Short Story

Spring Love #4

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Seoul, Mei 2012

Kang So-ra masih dalam masa pemulihan. Walaupun pada akhir bulan April dirinya sudah keluar dari rumah sakit, namun dirinya masih harus banyak istirahat. Kang So-ra diijinkan untuk mengikuti kuliah, tetapi tidak boleh terlalu lelah. Kepalanya masih dijahit, tangannya masih memakai alat penyangga lengan yang patah. Bermain piano menjadi hal yang sulit baginya.

Kang So-ra terpaksa mengulang mata kuliah yang membutuhkan bermain piano. Mata kuliah bahasa Inggris dan lainnya masih dapat diambilnya. Bersama Ji-hoon, dirinya memasuki kelas yang sama hari ini.

"Selamat pagi!" ucap profesor Lee.
"Selamat pagi!" jawab semua mahasiswa di kelas itu.
"Hari ini kita akan belajar mengenai bernyanyi secara duet. Sekarang, silahkan kalian mencari pasangan kalian untuk berlatih," ucap profesor Lee.
"Kang So-ra, mari berpasangan denganku!" ucap Kwon Seung-won.
"Sama aku saja!" ucap Ahn Bae-myung.
"Maaf Bae-Myung," ucap Kang So-ra.
"Kenapa?" tanya Bae-Myung.
"Ji-hoon, sini!" ucap So-ra.

Ji-hoon berjalan dari sudut ruangan menuju tengah ruangan. So-ra mengajaknya untuk menjadi pasangan duetnya. So-ra memilih Ji-hoon karena Ji-hoon adalah teman dekatnya.

"Kalian boleh mengaransemen lagu yang sudah ada atau membuat lagu baru," ucap profesor Lee.
"Ji-hoon, kita akan membawakan lagu apa?" tanya So-ra.
"Bagaimana kalau lagu yang pernah kita karang bersama?" tanya Ji-hoon.
"Ah, aku ingin membuat aransemen dari lagu yang sudah ada. Lagu yang pernah kita karang tidak terlalu bagus," ucap So-ra.
"Kalau begitu, lagu apa yang akan diaransemen?" tanya Ji-hoon.
"Apa ya? Kamu punya ide?" tanya So-ra.
"Ah! Bagaimana kalau kita membawakan lagu milik grup BTOB yang berjudul Remember That?" tanya Ji-hoon.
"Kenapa kamu memilih lagu itu?" tanya Soo-ra.
"Lagu itu lebih cocok untuk musim semi. Baca saja liriknya, maka kamu akan mengerti," ucap Ji-hoon.

Kang So-ra mengambil ponsel dari dalam tasnya. So-ra mencari lirik dari lagu milik grup BTOB itu dan membacanya.

"Jadi, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang mencintai seorang gadis di musim semi dan orang itu hanya memikirkan gadis itu karena mereka tidak dapat bersama?" tanya So-ra.
"Yup! Nadanya juga menggambarkan keadaan dari liriknya," ucap Ji-hoon.
"Apakah kamu sedang merasakan hal seperti yang diceritakan oleh lagu itu?" tanya So-ra.
"Ah, tidak! Aku hanya senang memainkan lagu itu. Aku sudah pernah mencoba menyanyikan lagu itu sambil memetik gitar," ucap Ji-hoon.
"Baiklah, mari kita coba," ucap So-ra.

Chagaun gyejeoreun jinago bomi tto chajawatjyo
Ireoke sirin gyeoureul urin jal beotyeonaenneyo
Apeuro haeya hal geotdeureun neomu neomchyeonajiman
Gyejeorui pogeunhameuro tto igyeonaeyajyo

Remember that
Aju oraen sigani jinagatjyo
Eojeui chueogi naeireun
Geujeo ijhyeojigireul
Himgyeoun balgeoreumeul olmgijyo

"So-ra, coba kita aransemen di bagian tengahnya," ucap Ji-hoon.
"Oke!" ucap So-ra.

So-ra mengambil pensil. Ditulisnya not-not balok yang dinyanyikan oleh Ji-hoon satu per satu. Saat bernyanyi, Ji-hoon teringat akan sesuatu. Ji-hoon menyanyikan lagu ini sendiri di kamarnya karena teringat akan So-ra. Gadis yang disukainya tetapi tidak menyukai dirinya. Ji-hoon ingin melupakan semua kenangan, namun tidak bisa. Dirinya sudah terlalu lama bersama dengan So-ra.

Ji-hoon selalu memberikan perhatian kepada So-ra. Lebih sering bila dibandingkan dengan Ji-tae. Ji-tae lebih cuek dan lebih diam, sedangkan Ji-hoon lebih atraktif. Namun, Ji-hoon tahu bahwa Ji-tae sangat menyayangi gadis itu. Terlihat jelas dari tatapan matanya dan bagaimana Ji-tae mengkhawatirkan gadis itu sewaktu kecelakaan.

"Kelas hari ini selesai. Minggu depan kalian harus menunjukan apa yang sudah kalian siapkan hari ini," ucap Profesor Lee.

***

"Ji-tae oppa!" ucap beberapa mahasiswa tingkat satu.
"Oppa!" panggil seseorang.

Ji-tae sedang berjalan menuju kantin universitas. Beberapa adik kelas mendatanginya. Selain pintar, Ji-tae terkenal karena wajahnya yang lumayan manis. Begitu menurut para gadis yang melihatnya.

"Ji-tae!" teriak Min-ji.
"Apa?" tanya Ji-tae.
"Hei kalian! Menyingkirlah dari Ji-taeku!" ucap Min-ji di hadapan beberapa mahasiswa tingkat satu.
"Eonni, oppa pacar eonni?" tanya salah satu gadis.
Min-ji memegang tangan Ji-tae. "Kalian iri?" tanya Min-ji.
"Ah, kecewa deh, ternyata oppa sudah punya pacar," ucap beberapa gadis itu.
"Daah!" ucap Min-ji.

Min-ji menarik lengan Ji-tae dan berjalan ke arah kantin. Ji-tae berusaha untuk melepas pegangan tangan Min-ji.

"Min-ji!" ucap Ji-tae.
"Apa? Aku kan sudah membantumu agar kamu tidak dikejar oleh gadis-gadis itu!" ucap Min-ji.
"Tapi kamu berlebihan! Sejak kapan kita pacaran?" tanya Ji-tae.
"Sejak detik ini. Bagaimana?" tanya Min-ji.
"Apa? Maaf, jangan mendekatiku lagi," ucap Ji-tae.
"Tunggu!" ucap Min-ji.
"Sudah ya!" ucap Ji-tae.

Ji-tae berjalan menuju kantin. Dari belakang, Min-ji mengikutinya. Ji-tae tetap berjalan walaupun dirinya tahu ada orang yang mengikutinya dari belakang.

"So-ra, sudah lama menunggu?" tanya Ji-tae.
"Ah, baru lima menit kok!" ucap So-ra.
"Dimana Ji-hoon?" tanya Ji-tae.
"Sedang ke perpustakaan sebentar. Nanti dia akan datang kesini," ucap So-ra.
"Ji-tae!" ucap Min-ji.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak ingin bersamamu! Oiya, perkenalkan. Ini So-ra, pacarku," ucap Ji-tae.
"Apa?" tanya Min-ji.
"Aaaappaaa?" ucap So-ra kaget.
"Sayang, mau pesan makanan apa? Bulgogi? Ramyun?" tanya Ji-tae sambil merangkul So-ra.

BRUK!

Ji-hoon menjatuhkan buku yang dibawanya dari perpustakaan karena dia terkejut. Tiba-tiba dia mendengar pengakuan bahwa So-ra menjadi pacar dari Ji-tae.

"Ji-tae, jangan sentuh aku!" ucap So-ra.
"So-ra?" ucap Ji-tae.
"Aku bukan pacarmu!" ucap So-ra.

Kang So-ra berlari meninggalkan kantin kampus. Dirinya terkejut akan pengakuan itu. Hal ini terlalu mendadak baginya. Dirinya belum pernah mendengar pengakuan seperti ini.

"So-ra!" ucap Ji-hoon.
"Ji-hoon, mari kita makan siang bersama di meja yang lain!" ucap So-ra.
"Pergilah dengan Ji-hoon jika kamu lebih menyukainya!" ucap Ji-tae.

So-ra menarik tangan Ji-hoon dan mengajaknya untuk duduk di meja yang lain. Ji-tae tetap duduk pada tempat sebelumnya.

***

So-ra menjalani hari demi hari tampa berbicara dengan Kim Ji-tae. Sudah satu minggu sejak hari pengakuan itu. Sebenarnya, bukannya So-ra tidak menyukai Ji-tae, tetapi karena pengakuan itu keluar secara tiba-tiba tanpa persetujuannya.

"So-ra, hari ini kita harus mendapatkan nilai yang bagus!'' ucap Ji-hoon.
"Semangat!" ucap So-ra.
"Semangat!" ucap Ji-hoon.

Ji-hoon berdiri sambil memegang gitar miliknya. So-ra memegang semebar kertas yang berisi lirik lagu yang akan dinyanyikannya.

Bomnarui bamgonggireul masimyeo
Bombarame nae mameul dallaeboda
Seupgwancheoreom georeotdeon georieneun
Apeun gyejeorui hyanggiman nama geunyeoga
Jakkuman jakkuman saenggagina
Nunmuri naneyo nunmulman naneyo
Remember that

"Nice arrangement!" puji profesor Lee.
"Terima kasih!" ucap So-ra dan Ji-hoon dihadapan profesor Lee.
"Kelas hari ini selesai. Pasangna yang mendapatkan nilai tertinggi adalah pasangan Kim Ji-hoon dan Kang So-ra," ucap Professor Lee.
"Terima kasih!" ucap So-ra dan Ji-hoon dihadapan profesor Lee.

Setelah kelas berakhir, So-ra dan Ji-hoon berjalan menuju kantin karena sekarang sudah waktunya makan siang.

"So-ra, kenapa kamu menghindari kakakku?" tanya Ji-hoon.
"Ji-hoon, aku tidak ingin bicara dengannya. Aku tidak suka dia mengatakan hal itu secara mendadak tanpa persetujuan dariku," ucp So-ra.
"So-ra, kembalilah padanya!" ucap Ji-hoon.
"Kenapa?" tanya So-ra.
"Sebenarnya, Ji-tae sangat menyayangimu. Sudah bertahun-tahun sejak kita bertiga masih menjadi murid di sekolah tinggi. Walaupun aku menyukaimu, tetapi rasa sayang kakak kembarku terhadapmu sangat besar. Dia rela menderita hanya untuk menyelamatkanmu waktu itu. Dia yang sangat khawatir padamu. Dia yang mengecup keningmu saat kamu masih tidak sadarkan diri. Dia yang memeluk erat tubuhmu sewaktu dia tahu bahwa kamu mengalami rasa sakit yang begitu hebat. Dia yang memilihkanmu sepatu cokelat. Dia yang mengajarimu berenang pertama kali. Dia yang mengajakmu pergi ke taman Yeouido pertama kali. Dia yang melihat dirimu pertama kali saat keluargaku membeli rumah di jalan yang sama dengan rumahmu. Dia yang...." ucap Ji-hoon.
"Apakah semua itu benar?" tanya So-ra.
"So-ra, sekarang tatap mataku dan jawab dengan jujur. Sewaktu kamu mabuk di bulan Maret, Ji-tae menggendongmu sampai ke rumah. Di perjalanan, kamu terus mengatakan saranghae. Siapa pria yang kamu sayangi? Aku atau kakak kembarku?" tanya Ji-hoon.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu," ucap So-ra sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
"So-ra, tidakkah kamu menyukai hyung? Bukankah kamu ingin membelikannya hadiah kepadanya waktu itu? Aku masih ingat semua yang kamu katakan tentnagnya. Bagaimana kamu menatapnya berbeda dengan bagaimana kamu menatapku. Sebelum terlambat, akui saja semua perasaanmu padanya," ucap Ji-hoon.
"Haruskah aku mengkaui semuanya?" tanya So-ra.
"Jangan membuat Ji-tae menunggu atau diambil wanita lain. Dia sudah menunggumu begitu lama," ucap Ji-hoon.
"Baiklah," ucap So-ra.

***

Hari ini adalah akhir dari musim semi. Kemarin, tangan So-ra sudah sembuh dan sudah bebas. Dirinya dapat bermain piano atau menggunakan tangannya untuk beraktivitas seperti sebelumnya. So-ra sangat senang.

Kim Ji-tae
So-ra, mianhae. Temui aku sore ini di taman Yeouido

So-ra membaca pesan itu. Beribu keraguan muncul dari dalam dirinya. Apakah dirinya akan diterima oleh Ji-tae? Ataukah dirinya tetap menyembunyikan perasaannya selama ini?

Dengan keberaniannya, So-ra melangkahkan kedua kakinya menuju halte bus. So-ra menaiki bus yang melaju ke arah taman itu. Sesampainya di taman itu, So-ra duduk di salah satu kursi kosong.

"So-ra," ucap Ji-tae.
"Ji-tae," ucap So-ra.
"So-ra, maafkan aku! Aku sangat menyesal. Aku tidak meminta persetujuanmu," ucap Ji-tae.
"Ji-tae, apakah aku terlambat bagimu? Aku....aku mencintaimu sejak beberapa tahun yang lalu. Aku bukanlah anak kecil yang kamu kenal lagi. Seiring berjalannya waktu, perasaanku berubah dan aku dapat merasakan apa itu persahabatan dan rasa cinta. Saranghae....." ucap So-ra.
"Tidak! Kamu tidak pernah terlambat. Sampai kapanpun aku selalu menunggumu. Bahkan, jika kamu tetap menjauhiku selamanya, aku tetap akan menunggumu sampai tiba saatnya. Selama ini, aku juga menyembunyikan perasaanku. Aku minta maaf," ucap Ji-tae.
"Harusnya, aku yang minta maaf padamu," ucap So-ra.
"So-ra, jadi sebenarnya ucapan yang keluar dari mulutmu di malam hari saat aku menggendongmu adalah ucapan untukku?" tanya Ji-tae.
"Ya, semua itu untukmu! Aku sadar kalau aku tidak sengaja mengatakannya di hadapanmu. Aku pikir, aku hanya bermimpi. Ternyata, aku benar-benar pernah mengatakan hal itu di hadapanmu. Maafkan aku telah membuatmu menjadi bingung selama ini," ucap So-ra.
"Tidak apa-apa," ucap Ji-tae.
"Ji-tae, bisakah kamu mengusap poniku persis seperti sewaktu di rumah sakit? Waktu itu aku masih tak sadarkan diri. Aku tidak tahu bagaimana rasanya diusap seperti waktu itu," ucap So-ra.

Kim Ji-tae mengusap poni So-ra dan memluknya. Setelah selesai berpelukan, Ji-tae memegang sepeda yang dipakainya sebelum bertemu dengan So-ra.

"Ayo naik sepeda!" ucap Ji-tae.
"Ji-tae, kamu kan tahu kalau aku tidak bisa mengendarai sepeda. Aku pernah jatuh dari sepeda dan tidak ingin menaikinya lagi," ucap So-ra.
"Mulai sekarang, aku akan mengajarimu. Jadi, kamu jangan takut lagi," ucap Ji-tae.
"Terima kasih Ji-tae!" ucap So-ra.

Ji-hoon melihat Ji-tae dan So-ra dari kejauhan. Pria itu tersenyum bahagia melihat kakak kembarnya dan teman dekatnya itu bahagia dan bermain bersama.

TAMAT


0 komentar:

Short Story

Spring Love #3

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments


Hari ini adalah hari kedua bagi Ji-tae dan So-ra untuk mendapat perawatan di rumah sakit Seoul. Ji-tae sudah bangun lebih awal karena perawat mengecek tekanan darahnya. Setelah menyantap sarapannya, dirinya berjalan secara cepat menuju ruang nomor 302.

Di dalam kamar itu, nyonya Jung duduk di samping kasur tempat So-ra terbaring. Sudah sejak tadi nyonya Jung datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan anak satu-satunya.

"Oh, Ji-tae! Silahkan masuk," ucap ibu So-ra.
"So-ra masih belum sadarkan diri?" tanya Ji-tae.
"Belum," jawab ibu So-ra.
"Ibu kelihatan lelah sekali. Ibu pulang saja, biar aku yang menjaganya," ucap Ji-tae.
"Bukankah kamu masih harus banyak istirahat?" tanya ibu So-ra.
"Eh? Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu ya!" ucap Ji-tae.
"Sebentar lagi aku akan pergi ke toko," ucap ibu So-ra.
"Ibu tenang saja! Aku sudah memanggil Chae-rin. Setelah jam kuliah, Chae-rin akan datang," ucap Ji-tae.
"Terima kasih banyak ya!" ucap Ji-tae.

Ji-tae keluar dari kamar nomor 302 dan langsung kembali ke kamar 305, tempat dirinya dirawat. Ji-tae tidak ingin dikejar oleh suster Oh seperti kemarin malam.

Ji-tae duduk di atas kasur tempat dirinya dirawat. Ji-tae membuka tas besar yang dibawakan oleh ayahnya tadi pagi. Di dalam tas itu, terdapat sebuah headphone. Ji-tae ingin mendengarkan musik yang tersimpan di dalam ponselnya.

Ji-tae mendengarkan salah satu lagu karangan Kang So-ra. Lagu itu berjudul Sakura. Setahun yang lalu, Kang So-ra menulis lagu itu sendirian. Kang So-ra menyukai suasana musim semi dan bunga Sakura. Hal itu yang membuat dirinya mengarang lagu dengan judul Sakura. Diam-diam Ji-tae merekam lagu itu saat So-ra memainkan lagu itu di rumahnya.

Nadanya yang ceria menggambarkan perasaan seseorang yang sedang mekar seperti bunga Sakura yang mekar pada musim semi. Perasaan bahagia yang tergambar dalam lagu itu mengingatkan Ji-tae akan sosok So-ra yang ceria. Hal itu yang membuat dirinya semakin jatuh cinta kepada So-ra.

Flashback
April 2011

Kang Sora duduk di atas kuris piano. Piano sudah terbuka dan dirinya memainkan nada-nada baru yang diciptakannya. Lagu itu sagat gembira, mencerminkan suasana musim semi yang gembira.

"Bagus sekali lagunya!" ucap Ji-tae.
"Lagu ini akan aku beri judul Sakura. Kamu tahu kan kalau aku menyukai bunga sakura dan musim semi?" ucap So-ra.
"Iya, aku tahu! So-ra, tahun depan kita pergi ke festival musim semi yuk!" ucap Ji-tae.
"Kenapa tahun depan? Kenapa tidak tahun ini saja?" tanya So-ra.
"Maaf, tahun ini ujian lab diadakan sehari setelah festival itu. Aku harus belajar agar aku tetap mempertahankan beasiswaku," ucap Ji-tae.
"Tidak apa- apa. Walaupun seratus tahun kedepan, aku akan tetap pergi ke festival musim semi denganmu. Kamu adalah teman dekatku," ucap So-ra.
"Mari pergi bertiga tahun depan!" ucap Ji-hoon dari depan rumah So-ra.
"Iya, tahun depan kita sama-sama pergi ke festival itu ya!" ucap Ji-tae.
"Janji?" tanya So-ra.
"Iya!" ucap Ji-tae.
"Hyung, aku sudah membeli minumannya," ucap Ji-hoon.
"Terima kasih!" ucap Ji-tae.

***

"Hai Kim Ji-tae! Bagiamana keadaanmu? Sudah sembuh?" ucap Jung Min-ji.
"Jung Min-ji! Sedang apa kamu disini?" tanya Ji-tae.
"Aku mengkhawatirkanmu! Aku tidak melihatmu di kelas," ucap Min-ji.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Ji-tae.
"Sepupuku satu kelas dengan Ji-hoon. Ya, aku bisa menyuruh Chae-rin untuk mencuri informasi darinya dan meminta Chae-rin untuk melaporkan padaku," ucap Min-ji.

Min-ji meletakan sebuah kantong di atas meja kecil. Dikeluarkannya sebuah kotak makan dan dibukanya kotak itu.

"Ini, aku bawakan bulgogi untukmu!" ucap Min-ji. Min-ji meraih tangan kanan Ji-tae dan memberikan sendok padanya.

"Pergi!" ucap Ji-tae.
"Ji-tae...." ucap Min-ji.
"Aku tidak butuh makanan darimu. Ak utidak butuh perhatianmu," ucap Ji-tae.
"Kenapa? Tidak bisakah kamu melihat diriku sebagai wanita?" tanya Min-ji.
"Tolong pergi! Aku ingin istirahat," ucap Ji-tae.
"Baiklah! Aku rapihkan semuanya dan aku bawa keluar!" ucap Min-ji kesal.

Saat Min-ji meninggalkan ruang nomor 305, saat itu juga Kim Ji-hoon masuk ke dalam kamar itu. Ji-hoon mengunjungi kakak kembarnya.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Ji-hoon.
"Sudah lebih baik," ucap Ji-tae.
"Sudah melihat dia?" tanya Ji-hoon.
"Sudah! Dia masih tak sadarkan diri," ucap Ji-tae.
"Barusan aku lihat Chae-rin di depan kamar 302," ucap Ji-hoon.
"Aku mengabari Chae-rin," ucap Ji-tae.
"Apakah nyonya Jung sudah berangkat ke tokonya?" tanya Ji-hoon.
"Sepertinya sudah," ucap Ji-tae.
"Baiklah, aku ingin melihat So-ra dulu," ucap Ji-hoon.
"Tunggu! Aku mau ikut," ucap Ji-tae.
"Tidak cukupkah hyung melihat dia tadi pagi?" tanya Ji-hoon.
"Aku sangat khawatir padanya. Bagaimana jika dia tidak akan bangun lagi?" ucap Ji-tae.
"Tidak mungkin! So-ra pasti akan bangun," ucap Ji-hoon.
"Setidaknya, aku ingin melihat dia bangun sekali saja. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya sebelum dia mengakhiri hidupnya," ucap Ji-tae.

Ji-hoon dan Ji-tae berjalan menuju kamar nomor 302. Di dalam kamar itu ada Chae-rin yang sedang memegang tangan kiri So-ra.

"Annyeohaseyo!" ucap Chae-rin.
"Chae-rin, terima kasih sudah mau mengunjungi So-ra. Ibu So-ra harus menjaga tokonya," ucap Ji-hoon.
"Tidak apa-apa," ucap Chae-rin.
"Hyung, hyung tidak ingin dikejar suster Oh lagi?" tanya Ji-hoon.
"Biarkan saja," ucap Ji-tae.

Ji-tae dan Ji-hoon berdiri di samping kasur tempat So-ra terbaring. Che-rin duduk di kursi yang terletak di samping kasur itu. Ketiganya masih menunggu So-ra yang belum sadarkan diri.

Ji-tae merasa seseorang memegang lengannya. Ji-tae merasakan ada sentuhan lembut dari seseorang. Ji-tae kenal dengan sentuhan itu. Tangan halus itu akhirnya menyentuh tubuhnya setelah beberapa waktu lalu.

"Ji-tae!" ucap So-ra.
"So-ra!" ucap Ji-tae kaget.
"So-ra, akhirnya!" ucap Chae-rin.

Ji-tae mendekat ke arah So-ra dan memeluk tubuh So-ra. Chae-rin memanggil suster saat itu juga.

"Suster Oh, So-ra sudah sadar!" ucap Chae-rin.

Suster Oh dan dokter Baek langung berjalan menuju ruang 302 untuk mengecek keadaan So-ra. So-ra akhirnya sadarkan dirinya di hadapan teman-temannya. Ji-hoon langsung memberi kabar kepada ibu So-ra.

"Walaupun So-ra sudah sadarkan diri, So-ra masih perlu perawatan ekstra. Benturan di kepalanya belum sembuh sepenuhnya. Kalaupun saya memperbolehkan dirinya untuk pulang, So-ra tetap harus banyak istirahat di rumah. Ada sedikit gangguan kecil di otaknya. Kecil sekali, tapi tetap harus hati-hati. Kita tidak tahu apakah di masa depan So-ra akan mengalami trauma atau gangguan otak," ucap dokter Baek saat ditemui oleh ibu So-ra di ruangannya.

"Eomma, aku rasa aku harus mengulang beberapa mata kuliah karena kecelakaan ini," ucap So-ra.
"Tidak apa-apa So-ra. Yang penting, kamu cepat sembuh. Eomma akan bekerja keras untuk membiayai kuliahmu. Uang yang ditinggalkan appa masih cukup untuk biaya perawatanmu," ucap ibu So-ra.
"Terima kasih eomma!" ucap So-ra sambil memeluk ibunya.
"So-ra!" teriak Ji-tae saat membuka pintu kamar nomor 302.
"Ji-tae...." ucap So-ra.
Ji-tae mengusap-usap poni So-ra. "Kamu masih harus banyak istirahat," ucap Ji-tae.
"Iya, aku tahu itu! Dokter sudah memberitahu kepadaku," ucap So-ra.
"So-ra, eomma mau pergi ke kantin sebentar ya!" ucap ibu So-ra.
"Ji-tae, maafkan aku," ucap So-ra.
"Maaf karena apa?" tanya Ji-tae.
"Aku dengar, kamu masuk rumah sakit karena ingin melindungiku. Aku dengar, kamu juga pingsan setelah dipukul. Selain itu, maafkan aku karena tahun ini kita tidak bisa datang ke festival musim semi karenaku. Aku masih belum pulih sepunuhnya. Maafkan aku," ucap So-ra.
"Tidak apa-apa! Aku tidak akan marah padamu. Semoga tahun depan kita bisa pergi ke festival musim semi," ucap Ji-tae.
"Aku rasa, aku juga harus mengulang beberapa mata kuliahku," ucap So-ra.
"Aku tahu ini berat bagimu. Tapi, yang penting kamu bahagia dulu," ucap Ji-tae.
"Iya," ucap So-ra.
"So-ra, apakah aku terlambat untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu? Dua hari yang lalu adalah hari ulang tahunmu. Aku sebenarnya sudah menyiapkan kejutan, tetapi semua itu batal karena kecelakaan itu," ucap Ji-tae.
"Tidak apa-apa," ucap So-ra.
"Saengil chukkae!" ucap Ji-tae.
"Apa ini?" tanya So-ra.
"Hadiah ulang tahun untukmu. Sudah lama aku membelinya, tapi aku baru memberikannya padamu," ucap Ji-tae.

So-ra membuka kotak kecil itu. Dipegangnya sebuah kalung yang ada di dalam kotak itu. Kalung itu tertulis nama S-O-R-A.

Ji-tae meraih kalung itu, mengeluarkan kalung itu, lalu memakaikan kalung itu pada leher So-ra. Diam-diam, So-ra tersenyum bahagia karena kalung itu.

Dari luar kamar, Ji-hoon melihat dengan jelas semuanya. Ji-hoon melihat Ji-tae memakaikan kalung itu pada leher So-ra. Kalung yang sudah lama dibelinya dan disembunyikannya di laci kamar mereka akhirnya sampai pada penerima yang sebenarnya.

Ji-hoon kembali menyembunyikan bunga yang dipegangnya dari tadi. Ji-hoon tidak jadi memberikan bunga itu karena dirinya melihat Ji-tae yang terlihat sangat menyayangi So-ra. Ji-tae tidak pernah memberi barang spesial untuk So-ra sebelumnya. Bahkan, Ji-hoon tidak pernah menunjukan perhatiannya yang menunjukan adanya perasaan melebihi perasaan seorang teman.

Sekali lagi Ji-hoon melihat kamar itu. Ji-tae masih berada di dalam kamar itu. Dengan keberanian, Ji-hoon membuka pintu kamar itu.

"Saengil chukkae!" ucap Ji-hoon.
"Terima kasih Ji-hoon!" ucap So-ra.
"Ini, ada bunga sakura dariku untukmu. Maaf, aku tidak sempat untuk memberikan kado yang mahal dan lebih berharga daripada bunga sakura yang aku petik tadi pagi," ucap Ji-hoon.
"Tidak apa-apa! Aku suka sekali bunga sakura. Wah, cantiknya!" ucap So-ra.
"Terima kasih sudah mau tersenyum," ucap Ji-hoon.
"Ji-hoon, maaf tahun ini kita tidak jadi pergi ke festival musim semi karena keadaanku," ucap So-ra.
"Mari kita lakukan tahun depan saja! Ji-tae, tadi Jung Min-ji meninggalkan bunga mawar di kamarmu," ucap Ji-hoon.
"Buang saja!" ucap Ji-tae.
"Kenapa?" tanya Ji-hoon.
"Aku tidak suka padanya," ucap Ji-tae.
"Bukannya dia manis?" tanya So-ra.
"Aku hanya menyukai satu orang," ucap Ji-tae.
"Ji-tae, kenapa kamu pergi dari kamarmu? Sudah saatnya pemeriksaan sore hari!" ucap suster Song.
"Maaf membuatmu mencarku kesini. Baiklah, aku harus kembali ke kamarku. So-ra, mengobrolah dengan Ji-hoon," ucap Ji-tae.
"Oke!" ucap So-ra.

***

"So-ra, kenapa diam saja?" tanya Ji-hoon.
"Aku hanya bingung," ucap So-ra.
"Kenapa?" tanya Ji-hoon.
"Ada banyak hal," ucap So-ra.
"Jangan cemberut begitu!" ucap Ji-hoon.

So-ra terdiam di atas kasur kamar 302. Ji-hoon memperhatikan So-ra yang sedang cemberut. Tiba-tiba, Ji-hoon punya ide bagus untuk membuat So-ra tersenyum.

"So-ra, mau melihat sesuatu yang lucu?" tanya Ji-hoon.
"Apa itu?" tanya So-ra.

Ji-hoon berdiri dari kursi yang didudukinya. Ji-hoon menyanyikan lagu beruang (lagu anak-anak kahs korea) dan menari dengan gaya khasnya.

Gom semariga
han chibeyiso
appa gom
omma gom
aegi gom
appa gommun tung-tung-hae
omma gommun nalsinhae
ae-gi gommun na bulgwiyowo
hishuk hishuk charhanda

So-ra tertawa terbahak-bahak setelah melihat Ji-hoon menari sambil menyanyikan lagu beruang di hadapannya. Gerakan yang diciptakan oleh Ji-hoon benar-benar mirip dengan gerakan Lee Young-jae dalam drama full house.

"Benar-benar mirip gerakan dari drama full house," ucap So-ra.
"Lucu kan?" tanya Ji-hoon.
"Iya, lucu kok!" ucap So-ra.
"Permisi nona So-ra! Waktunya makan malam," ucap suster Song.
"Silahkan masuk!" ucap So-ra.

Suster Song meninggalkan makanan di atas meja kecil di samping kasur tempat So-ra berbaring. Ji-hoon meletakan makanan itu di aras meja yang ditarik dari pinggir ranjang.

"Selamat makan!" ucap Ji-hoon.
"Kamu tidak makan?" tanya So-ra.
"Tenang saja, aku sudah membawa makanan dari rumah. Kita bisa makan bersama di kamar ini sekarang," ucap Ji-hoon.

So-ra meraih sendok yang diberikan oleh Ji-hoon. Seketika tangan So-ra kembali sakit seperti tadi siang.

"Awwww!" ucap So-ra.
"Ada apa So-ra?" tanya Ji-hoon.
"Tangnaku masih terasa sakit," ucap So-ra.
"Sini sendoknya!" ucap Ji-hoon.

Ji-hoon meraih sendok yang dipegang oleh So-ra. Ji-hoon menyuapi temannya yang merasa sakit itu. Perlahan, So-ra membuka mulutnya. Walaupun terasa sedikit sakit, namun mulut So-ra masih dapat mengunyah makanan sedikit demi sedikit.

Dari luar pintu kamar nomor 302, Ji-tae melihat Ji-hoon yang sedang menyuapi So-ra. Ji-tae iri pada adik kembarnya karena dirinya ingin sekali menyuapi So-ra yang terbaring di kamar itu.

Setelah lima menit berdiri di depan pintu kamar itu, Ji-tae membuka pintu kamar itu. So-ra tampak bahagia seketika.

"So-ra," ucap Ji-tae.
"Ji-tae, duduk sini!" ucap So-ra sambil memberikan sedikit bagian kasurnya untuk Ji-tae. Ji-hoon menurunkan sendok yang dipegangnya.
"Lanjutkan saja makannya!" ucap Ji-tae.
"Kamu sudah makan?" tanya So-ra.
"Sudah," ucap Ji-tae.
"Ji-hoon, aku kenyang!" ucap So-ra.
"Ada apa? Kenapa sedikit sekali makannya?" tanya Ji-tae.
"Iya, kenapa?" tanya Ji-hoon.
"Aku tidak ingin makan banyak-banyak," ucap So-ra.

Ji-hoon meletakan piring dan sendok di atas meja kecil di samping kasur. Ji-tae mengambil sebuah gitar yang dibawa oleh Ji-hoon dari rumah. Tangannya memetik semua senar secara bergantian. Dimainkannya lagu karangan milik So-ra yang berjudul Sakura.

"Wah, kamu bisa memainkan lagu karangnaku?" tanya So-ra.
"Aku diam-diam merekam lagumu dan belajar untuk memainkannya menggunakan gitar ini. Aku kan tidak bisa bermain piano," ucap Ji-tae.
"Ji-tae, mainkan lagu yang lain," ucap So-ra.
"Baiklah!" ucap Ji-tae.

Ji-tae kembali memetik gitarnya. Dimainkannya lagu berjudul Sing for You milik boyband Exo. Tiba-tiba Ji-hoon ikut bernyanyi bersama dengan Ji-tae,

Nae nargeun gitareul deureo haji mothan gobaegeul
Hogeun gojipseuresamkin iyagireul
Norae hana mandeun cheok jigeum malharyeo haeyo
Geunyang deureoyo I'll sing for you

Neomu saranghajiman saranghanda mal an hae
Eosaekhae jajonsim heorak an hae
Oneureun yonggi naeseo na malhal tejiman
Musimhi deureoyo I’ll sing for you

The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geolkka?
Doraseomyeo huhoehaetdeon mal
Sagwahal tejiman geunyang deureoyo
I'll sing for you, sing for you
amureohji anheun cheokhaeyo

Ketiganya tertawa bersama setelah Kim Ji-tae dan Kim Ji-hoon selesai menyanyikan lagu itu untuk So-ra.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Short Story

Spring Love #2

00:00 Fu Xue Mei 0 Comments

Seoul, April 2012

Musim semi yang indah. So-ra menganggap bahwa musim semi tahun ini sangat indah. So-ra berharap bahwa musim semi tahun ini memberikan kenangan manis bagi dirinya.

Hari ini adalah libur paskah, sekaligus libur musim semi. Kira-kira seminggu lamanya. Kang So-ra, Kim Ji-tae, dan Kim Ji-hoon berencana akan bertemu di taman Yeouido sore ini.

Kang So-ra pergi sendiri ke taman itu setelah selesai pergi jalan-jalan dengan Lee Chae-rin, salah satu teman kuliahnya. So-ra berjanji untuk menemaninya membeli baju baru untuk menghadiri acara pernikahan anak dari teman kuliah ayah Chae-rin.

"Chae-rin, terima kasih ya sudah mengantarkanku ke Yeouido!" ucap So-ra setelah turun dari dalam mobil yang dikendarai oleh Chae-rin.
"Aku pergi dulu ya!" ucap Chae-rin.
"Hati-hati!" ucap So-ra.
.
Hari sidah pukul empat sore. Si kembar Kim belum juga tiba di taman itu. So-ra tidak mendapat kabar dari salah satunya. So-ra terus saja menunggu kedatangan mereka berdua.

"Kang So-ra!" ucap seseorang dari belakang tubuhnya.
"Aaaa! Siapa kalian?" teriak So-ra kaget.

Salah satu dari ketiga pria itu menutup mulut So-ra, sehingga So-ra tidak dapat mengatakan apapun.

"Tangkap tangan gadis itu!" ucap ketua gangster itu.

Pria lainnya menangkap kedua tangan So-ra dan mengikatnya dengan sebuah tali yang panjang dan kuat. Pria itu membawa So-ra keluar dari taman dan membawa So-ra masuk ke dalam sebuah mobil kecil. Mobil itu melaju kencang ke sebuah tempat.

"HEI! HENTIKAN!!!!!" ucap Kim Ji-hoon.

Melihat kejadian penculikan So-ra, Kim Ji-tae langsung berlari sekuat tenaga untuk masuk ke dalam mobil milik ayahnya dan mengejar mobil yang membawa So-ra. Ji-hoon memegang kembali semua barang-barang yang dipegangnya.

Semua rencana yang akan dilakukan oleh Ji-tae dan Ji-hoon berantakan. Semua kejutan yang sudah dipersiapkan secara matang akhirnya sia-sia. Orang itu mengacaukan segalanya.

Kim Ji-hoon duduk termenung di kursi taman Yeouido. Langit semakin gelap. Hari sudah hampir malam. Matahari sudah setengah terbenam. Dirinya masih menantikan kabar dari saudara kembarnya.

Kim Ji-tae menambahkan kecepatan mobil yang dikendarainya. Mobil yang membawa So-ra semakin kencang dan semakin sulit untuk dikejar. Kim Ji-tae sudah kehabisan tenaga, sehingga dirinya tak mampu untuk menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.

"Cepat!" tegur seseorang dari dalam mobil hitam itu.
"Bos, remnya blong. Kami tidak bisa menahan mobil ini. Di samping sana ada batu besar," ucap orang yang mengendarai mobil itu.
"Tae-joon, cepat buka pintu dan lompat keluar!" ucap bos Shin.

Orang yang bernama Kwon Tae-joon lompat dari mobil hitam itu untuk berlari menangkap Kim Ji-tae yang mengejar mobil bos Shin.

"Bos, apa yang harus kita lakukan? Mobil ini tidak dapat dihentikan," ucap orang itu.
"Buka pintu mobil ini dan melompatlah!" ucap bos Shin.

Bos Shin dan Lee Min-hong melompat dari mobil itu. Mobil yang membawa Kang So-ra menabrak sebuah batu di sudut jalan raya itu dan membuat So-ra terbentur kursi mobil.

Kim Ji-tae memberhentikan mobil yang dikendarainya di pinggir jalan raya itu. Dengan cepat dirinya menekan tombol speed dial nomor dua, tempat dirinya menyimpan nomor ponsel ayahnya. Ayahnya adalah seorang polisi terkenal di kota Seoul. Hanya ayahnya yang dapat menolongnya saat ini.

"Appa!" teriak Ji-tae.
"Ada apa anakku?" tanya polisi Kim dengan panik.
"Jalur cepat Gyeongbu! Cepat!" ucap Kim Ji-tae dengan panik.

Seseorang dari belakang tubuh Kim Ji-tae memukul tubuh Ji-tae dengan sebuah batu yang diambil dari pinggir jalan.

BRUK!

"Yoboseyo? Ji-tae?" teriak polisi Kim.
"Ada apa ketua Kim?" tanya polisi Baek.
"Polisi Baek, mari kita menuju ke jalur cepat Gyeongbu! Sesuatu terjadi kepada anakku," ucap polisi Kim.
"Siap!" ucap Polisi Baek.

Kerua polisi Kim dan polisi Baek segera pergi menuju ke jalur cepat Gyeongbu dengan mobil dinas. Secepat mungkin mereka menuju jalan itu dengan perasaan panik dan was-was. Bagaimana tidak, seseorang melukai anaknya sendiri.

***

Kim Ji-hoon memegang ponsel miliknya. Tidak ada pesan maupun panggilan yang masuk sejak Ji-tae mengejar gangster itu. Dirinya panik memikirkan orang yang dicintainya. Orang yang membuat dirinya bahagia selama ini telah diculik oleh sekelompok gangster entah dari mana.

Kim Ji-hoon hanya bisa berdoa. Sambil termenung di kursi Taman Yeouido, dirinya mengucapkan doa. Raut wajahnya menjadi pucat saat mengucapkan doa.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Ji-hoon. Ji-hoon langsung membuka pesan itu.

Kim Ji-tae
Jalur cepat Gyeongbu. Tuan Shin.

Kim Ji-hoon tidak paham apa maksud dari pesan singkat itu. Dirinya mencoba menghubungi kakak kembarnya itu, namun ponsel milik kakak kembarnya mati.

"Panggilan anda akan dialihkan....." ucap operator telepon.

Kim Ji-hoon mencoba menelepon orang yang dikenalnya. Ji-hoon ingat satu nama: Lee Chae-rin. Ji-hoon segera menghubungi teman sekelasnya itu.

"Yoboseyo?" tanya Chae-rin.
"Chae-rin!" ucap Ji-hoon panik.
"Ji-hoon, ada apa?" tanya Chae-rin kaget.
"Kang So-ra.... diculik.... oleh gangster......" ucap Ji-hoon.
"Apa katamu? Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Chae-rin.
"Tidak! Aku serius. Aku melihat mobil milik kelompok gangster itu kabur membawa So-ra yang di bekapnya. Saudaraku, Ji-tae sedang mengejarnya, tapi anehnya aku tidak dapat menghubungi Ji-tae. Firasatku tidak enak," ucap Ji-hoon.
"Kamu sudah memberitahu ayahmu?" tanya Chae-rin.
"Ayahku juga tidak mengangkat ponselnya. Aku sudah menelepon ke kantor polisi dan salah satu polisi mengatakan bahwa ayahku pergi bersama seorang polisi untuk mengejar sesuatu. Aku rasa, ayahku sudah berangkat ke sana," ucap Ji-hoon.
"Yang bisa kita lakukan hanya menunggu kabar dari ayahmu dan kakak kembarmu. Itu saja. Ji-hoon, nanti kabari aku kalau ada perkembangan ya!" ucap Chae-rin.
"Oke!" ucap Ji-hoon.

***

Ambulans datang. Polisi Baek sudah menelepon rumah sakit untuk mengirimkan ambulans. Dua orang dari gangster itu berhasil ditangkap, sedangkan bos Shin belum dapat ditangkap. Bos Shin lari entah kemana.

Ji-tae dan So-ra tak sadarkan diri. Dua sahabat itu pingsan pada hari yang sama. Segera, petugas dari pihak rumah sakit membawa tubuh mereka ke dalam ambulans. Polisi Baek mengantarkan ketua polisi Kim menuju rumah sakit setelah membawa kedua gangster itu ke penjara.

Kim Dae-hwan
Anakku, kakakmu dan So-ra berada di rumah sakit Seoul. Beritahu nyonya Jung untuk melihat keadaan So-ra.

Setelah membaca pesan yang dikirim oleh ayahnya, Ji-hoon segera menuju rumah So-ra dan memberitahu ibu So-ra. Ibu So-ra tampak panik dan pucat.

"Ibu, So-ra mengalami kecelakaan setelah diculik oleh sekelompok gangster. Sekarang, So-ra dan kakak kembarku berada di rumah sakir Seoul," ucap Ji-hoon saat ibu So-ra membuka pintu rumahnya.
"Apa?" ucap ibu So-ra sambil lemas dan menjatuhkan dirinya di lantai rumahnya.
"Ibu!" ucap Ji-hoon sambil membantu ibu So-ra berdiri lagi.
"Ayo kita pergi ke sana!" ucap Ibu So-ra sambil meraih kunci mobil yang terletak di atas meja ruang tamu.
"Biar aku saja yang menyetir mobilnya!" ucap Ji-hoon.
"Terima kasih Ji-hoon!" ucap Ibu So-ra.

Ji-hoon dan Ibu So-ra langsung lari ke lantai tiga, tempat So-ra dan Ji-tae berada. So-ra masuk ke dalam ruang operasi, sedangkan Ji-tae hanya berada di dalam ruang inap biasa. Ji-tae hanya luka karena terkena pukulan batu, sedangkan So-ra harus dioperasi dan dijahit.

"Kenapa semua ini terjadi lagi? Kenapa harus keluargaku yang mengalami hal buruk seperti ini? Kenapa?" ucap Ibu So-ra sambil menangis dan memukul-mukul dada ketua polisi Kim.
"Nyonya Jung tenang dulu! Lebih baik kita duduk di ruang tunggu," ucap ketua polisi Kim.

Ji-hoon duduk di samping ayahnya. Ji-hoon merasa deja vu. Ji-hoon merasa hal semacam ini pernah terjadi sebelumnya. Kalau tidak salah, saat mereka semua masih menjadi murid tahun pertama di sekolah menengah atas yang sama.

Flashback

"Kamu tidak apa-apa pergi sendirian?" tanya Ji-hoon.
"Kalian berdua tidak perlu mengikutiku hari ini. Aku ingin pergi sendirian," ucap So-ra.
"Kenapa? Apakah karena nilai pelajaranmu yang menurun? Apakah hal itu yang membuatmu tidak semangat?" tanya Ji-hoon.
"Sudahlah! Aku hari ini hanya ingin sendirian!" ucap So-ra.
"Sudah, biarkan saja dia!" ucap Ji-tae.
"Hyung! Kenapa tiba-tiba seperti ini?" ucap Ji-hoon.
"Ayo kita makan jajangmyun! Hari ini aku yang traktir!" ucap Ji-tae sambil merangkul adik kembarnya.
"Baiklah!" ucap Ji-hoon.

Ji-hoon dan Ji-tae pergi ke sebuah restoran yang terkenal dengan menu jajangmyun. Hari ini pembagian hasil ujian tengah semester dan Ji-tae menempati posisi juara satu di kelasnya, sedangkan So-ra meraih juara ketiga. Hanya Ji-hoon yang tidak berada di posisi lima besar kelas.

Ji-hoon dan Ji-tae memesan jajangmyun dan duduk pada posisi yang sama setiap kali mereka mengunjungi restoran itu. Tempat di samping jendela pilihan So-ra. Mereka selalu menempati tempat itu.

"Lepaskan!" ucap Kang So-ra.
"Kali ini kamu tidak dapat berlari lagi dariku. Sudah aku katakan kalau aku menyukaimu. Hai gadis manis, mari ikut denganku!" ucap pria itu.
"Aku tidak menyukaimu!" teriak So-ra.
Teman dari pria itu memegang erat kedua tangan So-ra. "Mari menghabiskan malam bersama kami!" ucap pria itu.
"Lepaskan!" ucap So-ra sekali lagi.
Tangan dari pria itu meraih ujung rok yang dipakai oleh So-ra dan ingin membukanya. Dengan cepat So-ra menepis tangan pria itu.
"Kamu tidak kenal siapa aku? Aku ini Shin Min-jae, anak tahun ketiga dari sekolah tinggi Seoul. Hanya kamu yang mencuri perhatianku saat ini," ucap pria itu.

Sekali lagi, pria yang bernama Shin Min-jae mengayunkan tangannya untuk menyentuh ujung rok yang dipakai oleh So-ra.

"Hei, hentikan!" ucap Ji-hoon.
"Lepaskan dia!" ucap Ji-tae.
"Kalian ini siapa? Bodyguard gadis ini? Hebat sekali gadis ini!" ucap Min-jae.
"Jangan berani-berani menyentuh gadis ini atau akan aku laporkan kepada ayahku!" ucap Ji-hoon.
"Memangnya aku takut dengan ayahmu yang bekerja sebagai polisi? Aku tidak takut!" ucap Min-jae.
Ji-hoon mengeluarkan jurus taekwondo yang dikuasainya. "Rasakan ini!" ucap Ji-hoon.

Shin Min-jae terjatuh setelah mendapatkan serangan hebat dari tubuh Kim Ji-hoon. Ji-hoon menarik tubuh So-ra dan menggenggamnya dengan erat. Teman dari Shin Min-jae lari sekuat tenaga melewati jalan kecil. Hanya tersisa Min-jae yang berusaha melawan Ji-hoon.

"Wah, hebat sekali pukulan anak ini!' ucap Min-jae.
"Kamu tidak tahu siapa aku? Aku ini pernah menjuarai kompetisi taekwondo antar sekolah," ucap Ji-hoon.
"Ada apa ini?" teriak kepala polisi Kim dari sudut jalan.
"Appa!" ucap Ji-hoon.
"Polisi Kim, kami sedang berlatih taekwondo disini," ucap Shin Min-jae.
"Benarkah?" tanya kepala polisi Kim.

Ji-hoon terdiam. Tatapan tajam dari kedua mata milik Shin Min-jae mengisyaratkan bahwa dirinya harus membuat alasan di depan ayahnya agar ayahnya tidak memenjarakan siapapun hari ini. Akhirnya, Ji-hoon terpaksa berbohong pada ayahnya.

"Iya, kami hanya main-main dan sedikit berlatih taekwondo disini," ucap Ji-hoon sambil mengeluarkan senyum yang agak dipaksa.
"Baiklah, ayah akan melanjutkan dinas. Sampai bertemu nanti malam di rumah!" ucap kepala polisi Kim.

Setelah kepala polisi Kim pergi mengendarai mobil dinas, Shin Min-jae bangkit dan mengancam Ji-hoon.

"Awas kalau sampai kamu melaporkan hal ini kepada ayahmu!" ucap Shin Min-jae sambil mendorong tubuh Ji-hoon.

***

Sudah tiga jam lamanya Ji-tae terbaring di atas kasur yang berada di kamar rumah sakit itu. Kepala polisi Kim masih duduk di samping kasur itu sambil merenung. Kepala polisi Kim tidak ingin kehilangan anaknya. Dirinya sudah terpukul atas kepergian istri tercintanya dua tahun yang lalu karena mengalami kanker.

"Appa, Ji-tae sudah sadar! Jari tangannya bergerak!" ucap Ji-hoon.
"Cepat panggilkan dokter!" ucap kepala polisi Kim.

Dokter Nam datang menuju ruang tempat Ji-tae berbaring. Dokter itu memeriksa keadaan Ji-tae setelah Ji-tae membuka kedua matanya.

"Anak bapak sudah sadar. Tekanan darah normal. Anak bapak hanya mengalami sedikit pusing dan ras asakit saja. Semoga dua hari kedepan anak bapak sudah pulih dan bisa pulang ke rumah," ucap dokter Nam.
"Terima kasih dokter!" ucap kepala polisi Kim.

Ji-hoon masih duduk di dalam ruang tempat Ji-tae berbaring. Dirinya masih memikirkan kejadian yang pernah terjadi empat tahun yang lalu. Mendengar nama ketua gangster yang mencelakakn kakak dan temannya itu, dirinya semakin yakin bahwa pelaku utamanya adalah orang yang sama dengan orang yang pernah dihajarnya empat tahun yang lalu.

"Shin Min-jae... Shin Min-jae... Aku rasa nama pria itu adalah Shin Min-jae," ucap Ji-hoon
"Siapa itu Shin Min-jae?" tanya kepala polisi Kim.
"Orang yang pernah ingin menculik So-ra empat tahun yang lalu. Ayah ingat tidak? Kalu tidak salah saat aku menghajar seorang senior di dekat sebuah restoran jajangmyun. Sore hari ketika pulang sekolah," ucap Ji-hoon.
"Hmm.. kalau tidak salah, saat kamu mengatakan bahwa kamu dan seniormu sedang berlatih taekwondo bersama?" tanya kepala polisi Kim.
"Ya! Sebenarnya saat itu aku menghajar dia karena dia terus menggoda So-ra. Orang itu ingin menarik rok yang dipakai oleh So-ra dan ingin mempermalukan So-ra di depan umum. Maafkan aku yang telah berbohong waktu itu," ucap Ji-hoon.
"Tidak apa-apa, ayah dan rekan ayah akan berusaha mencari pria itu. Sudah menjadi tugas kami untuk menangkap pelakunya," ucap kepala polisi Kim.
"Terima kasih!" ucap Ji-hoon.
"Dimana Kang So-ra?" ucap Ji-tae kepada Ji-hoon.
"Di ruang 302. Dia masih belum sadarkan diri," ucap Ji-hoon.

Ji-tae bangun dari atas kasur yang ditempatinya. Dipegangnya tiang infus seerat mungkin. Dirinya langsun berlari menuju kamar nomor 302.

"Hyung, kamu tidak boleh berlari!" ucap Ji-hoon.

Ji-hoon membuka pintu kamar 302 dan berlari untuk meraih tubuh Kang So-ra. Dipegangnya salah satu tangan So-ra dan dirinya langsung memeluk tubuh So-ra yang masih tak sadarkan diri.

Ji-hoon menyaksikan kejadian itu. Baru kali ini dirinya melihat So-ra dipeluk oleh seorang lelaki selain ayahnya. Setelah mengenalnya selama sepuluh tahun, baru kali ini gadis itu dipeluk oleh seorang lelaki selain ayahnya. Ji-hoon langsung mengalihkan pandangannya dari depan pintu kamar 302 dan lesu. Ternyata, dirinya dan kakak kembarnya menyukai wanita yang sama. Tinggal menunggu jawaban dari So-ra siapa yang akan dia pilih.

"Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa aku berbohong setiap hari? Bagaimana bisa aku tidak pernah mengatakan sedikitpun perasaanku? Aku menyukai orang itu," ucap so-ra yang sedang mabuk.
"Saranghae," ucap So-ra tiba-tiba.
"So-ra!" ucap Ji-hoon.

Semua kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepala Ji-hoon. Ji-hoon ingat betul apa yang pernah terucap dari mulut So-ra sebulan yang lalu. Ji-hoon masih penasaran, sebenarnya siapa pria yang dicintai oleh So-ra. Apakah dia atau kakak kembarnya?

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Short Story

Spring Love #1

00:00 Fu Xue Mei 1 Comments

Seoul, 2012

Kang So-ra, Kim Ji-hoon, dan Kim Ji-tae berjalan bersama di salah satu jalan raya di kota Seoul. Mereka bertiga baru saja kembali menyelesaikan aktivitas mereka di universitas S. Kim Ji-tae adalah mahasiswa tingkat dua jurusan teknologi informasi. Kim Ji-hoon, saudara kembar dari Kim Ji-tae mengambil jurusan seni musik, begitu juga dengan Kang So-ra yang mengambil jurusan seni musik.

"Haruskah kita pergi makan malam bersama?" tanya Ji-tae.
"Setuju!" ucap Kang So-ra.
"Ayo!" ucap Ji-hoon.

Ketiga sahabat itu pergi ke sebuah tempat makan di dekat kampus mereka. Tempat itu adalah sebuah restoran kecil yang terkenal dengan jajangmyun.

"Paman!" teriak So-ra.
"Annyeonghaseo!" ucap Ji-tae dan Ji-hoon bersamaan.
"Silahkan duduk!" ucap Kang Il-joon, paman dari So-ra.

Mereka bertiga menempati kursi yang terletak di dekat jendela. Tempat itu adalah tempat kesukaan So-ra sejak pertama kali masuk ke restoran milik pamannya. So-ra suka melihat apapun dari jendela itu.

"Ji-tae, kenapa kamu terlihat lesu seperti itu?" tanya So-ra.
"Aku rasa, percobaanku membuat sebuah aplikasi tidak berhasil," ucap Ji-tae.
"Bagaimana mungkin? Kamu kan jenius!" ucap Ji-hoon.
"Ah," desah Ji-tae.
"Anak muda, silahkan menikmati jajangmyun ini!" ucap paman Kang.
"Terima kasih paman!" ucap So-ra.

Paman Kang memegang nampan dan berjalan menuju dapur restoran itu. Para pegawai lainnya sibuk melayani tamu yang semakin banyak.

"Paman!" ucap Ji-tae.
"Ada apa?" tanya paman Kang.
"Aku ingin minum soju," ucap Ji-tae.
"Baiklah," jawab paman Kang.

Paman Kang berjalan menuju meja tempat ketiga anak muda itu menikmati jajangmyun. Setelah ketiga anak muda itu selesai menyantap jajangmyun, mereka meneguk segelas kecil soju.

"So-ra!" tegur Ji-hoon.
"Apa?" tanya Sora setengah mabuk.
"Hentikan! Sudah berapa kali kamu meneguk soju?" tanya Ji-hoon.

Kang So-ra menepis lengan Ji-hoon saat Ji-hoon ingin mengangkat gelas yang dipakai oleh So-ra untuk meneguk soju. Ji-hoon terkejut karena sahabat dekatnya itu tiba-tiba menepis tangannya.

"Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa aku berbohong setiap hari? Bagaimana bisa aku tidak pernah mengatakan sedikitpun perasaanku? Aku menyukai orang itu," ucap so-ra yang sedang mabuk.

Ji-hoon dan Ji-tae kaget bersamaan. Ji-hoon ingin memegang pergelangan tangan So-ra, tetapi Ji-tae melarangnya. Ji-tae takut biila tangan Ji-hoon akan ditepis lagi.

"Saranghae," ucap So-ra tiba-tiba.
"So-ra!" ucap Ji-hoon.

So-ra mabuk dan mual. Dirinya ingin memuntahkan isi perutnya. So-ra yang manis itu berjalan sendirian ke arah kamar mandi yang terletak di dekat dapur restoran itu.

"Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Ji-tae.
"So-ra sudah mabuk seperti itu," ucap Ji-hoon.

Ji-hoon menarik lengan So-ra ketika So-ra keluar dari kamar mandi. Ji-hoon membawanya ke depan restoran itu. Ji-tae memgang tas milik So-ra setelah membayar tagihan restoran itu.

"So-ra," ucap Ji-hoon.
"Biar aku saja yang menggendongnya!" ucap Ji-tae.
"Baiklah kakak," ucap Ji-hoon.

Ji-tae menggendong tubuh So-ra sambil berjalan menelusuri jalan itu. Rumah mereka berada pada jalan yang sama, tidak terlalu jauh dari restoran milik paman Kang. Mereka bertiga biasa berjalan kaki setiap ingin ke kampus karena jaraknya yang dekat.

"Saranghae," ucap So-ra sekali lagi.

***

So-ra terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak. Tubuhnya terasa lebih segar, seolah-olah seperti tidak terjadi apapun semalam.

"Bukankah semalam aku sedang makan jajangmyun?" pikir So-ra.

So-ra melihat jam yang tertulis pada ponselnya. Sudah jam delapan pagi. Hari ini So-ra dan Ji-hoon ada kelas jam satu siang.

"Halo!" ucap So-ra saat ada panggilan masuk.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya penelepon itu.
"Ji-tae!" teriak So-ra.
"Dia sudah bangun?" goda Ji-hoon.
"Hei!" ucap So-ra.
"Apakah kamu ingat apa yang kamu katakan semalam?" goda Ji-hoon.
"Memangnya aku mengatakan apa?" tanya So-ra sambil gugup.
"Perlu aku kasih tahu?" tanya Ji-hoon.
"Ji-hoon, hentikan!" ucap Ji-tae.
"Kenapa? Bukannya menarik?" tanya Ji-hoon.
"Berhentilah menggoda dia!" ucap Ji-tae.
"Sudah ya, aku mau mandi dulu!" ucap So-ra.
"So-ra!" ucap Ji-tae.
"Hei, kenapa kamu matikan loudspeaker-nya?" tanya Ji-hoon.
"Ya?" tanya So-ra.
"Mau menemaniku pergi ke toko buku? Aku perlu membeli buku tambahan untuk tugasku," ucap Ji-tae.
"Hari ini?" tanya So-ra.
"Iya, sebelum jam satu. Aku hari ini tidak ada kelas karena profesor Baek berhalangan hadir," ucap Ji-tae.
"Hmmm, baiklah!" ucap So-ra.
"Aku jemput jam sepuluh ya!" ucap Ji-tae.
"Oke!" ucap So-ra.

Ji-tae mematikan layar ponselnya, lalu meletakan ponselnya di atas meja belajarnya. Ji-hoon masih duduk di atas ranjangnya sambil memasukan buku catatannya ke dalam tasnya.

"Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Ji-hoon.
"Bukannya kamu bilang hari ini kamu ingin bertemu pasangan duetmu?" tanya Ji-tae.
"Ya ampun! Aku membuat janji jam sembilan pagi hari ini di kampus," ucap Ji-hoon.
"Cepat berangkat sana!" ucap Ji-tae.
"Oke hyung!" ucap Ji-hoon.

***

So-ra berdiri di depan rak sepatu milik keluarganya. So-ra memilih-milih sepatu mana yang akan dia pakai hari ini. Akhirnya, So-ra memutuskan untuk memakai sepatu warna cokelat yang terletak pada susunan kedua dari atas.

"Cantik sekali anakku hari ini!" ucap ibu So-ra.
"Eomma!' ucap So-ra.
"Kamu mau ke kampus?" tanya ibu So-ra.
"Iya! Aku berangkat dulu ya!" ucap So-ra.
"So-ra, bawa ini!" ucap ibu So-ra sambil memberikan sebuah kantong yang berisi beberapa tempat makan.
"Apa ini?" tanya So-ra.
"Bekal untukmu. Eomma tidak ingin melihat kamu kurang makan. Makanlah makanan ini dengan temanmu," ucap ibu So-ra.
"Terima kasih!" ucap So-ra.

Ting tong.....

"Iya!" ucap So-ra dari dalam rumahnya.

Kim Ji-tae membuka pintu rumah So-ra. So-ra memakai sepatu cokelat yang hampir tidak pernah dipakainya. Sepatu itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas dari si kembar Kim. Sepatu itu tersimpan rapih pada kotaknya.

"So-ra!" ucap Ji-tae saat tak sengaja membuka pintu dan pintu itu menabrak wajah cantik So-ra.
"Ji-tae!" ucap So-ra sambil berusaha berdiri setelah tertabrak pintu.

Ji-tae mengulurkan tangan kanannya untuk membantu So-ra berdiri. "Mianhae," ucap So-ra sambil menatap wajah Ji-tae yang manis.

So-ra dan Ji-tae berjalan bersama menuju toko buku langganan mereka. So-ra merasa nyaman saat berjalan bersama Ji-tae maupun bersama Ji-hoon. Keduanya merupakan teman yang baik baginya.

"Memangnya semalam aku mengatakan apa?" tanya So-ra.
"Apakah kamu penasaran?" tanya Ji-tae.
"Ya, aku memang mudah penasaran," ucap So-ra.
"Nanti kapan-kapan aku kasih tahu. Sekarang jangan dibahas lagi," ucap Ji-tae.
"Baiklah!" ucap So-ra.
"So-ra, hari ini kamu terlihat beda sekali," ucap Ji-tae.
So-ra tersenyum sendirian tanpa mengatakan sepatah katapun padanya. "Akhirnya kamu mau memakai sepatu itu!" ucap Ji-tae.
"Maaf kalau aku baru memakainya hari ini," ucap So-ra.
"Ah, tidak apa-apa!" ucap Ji-tae.

Flashback
April 2009

"Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun So-ra..... Selamat ulang tahun!" ucap Ji-hoon.

Ji-tae membawa sebuah kue cokelat kesukaan So-ra dari depan kedai jajangmyun milik paman Kang. Lilin yang terpasang sudah menyala. Kue itu diletakan di atas meja dan So-ra meniup lilin itu.

"Selamat ya!" ucap Ji-tae.
"Terima kasih!" ucap So-ra.
"So-ra, ini ada hadiah untukmu. Semoga ukurannya pas," ucap Ji-hoon.
"Apa itu?" tanya So-ra.
"Sepatu. Aku ingin kamu sedikit berubah. Jangan memakai sneakers setiap hari," ucap Ji-hoon.
"Apa?" ucap So-ra kaget.
"Bagus tidak? Ji-tae yang memilihkan modelnya," ucap Ji-hoon.
"Iya, bagus kok!" ucap So-ra.
"Kamu suka?" tanya Ji-hoon.
"Suka! Sepatu itu adalah hadiah dari kalian berdua?" tanya So-ra.
"Sebenarnya..."
"Iya, hadiah dari kami berdua!" ucap Ji-tae.
"Gomawo," ucap So-ra.

So-ra merangkul kedua sahabat dekatnya itu dan mengatakan sesuatu. "Kalian berdua adalah hadiah terhebat yang diberikan Tuhan padaku."

***

Setelah keluar dari toko buku, Ji-tae mengajak So-ra untuk pergi menuju gedung fakultas sains. Sebenarnya, selama setahun penuh dirinya mencari ilmu di universitas S, dirinya belum pernah masuk ke dalam gedung sains. Ji-tae selalu menunggu So-ra di taman kampus.

"Wah, banyak sekali mahasiswa berpakaian putih berkeliaran disini," ucap So-ra.
"Ayo kita duduk di kursi kosong itu!" ucap Ji-tae.

So-ra dan Ji-tae duduk di salah satu kursi kosong. So-ra mengeluarkan tempat makan dari dalam kantong yang diberikan oleh ibunya pagi ini.

"Ji-tae, makanlah!" ucap So-ra.
"Apa ini?" tanya Ji-tae.
"Eomma membawakan ini untukmu," ucap So-ra.
"Sampaikan terima kasihku padanya," ucap Ji-tae.

Kim Ji-tae makan siang bersama dengan So-ra. Banyak orang lalu lalang yang memperhatikan mereka berdua. Ji-tae terkenal karena dirinya yang pintar, sehingga banyak orang yang mengenal dirinya.

"Ji-tae!" ucap salah satu teman kuliahnya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Ji-tae.
"Ji-tae, aku sudah membawakan makan siang untukmu," ucap gadis itu.
"Jung Min-ji, kamu tidak lihat kalau aku sedang makan siang? Makanan ini enak loh!" ucap Ji-tae.
"Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku membuat makanan ini?" tanya Min-ji.
"Makan saja dengan teman lain," ucap Ji-tae.
"Susah sekali diajak makan!" ucap Min-ji. Min-ji pergi meninggalkan Ji-tae dan So-ra.
"Siapa gadis itu?" tanya So-ra.
"Ah, dia teman anak teknik kimia," ucap Ji-tae.
"Dia sering menemuimu?" tanya So-ra.
"Iya, dia sering mendatangiku, tapi aku tidak mau dengannya," ucap Ji-tae.
"Kenapa?" tanya So-ra.
"Karena ada gadis lain yang aku suka," ucap Ji-tae.
"Wah, beruntung sekali gadis itu!" ucap So-ra.
"So-ra!" ucap Ji-tae.
"Ya?" tanya So-ra.
"Ada saus di dekat bibirmu!" ucap Ji-tae.

So-ra mecari-cari tissiu di dalam tasnya, namun dia tidak membawa selembar tissue. Ji-tae mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya. Ji-tae membersihkan saus itu dan memandangi So-ra sesaat. Ji-tae mendekati wajah So-ra, sehingga So-ra sedikit kaget.

Kim Ji-hoon melihat Ji-tae dan So-ra secara tidak sengaja. "So-ra!" teriak Ji-hoon.

Ji-tae memundurkan wajahnya dan manjauhkan pandangannya dari arah wajah cantik Kang So-ra. Sapu tangan yang dipegangnya dimasukan kembali ke dalam tasnya.

"Ji-hoon, ada apa?" tanya So-ra.
"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu ada di gedung ini," ucap Ji-hoon.
"Ada apa?" tanya So-ra.
"Cepat! Aku dengar hari ini akan ada kuis dadakan. Kyung-min tidak sengaja melihat judul soal kuis di meja kerja profesor yoon," ucap Ji-hoon.
"Ji-tae, aku pergi dulu ya!" ucap So-ra.
"Terima kasih untuk makan siangnya ya!" ucap Ji-tae.

Ji-hoon dan So-ra berjalan secara cepat menuju kelas mereka karena kelas akan dimulai lima menit lagi. Ji-hoon takut jika So-ra terlambat dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti kuis.

BERSAMBUNG.....

1 komentar: