Novel

You are You - 11

22:21 Melissa Dharmawan 0 Comments

Hari ini adalah hari minggu, dua hari setelah Yoon-bi dan Yoon-na berulang tahun. Hari ini seluruh anggota hadir. Eomma, Jong-seok, calon ayah angkat, dan mereka mengundang Yi-an.

"Minggu depan eomma dan appa akan menikah. Mulai hari ini, Eomma tinggal di rumah ini. Butik sudah tutup sejak kemarin dan bulan depan eomma akan membuka butik baru di Seoul," ucap Kyo Eun-ri.
"Chukkae, bu-in, nim!" ucap Yi-an.
"Gamsahabnida, Yi-an!" ucap Kyo Eun-ri.

Semua anggota keluarga dan Yi-an melanjutkan acara makan malam bersama. Hari ini Jong-seok memasak makanan yang sangat enak. Semua anggota menyukai masakannya.

"Yoon-bi, apakah kamu sudah ingat tentang Yi-an?" tanya Yoon-na.
"Hanya ingat sedikit, saat pertama kali bertemu," ucap Yoon-bi.
"Wah, ingatanmu sudah mulai kembali!" ucap Jong-seok.
"Hanya sedikit," ucap Yoon-bi.

Setelah selesai makan malam bersama, Yoon-bi duduk di kursi depan rumah. Yi-an keluar dari rumah dan ikut duduk di kursi yang sama dengan Yoon-bi.

"Yi-an, tolong jangan terlalu dekat," ucap Yoon-bi.
"Wae?" tanya Yi-an.

Yoon-na membawa nampan berisi gelas-gelas berisi jus jeruk. Saat Yoon-na ingin mengantarkan kepada Yoon-bi dan Yi-an, dia tidak sengaja mendengar percakapan diantara mereka berdua.

"Aku tahu kalau kamu menyukaiku. Kamu pernah mengatakannya waktu kita masih kecil di pinggir sungai Han bahwa kamu menungguku hingga kita besar dan selalu ingin bersama denganku. Benar kan? Sekarang, rasanya aku egois jika aku datang setelah tujuh tahun menghilang, lalu aku merebut semuanya dari kakak kembarku. Dia menyukaimu, Yi-an! Dia menyukaimu. Mianhae, aku tidak bisa memegang janjiku tujuh tahun yang lalu, saat aku mengatakan bahwa aku juga aka nselalu bersamamu. Tidak adil aku merebut perasaan orang yang sudah menunggumu sejak masuk sekolah menengah pertama. Aku membaca buku harian Yoon-na yangtak sengaja aku temukan di salah satu laci. Dia bilang, dia selalu menunggumu," ucap Yoon-bi.

Yoon-na kaget mendengar semua yang dikatakan oleh adik kembarnya itu. Yoon-na memang menyukai Yi-an, tapi dia tidak pernah berani mengatakannya. Baru saja dia ingin mengatakan bahwa Yoon-bi seharusnya menerima perasaan Yi-an, tapi Yoon-bi malah menceritakan isi buku harian itu.

"Mianhae," ucap Yoon-bi sambil menangis.
"Jangan merasa bersalah!" ucap Yi-an.
"Yoon-bi!" ucap Yoon-na sambil menganarkan dua gelas jus jeruk kepada Yoon-bi dan Yi-an.
"Eonni!" ucap Yoon-bi.
"Yoon-na, apakah yang dikatakan oleh Yoon-bi benar?" tanya Yi-an.
"Ye! Tapi, hari ini aku ingin memberikan hadiah ulang tahun paling untuk Yoon-bi.
"Apa itu?" tanya Yoon-bi.
"Aku ingin memberikan semua perasaanku kepadamu. Aku ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Aku ingin Yi-an menjadi pelindungmu. Aku tahu, bahwa sulit sekali menjadi dirimu, apalagi di hadapan Hye-jin. Aku tidak tega mendengar semua cerita yang kamu ceritakan padaku. Rasanya, lebih tidak adil kalau aku merebut perasaanmu. Tanpa kamu bilang, aku tahu bahwa kamu menyukai Yi-an. Kamu menyukainya sejak pindah kesini bulan lalu. Tolong terima dia," ucap Yoon-na.

Yi-an jadi bingung dan canggung. Yoon-bi juga. Yoon-bi bingung kenapa Yoon-na memberikan semua perasaannya kepadanya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Yoon-bi.
"Ye!" jawab Yoon-na.
"Yi-an..." ucap Yoon-bi.

Yi-an menatap Yoon-bi saat Yoon-bi menyebutkan namanya. Yi-an memegang kedua bahu Yoon-bi dan mendekatinya. Yi-an mencium Yoon-bi di depan ointu rumahnya. Jong-seok melihat kejadian itu melalu jendela ruang tamu.

"Bahagialah dengan Yi-an," ucap Yoon-na.
"Gomawo, eonni!" ucap Yoon-bi.

***

"Yoon-bi, nilai matemaikamu hampir sempurna," ucap Hye-jin saat melewati tempat duduk Yoon-bi.
"Wae?" tanya Yoon-bi.
"Apakah kamu mencuri soal atau mendekati guru untuk mendapat nilai bagus?" tanya Hye-jin.
"Hye-jin! Kenapa kamu menuduhku seperti itu?" tanya Yoon-bi.
"Lee Yoon-bi! Kamu belum puas? Disini kamu mendapat banyak sekali teman. Semuanya bisa bersikap manis terhadapmu. Apakah kamu memaksam ereka untuk berteman denganmu?" tanya Hye-jin.
"Choi Hye-jin! Ternyata kamu rebih rendah dari pada apa yang aku kira. Kamu mengatakan bahwa aku pecundang. Sekarang, tak ada yang mau berteman denganmu kecuai sepupumu. Siapa yang pecundang, huh?" ucap Yoon-bi.

Hye-jin mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar pipi Yoon-bi. Saat dia melayangkan tangan kanannya, tiba-tiba sepupunya itu datang dan menahan tangannya.

"Hentikan!" ucap Kang Gang-so.
"Wae?" tanya Choi Hye-jin.
"Kamu sudah keterlaluan!" ucap Gang-so.
"Mwe? Hyung, apakah kamu membela dia karena kamu menyukainya?"
"Mwe?" tanya Gang-so.

Yoon-bi berjalan keluar kelas dengan cepat. Gang-so mengejarnya. Yi-an yang sedang membawa sebuah buku dari perpustakaan kaget dan melihat bahwa ada yang tidak beres.

"Ada apa ini?" tanya Yi-an sebagai ketua kelas.

Yi-an melihat ekspresi wajah Yoon-bi dan mulai mengerti. Pasti Yoon-bi mertengkar dengan Hye-jin lagi.

***

Siang ini guru Kim, Yi-an, Gang-so, dan Hye-jin berada di ruang kepala sekolah. Kepala sekolah Choi melihat ada keributan melalui CCTV. Sekarang, beliau sudah tahu siapa anaknya.

"Yoon-bi, apakah benar bahwa kamu pernah mencuri soal sehingga kamu mendapatkan nilai tertinggi di kelas?" tanya kepala sekolah Choi.
"Ani! Aku tidak melakukan kesalahan," ucap Yoon-bi.
"Yi-an, sebagai ketua kelas, tolong ceritakan semua ini seperti apa yang aku dengar darimu," ucap guru Kim.
"Anak anda telah melakukan kejahatan terhadap Yoon-bi. Dia selalu membuat Yoon-bi tersiksa selama sebulan ini. Bukan hanya itu, sewaktu anak anda dan Yoon-bi satu sekolah di Incheon, Hye-jin menyiksa Yoon-bi lebih parah lagi," ucap Yi-an.
"Choi Hye-jin!" ucap kepala sekolah Kim.
"Appa... Tidak seperti itu," ucap Hye-jin berusaha mengelak.
"Sejak kapan aku mengajarimu untuk berbuat kasar dengan orang lain?" tanya kepala sekolah Choi.
"Appa..." ucap Hye-jin.
Mulai sekarang, aku tidak akan mempedulikan kehidupanmu lagi. Setelah pulang sekolah, langsung pulang! Aku tidak akan menanyakan bagaimana harimu di sekolah. Aku tidak tahu mau diletakkan dimana mukaku ini. Guru Kim, tolong pindahkan anak saya ke kelas 2-2 saja," ucap kepala sekolah Choi.
"Ye!" ucap guru Kim.

Semua orang keluar dari ruang kepala sekolah kecuali kepala sekolah Choi. Hari ini, Hye-jin dimarahi oleh ayahnya sendiri.

***

"Yi-an, gomawo!" ucap Yoon-bi.
"Gwaenchanh-a?" tanya Yi-an.
"Ye! Nan gwaenchanh-a," ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi..." ucap Yi-an sambil sedikit menangis.

Yi-an memeluk Yoon-bi di pinggir sungai Han. Hari ini, tepat sudah lewat tujuh tahun semenjak Yi-an mengatakan bahwa dia selalu menunggu Yoon-bi. Dulu, Yi-an mengatakan di tempat ini, pinggi sungai Han.

"Yoon-bi, aku selalu menunggumu," ucap Yi-an.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku!" ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi, apakah kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Yi-an.
"Ye! Kita dulu pernah ke tempat ini beberapa kali dan kamu pernah memintaku untuk bersamamu. Kamu berjanji akan selalu menungguku. Mianhae, aku tidak ada di sisimu selama tujuh tahun ini, karena lima hari setelah hari itu aku mengalami kecelakaan," ucap Yoon-bi.
"Gwaenchanh-a! Kembalinya dirimu ke Seoul adalah hadiah terbaik setelah tujuh tahun kita berpisah," ucap Yi-an.
"Yoon-na, terima kasih sudah mau menerima perasaanku hari ini," ucap Yi-an.
"Nega joa," ucap Yoon-bi.

Yoon-bi dan Yi-an berpelukan di pinggir sungai Han pada malam ini. Suasana menjadi romantis. Yoon-bi dan Yi-an berjanji untuk saling menjaga satu sama lain.

TAMAT

0 komentar:

Novel

You Are You - 10

23:15 Melissa Dharmawan 0 Comments

"Yoon-bi, kamu baik-baik saja?" tanya Yoon-na sambil memberesan tumpukan buku di atas meja belajarnya.
"Aku baik-baik saja," ucap Yoon-bi.
"Kamu tidak ingin pindah sekolah atau melapor ke guru Kim?" tanya Yoon-na.
"Ani! Aku tidak mau dikeluarkan dari sekolah untuk yang ke dua kalinya," ucap Yoon-bi.
"Kamu itu tidak salah! Kepala sekolah harus tahu kalau Hye-jin jahat," ucap Yoon-na.
"Entahlah, aku merasa bahwa aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah," ucap Yoon-bi.

Yoon-na melanjutkan kerjaannya. Yoon-bi hanya berbaring di atas kasur. Yoon-na memnag terlihat lebih rajin dalam merapihkan meja, tapi Yoon-bi lebih pintar di kelas dibandingkan dengan Yoon-na.

"Yeoboseo?" ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi, saeng-il chughahabnida! Mianhae, tadi aku tidak masuk sekolah karena aku mengurusi untuk perlombaan bulutangkis dua minggu lagi," ucap Yi-an.
"Gomawo! Kamu sudah memberi ucapan pada Yoon-na?" ucap Yoon-bi.
"Tadi sewaktu kamu lagi mandi, aku meneleponnya," ucap Yi-an.
"Oh," jawab Yoon-bi.
"Yoon-bi, mau jalan-jalan?" tanya Yi-an.
"Ye!" ucap Yoon-bi.

Yoon-bi mengganti bajunya dan keluar dari kamarnya. Jong-seok yang sedang membaca buku di sofa melihat Yoon-bi berjalan meuju pintu rumah.

"Mau jalan-jalan?" tanya Jong-seok.
"Mmm... Yi-an meneleponku," ucap Yoon-bi.
"Kamu tidak ingin mencoba masakanku? Aku memasaknya karena hari ini adalah hari ulang tahunmu," ucap Jong-seok.
"Hyung makan saja dengan Yoon-na," ucap Yoon-bi.

Yoon-bi langsung keluar dari rumah dan meninggalkan Jong-seok di ruang tengah.

***

"Yoon-bi, kamu baik-baik saja?" tanya Yi-an
"Ye! Aku bisa menghadapi semua itu," ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi!" ucap Yi-an sambil berdiri di depan badan Yoon-bi.
"Mwe?" tanya Yoon-bi.
"Aku ingin jadi pelindungmu!" ucap Yi-an kepada Yoon-bi.
"Wae?" tanya Yoon-bi.

Yi-an membelai pipi Yoon-bi yang diam-diam basah selama mereka berjalan bersama di pinggir sungai Han. Yoon-bi hanya menatap Yi-an dan bingung.

"Karena.... Karena aku sayang kamu. Selama ini, hanya aku yang tidak pernah berpikir bahwa kalu meninggal. Aku selalu berpikir bahwa kamu baik-baik saja dan kita masih bisa bertemu. Aku sayang kamu sejak dulu," ucap Yi-an sambil mentapa Yoon-bi.
"Yi-an, aku tidak bisa menerima perasaanmu sekarang," ucap Yoon-bi.
"Wae?" tanya Yi-an.

Yoon-bi berpikir sejenak. Dia tidak tahu ingin mengatakan apa. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.

"Mmm.. Aku hanya siswa pindahan yang pernah dibully. Tidak ada yang spesial dengan diriku. Bahkan, aku tidak pernah berpikir mengenai jatuh cinta. Lalu, bagaimana dengan Yoon-na?" tanya Yoon-bi.

Yoon-bi menyadari bahwa dia salah bicara. Dia tidak ingin mengatkaan bahwa saudara kembarnya menyukai Yi-an karena, sebenarnya Yoon-bi mulai tertarik dengan Yi-an.

"Aku dan Yoon-na tidak ada perasaan apa-apa. Yoon-bi...." ucap Yi-an.

Yi-an memegang kedua pundak Yoon-bi dan menghapus air matanya. Setelah itu, Yi-an menggenggam tangan Yoon-bi dan mengajaknya berjalan sebentar.

"Yoon-bi," ucap Yi-an.
"Mwe?" tanya Yoon-bi.

Yi-an berdiri di depan Yoon-bi dan memegang wajah Yoon-bi, lalu menciumnya. Yoon-bi kaget. Yoon-bi tidak menyangka bahwa Yi-an sangat menyukainya sejak kecil. Yoon-bi tidak mengingat masa kecilnya bersama Yi-an, sehingga Yoon-bi sangat bingung. Baginya, Yi-an hanyalah teman yang baru dikenalnya dalam satu bulan ini.

Jong-seok berdiri di pinggir sungai Han sendirian. Jong-seok tak sengaja melihat Yoon-bi dan Yi-an sedang ada di pinggir sungai Han. Jong-seok kaget saat melihat Yi-an mencium Yoon-bi.

"Ne... Nega Joa..." ucap Yi-an.

Jong-seok mendengar kaliamt itu dan kaget. Jong-seok langsung berlari menuju rumah dan duduk di sofa di lantai 1.

"Hyung, kenapa resah seperti itu?" tanya Yoon-na saat sedang membersihkan piring dan gelas di meja dapur.
"Yoon-bi..." ucap Jong-seok.
"Mwe? Ada apa dengan Yonn-bi?" tanya Yoon-na penasaran.
"Yi-an mencium Yoon-bi," ucap Jong-seok.
"Mwe?" ucap Yoon-na. Yoon-na kaget dan dia tidak melanjutkan kerjannya untuk mengelap semua piring yang basah.
"Yoon-na, kamu baik-baik saja?" tanya Jong-seok.

Yoon-na langsung berjalan menuju tangga dan naik ke lantai atas. Jong-seok berjalan menuju meja dapur dan melanjutkan pekerjaan Yoon-na yang tidak diselesaikannya.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

You Are You - 9

13:33 Melissa Dharmawan 0 Comments

Yi-an berdiri di depan pintu rumah Yoon-na untuk bertemu dengan Yoon-bi. Yoon-bi diajak bertemu dengan Yi-an oleh Yoon-na.

"Kamu lagi?" tanya Yoon-bi.
"Kalian pernah bertemu?" tanya Yoon-na.
"Minggu lalu, aku bertemu dengannya di pinggir sungai Han. Aku pernah bilang padamu, bahwa aku salah mengira. Aku kira, Yoon-bi waktu itu adalah Yoon-na," jawab Yi-an.
"Yoon-bi, ini adalah Yi-an, teman kita sewaktu masih kecil. Kalian dulu sangat dekat," ucap Yoon-na.
"Benarkah? Aku dulu punya teman yang sangat dekat?" tanya Yoon-bi penasaran.
"Ye!" ucap Yoon-na.
"Sepertinya, aku sudah bisa mengingat sedikit-sedikit tentang masa kecilku," ucap Yoon-bi.
"Baguslah! Kalian pergi jalan-jalan saja, aku ingin mengobrol dengan hyung," ucap Yoon-na.

Yi-an dan Yoon-bi jalan kaki bersama. Mereka mengobrol dan Yi-an menceritakan masa lalu mereka agar Yoon-bi semakin ingat.

"Yoon-bi, apa yang membuatmu beberapa kali memandangi sungai Han pada malam hari?" tanya Yi-an.
"Aku merasa bahwa sungai Han begitu dekat denganku. Aku merasa bahwa aku punya kenangan di sana," ucap Yoon-bi.
"Waktu kecil, kita sering berdiri di pinggir dungai Han," ucap Yi-an.
"Lalu?" tanya Yoon-bi.
"Aku pernah berjanji bahwa saat kamu ulang tahun yang berikutnya, aku ingin mengajakmu ke pinggir sungai Han berdua," ucap Yi-an.
"Benarkah?" tanya Yoon-bi.
"Ye! Bulan depan kan kamu ulang tahun. Maukah kita jalan-jalan di sekitar sungai Han?" tanya Yi-an.
"Mmm..." ucap Yoon-bi sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu akan masuk di sekolah yang sama dengan Yoon-na?" tanya Yi-an.
"Ye! Aku akan masuk di sekolah Chungdam," ucap Yoon-bi.
"Wah, kita satu sekolah," ucap Yi-an.
"Yi-an, mianhae! Waktu minggu lalu, aku memarahimu dan memintamu pergi jauh dariku. Sekarang, saat mengobrol denganmu, aku merasa nyaman sekali," ucap Yoon-bi.
"Tak apa!" jawab Yi-an.

Yi-an dan Yoon-bi terus berjalan hingga melewati taman. Mereka duduk debentar di salah satu kursi untuk mengobrol lagi.

***

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Mari perkenalkan diri kamu!" ucap guru Kim.
"Annyeohaseo," ucap Yoon-bi.
"Wah, dia mirip sekali dengan Yoon-na!" ucap Gang-so.
"Nama saya Gi Yoon-bi," ucap Yoon-bi.

Setelah surat adopsi diperbaharui, Yoon-bi mengubah namanya dari Lee Yoon-bi menjadi Gi-Yoon-bi, mengikuti nama keluarga dari calon ayah angkatnya. Yoon-bi senang bisa mempunyai nama depan yang sama dengan Yoon-na.

"Silahkan kamu duduk di kursi kosong itu!" ucap guru Kim sambil menunjuk pada kursi kosong di samping Yi-an.

"Baek Yi-an! Sebagai ketua kelas, tolong bimbing Gi Yoon-bi sampai kenaikan kelas," ucap guru Kim.
"Ye!" jawab Yi-an.

"Kelas 2-1, aku ada urusan di ruang guru. Tolong kerjakan soal latihan yang aku berikan kemarin," ucap guru Kim.

"Ye!" ucap para murid dalam kelas 2-1.

***

"Kalian saudara kembar?" tanya Chae-rin.
"Ye!" jawab Yoon-bi.
"Sebelumnya, kamu tidak tinggal di Seoul?" tanya Chae-rin.
"Aku dari Incheon. Menurut kata Yoon-na, aku kabur dari rumah dan diselamatkan oleh seoranng ibu pemilik panti asuhan," ucap Yoon-bi.
"Chae-rin, dia dulu kecelakaan dan amnesia," ucap Yoon-na.
"Oh," ucap Chae-rin.

Yoon-bi meulai beradaptasi dengan sekolah barunya dan teman-teman barunya. Hari ini adalah hari pertama dia bersekolah di sekolah ini.

"Yoon-bi, Jung-seok ada di kelas mana?" tanya Yoon-na.
"Di kelas 2-3," jawab Yoon-bi.
"Yoon-bi!" panggil Yi-an.
"Ada apa?" tanya Yoon-bi.
"Kita keliling yuk! Aku akan kasih tau ruang-ruang di sekolah ini," ucap Yi-an.
"Baiklah," ucap Yoon-bi.

Yoon-bi dan Yi-an berkeliling ke beberapa ruangan di sekolah. Saat masuk ke perpustakaan, tiba-tiba mereka bertemu dengan Jong-seok.

"Yi-an, kenapa kamu mendekati Yoon-bi terus?" tanya Jong-seok.
"Karena kami teman," jawab Yi-an.

Yoon-bi mengambil salah satu buku di lemari perpustakaan dan tak sengaja menabrak seseorang di depannya.

"Mianhae," ucap Yoon-bi.
"Kamu murid pindahan atau Yoon-na?" tanya Gang-so.
"Yoon-bi," jawab Yoon-bi.
"Namaku Kang Gang-so," ucap Gang-so.

Yi-an dan Jong-seok melihat Gang-so mendekati Yoon-bi. Terlintas di pikiran Yi-an bahwa Gang-so menyukai Yoon-bi.

"Mari kita pergi ke ruang makan!" ajak Gang-so.
"Ye!" ucap Yoon-bi.

Yoon-bi pergi berdua dengan Gang-so, meninggalkan Yi-an dan Jong-seok di perpustakaan. Yi-an dan Jong-seok menyusul mereka ke ruang makan untuk mengmabil makan siang juga.

"Yoon-na!" panggil Yi-an.

Yoon-na yang sedang berdiri membawa piring, langsung menuju meja makan yang ditempati oleh Yi-an dan Jong-seok.

"Hyung, Yoon-bi kemana?" tanya Yoon-na.
"Itu dia!" ucap Jong-seok saat mlihat Yoon-bi dan Gang-so jalan berdua.
"Yoon-bi!" ucap Yoon-na.

Yoon-bi membawa piring dan langsung duduk di kursi yang ada di samping Yoon-na, disusul oleh Gang-so yang duduk di depan Yoon-bi.

"Gang-so, sejak kapan kamu mengikuti wanita?" tanya Yoon-na curiga.
"Ani! Aku tidak mengikuti siapa-siapa," jawab Gang-so.
"Yoon-bi, kenapa makananmu tidak dihabiskan?" tanya Yoon-na.
"Berikan padaku jika tidak habis!" ucap Gang-so.
"Hei Gang-so! Kamu banyak makan juga," ucap Yi-an.
"Daebak! Enak sekali makanan ini," ucap Gang-so.

Yoon-bi berdiri dari tempat duduknya sambil membawa piring dan meninggalkan meja makan itu. Yoon-bi malas dengan semuanya.

(flashback)
"Lee Yoon-bi mau pindah ke seoul? Hah? Masuk sekolah Chungdam?" ucap Hye-jin sambil tertawa.
"Kenapa?" tanya Yoon-bi.
"Aku punya sepupu namanya Kang Gang-so. Tadinya, aku ditawari tinggal dengannya dan masuk sekolah itu, tapi aku menolaknya. Mendengarmu akan masuk sekolah itu, membuatku ingin menarik kembali ucapanku dan pindah ke sana. Tenang saja, kalau appa jadi dipindahkan ke Chungdam, aku juga akan pindah," ucap Hye-jin.
"Choi Hye-jin! Jangan macam-macam!" ucap Yoon-bi.
"Well, kita lihat saja nanti! Selamat pergi dari sekolah," ucap Hye-jin kepada Yoon-bi saat mereka bertemu setelah Yoon-bi dikeluarkan dari sekolah.

***

"Kamu sudah dengar berita bahwa hari ini kepala sekolah kita sudah habis masa periodenya?" tanya Ji-dam kepada Gang-so.
"Akan ada kepala sekolah baru?" tanya Gang-so.
"Ye! Namanya kalau ga salah, Choi Dong-seok," ucap Ji-dam.

Yoon-bi mendengar gosip yang beredasr di kelasnya itu. Hari ini akan ada kepala sekolah baru, kepala sekolah Choi, ayah dari Choi Hye-jin. Itu berarti, Choi Hye-jin bersekolah di Chungdam hari ini.

"Anak-anak, hari ini ada murid baru di kelas kita," ucap guru Kim.

Murid baru itu memasuki ruang kelas 2-1. Murid itu adalah Choi Hye-jin.

"Annyeo, namaku Choi Hye-jin," ucap Hye-jin.

Yoon-bi mulai kaget. Kenapa Hye-jin satu kelas dengannya? Kenapa anak menyebalkan itu bertemu dengannya lagi?

Hye-jin melihat Yoon-na dan Yoon-bi. Hye-jin diam-diam senang, karena dia tidak hanya mengganggu Yoon-bi, tapi dia bisa mengganggu dua orang sekaligus.

"Kita bertemu lagi!" ucap Hye-jin di hadalan Yoon-bi saat berjalan melewati kursi Yoon-bi.
"Kelas kita hari ini sampai disini. Jangan lupa kerjakan PR kalian!" ucap guru Kim.
"Ye!" jawab anak-anak.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

You Are You - 8

22:14 Melissa Dharmawan 0 Comments

Malam ini adalah malam ke dua bagi Jong-seok dan Yoon-bi di Seoul. Jong-seok masih mencari Yoon-bi dan Yoon-bi tidak tahu bahwa kakak angkatnya ada di Seoul.

Jong-seok menunggu Yoon-bi di pinggir sungai Han, bersama dengan Yi-an. Yi-an percaya bahwa gadis yang dia lihat semalam adalah Yoon-bi, bukan orang lain lagi.

Yoon-bi bru pulang setelah bekerja menjadi petugas kasir di sebuah cafe. Yoon-bi berjalan kaki melewati pinggir sungai Han.

Yi-an melihat gadis itu di pinggir sungai Han sedang memandang ke arah sungai sendirian. Gadis itu Yoon-na atau Yoon-bi?

Yi-an mendekayi gadis itu dan menepuk pundaknya. Yi-an memanggil gadis itu dengan nama Yoon-na, untuk memastikan apakah gadis itu Yoon-na atau bukan.

"Yoon-na!" ucap Yi-an.

Jong-seok melihat Yoon-bi dan seseorang pria yang sama seperti kemarin malam. Pria itu memanggil Yoon-bi dengan nama Yoon-na.

"Kamu lagi? Aku tidak kenal denganmu dan Yoon-na!" ucap Yoon-bi sambil menepis tangan Yi-an yang ingin menyentuh tubuhnya.

"Kamu bukan Yoon-na?" tanya Yi-an.
"Pergi dariku!" ucap Yoon-bi.
"Kamu pasti Yoon-na kan? Sikapmu selalu dingin seperti itu," ucap Yi-an.
"Jangan sentuh aku! Aku bukan temanmu!" ucap Yoon-bi.
"Kamu bukan Yoon-na? Apakah kamu adalah Yoon-bi?" tanya Yi-an.
"Yoon-bi!" ucap Jong-seok.
"Hyung?" ucap Yoon-bi kaget.

Yoon-bi berjalan ke arah Jong-seok dan Jong-seok memeluk adik angkatnya itu. Yi-an kaget. Sejak kapan Yoon-bi punya kakak?

"Kamu baik-baik saja? Ayo, eomma menunggumu di rumah. Tidak seharusnya kamu kabur dari rumah seperti ini!" ucap Jong-seok kepada Yoon-bi.
"Mianhae, tapi aku belum ingin pulang. Semuanya sulit bagiku," ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi, siapa pria itu?" tanya Jong-seok.
"Aku tidak tahu," jawab Yoon-bi.
"Kamu siapa?" tanya Jong-seok kepada Yi-an.
"Baek Yi-an, teman lama Yoon-bi," ucap Yi-an.
"Teman lama? Dia bilang, dia tidak mengenalmu," ucap Jong-seok.
"Jangan dekati aku!" ucap Yoon-bi.
"Ada apa ini? Yoon-bi, apakah kamu benar-benar tidak mengingatku?" tanya Yi-an.
"Ani! Ini baru kedua kalinya aku pergi ke Seoul," ucap Yoon-bi.
"Mwe? Apa kamu sudah melupakan semuanya?" tanya Yi-an.
"Yi-an, mari kita bicara dulu," ucap Jong-seok.
"Aku ingin pulang sekarang," ucap Yoon-bi.

Yoon-bi, Jong-seok, dan Yi-an berjalan bertiga menuju tempat tinggal Yoon-bi di Seoul. Setelah melihat Yoon-bi memasuki rumah itu, Jong-seok dan Yi-an mengobrool sebentar di depan tempat tinggal Yoon-bi.

"Kamu kakaknya Yoon-bi?" tanya Yi-an.
"Kakak angkat," ucap Jong-seok.
"Benarkah? Syukurlah, dia baik-baik saja!" ucap Yi-an.
"Eomma mengadopsinya sebulan yang lalu," ucap Jong-seok.
"Kalian tinggal dimana?" tanya Yi-an.
"Di Seoul. Yoon-bi sangat malang sekali," ucap Jong-seok.
"Kenapa?" tanya Yi-an.
"Ibu panti mengatakan bahwa Yoon-bi ditemukan sehabis kecelakaan di jalan menuju Incheon dari Seoul. Dia mengalami amnesia. Dia hanya ingat siapa namanya. Selain itu, dia tidak ingat," ucap Jong-seok.
"Mwe? Pantas, dia tidak mengenalku," ucap Yi-an.
"Kamu temannya dia?" tanya Jong-seok.
"Ya, temannya sewaktu sekolah dasar kelas satu sampai kelas tiga. Setelah itu, dia hilang setelah mendengar bahwa kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal," ucap Yi-an.
"Jadi, dia pernah tinggal di Seoul?" tanya Jong-seok.
"Ye! Dia juga punya saudara kembar, namanya Yoon-na," ucap Yi-an.
"Oh," ucap Jong-seok.
"Apa yang terjadi dengannya di Incheon? Aku dengar, dia ada di Seoul karena melarikan diri dari rumah," tanya Yi-an.
"Dia dikeluarkan dari sekolah karena dituduh melakukan kejahatan dengan salah satu siswa. Padahal, dia dibully oleh orang itu," ucap Jong-seok.
"Apakah Yoon-bi ingin pindah ke Seoul selamanya?" tanya Yi-an.
"Entahlah. Cepat atau lambat dia akan tinggal di Seoul, karena eomma ingin menikah lagi dengan pria yang tinggal di Seoul," ucap Jong-seok.
"Oh," ucap Yi-an.
"Aku ingin kembali ke hotel. Sampai bertemu lagi!" ucap Jong-seok.
"Tunggu!" ucap Yi-an.
"Ada apa?" tanya Jong-seok.
"Tolong jaga Yoon-bi baik baik! Aku sayang dengannya, tapi dia tidak mengenalku lagi," ucap Yi-an.
"Ye!" jawab Jong-seok.

***

Seminggu kemudian

Yoon-bi kembali ke rumahnya di Incheon. Setelah berkali-kali ibu angkatnya memohon, akhirnya Yoon-bi kembali ke Incheon.

"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Kyo Eun-ri.
"Aku ingin sekolah di Seoul," ucap Yoon-bi.
"Kenapa?" tanya Kyo Eun-ri.
"Aku merasa bahwa Seoul sudah sangat familiar bagiku. Aku ingin mencari siapa diriku sebenarnya," ucap Yoon-bi.
"Bulan depan eomma akan menikah. Pernikahan dipercepat. Apakah kamu mau tinggal dengan appa mulai besok?" tanya Kyo Eun-ri.
"Sepertinya asik, apalagi aku akan punya teman mengobrol baru," ucap Yoon-bi.
"Eomma, tolong pindahkan aku ke sekolah yang sama dengan Yoon-bi," ucap Jong-seok.
"Mwe?" tanya Kyo Eun-ri.
"Aku ingin melindungi Yoon-bi. Aku tidak ingin dia tersakiti lagi," ucap Jong-seok.
"Baiklah, nanti akan ku urus. Berkemaslah, besok kalian akan pergi ke Seoul," ucap Kyo Eun-ri.

Yoon-bi dan Jong-seok pergi ke kamar masing-masing dan berkemas. Eomma tidak berkemas-kemas karena eomma masih tinggal di Incheon sampai hari pernikahan. Beliau ingin mengurus kepindahan butik miliknya ke Seoul.

***

Yoon-bi dan Jong-seok sudah tiba di Seoul menaiki mobil milik ibunya. Mereka sudah ada di depan sebuah rumah besar.

"Nah, kalian berdua turun duluan saja! Eomma ingin menelepon salah satu karyawan butik," ucap Kyo Eun-ri.

Yoon-bi dan Jong-seok turun dari mobil dan berdiri di depan pagar rumah itu. Jong-seok menekan bel dan calon ayah mereka membuka pintunya.

"Annyeohaseo!" ucap Yoon-bi kepada calon ayah barunya.
"Silahkan masuk!" jawab Gi Nam-soo.

Yoon-bi dan Jong-seok duduk di sofa yang terletak di ruang tamu. Sang pelayan membawakan dua gelas air meineral untuk mereka berdua.

"Yoon-na, ada tamu!" ucap Gi Nam-soo.

Jong-seok kaget mendengar nama itu. Bukankah Yoon-na adalah nama saudara kembar Yoon-bi?

"Ada apa appa...?" ucap Yoon-na kaget saat melihat Yoon-bi.

Yoon-bi kaget sekali melihat sosok Yoon-na. Dia heran, kenapa gadis itu wajahnya mirip dengan wajahnya. Yoon-bi tidak tahu bahwa dia punya saudara kembar.

"Ini, Yoon-bi dan Jong-seok, saudaramu dari calon ibu tirimu," ucap Gi Nam-soo.
"Yoon-bi? Yoon-bi! Aku kangen sekali," ucap Yoon-na.
"Kamu kenal dengan Yoon-bi?" tanya Gi Nam-soo.
"Yoon-bi? Kamu masih hidup? Kamsahamnida!" ucap Yoon-na.
"Yoon-na, ada apa?" tanya Gi Nam-soo.
"Aku susah-susah mencari saudara kembarku yang hilang, ternyata.... dia diadopsi oleh calon ibuku," ucap Yoon-na.
"Gi Yoon-na! Kamu punya saudara kembar?" tanya Gi Nam-soo.
"Ye, appa! Dia menghilang sewaktu mendengar bahwa kedua orang tua kami meninggal," ucap Gi Yoon-na.

Yoon-bi memegang tangan Yoon-na dan ingin memeluknya. Anehnya, Yoon-bi tidak mengenalinya dan menepis tangan Yoon-na.

"Mianhae! Aku tiak kenal kamu dan jangan mendekatiku seperti itu!" ucap Yoon-bi.
"Yoon-bi? Ini aku, Yoon-na. Kamu tidak ingat?" tanya Yoon-na sambil menangis.
"Kamu siapa? Aku tidak punya saudara," ucap Yoon-bi.
"Aku ini saudara kembarmu. Kamu punya saudara," ucap Yoon-na.
"Aku tidak tahu," ucap Yoon-bi.
"Tidak apa-apa kalau kamu sidah melupakanku. Mari memulai hari baru. Kenalkan, aku Yoon-na. Anggap saja kita baru kenalan dan kita baru menjadi saudara," ucap Yoon-na sambil meneteskan air mata.

Yoon-bi diam saja, Yoon-na kesal dan berlari ke atas, lalu masuk ke dalam kamarnya. Yoon-na memang sering menyendiri di dalam kamar kalau sedang kesal.

"Maafkan Yoon-na, dia memang begitu kalau sedang kesal," ucap Gi Nam-soo.
"Tidak apa-apa," jawab Jong-seok.

Eomma masih tidak percaya kalau Yoon-bi dan Yoon-na adalah saudara kandung. Lebih kagetnya lagi, Yoon-bi masih tidak mengingat tentang Yoon-na dan terjadi kekacauan hari ini.

***

[Gi Yoon-na]
Hari ini Yoon-bi datang ke rumahku.

[Baek Yi-an]
Benarkah? Ada apa dengannya sampai dia ke rumahmu?

[Gi Yoon-na]
Ternyata, dia adalah anak adopsi dari calon ibuku. Aku menyesal sudah marah kepada appa dan mengatakan bahwa aku lebih nyaman tidak punya saudara baru.

[Baek Yi-an]
Aku ingin bertemu dengannya!

[Gi Yoon-na]
Dia aneh. Dia tidak mengenaliku sama sekali

[Baek Yi-an]
Dia mengalami amnesia. Aku mendengarnya dari kakaknya.

[Gi Yoon-na]
Mwe?

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

You Are You - 7

22:23 Melissa Dharmawan 0 Comments

Seoul

Yoon-bi sudah tiba di Seoul. Yoon-bi keluar dari stasiun bis dan berjalan kaki. Yang pertama dia lakukan adalah mencari pekerjaan dan tempat tinggal sementara untuk beberapa waktu.

Saat sedang berjalan kaki, tiba-tiba Yoon-bi melihat ada papan bertulisan "yeoja ui hasugjib/" didepan sebuah rumah sederhana. Yoon-bi langsung mengetuk pintu dan pemiliknya membukakan pintunya.

"Silahkan masuk!" ucap pemiliknya.
"Saya ingin tinggal disini. Masih ada kamar kosong?" tanya Yoon-bi.
"Ada, masih ada satu kamar kosong. Kamu bisa langsung menempatinya hari ini," ucap pemiliknya.
"Ah, kamsahamnida!" ucap Yoon-bi.

Yoon-bi langsung masuk ke dalam kamar kosong itu. Kamar itu tidak sebesar kamarnya di rumah ibu angkatnya. Kamar itu lebih sempit.

Yoon-bi memutuskan untuk berkeliling kota Seoul untuk menikmati pemandangan. Kebetulan, hasugjib yang ditempatinya itu dekat dengan sungai Han, sehingga Yoon-bi bisa mampir ke situ.

Yoon-bi melihat pemandangan sungai Han. Yoon-bi merasa familiar dengan pemandangan itu. Apakah dirinya sering ke sungai Han sewaktu masih kecil?

***

Yoon-na sedang tidak mood keluar rumah hari ini. Yi-an terpaksa jalan-jalan sendiri dan menuju ke sungai Han.

Yi-an melihat Yoon-na sedang ada di sungai Han. Kenapa Yoon-na tidak mau keluar rumah, tapi dirinya sudah ada di pinggir sungai Han lebih dulu?

"Yoon-na!" ucap Yi-an.

Gadis itu tidak memberi pandangan kepada Yi-an.

Yi-an berjalan mendekati gadis itu dan memeluknya dari belakang. Yoon-bi kaget dan langsung melepaskan pelukan aneh itu dan berjalan mundur.

"Mianhae, jangan peluk aku! Aku tidak kenal kamu!" ucap Yoon-bi.
"Yoon-na, aku ini Yi-an. Kamu kan tahu kalau aku selalu melewati sungai Han pada malam hari," ucap Yi-an.
"Mianhae, aku tidak punya teman dengan nama Yi-an," ucap Yoon-bi sekali lagi.

Yoon-bi langsung berlari sekencang-kencangnya. Bisa-bisanya ada pria yang tidak dikenalnya langsung memeluknya dari belakang tubuhnya tanpa berkenalan dulu.

Yi-an berlari mengejar gadis itu, tapi gadis itu sudah naik bis lebih dulu. Akhirnya, Yi-an berlari ke arah rumah Yoon-na untuk menunggunya.

Yi-an sudah berdiri selama sepuluh menit di depan pagar rumah Yoon-na, tapi Yoon-na tetap belum sampai di depan rumah. Yi-an menelepon Yoon-na.

"Yoon-na! Kamu dimana?" tanya Yi-an.
"Yi-an! Aku sudah bilang kalau aku ada di kamarku," ucap Yoon-na.
"Mwe? Kamu tidak lagi bercanda kan? Aku melihatmu di pinggi sungai Han barusan," ucap Yi an.
"Mwe? Aku belum melewati sungai itu, tapi kamu melihatku disana," ucap Yoon-na.
"Aku tidak mungkin salah! Kamu beberapa kali marah-marah di hadapanku dan tadi kamu memarahiku seperti biasa," ucap Yi-an.
"Aku tidak bercanda. Aku tidak keluar rumah malam ini," ucap Yoo-na.
"Tapi aku melihatmu disana! Apa jangan-jangan....." ucap Yi-an.
"Apa?" tanya Yoon-na.
"Apakah dia adalah Yoon-bi?"
"Yoon-bi? Kalau benar orang yang kamu lihat adalah Yoon-bi, aku pasti bahagia karena dia masih hidup dan sehat. Aku kira, dia menghilang atau sudah meninggal, karena ada yang bilang bahwa dia pernah kecelakaan," ucap Yoon-na.
"Tapi, gadis tadi tidak mengenaliku. Dia bilang, dia tidak kenal orang dengan nama Yi-an," ucap Yi-an.
"Kalau dia adalah Yoon-bi, seharusnya dia mengenalimu, karena kalian dekat sekali, lebih dekat dari pada aku dan kamu waktu masih kecil," ucap Yoon-na.
"Aku berharap bahwa gadis itu adalah Yoon-bi dan aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin mengejar cinta pertamaku yang selalu aku tunggu," ucap Yi-an.

Yoon-na kaget setelah mendengar perkataan Yi-an. Yoon-na terdiam dan tidak menjawab perkataan Yi-an di telepon. Selama ini, Yoo-na jatuh cinta dengan Yi-an semenjak masuk sekolah menengah atas. Sayangnya, Yi-an tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukai Yoon-na.

"Yoon-na?" tanya Yi-an.
"Mianhae, aku ngantuk," ucap Yoon-na.
"Oke, kamu tidur saja. Sampai bertemu besok di sekolah!" ucap Yi-an.

***

Jong-seok membuat daftar berisi beberapa hasugjib di dekat pusat keramaian kota yang mungkin ditempati oleh Yoon-bi. Jong-seok sudah mengunjungi dua tempat, tapi tidak ada oran bermana Lee Yoon-bi yang tinggal disana.

"Yoon-bi!" ucap Jong-seok dalam hati.

Jong-seok melihat seseorang mirip Yoon-bi sedang berjalan memasuki sebuah rumah yang kelihatannya bagus, bukan seperti hasugjib.

"Ah, tidak mungkin dia Yoon-bi. Yoon-bi tidak punya rumah di Seoul," ucap Jong-seok.

Jong-seok menuju halte bis dan hendak menuju daerah dekat sungai Han. Di sana ada hasugjib khusus untuk perempuan.

Sesampainya di depan sungai Han, Jong-seok melihat Yoon-bi. dia tidak mungkin salah lagi. Itu pasti Yoon-bi. Tas yang dipakainya sama dengan tas yang dimiliki Yoon-bi. Anehnya, ada seorang laki-laki yang memeluknya dari belakangnya. Samar-samar, Jong-seok mendengar percakapan Yoon-bi dengan pria itu.

"Mianhae, jangan peluk aku!" ucap Yoon-bi.

 Jong-seok tidak jadi memanggil adiknya itu. Jong seok berdiri menghadap sungai dan menangis. Pertama, dia bahagia karena dia sudah menemukan adiknya. Kedua, dia sedih karena ada laki-laki yang memeluknya, seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

You Are You - 6

21:49 Melissa Dharmawan 0 Comments

"Lihat, Yoon-bi sudah datang!" ucap Hye-jin.
"Loser!" ucap Hye-jin sekali lagi.
"Choi Hye-jin, kenapa kamu selalu bersikap seperti itu denganku?" tanya Yoon-bi.
"Kamu penasaran? Silahkan cari tahu sendiri!" ucap Hye-jin sambil menarik Yoon-bi dari depan kelas menuju samping lapangan.
"Kalau kalah, ngaku saja! Kamu bisa mencuri perhatian Jong-seok. Selalu mendapat nilai tertinggi di kelas. Semua guru peduli terhadapmu. Kamu belum puas?" tanya Hye-jin sambil menahan Yoon-bi di tembok.

Yoon-bi hanya diam. Dia tidak berani melawan Hye-jin terlalu dalam. Yoon-bi takut kena marah guru dan beasiswanya dicabut karena dilaporkan membuat masalah dengan murid lain.

"Kamu mau melaporkanku ke guru Song? Silahkan! Aku tidak takut dengan orang lemah sepertimu," ucap Hye-jin.

Jong-seok melihat Yoon-bi dan Hye-jin di pinggir lapangan. Jong-seok kasihan dengan adik angkatnya itu, tapi Joong-seok tidak berani menyiksa kembali Hye-jin, karena Hye-jin adalah anak dari kepala sekolah Choi.

"Hye-jin, walaupun kamu anak kepala sekolah, aku tidak akan takut. Suatu hari nanti, kepala sekolah akan tahu siapa sebenarnya Choi Hye-jin," ucap Yoon-bi.

Hye -jin mengangkat tangannya dan ingin menampar Yoon-bi. Namun, sebelum berhasil menampar Yoon-bi, Yoon-bi melihat kakak angkatnya dan memanggilnya.

"Hyong!" ucap Yoon-bi. Yoon-bi melepaskan tangannya dan membatalkan niatnya untuk menampar Hye-jin.
"Sejak kapan kamu punya kakak? Anak yatim piatu satu ini tidak beruntung. Sudah seumur ini tidak tahu siapa keluarga aslinya," ucap Hye-jin.
"Hentikan!" ucap Jong-seok.
"Oops, pelindungnya sudah datang," ucap Hye-jin.

Jong-seok mendorong badan Hye-jin sehingga dia bisa menarik lengan Yoon-bi dari Hye-jin.

"Hye-jin, jangan maca-macam dengan adikku lagi!" ucap Jong-seok.

Jong-seok dan Yoon-bi duduk sebenatar di depan kelas walau mereka sudah melihat guru Song memasuki kelas mereka.

Setelah duduk di depan kelas, mereka berdua membuka pintu kelas dan masuk ke dalamnya. Guru Song dan teman-teman kaget melihat mereka berdua terlambat masuk ke kelas bersama.

"Jong-seok, Yoon-bi, kenapa kalian terlambat masuk ke kelas lagi?" tanya guru Song.
"Mianhae!" ucap Jong-seok dan Yoon-bi bersamaan.
"Aku ingin bertemu kalian berdua di ruang guru pada jam isitirahat nanti! Sekarang, silahkan kalian duduk," ucap guru Song.

***

"Kalian ada masalah apa? Kenapa kalian beberapa kali terlambat masuk ke dalam kelasku?" tanya guru Song.
"Ada seorang murid yang.." ucap Jong-seok.
"Ani!" ucap Yoon-bi.
"Kalau tidak ada apa-apa tapi kalian terlambat, kalian bisa dipanggil kepala sekolah dan masuk ke dalam daftar murid bermasalah. Yoon-bi, apa kamu ingin beasiswamu berakhir?" tanya guru Song.
"Aku tidak melakukan kesalahan," ucap Yoon-bi.
"Guru Song, tadi pai ada dua murid perempuan yang berantem di dekat lapangan," ucap guru Kim.
"Siapa itu?" tanya guru Song.
"Kelihatannya dari kelas 2-2," ucap guru Kim.

Yoon-bi takut. Ternyata, seorang guru sudah melihat dirinya dan Hye-jin tadi pagi di dekat lapangan. Yoon-bi sebenarnya tidak ingin mendapatkan masalah. Tapi, dirinya sudah tidak tahan untuk semua penderitaan ini.

"Yoon-bi, apakah tadi pagi kamu berantem di dekat lapangan?" tanya guru Kim.
"Ye," ucap Yoon-bi takut.
"Guru Song, tadi aku melihat Yoon-bi dan Hye-jin bertengkar," ucap guru Kim.
"Jong-seok, panggilkan Hye-jin kesini!" ucap guru Song.

Berita pertengkaran antara Hye-jin dan Yoon-bi sudah menjadi pembicaraan beberapa guru, bahkan kepala sekolah mendengarnya. Dia tidak ingin anak satu-satunya itu terluka karena bertengkar dengan siapapun.

Hye-jin masuk ke dalam ruang guru. Jong-seok disuruh untuk menunggu di luar ruangan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah angkat bicara dama masalah yang menimpa putrinya itu.

"Appa, dia hampir menamparku!" ucap Hye-jin.
"Menamparmu? Yoon-bi ingin menamparmu?" tanya kepala sekolah Choi.
"Ye!" ucap Hye-jin.

Hye-jin seperti sedang bermain drama. Dia mengatakan hal-hal yang membuat ayahnya berpikir bahwa dia tidak salah.

"Aku tidak melakukan kesalahan," ucap Yoon-bi.
"Apa kamu bilang? Memarahi dan ingin menampar bukanlah sebuah kesalahan?" tanya kepala sekolah Choi.
"Ye! Anak anda sudah membuatku menderita," ucap Yoon-bi.
"Benar seperti itu?" tanya kepala sekolah Choi.
"Tadi pagi aku tidak melakukan apa-apa," ucap Hye-jin.

Hye-jin tidak mengakui kesalahannya. Dia memang belum menyiksa Yoon-bi sepenuhnya, tapi sudah berkali-kali mengejeknya. Semua itu membuat Yoon-bi merasa tersakiti.

"Yoon-bi, kamu akan saya masukkan kedalam daftar murid bermasalah dan silahkan orang tuamu menemui saya besok," ucap kepala sekolah.
"Kalau anda ingin mengeluarkan saya dari sekolah ini, keluarkan saja! Saya tidak melakukan kesalahan apapun," ucap Yoon-bi.
"Oke, besok jangan datang kesini lagi! Setelah itu, jangan bertemu putriku, karena kamu ingin menyakitinya," ucap kepala sekolah.

Yoon-bi keluar dari rang guru dengan perasaan campur aduk. Jong-seok menariknya dan mengajaknya berbicara di dekat lapangan sekolah.

"Bagaimana?" tanya Jong-seok.
"Beliau membela anaknya dan menyalahkanku. Beliau ingin memanggil eomma, tapi aku tidak tega, sehingga aku membela diri dengan mengatakan bahwa aku tidak bersalah telah bertengkar. Akhirnya, aku dikeluarkan dari sekolah ini," ucap Yoon-bi.

Yoon-bi menangis di samping Jong-seok dan Jong-seok memeluknya. Yoon-bi yang malang. Dia tidak tahu tentang masa kecilnya, dan selalu tersiksa oleh Hye-jin. Yoon-bi berharap dengan keluarnya dia dari sekolah ini, dia bisa terlepas dari penyiksaan ini.

***

Dear eomma,
Aku sudah mulai ingat sesuatu. Aku tidak lahir dari Incheon, tapi lahir dari Seoul.
Aku sudah dikeluarkan dari sekolah itu dan aku berniat untuk pergi ke Seoul untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya.
Terima kasih untuk kasih sayang selama hampir dua bulan ini. Aku pasti kembali kerumahmu.
- Lee Yoon-bi -

Kyo Eun-ri menangis saat membaca tulisan dari anak angkatnya itu. Lee Yoon-bi memilih untuk pergi sendirian ke Seoul. Kyo Eun-ri mengecek laci di kamar Yoon-bi, tempat Yoon-bi menyimpan tabungan dan uang cadangan yang diberikannya. Laci itu kosong. Yoon-bi membawa seluruh uang yang dimilikinya.

"Eomma kenapa menangis?" tanya Jong-seok.
"Baca surat ini!" ucap Kyo Eun-ri.

Jong-seok kaget dan hampirtidak percaya. Adik angkatnya itu melarikan diri ke Seoul sendirian.

"Aku harus mencarinya!" ucap Jong-seok.

Jong-seok bergegas keluar rumah dan menuju halte bis untuk menuju Seoul.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: