari ini kakak sepupunya berhasil merubah penampilan Kei dari penampilan apa adanya menjadi cantik.

"Ren, kenapa kamu membayar semua ini?" tanya Kei.
"Aku menggunakan kartu aksesku disini. Aku punya kartu diskon spesial karena koneksi keluarga," ucap Ren.
"Bagaimana?" tanya Kei.
"Cantik!" ucap Ren.
"Benarkah?" tanya Kei.
"Benar! Ayo kita berangkat!" ucap Ren.
"Kemana?" tanya Kei.
"Ke apartermenku. Ibu dan kakaku ada di sana. Keluarga dari calon suami juga sudah datang," ucap Ren.

***

"Halo!" ucap Kei dihadapan kakak dan ibu Ren.

Ibu Ren tampak kaget dengan kehadiran Kei di aparttemen itu. "Halo, kamu siapa?" tanya ibu Ren.
"Namaku Kei Saito," ucap Kei.

Kei kaget seperti ekspresi yang tergambar oleh wajah ibu Ren. Kei merasa familiar dengan wajah ibu itu. Mungkin Kei pernah bertemu dengan ibu itu di suatu tempat.

"Ren, aku tidak ingin mengganggu acara keluargamu. Aku tunggu di ruang lain saja," ucap Kei.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak ingin bergabung? Dalam tradisi minum teh di keluargaku, anak-anak boleh membawa pasangannya. Apakah kamu tidak ingin aku..." ucap Ren.
"Sssshhhh....!" ucap Kei sambil menutup mulut Ren.
"Baiklah! Kalau kamu risih, duduk saja di dalam kamarku," ucap Ren.
"Oke," ucap Kei.

Setelah acara minum teh sudah selesai, semuanya bersiap-siap untuk pergi ke gedung pesta pernikahan yang sudah disewa. Ren membawa masuk Kei dan ibunya ke dalam mobil hitam yang biasa dikendarainya.

"Kamu jangan gugup. Walaupun ibuku terlihat galak, tapi dia tidak akan mengusirmu," ucap Ren..
"Aku tidak gugup karena itu. Haruskah kamu menunjukanku di hadapan keluargamu?" tanya Kei.
"Ini adalah proses baru. Aku ingin kamu dikenal oleh keluargaku karena aku sayang padamu," ucap Ren.
"Ren, kita kan hanya teman," ucap Kei.
"Kei, apakah menurutmu, status itu penting? Apakah penting kalau kita berteman atau pacaran? Yang penting, aku bisa bersama orang yang aku sukai," ucap Ren.
"Haruskah aku bersama denganmu? Bukankah sudah aku katakan bahwa..." ucap Kei.
"Ren, ayo kita berangkat!" ucap ibu Ren sambil membuka pintu mobil.
"Baiklah!" ucap Ren.

***

Dua minggu berlalu sejak acara pengucapan janji dokter. Sekarang, Kei, Nori, dan Saki sudah menjadi dokter tetap di rumah sakit Matsuzawa.

"Nori, apakah hari ini adalah hari padatmu?" tanya Kei.
"Ah, tidak terlalu. Aku ada pasien jam satu siang. Setelah itu, aku belum ada janji lagi," ucap Nori.
"Oh, hari ini aku membantu di ruang gawat darurat. Besok aku baru akan praktek," ucap Kei.
"Kei, semangat!" ucap Nori,
"Semangat!" ucap Kei.

Nori berjalan ke ruang prakteknya. Dirapihkannya beberapa tumpukan kertas. Disiapkannya peralatan dasar praktek: stetoskop, senter, alat pengukur tekanan darah, dan termometer.

Hari ini Ren akan memeriksakan kembali dirinya. Sesuai perkiraan Nori, ingatannya akan mulai kembali sedikit demi sedikit mulai hari ini.

Setelah melakukan ronsen, suster membawa hasil foto isi kepala Ren kepada Nori. Nori membaca hasil foto itu dengan teliti.

"Ini hasil fotonya," ucap suster Ishikawa.
"Terima kasih!" ucap Nori.

Setelah membaca hasil foto kepala Ren, Nori masuk ke dalam ruang praktek Nori. Nori akan menjelaskan kepadanya apa yang dialaminya.

"Selamat, ingatanmu akan kembali sedikit demi sedikit mulai hari ini!" ucap Nori.
"Wah, dugaanmu benar! Tepat hari ini," ucap Ren.
"Perlahan, kamu akan mengingat satu per satu. Sekarang aku mau tanya padamu. Siapa nama aslimu?" tanya Nori.
"Ren Okuda," ucap Ren.
"Astaga, apakah foto ini palsu? Kamu masih saja mengaku sebagai Ren Okuda. Okuda adalah nama keluarga dari ibumu, bukan ayah kandungmu," ucap Nori.
"Hahaha, aku bercanda. Namaku Ren Shimizu," ucap Ren.
"Nah, itu lebih masuk akal," ucap Nori.
"Nori, tiba-tiba aku kepikiran tentang foto ini. Ini adalah wajahku saat berumur dua belas tahun kan? Aku ingin menemukan pasangan dari foto yang dirobek ini," ucap Ren sambil memegang sebuah foto dari dalam dompetnya.
"Maksudmu, orang yang ada di foto itu?" tanya Nori.
"Iya, orang itu. Dengan ingatanku yang sedikit demi sedikit mulai kembali, aku rasa, aku akan ingat siapa dia," ucap Ren.
"Baguslah!" ucap Nori.
"Nori, aku pergi dulu ya!" ucap Ren.
"Oke, sampai bertemu lagi!" ucap Nori,

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Short Story

Sakura #2

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Festival fotografi pada setiap akhir musim dingin telah tiba. Sesuai janji, Ren menjemput Kei dengan mengendarai sebuah mobil. Kei sudah berdiri di depan gedung T plaza.

"Konnichiwa," ucap Ren sambil membuka jendela mobil.
"Konnichiwa," jawab Kei.
"Ayo masuk!" ucap Ren.
"Ya," jawab Kei.

Kei membuka pintu mobil Ren dan duduk di samping tempat kemudi. "Maaf, aku tidak berpakaian formal. Aku hanya memakai pakaian yang biasa saja," ucap Kei.
"Tidak apa-apa. Kamu tetap manis seperti karakter Chibiusa," ucap Ren.
"Chibiusa? Itu kan karakter dari manga yang sudah lama sekali," ucap Kei.
"Kenapa?" tanya Ren.
"Ah, tidak kenapa-kenapa sih," jawab Kei.

Kei mendesah dan berkata dalam hati. "Sepertinya aku pernah mendengar ucapan seperti itu. Sudah ada orang yang mengatakan kalau aku mirip dengan Chibiusa," ucap Kei.

Ren terus mengendarai mobil miliknya. "Ah, macet!" ucap Ren.
"Michi..." ucap Kei.
"Michi?" tanya Ren kaget.
"Michi... eh maksudku Ren. Aduh, aku salah memanggil namamu," ucap Kei.
"Tidak apa-apa. Ada apa?" tanya Ren.
"Apakah kamu ikut serta dalam pameran itu?" tanya Kei.
"Ya, salah satu hasil fotoku terpilih dan akan dipamerkan," ucap Ren.
"Aku yakin kalau kamu adalah seorang fotografer yang hebat," ucap Kei.
"Ah, masih banyak orang yang lebih hebat dari pada aku," ucap Ren.

***

"Ren!" teriak seseorang.
"Hideo!" ucap Ren.
"Wah, kamu bilang kamu akan membawa pasanganmu. Jadi, dia itu pasanganmu? Kamu punya pacar baru?" tanya Hideo Akiya.
"Eeeh, dia cuma teman untuk malam ini saja," ucap Ren.
"Tapi, dia cantik lho! Kalau aku jadi kamu, akan aku kejar dan aku jadikan pacarku," ucap Hideo.
"Urusi saja pacarmu! Kapan dia kembali?" tanya Ren.
"Besok pesawatnya akan mendarat di bandara Haneda," ucap Hideo.
"Kei!" panggil Ren.
Kei berjalan dari pinggir ruang pameran. "Ya?" tanya Kei.
"Kei, ini teman kuliahku, namanya Hideo Akiya," ucap Ren.
"Halo, aku Kei Saito," ucap Kei.
"Halo, aku Hideo Akiya," ucap Hideo.
"Kei, apakah kamu sudah lapar?" tanya Ren.
"Sedikit," ucap Kei.
"Ayo kita ke luar! Ada makanan untuk peserta pameran dan tamu VVIP," ucap Ren.
"Aku kan bukan tamu VVIP," ucap Kei.
"Mulai sekarang, kamu adalah tmau VVIP bagiku," ucap Ren.
Kei sedikit malu dan tersipu "Terima kasih!"

Ren mengantri untuk mengambil piring, sedangkan Kei hanya berdiri di luar antrian sambil menunggu Ren datang. Kei memegang tas kecil berwarna putih yang dibawanya.

"Hei!" ucap Kei kaget.

Seseorang berlari dan mencuri tas milik Kei. Kei berusaha untuk meminta bantuan dari orang sekitar.

"Pencuri!" ucap Kei.

Ren yang sedang mengantri langsung keluar dari antrian untuk mengejar pencuri itu. Kei berlari tetapi tidak dapat mendekati pencuri itu karena kecepatan berlarinya yang berbeda.

"Awww..." ucap Kei saat terjatuh di samping tembok gedung pameran.
"Hei pencuri! Mau apa kau?" teriak Ren.
"Ren?" tanya Hideo bingung.
"Ada pencuri!" ucap Ren.

Ren mengejar pencuri itu lebih kencang dan akhirnya Ren berhasil menarik kerah kemeja yang dipakai oleh pencuri itu. Diambilnya tas putih yang dicuri oleh pencuri itu, lalu Ren menghajar pencuri itu.

"Ampun!" ucap pencuri itu.
"Jangan berani-berani menyentuh dia atau mengambil apapun milik dia!" ucap Ren.

Ren melepaskan pencuri yang terjatuh itu dan membiarkan pencuri itu lari. Sementara itu, Kei masih merasa sakit karena terjatuh. Kei tidak melihat ada sebuah batu kerikil dan Kei menginjaknya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ren.
"Kakiku sakit," ucap Kei.

Ren mengambil sepatu hak milik Kei yang terlepas dari kaki Kei. Dipegangnya sepasang sepatu itu, dipakaikannya kembali ke kedua kaki Kei. Dirangkulnya wanita manis itu sambil membantunya berjalan.

"Duduk di sini dulu! Aku akan antri lagi untuk mengambilkanmu makan malam," ucap Ren.
"Terima kasih!" ucap Kei.

Setelah mengantri, Ren meletakan dua piring di atas meja tempat mereka duduk. Setelah itu, Ren meninggalkan Kei sendirian.

"Kamu mau kemana?" tanya Kei.
"Tunggu sebentar ya, ada yang harus aku lakukan," ucap Ren.

Kei menyantap makan malamnya sendiri. Piring yang satunya masih utuh, belum disentuh oleh Ren sama sekali. Kei hanya bisa menunggu kedatangna Ren. Mereka belum sempat bertukar nomor telepon, sehingga Kei tidak dapat mencarinya lewat telepon.

"Ren!" ucap Kei.
"Ini untukmu!" ucap Ren sambil memberikan sebuah kantung plastik.
"Apa ini?" tanya Kei.
"Buka saja," jawab Ren.

Kei membuka kantung plastik itu. Ternyata, tadi Ren pergi ke apotek untuk membeli plester karena ada luka pada salah satu lutut Kei.

Ren mengambil kapas dari dalam plastik itu dan membersihkan luka pada lutut Kei. Setelah itu, Ren memasangkan sebuah plester untuk menutupinya.

"Ren, aku ini kan dokter. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Kei.
"Tidak apa-apa! Aku terbiasa melakukan ini. Aku tinggal sendiri di apartemenku. Aku harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri," ucap Ren.
"Terima kasih," ucap Kei.

Setelah Kei dan Ren selesai menghadiri pameran fotografi itu, Ren mengantarkan Kei ke rumahnya. Kei membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil itu.

"Terima kasih Kei!" ucap Ren.
"Ren, bisa kau ketik nomor teleponmu?" tanya Kei.
"Astaga, kita belum bertukar nomor telepon!" ucap Ren.

Kei memberikan ponsel miliknya kepada Ren. Ren mengetik nomor telepon miliknya, lalu menekan tombol simpan.

"Sampai bertemu lain waktu ya!" ucap Ren.
"Ren, terima kasih untuk hari ini!" ucap Kei.
"Sayonara," ucap Ren.
"Sayonara," ucap Kei.

***

Musim semi telah tiba. Setelah seminggu yang lalu Kei dan Ren bertemu, kini musim semi tiba kembali seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Konnichiwa!" ucap Kei kepada dokter Yamada.
"Konnichiwa!" ucap dokter Yamada.
"Dokter, ini laporan yang dokter minta padaku kemarin," ucap Kei sambil memberikan hasil print.
"Bagaimana keadaan pasien di ruamg 320?" tanya dokter Yamada.
"Kemarin, tekanan darahnya sudah naik menjadi normal," ucap Kei.
"Lalu, bagaimana dengan pasien pada ruang 401?" tanya dokter Yamada.
"Bakteri samonela typhi sudah berhasil dilawan oleh antibodi dan bantuan obat yang diberikan kepadanya," ucap Kei.
"Menurut hasil laporanmu, pasien yang berada di kamar nomor 401 sudah dapat pulang besok," ucap dokter Yamada.
"Baik, nanti akan aku beri tahu," ucap Kei.
"Kamu sudah boleh pulang sekarang! Sudah hampir malam," ucap dokter Yamada.
"Terima kasih," ucap Kei.

Kei melepaskan baju putih miliknya dan memasukan baju itu ke dalam loker di ruang dokter. Diambilnya tas kecil berwarna biru muda, lalu Kei pergi meninggalkan ruang dokter itu.

Kei berjalan keluar dari gedung rumah sakit Matsuzawa. Kei berjalan menuju halte bis dan menunggu kedatangan bis. Hari ini ramai sekali. Banyak sekali orang yang sama-sama sedang menunggu kedatangan bis.

"Kei!" ucap Ren.
"Ren? Sedang apa kamu disini?" ucap Kei yang melihat wajah Ren dari dalam jendela mobil.
"Ayo masuk!" ucap Ren.

Kei berjalan ke arah mobil yang dikendarai oleh Ren. Kei duduk di samping kursi kemudi, lalu Ren kembali melaju.

"Kamu kelihatan lelah sekali," ucap Ren.
"Iya, hari yang padat!" ucap Kei.
"Kamu sudah makan?" tanya Ren.
"Makan? Kapan terakhir kali aku makan ya?" ucap Kei.
"Hei! Kamu bisa sakit kalau sampai lupa makan," ucap Ren.

Setelah lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau, Ren melaju menuju daerah Tsukji. Ren ingin mengajak Kei untuk makan malam bersama.

"Ren, tadi kamu sedang apa?" tanya Kei.
"Oh, aku sebenarnya ingin menemui Nori. Tapi, setelah aku melihat wakahmu di depan halte bis, aku pikir besok saja aku menemui Nori," ucap Ren.
"Kita mau kemana?" tanya Kei.
"Ah, ada restoran seafood yang enak di daerah Tsukji," ucap Ren.
"Aku jadi tidak enak padamu. Kamu mengajakku makan malam padahal aku tidak memintanya," ucap Kei.
"Aku tidak tega melihat dirimu kurang makan," ucap Ren.
"Terima kasih ya!" ucap Kei.

***

"Bagaimana, enak tidak rasanya?" tanya Ren.
"Ah, enak sekali!" ucap Kei.
"Kei..." ucap Ren.
"Ya?" tanya Kei.
"Aku... aku mencintaimu," ucap Ren.
"Apa?" tanya Kei.
"Aishiteru," ucap Ren.

Kei diam. Kei berpikir sebentar. Apakah dia tidak salah dengar? Atau apakah Ren tidak salah bicara? Dia bingung. Hal apa yang dapat membuat pria itu tiba-tiba menyatakan perasaannya?

"Ren..." ucap Kei.
"Kei, katakan kalau kamu juga menyukaiku!" ucap Ren.
"Maaf, aku masih menunggu cinta pertamaku kembali. Aku akan terus menunggunya. Tidak peduli sampai kapan," ucap Kei.
"Cinta pertamamu? Kamu bilang, dia sudah menghilang entah kemana. Kamu bilang, itu sudah hampir sepuluh tahun yang lalu," ucap Ren.
"Aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku dan dia akan kembali melihat bunga sakura yang indah tepat sepuluh tahun sejak hari itu. Hari dimana dia menciumku. Hari dimana dia mengalami luka yang parah karenaku," ucap Kei.
"Jadi, alasanmu untuk menjadi dokter adalah karena kamu ingin merawat dia?" tanya Ren.
"Dulu seperti itu. Sekarang setelah aku pikir, menjadi dokter memanglah merupakan impianku snediri," ucap Kei.
"Jadi, kamu mau menanggalkan pernyataan cintaku hanya untuk menunggu cinta pertamamu yang hilang itu?" tanya Ren.
"Ren, bisakah kamu beri aku waktu satu bulan? Satu bulan kemudian adalah hari dimana aku berjanji untuk melihat bunga sakura bersama-sama. Kalau hari itu aku dan dia tidak dapat bertemu lagi, aku akan memberikanmu jawaban. Anggap saja hari ini aku belum menjawabmu," ucap Kei.
"Oke! Aku akan mendengar jawabnmu satu bulan lagi. Tapi, jangan menghindariku selama satu bulan kedepan," ucap Ren.
"Iya. Ren, maukah kamu membantuku untuk mencari cinta pertamaku itu?" ucap Kei.
"Kalau aku bisa, akan aku bantu," ucap Ren.
"Terima kasih," ucap Kei.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Short Story

Sakura #1

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Tokyo, 2003

"Kei, apakah sepuluh tahun dari sekarang kita masih bisa melihat pohon sakura yang bermekaran pada musim semi?" tanya Michi Shimizu.
"Kamu ini bodoh ya? Tentu saja! Selama dunia belum kiamat, aku yakin kalau pohon bunga sakura masih akan tumbuh di negara kita," jawab Kei Saito sambil memegang setangkai bunga Sakura yang diambilnya di pinggir jalan.
"Kalau sepuluh tahun lagi kita bertemu, aku ingin memberikan setangkai bunga sakura untuk anak perempuan yang aku sukai. Kei, apakah kamu akan menungguku sepuluh tahun lagi?" tanya Michi.
"Apa? Aku rasa, kita akan tetap berteman sampai selamanya. Ya, berteman. Kita masih berumur dua belas tahun hari ini. Apa yang diketahui oleh anak berumur dua belas tahun soal cinta?" ucap Kei.

Michi mencium pipi Kei dan berlari setelahnya. Kei kaget dan pipi Kei sedikit memerah. Michi kecil itu berlari untuk meraih sepeda miliknya dan berusaha untuk meninggalkan Kei yang masih duduk di pinggir jalan sambil menatap sungai Sumida.

"Hei!" teriak Kei.

Kei bangkit dari posisinya. Kei berlari mengejar teman nakalnya itu dengan kedua kakinya. Michi tetap mengayuh sepedanya.

"Awas!!!" ucap Kei.

Michi kecil menabrak sebuah batu yang tidak dilihatnya. Dirinya terjatuh dan darah mengalir dari pinggir kepalanya.

Kei dengan panik mengeluarkan selembar tisu yang tertinggal di dalam kantung rok yang dipakainya. Di bersihkannya sedikit demi sedikit darah yang mengalir dari kepala Michio.

"Michio, kalau aku sudah besar, aku ingin menjadi seorang dokter untuk menebus kesalahanku. Karena aku, kamu jadi terluka seperti ini," ucap Kei.

***

Tokyo, 2013

Kei dengan wajah manisnya berjalan dari lantai satu gedung rumah sakit Matsuzawa. Dirinya sedang menjalani kerja praktek sebagai seorang dokter untuk tahap awal sebelum dinyatakan sebagai dokter resmi.

"Dokter Saito, mari kita mengecek ke ruang operasi lantai tiga. Satu jam lagi akan diadakan operasi. Kita harus mengecek apakah semua peralatan yang kita butuhkan sudah lengkap atau belum," ucap dokter Yamada, dokter yang membimbing Kei selama masa kerja praktek.
"Aku sudah memberi tahu kepada suster Ishikawa untuk mempersiapkan alatnya," ucap Kei.
"Kerja yang bagus!" ucap dokter Yamada.
"Dokter Yamada, ini laporan yang dokter minta kemarin," ucap Kei.
"Hmm... kamu sangat teliti saat menulis tentang pasien di kamar nomor 303. Oh iya, jangan lupa isi perutmu sebelum kita melakukan operasi nanti," ucap dokter Yamada.
"Baik!" ucap Kei.

Kei meninggalkan ruang kerja dokter sambil memegang botol minum yang dibawanya. Kei ingin berjalan menuju kantin di rumah sakit Matsuzawa.

"Moshi-moshi," ucap Kei saat seseorang meneleponnya.
"Kei, mau ikut aku tidak? Aku ingin makan nasi kari ayam," ucap Saki Shinobu, teman dekat Kei.
"Aduh, aku harus menemani dokter Yamada untuk melakukan operasi setelah jam istirahat. Aku tidak bisa pergi jauh-jauh dari rumah sakit. Hei, memangnya aku ini sama denganmu? Kamu beruntung sekali, hari ini dokter Fujimoto ada urusan keluarga sampai kamu juga ikut pulang cepat," ucap Kei.
"Karena itu, aku ingin sedikit bersenang-senang. Aku lelah sekali. Kemarin kami padat," ucap Saki.
"Lain kali saja. Sudah ya, aku lapar sekali," ucap Kei.

Kei mengantri di kantin untuk mendapatkan jatah makan siangnya. Para koki yang bekerja di rumah sakit hari ini memasak katsu, salah satu makanan kesukaan Kei,

"Selamat siang dokter Saito!" ucap dokter Ryo Yamada.
"Huh?" ucap Kei kaget.
"Aku hanya ingin makan siang denganmu. Bisa kan? Kursi lain sudah penuh," ucap dokter Yamada.
"Silahkan," ucap Kei.
"Halo dokter Yamada!" ucap seseorang.
"Dokter Takashi? Bukankah hari ini kau tidak ada jadwal praktek?" tanya dokter Yamada.
"Memangnya aku tidak boleh berkunjung kesini?" tanya dokter Takashi.
"Bilang saja kamu ingin mencari pacarmu. Dia sudah pergi entah kemana. Oiya, ini dokter Saito, anak bimbinganku," ucap dokter Yamada.
"Halo, namaku Kei Saito," ucap Kei.
"Halo," ucap dokter Takashi.
"Aku lihat, dokter Kimura ada di salah satu ruang pasien," ucap dokter Yamada.
"Baiklah, setelah jam makan siang aku akan mencarinya," ucap dokter Takashi.

***

Setelah satu jam berada di ruang operasi, Kei keluar dengan perasaan lega. Operasi berjalan lancar. Dirinya berjalan menuju ruang dokter untuk duduk sebentar.

"Huh," keluh Kei.
"Ada apa Kei?" tanya Nori, teman kuliahnya.
"Akhirnya.... Ah, hari yang padat," ucap Kei.
"Kei, aku dengar, ada pasien yang lumayan cakep. Kamu mau lihat tidak?" tanya Nori.
"Hah? Kenapa kamu melaporkan hal itu kepadaku?" tanya Kei.
"Siapa tahu cocok denganmu. Sudah berapa tahun kamu sendiri? Kita sudah saling mengenal sejak kelas satu sekolah menengah atas, tetapi belum pernah sekalipun aku mendengar bahwa dirimu punya kekasih," goda Nori.
"Siapa? Kamar nomor berapa? Sakit apa dia?" tanya Kei.
"Hahaha... dia tidak datang untuk dirawat. Dia akan mengecak kepalanya di ruang praktek. Beberapa bulan sekali dia memang mengontol kepalanya. Dia pernah mengalami benturan hebat," ucap Nori.
"Kamu kenal dia?" tanya Kei.
"Tentu! Kami pertama kali bertemu saat di Osaka. Sewaktu aku dan dia sama-sama bersekolah pada sekolah menengah pertama yang sama," ucap Nori.
"Baiklah, aku ikut denganmu. Jam berapa kamu akan praktek dengan dokter Masaki?" tanya Kei.
"Sekitar sepuluh menit lagi. Yuk kita ke dekat ruang praktekku!" ucap Nori,

Nori dan Kei berjalan bersama menuju deretan ruang praktek para dokter. Dokter Masaki sudah ada di dalam ruang prakteknya, disusul oleh suster Osada dan Nori. Kei duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruang praktek itu.

"Halo!" ucap seseorang.
"Halo kawan! Bagiamana kabarmu hari ini?" tanya Nori.
"Aku? Aku baik-baik saja!" ucap Ren Okuda.
"Ren, ini Kei, temanku," ucap Nori.
"Halo," ucap Ren,
"Haaaloo...." ucap Kei.
"Ada apa Kei?" tanya Nori.
"Kamu... kamu mirip sekali dengan temanku," ucap Kei.
"Teman?" tanya Nori.
"Aku punya teman sewaktu masih kecil. Namanya Michi Shimizu. Dia meninggalkan kota Tokyo setelah lulus dari sekolah dasar," ucap Kei.
"Oh," ucap Ren.
"Ren, kamu tunggu di depan dulu ya! Aku dan dokter pembimbingku akan mempersiapkan ruang praktek dulu," ucap Nori.

Kei dan Ren duduk bersebelahan di ruang tunggu. Nori kembali masuk ke dalam ruang praktek. Kei duduk sambil memegang kaleng sprite yang dibelinya lewat mesin minuman dekat ruang dokter.

"Kamu dokter kerja praktek juga?" tanya Ren.
"Iya, aku satu angkatan dengan Nori," ucap Kei.
"Omong-omong, aku rasa aku pernah melihat orang yang mirip sepertimu. Ah, aku lupa dimana," ucap Ren.
"Oh ya? Tapi, wajahku ini tidak pasaran lho!" ucap Kei.
"Iya, aku tahu itu! Setiap orang sudah diciptakan berbeda-beda," ucap Ren.
"Kamu bekerja sebagai apa?" tanya Kei.
"Fotografer. Aku suka sekali itu. Selain itu, aku juga suka melukis. Hanya saja, aku lebih ke arah fotografer," ucap Ren.
"Oh ya? Aku jadi teringat dengan teman lamaku yang entah ada di mana. Dia memberikanku sebuah lukisan sebagai hadiah terakhirnya sebelum keluarganya pindah rumah ke Osaka," ucap Kei.
"Lukisan apa?" tanya Ren.
"Bunga sakura. Bahkan, kami berjanji untuk kembali melihat bunga sakura lagi. Kami berjanji akan sama-sama melihatnya sepuluh tahun dari tahun itu. Ya, kurang lebih saat musim semi tahun ini," ucap Kei.
"Sekarang masih musim dingin. Satu bulan lagi aku rasa kita akan memasuki musim semi," ucap Ren.
"Okuda Ren!" ucap suster Osada.
"Kei, aku masuk dulu ya!" ucap Ren.
"Oke!" ucap Kei.

Ren masuk ke dalam ruang praktek yang sudah terbuka pintunya. Suster Osada mempersilahkan pria itu untuk masuk ke dalam ruang itu. Dokter Masaki meletakan stetoskop miliknya di atas meja.

"Dokter Yasuda, tolong periksa pasien ini dulu. Aku ingin ke kamar mandi," ucap dokter Masaki.
"Baik!" ucap Nori Yasuda.

Nori berjalan mendekati Ren. Dipegangnya kepala Ren. Diperiksanya bagian yang pernah mengalami luka.

"Apakah masih terasa sakit?" tanya Nori.
"Sudah tidak seperti waktu itu. Yah, sudah sangat baik lah," ucap Ren.
"Sebenarnya, aku penasaran kenapa kamu sampai seperti ini," ucap Nori.
"Kata ibuku, sewaktu aku berusia dua belas tahun, aku mengalami kecelakaan saat sedang bermain sepeda. Aku menabrak sebuah batu besar dan kepalaku mengalami benturan. Tidak hanya itu. Saat aku bankit setelah menabrak batu, aku berlari dan kalau tidak salah aku tertabrak sebuah mobil," ucap Ren.
"Lalu, kenapa kamu pergi meninggalkan kota Tokyo?" tanya Nori.
"Entahlah, itu kemauan ibuku. Kamu kan mengerti kalau ibu dan ayahku sudah lama bercerai. Kurang lebih beberapa minggu sebelum kecelakaan itu. Menurut informasi yang aku dapatkan dari ibuku. Aku masih tidak mengigat semuanya. Aku penasaran. Apakah kamu bisa membantuku?" tanya Ren.
"Membantu dalam hal apa?" ucap Nori sambil memeriksa bahu Ren yang sempat mengalami gangguan.
"Aku ingin menemukan pasangna dari sebuah foto yang habis dirobek. Tampaknya, ada bagian dari foto aslinya yang hilang," ucap Ren saat mengambil dompetnya.
"Kelihatannya kamu sedang bergandengan tangan dengan seseorang," ucap Nori.
"Maka dari itu. Aku rasa orang itu adalah teman dekatku," ucap Ren.
"Ren, apakah bahumu masih sakit?" tanya Nori.
"Tidak kok," ucap Ren.
"Aku akan mengolesi salep untuk menghilangkan bekas luka di bahumu. Oiya, kemarin kamu sudah melakukan ronsen untuk isi kepalamu. Setelah aku lihat, kerusakan di otakmu sudah membaik. Aku rasa, semua ingatanmu akan kembali kurang lebih satu bulan lagi. Kalau perkiraanku akurat ya," ucap Nori.
"Dokter jenius mana mungkin salah," goda Ren.
"Mungkin saja!" ucap Nori.
"Sekarang sudah selesai?" tanya Ren.
"Sudah! Jangan lupa seminggu sekali olesi salep itu di bagian bekas lukamu," ucap Nori.
"Iya! Terima kasih ya!" ucap Ren.
"Suster Osada, tolong panggilkan pasien selanjutnya!" ucap Nori.

Ren keluar dari ruang praktek itu dan dokter Masaki kembali datang ke ruang prakteknya.

"Kei!" ucap Ren.
"Ya?" tanya Kei.
"Apakah kamu suka dengan fotografi?" tanya Ren.
"Sedikit. Kenapa?" tanya Kei.
"Datanglah ke pameran fotografi bersamaku. Hari minggu ini. Mau tidak?" tanya Ren.
"Hmmm.... baiklah aku akan datang," ucap Kei.
"Baiklah, kita bertemu di depan T plaza ya!" ucap Ren.
"Jam berapa?" tanya Kei.
"Jam lima sore. Sayonara!" ucap Ren.
"Sayonara!" ucap Kei.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: