Novel

Elegi Hati 12 - リズム

23:56 Melissa Dharmawan 4 Comments

Oktober, 2010

Aku sedang berdiri di persimpangan Shibuya yang terkenal itu. Aku sudah menginjak kota Tokyo sejak akhir Juni tahun ini. Aku mendapat beasiswa kuliah di University of Tokyo di daerah Komaba. Kampus yang terletak di Komaba adalah kampus untuk fakultas sains dan seni. Aku kuliah musik di sana.

Setahun yang lalu, Gio berangkat ke Jepang sepertiku. Dia juga kuliah musik di universitas yang sama. Karena Gio masih ada keturunan Jepang, Gio tidak terlalu susah untuk masuk ke University of Tokyo. Lagi pula, sejak lahir sampai berumur empat tahun, Gio tinggal di Tokyo, di daerah Shibuya. Rumah lamanya tidak dijual, sehinggal dia tinggal di sana dan mengijinkanku untuk tinggal di kamar satunya lagi.

Aku mendapat pelajaran bahasa Jepang ketika SMA (mata pelajaran bahasa asing pilihan sih). Para murid boleh memilih antara mandarin atau jepang. Aku tidak memilih mandarin karena bagiku, mandarin bukan hal baru dan aku ingin belajar bahasa lain. Aku masih ada keturunan Chinese.

Aku sendang berjalan menuju salah satu kantor redaksi majalah yang ingin mewawancaraiku. Aku senang sekali hari ini. Lebih tepatnya karena aku akan masuk ke dalam majalah remaja di jepang, yaitu Ranzuki. Majalah yang cukup bergengsi di kalangan remaja.

"Kon'nichiwa," ucapku sambil membungkuk.
"I know you are a foreign. Let's talk with english," ucap Izumi, pewawancara dari salah satu redaksi majalah.
"Okay," jawabku.
"Sudah berapa lama kamu bermain piano?" ucap Izumi.
"Sejak saya berumur 6 tahun. Waktu itu saya senang melihat piano di tv," jawabku.
"Apa yang menjadi motivasi anda untuk mengambil jurusan seni musik?" tanyanya.
"Menurut aku, musik adalah kehidupan keduaku. Musik adalah teman hidupku yang paling setia. Tanpanya, hidupku terasa hambar," ucapku.
"Aku dengar, ada hal lain yang menjadi motivasimu. Boleh diceritakan?" tanyanya.
"Well, tentu saja pacarku yang menjadi motivasi. Dia pernah membuatku gila karena memaksaku mempelajari karangan dia dalam waktu sebulan, dan ternyata diam-diam dia ingin berduet denganku di atas panggung konser. He's like a rhythm for me," ucapku.
"Tentunya, pacar anda adalah orang yang romantis, bukan?" ucap Izumi.
"Tentu saja!" jawabku sambil tersenyum bahagia.
"Kalau boleh tau, waktu dulu di Indonesia, apa judul lagu yang pernah di release?" tanya Izumi.
"Hanya satu lagu yang ku beri judul Heart's Elegy," jawabku.
"Lagu itu menceritakan apa?" tanya Izumi.
"Lagu itu menceritakan elegi hatiku tentang masa laluku," ucapku.
"Ooo begitu! Oke, sekarang masuk ke ruangan sebelah untuk ambil foto," ucap Izumi.
"Oke!" jawabku.

Setelah sesi foto selesai, aku akan menemui Gio di Yoyogi Koen, di daerah Shinjuku. Aku bisa naik kereta bawah tanah.

"Moshi-moshi," sapaku saat Gio meneleponku."
"Udah, pake bahasa indonesia aja," ucap Gio.
"Kamu udah dimana?" tanya Gio.
"Di stasiun. Aku berangkat ya," ucapku.
"Oke," jawabnya.

***

"Jadi, kapan lagumu release?" tanya Gio.
"Dua minggu lagi," ucapku.
"Wow!" ucap Gio.
"Hehehe.. Kan karena kamu bantu aku cari tempat tekaman," ucapku.
"Lagunya mau diberi judul apa?" Tanya Gio.
"Bagaimana kalau Aki no Hikari?" ucapku.
"Kenapa kamu mau memilih judul itu?" ucap Gio.
"Karena, sekarang adalah musim gugur dan kamu adalah cahaya dalam musim gugur itu bagiku," ucapku.

Gio tersenyum bahagia mendengar laguku akan release sebentar lagi dan aku menjadikan dirinya alasan dibalik judul lagu itu.
"Selamat ya Mik, kamu jadi artis piano," ucap Gio.
"Nyusul dong!" ucapku.
"Hahahaha...." ucap Nick sambil tertawa.
"Ih, malah ketawa," ucapku.
"Mik, pemandangannya indah ya di sini!" ucap Gio.
"Iya! Ayo kita selfie!" ajakku.
"Yuk!" jawabnya.

Aku mengeluarkan kameraku dari tas dan membuat self portrait lagi. Gio merangkulku lagi seperti 3 tahun yang lalu saat menunggu matahari tenggelam. Kali ini, kami menunggu matahari tenggelam di Tokyo.

"Watashi wa anata ni kisu dekimasu ka? tanya Gio.
"Hai! jawabku.

Gio merangkul pinggangku, mendekati wajahku, dan langsung menciumku di taman Yoyogi, diiringi oleh daun-daun yang berguguran.

"You're my rhythm," ucapku.
'"What?" tanya Gio.
"A rhythm on my life," Jawabku.
"Arigato Mika-chan!" ucap Gio.

TAMAT

4 komentar:

Novel

Elegi Hati 11 - Sun Set

23:03 Melissa Dharmawan 2 Comments

Juli 2007

Hari ini aku dan Gio bertemu di taman segar. Aku bosan di rumah. Aku bosan dengan liburan kenaikan kelas.

"Kamu liburan gak kemana-mana?" tanya Gio.
"Belum ada rencana sih kali ini. Mungkin karena kakakku mau pulang dari Singapore," ucapku.
"Oh... " ucap Gio sambil minum teh.
"Gi, kemarin aku dah ketemu arti kata yang kamu bisikan saat konser waktu itu," ucapku.
"Emangnya apa?" tanya Gio.
"Gi, aku sudah sadar sejak kamu datang ke rumahku waktu itu, yang tiba-tiba memaksaku belajar lagu duet karanganmu itu. Rasanya aneh kalau gak ada apa-apa kamu minta aku pelajarin lagu itu sesering mungkin," ucapku.
"Lalu, apa jawabanmu?" ucap Gio.
"Aku rasa aku sudah tidak bisa menyembunyikan ini semua. Aku sudah capek menerima beberpa kali surat tanpa nama. Semakin lama semuanya semakin jelas. Pasti bukan Nick, karena Nick pasti mengatakan apapun lewat telepon atau memintaku bertemu langsung. Hanya ada satu teman cowok yang aku kenal yang sangat pemalu," ucapku.
"Jadi, kamu menerima cintaku tidak?" tanya Gio.
"Watashi mo anata o aishitemasu," ucapku.
"Hei, siapa yang orang jepang, siapa yang ngomong pake bahasa jepang?" ucap Gio sambil mengelitiki pinggangku.
"Aw, geli!" ucapku.
"Katakan, dari mana kamu tahu kalimat itu dalam bahasa jepang?" tanya Gio.
"Rahasia!" ucapku.
"Ayo ngaku!" ucap Gio.
"Gak mau!" ucapku.
"Hahahaha," ucap Gio.
"Oiya, Aku baru inget kalau kamu keturunan orang jepang beneran. Aku sempat ngira kalau mungkin papamu diberikan nama jepang, trus di turunkan ke anak-anaknya tanpa ada sesuatu. Ternyata, kamu memang orang jepang,walaupun sudah keturunan ke sekian," ucapku.
"Hahahaha... kakekku yang pernah tinggal di Jepang, lalu menikah dengan nenekku yang orang indonesia," ucap Gio.
"Gi, aku pingin kamu main piano untukku sekarang," ucapku.
"Sekarang? Mana ada piano di taman?" tanya Gio.
"Ayo kita jalan ke ruko, ke studio musik! Kita bikin rekaman yang bagus," ucapku.
"Gimana kalau sekarang kita pergi ke studio foto aja?" ajak Gio.
"Ih, ngapain kesana? Serasa dapet job jadi model aja," ucapku.
"Yang jelas, mian pianonya besok aja," ucap Gio.
"Yaudah, kalau gitu kita duduk aja disini! Sebentar lagi matahari akan tenggelam dan aku pingin melihatnya bersamamu," ucapku.

Aku dan Gio tetap duduk di kursi taman sambil menunggu matahari tenggelam. Kami melihat beberapa anak kecil mengendarai sepedanya di taman. Kami juga melihat anak kecil lainnya yang saling mengejar sambil berlari.

"Mika!" ucap Gio.
"Ya?" tanyaku.
"Kamu cantik banget sore ini. Walau kamu gak pakai bagu bagus dan gak pake make-up, kamu tetap cantik luar dan dalam. Aku rasa, aku tergila-gila denganmu," ucap Gio sambil merangkulku.
"Kamu juga cakep kok!" ucapku.
"Hehehe..." ucap Gio malu-malu.
"Lihat! Langit sudah mulai memerah," ucapku.
"Ayo, keluarkan kamera-mu!" ucap Gio.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Mari kita membuat selfi portrait!" jawab Gio.

Aku dan Gio saling merangkul sambil memotret diri kami sendiri, diiringi langit yang kemerahan.

Bersambung.....

2 komentar:

Novel

Elegi Hati 10 - The Confession

22:41 Melissa Dharmawan 0 Comments

Mei 2007

Inilah aku yang mulai banyak dikenal orang. Aku bukan lagi gadis lugu dan penuh ejekan seperti sebelumnya. Aku telah berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.

Meski aku punya banyak kekurangan, Aku sangat bangga pada diriku sendiri, yaitu diriku yang bisa bermain piano di atas panggung.

Jadi seperti yang aku dengar waktu itu, konser hari ini adalah konser yang diadakan oleh bu Maura dan temannya yang sesama guru les piano. Bu Maura memilihku untuk tampil, sedangkan temannya, memilih satu murid les pianonya.

"Apa kabar semua? Hari ini adalah konser piano yang pertama kali diadakan oleh dua orang guru les piano dari La Music," ucap sang pembawa acara.

Aku telah berlatih selama sebulan. Aku tak mau mengecewakan para hadirin nantinya. Aku ingin menunjukan kelebihanku ini. Papa dan Mama hadir di sini.

Tadi pagi, kak Lea kembali memakaikanku make-up. Kak Lea bilang kalau dia ingin aku memakai gaun turquoise yang dibelinya untukku waktu itu. Ternyata, kak Lea sudah punya rencana untuk hari ini.

Aku melihat kak Lea, Anne, dan Gio di ruangan konser ini. Anne adalah teman dekatku, sekaligus adik dari kak Lea dan Gio, sehingga Anne pasti datang hari ini. Aku juga mengundang Dita dan Davin karena aku dapat free 2 tiket diluar tiket untuk kedua orang tuaku. Anne dan Gio pasti datang karena kak Lea dapat free 2 tiket juga.

"Dita!" ucapku saat melihat Dita ternyata duduk di bangku tepat di belakang bangkuku. Tentu saja, aku melihat Davin duduk tepat di samping Dita. Mereka so sweet sekali.

"Dit, kamu cantik banget pake gaun itu," ucapku.
"Ah, kamu lebih cantik kok Mik! Cantik banget," ucap Dita.
"Ah, kamu bisa aja," ucapku.

"Hari ini hanya akan ada dua musisi muda yang tampil di panggung ini. Pertama-tama, mari kita sambut Mika Marcella ke atas panggung!" ucap Pembawa acara.

Aku deg-deg-an. Aku jarang sekali tampil dalam konser yang resmi seperti hari ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.

"Mika adalah murid bimbingan bu Maura. Mika sudah 9 tahun les dengan bu Maura. Mika, lagu apa yang akan kamu bawakan sore hari ini?" ucap pembawa acara.
"Saya akan bermain 4 lagu, salah satunya adalah lagu karangan saya sendiri," ucapku.
"Lalu, lagu apa yang akan jadi pembuka acara kita hari ini?" tanya pembawa acara kepadaku.
"Saya akan memainkan lagu karangan saya yang berjudul Heart's Elegy," ucapku.
"Oke, mari kita dengarkan Heart's Elegy karangan Mika," ucap pembawa acara.

Aku merasa comfortable saat sedang tampil dalam konser hari ini. Aku merasa bahwa musik adalah kehidupan keduaku.

Sesudah bermain lagu ini, aku membungkukan diri dan turun dari panggung. Setelah itu, giliran murid satu lagi yang akan tampil, lalu aku lagi, lalu dia lagi, dan seterusnya.

"Kali ini giliran Murid bimbingan bu Rosa yang akan tampil. Mari kita sambut Gio Hayashi," ucap pembawa acara.

"Gio?" pikirku dalam hati.

Gio melangkah ke depan panggung. Aku heran, kenapa dia tidak meberitahuku soal keikutsertaannya dalam konser hari ini. Anne juga merahasiakannya dariku. Hmm... sungguh aneh.

"Gio, ada yang ingin kamu sampaikan kepada para hadirin?" tanya pembawa acara.
"Konser hari ini saya persembahkan untuk teman yang saya sayangi," ucap Gio.
"Kamu mau memainkan lagu apa sebagai penampilan pertamamu?" tanya pembawa acara.
"Aku ingin memainkan Fur Elise karangan Beethoven," jawab Gio.
"Mari kita dengarkan Fur Elise dari Gio," ucap pembawa acara.

Selesai sudah aku memainkan 4 lagu yang aku latih selama sebulan. Gio juga sudah selesai bermain lagu terakhirnya.

"Kali ini, kita akan mendapat tambahan satu lagu lagi. Kita pasti ingin mendengar duet antasa Mika dan Gio. Saya dengar, Mereka sudah mempersiapkan sebuah lagu untuk berduet. Benar begitu Gio?" ucap pembawa acara.
"Saya menulis lagu untuk duet dan saya memberikan partitur itu untuk Mika. Saya ingin berduet dengannya," ucap Gio.

Aku tak pernah diberi tahu bahwa lagu karangan Gio yang berjudul 'For the Only One' adalah lagu yang akan ditampilkan hari ini. Pantas saja kalau selama sebulan ini Gio memaksaku melancarkan lagu itu. Hmm ternyata...

"Mari kita panggil Mika ke atas panggung," ucap pembawa acara.

Aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan melangkah ke depan, dan naik ke atas panggung. Gio memberikan tangan kanannya untuk menyambutku. Gio tampak keren dari atas panggung, apalagi Gio memakai tuxedo hitam miliknya.

"Mika, kamu masih ingat nadanya kan?" bisik Gio kepadaku.
"Semoga," jawabku.

"Sebelum kita mendengarkan permainan mereka berdua, saya ingin tahu, apa yang memotivasi anda untuk berduet dengan nona cantik ini?" ucap pembawa acara.
"Saya ingin berduet dengan Mika karena saya menyadari bahwa Mika adalah nada yang hilang dalam partitur saya, dan saya menemukannya karena cocok dengan nada lain yang saya miliki," ucap Gio.
"Romantis sekali anda!" ucap pembawa acara.

Semua tersenyum memandang ke atas panggung. Aku jadi malu. Aku belum pernah mendapat pengakuan seperti ini langsung di depan banyak orang.  Bahkan, aku gak menyangka kalau Gio berkata seperti itu di hadapanku.

Aku dan Gio duduk di kursi piano yang sama hari ini. Sebenarnya, bukan hal baru bagiku. Tapi, duduk bersama di pangung konser yang megah ini merupakan halbaru bagiku. Ini bukan konser sekolah seperti bulan Januari yang lalu, tapi ini adalah konser musik sungguhan dihadapan orang yang dikenal maupun tidak dikenal.

Walaupun aku sempat salah memncet tuts, Gio bisa menutupi kesalahanku itu dengan memencet nada lain. Aku dan Gio bermain dengan lancar.

"Mika?" ucap Gio sambil berbisik dan bermain piano.
"Ya?" jawabku.
"Watashi wa, anata o aishiteimasu," ucap Gio kepadaku.
"Apa itu artinya?" tanyaku sambil bermain piano.
"Cari tahu sendiri dan kasih tau aku kalau kamu sudah menemukan jawabannya," ucap Gio.

***

Sudah lewat seminggu sejak hari konser itu. Hari ini, aku diminta hadir dalam acara kelulusan anak kelas tiga. Klub orchestra diminta mengisi acara.

Aku senang melihat semua anak kelas tiga lulus semuanya tanpa pengecualian. Aku melihat Nick ada kemajuan. Yang aku kenal, Nick sering mendapat nilai merah dan guru-guru takut dia tidak lulus SMA. Ternyata, Nick lulus SMA dengan nilai sedang, tidak sejelek yang orang-orang kira.

Mungkin Nick berubah semenjak aku putus dengannya. Walau Nick berubah dan ingin membuktikan padaku kalau dia berubah, aku tetap tiak akan kembali pacaran dengannya.

"Hai Mika!" sapa Nick.
"Ya?" jawabku.
"Udah lulus nih!" ucap Nick bangga pada diri sendiri.
"Selamat deh kalau gitu," ucapku.
"Gio, jaga Mika ya!" ucap Nick.
"Kenapa?" tanya Gio.
"Bulan depan aku mau terbang ke Korea, dapat beasiswa kuliah disana. Aku ambil jurusan desain," ucap Nick.
"Wow!" ucap Gio.
"Mik, mulai sekarang aku gak akan ngejar kamu lagi. Aku tahu kalau aku bukan cowok yang pantas untukmu. Mau seberapa serius aku berubah, aku tetap seperti dulu. Aku ingin kamu tetap bahagia di Indonesia. Aku tahu kok kalau di sekitar sini ada cowok yang sebenarnya sayang sama kamu sejak dulu. Oiya, aku pingin cowok itu segera mengakui perasaannya," ucap Nick.
"Makasih Nick buat masa lalunya! Maafin aku buat semua keegoisan ini. Dulu aku memaksakan diri untuk mencoba pacaran karena dulu aku bodoh, aku asal terima cintamu," ucapku.
"Aku tahu itu dari Lisa dan aku memaafkanmu kok," ucap Nick.
"Maaf," ucapku.
"Aku pulang dulu ya, mau mengurus pasport," ucap Nick.
"Tunggu! Sekali lagi selamat ya!" ucap Gio sambil mengulurkan tangannya untuk Nick.
"Makasih Gi," ucap Nick.

Aku senang melihat Nick dan Gio bersalaman untuk pertama kali dan terakhir kali. Dulu, Nick tidak suka dengan Gio karena aku dan Gio dekat sekali. Sekarang, semuanya terlah berakhir.

"Eh Gi, kita kan dah gak ketemu lagi.  Kalau berhasil, aku ucapkan selamat untuk kalian berdua," ucap Nick.
"Berdua, apa maksudnya?" tanyaku.
"Tanya Gio aja," jawab Nick.
"Hah?" ucapku gak ngerti.
"Aku pergi dulu," ucap Nick.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

Elegi Hati 9 - Dilemma

21:37 Melissa Dharmawan 0 Comments

Hari ini adalah hari hari ulang tahun Davin yang ke 17. Tidak semua teman diundang. Hanya sekitar 10 atau 11 orang saja.

"Davin, selamat ya!" ucapku.
"Makasih ya Mik!" jawabnya.

Beberapa teman Davin tak ku kenal. Yang jelas, 6 orang diantaranya adalah anak klub basket. Sisanya ada Dita, Anne, Wanda, dan Nick.

"Mik!" ucap Nick dari jauh.
"Apa?" tanyaku.
"Jangan judes gitu dong!" ucap Nick.
"Cepat katakan ada apa?" ucapku.
"Perkataanku waktu di taman itu serius! Aku mau kita deket lagi. Ya, jadi teman dekat tak apa lah," ucap Nick.
"Aku ingin menjauhkan diriku dari masa lalu," ucapku.
"Kita kan bisa mulai dari awal! Kita berteman saja," ucap Nick.

Aku melihat Davin sedang memperhatikanku dan Nick dari kursi yang dia duduki. Mungkin Davin heran melihat kakak sepupunya yang seperti memaksaku untuk dekat lagi.

"Ambilin korek api di deket tas gue dong!" pinta Davin kepada Nick.
"Nih!" ucap Nick kesel, Mungkin Nick tahu kalau Davin ingin membantu menyudahi ajakan berteman dari Nick kepadaku.

Perayaan tiup lilin dimulai. Seperti tradisi anak muda kebanyakan, sebelum meniup lilin, yang ulang tahun membuat permohonan singkat yang didoakan oleh dia sendiri. Kali ini, Davin sedang menyampaikan permohonannya kepada Tuhan.

"Potong kuenya, potong kuenya!" Teriak anak-anak sambil diiringi gitar oleh Nick.
"Vin, potongan pertama akan diberikan kepada siapa?" tanya Nick.
"Potongan pertama akan diberikan untuk pacarku," ucap Davin sambil melirik ke arah Dita.
"Ciee... Cium Cium!" ucap anak-anak.
"Hus!" ucap Davin.

Davin dan Dita memotong kue cokelat itu dan anak-anak saling mengobrol satu sama lain. Anne dan Wanda sedang mengobrol, sekaligus kenalan. Anne dan Wanda belum mengenal satu sama lain.

"Mik!" panggil Nick.
"Apa lagi?" tanyaku.
"Aku mau jujur sama kamu! Sebenarnya, aku kangen kamu. Aku kangen kita waktu dulu. Ya, walaupun kamu cuek sama aku pas masih pacaran, aku gak peduli. Kamu itu cinta pertamaku, yang sudah lama aku tunggu. Aku sudah banyak dengar tentangmu sebelum kita kenalan," ucap Nick.
"Tapi...." ucapku
"Tapi apa? Aku gak sempurna buat kamu? Aku bisa kok jadi apa yang kamu mau," ucap Nick.
"Be who you are!" ucapku.
"Mik!" Nick menarik tangna kiriku.
"Maaf, kita gak bisa balik kayak dulu lagi!" ucapku.
"Mik! Kamu cantik deh!" ucap Nick.
"Jangan selalu memujiku," ucapku.
"Kamu hebat, bisa terkenal gitu! Aku bangga orang yang aku sayang ini bisa terkenal dan masuk majalah bulan ini," ucap Nick.
"Lebay Ah!" ucapku.
"Mika, sini!" ucap Dita memanggilku.

Aku meninggalkan Mick sendirian dan berjalan menuju tempat Dita memanggilku.

"Mik! Makan ini deh, ini enak banget fettucine-nya," ucap Dita.
"Iya, aku tahu kalau restoran ini terkenal dengan pastanya," ucapku.
"Mik, mungkin kamu gak bisa jujur di depan Nick. Bahkan kamu gak tau apa yang kamu rasakan. Tapi, aku mengerti itu. Dulu, aku juga sama sepertimu, gak bisa ngaku kalau lagi jatuh cinta sama orang lain. Kamu harus bisa jelaskan ke Nick kalau kamu suka sama Gio," ucap Dita.
"Aku takut Nick marah kaalau aku semakin punya alasan kuat kenapa aku benar-benar mau jauhin dia," ucapku.
"Ada baiknya kalian selesaikan masalah kalian dan kamu jujur aja," ucap Dita.
"Nanti aku bakaljelasin ke dia," ucapku.

"Hari ini kakak sepulu gue ingin bermain gitar untuk menghibur kita semua," ucap Davin.

Nick mengambil gitarnya dan bermain satu lagu sambil bernyanyi. Kita semua tahu bahwa Nick bisa bermain gitar dengan baik.

"Oke, ini adalah salah satu lagu yang ingin gue nyanyikan untuk seseorang. Judulnya You're My dari Taeyang," ucap Nick.

You're my candy, a lollipop candy.
I really wanna kiss you, I really wanna love you, yeah

***

Aku sangat dilema. Aku tak tau mau jujur apa tidak. Aku juga gak yakin dengan perasaanku sendiri. Ini membingungkanku.

"Mik!" ucap Nick dari telepon.
"Apaan?" ucapku.
"Mik! Kamu benar-benar mau melupakanku?" ucap Nick.
"Kalau iya, emang gak boleh?" tanyaku.
"Hmm.. Sebenarnya waktu itu, aku suruh Lisa kasih kamu cokelat dariku. Tapi kata dia, dia masukin cokelatnya ke tempat pensilmu," ucap Nick.

"Apa? Jadi cokelat waktu itu dari Nick?" desahku dalam hati.

"Oh ya?" tanyaku.
"Iya, aku kangen kamu," ucap Nick.
"Maaf Nick, sebaiknya kita sudahi saja ya," ucapku.
"Please Mik!" ucap Nik memelas.
"Sebenarnya, aku..."
"Kamu mau bilang kalau kamu suka cowok lainya?" tanya Nick.
"Bukan urusanmu!" ucapku.

Aku langsung mematikan telepon itu dan kembali membaca majalah di kamarku. Cinta itu rumit ya, seperti halnya soal matematika. Gak bisa ditebak apa jawabannya. Hanya bisa dipikirkan dan dicari tahu apa jawabannya. Hanya perlu bukti dan pengakuan, bukan main petak umpet, alias menyembunyikan jawaban atas hati ini.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

Elegy Hati 8 - Inikah yang Disebut Jatuh Cinta?

20:35 Melissa Dharmawan 2 Comments

Hai Mika..
Mik, kok kamu cuek gitu sih?
Kita ketemu yuk!
Denger-denger kamu mau konser ya bulan depan? Selamat ya..

Seseorang menulis surat lagi untukku dan menyelipkan di pagar rumahku. Aku bingung, sebab aku tak tahu siapa pengirimnya. Nick dan Gio sama-sama sudah tahu rumahku dimana.

"Mika..." ucap seseorang dari depan rumkahku.
"Eh Dita! Masuk Dit!" ucapku.
"Mik, temenin aku yuk!" ucap Dita.
"Temenin apa?" tanyaku.
"Ke Plaza yuk! Mau carikadi buat Davin, minggu depan dia ulang tahun yang ke 17 lho!" ucap Dita.
"Oiya, tadi aku ketemu dia di sekolah. Dia bilang, dia ngundang Aku sama Anne juga," ucapku.
"Iya, ulang tahunnya bakal dirayain, tapi cuma ngundang 10 orang sih setauku," ucap Dita.
"Yaudah, aku ganti baju dulu ya," ucapku.

Hari ini aku memakai dress biru muda selutut. Dita tampak cantik dengan rok putih yang dia pakai hari ini. Yah, semua perempuan memang cantik.

Aku dan Dita kadang-kadang pergi ke Plaza bersama naik bus. Kami sering bercanda bersama di sana atau makan bersama.

"Mik, kira-kira Davin suka kado apa ya?" tanya Dita kepadaku.
"Hobi dia apa?" tanyaku.
"Olahraga. Dia bisa main basket maupun sepak bola lho," jaawab Dita.
"Hm... gimana kalau kamu beliin dia baju aja? Pasti dia suka, dari pada kamu bingung terus?" usulku.
"Oiya! Aku bisa beliin dia kaos," jawabnya.

Sambil menunggu Dita membayar di kasir, aku duduk di kursi depan toko baju itu. Aku melihat ke kiri dan kanan. Lebih banyak orang jalan bersama teman atau pacar di siang hari ini. Aku jadi keinget masa laluku saat pergi ke plaza dengan Nick atau Gio.

"Mik, makan yuk! Aku sudah lapar," ajak Dita.
"Yuk!" jawabku.

***

Sore hari setelah pulang dari Plaza, aku duduk di kursi pianoku. Aku mulai berlatih lagi. Aku bermain lagu karanganku sendiri, yaitu Heart's Elegy.

"Mika!" panggil seseorang dari sofa keluargaku.
"Gio? Kapan kamu datang?" tanyaku.
"Kamu terlalu asik main piano sih! Tadi mamamu yang bukain pintunya," ucap Gio.
"Oh!" ucapku.
"Terusin permainannya! Aku suka sama lagunya," ucap Gio.
"Makasih ya!" ucapku.

Aku terus bermain lagu itu. Nada demi nada aku ciptakan. Aku menikmati hobiku dalam bermain piano dan membuat lagu sendiri. Sungguh gak nyangka bahwa banyak orang yang menyukai laguku ini.

"Kamu ada perlu apa kesini?" tanyaku.
"Gak boleh nih? Kamu mau aku pulang aja?" ucap Gio.
"Bukan gitu, tapi heran aja, tiba-tiba kamu kesini," ucapku.
"Besok ikut aku pergi yuk!" ajak Gio.
"Kemana?" tanyaku.
"Sudah, kamu ikut aja!" ucap Gio.
"Ih, aneh!" ucapku.
"Pokoknya besok kamu ikut aja!" ucap Gio.
"Aku lagi latihan piano nih,bulan depan mau ada konser," ucapku.
"Aku dah pernah denger kok dari mamaku. Kan mamaku kenal sama guru les kamu," ucap Gio.
"Oh ya?" ucapku.
"Disana gak hanya kamu yang tampil, tapi ada satu murid yang dipilih bu Maura juga," ucap Gio.
"Siapa? Apakah aku kenal dia?" tanyaku penasaran.
"Lihat saja nanti!" ucap Gio.
"Ihhh..." jawabku kesel.
"Oiya, aku mau kamu pelajari lagu ini," ucap Gio sambil menyerahkan partitur baru untukku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Ya partitur lah!" jawab Gio.
"Lho, kok untuk duet?" tanyaku.
"Ayo kita latihan!" ucap Gio.

Gio mengajariku lagu baru, lagu yang dia tulis sendiri (sepertinya). Aku tak tahu untuk apa lagu ini diberikan kepadaku. Judulnya "For the Only One"

"Gini ya Mik! di bar ke 20, tangan kananmu dan tangna kirimu tukeran posisi. Trus, di bar 22 juga begitu," ucap Gio.
"Oh, I see!" ucapku.

Jujur, aku senang sekali bermain piano dengan Gio. Gio tidak mudah marah kalau aku salah memencet nada. Yang jelas, aku senang dengan sifat 'penuh kejutan' miliknya.

***

"Gi, kamu gak bilang sih kalau mau ke sini! Tau gitu kan tadi aku bisa dandan dulu dan gak pake baju biasa kayak gini," ucapku.
"Ah, kamu gak perlu khawatir! Kamu lupa ya, kalau kakakku jago make-up?" ucap Gio.
"Oiya, kak Lea jago make-up," ucapku.

Hari ini tanpa disangka, Gio mengajakku ke studio foto. Gio bilang, ada teman kakaknya yang kerja di redaksi majalah dan ingin mengambil fotoku. Katanya, aku hanya perlu berpose seperti yang teman kakaknya Gio inginkan.

"Mik!" ucap Gio.
"Ya?" jawabku.
"Kamu... Kamu kelihatan lebih cantik memakai gaun turquoise itu," ucap Gio.

Aku jadi merasa malu. Baru kali ini aku benar-benar dibilang cantik. Nik jarang memujiku seperti itu. Pujiannya hanya disertai dengna ekspresi ketawa, sedangkan Gio memujiku seperti kagum padaku.

"Mik, kok ngelamun?" tanya Gio.
"Oh, ada apa?" tanyaku.
"Kamu perfect!" ucap Gio.
"MIka!" tiba-tiba kak Lea memanggilku.
"Halo kak!" sapaku.
"Mik, pemotretannya 10 menit lagi ya! Kita tunggu disini dulu, soalnya diruangna dalam lagi ada yang pake," ucap kak Lea.
"Oke kak!" ucapku.
"Gi, Mika cantik lho! Udah lama gak ketemu dia, tau-tau makin cantik aja," ucap kak Lea.
"Ah, iya nih Mika!" ucap Gio.
"Biasa aja kok kak!" ucapku.
"Ini Gio lho yang pilihin dressnya! Aku kasih dia 4 pilihan dress dan aku mau Gio yang pilihin buat kamu," ucap kak Lea.
"Makasih Gio dan kak Lea!" ucapku.

Ruang pemotretan sudah kosong. Aku diperbolehkan masuk ke dalam ruang itu. Kak Lea dan temannya mengatur pose yang harus aku ciptakan.

Selesai sesi pemotretan, aku kembali duduk di kursi yang ada di depan ruang pemotretan. Gio mennungguku. Kak Lea tampak sudah selesai berbicara dengan temannya itu.

"Itu namanya William, teman satu kampusku. Kami sama-sama kuliah di jurusan DKV," ucap kak Lea.
"Oh," jawabku.
"Mik, itu dressnya buat kamu aja," ucap kak Lea.
"Ah kak, beneran? Dress ini kelihatannya mahal," ucapku.
"Anggap aja ini hadiah dari aku dan Gio atas release-nya lagumu," ucap Kak Lea.
"Masih ya kak!" ucapku.
"Kakak beres-beres di dalam dulu ya!" ucap kak Lea.
"Oke!" ucapku.
"Mik!" ucap Gio.
"Ya?" tanyaku.
"Mik!" ucap Gio sekali lagi.
"Kamu kenapa sih manggil aku terus?" tanyaku.
"Ah, gak apa-apa!" ucap Gio.
"Aneh!" jawabku.
"Eh Mik, kok kemarin-kemarin kita diem-dieman sih? Aku hampir gak ada temen main piano nih," ucap Gio.

Aku bingung mau jawab apa. Bukannya aku takut ketemu kamu, tapi aku hanya ingin sendiri dulu waktu itu. Aku gak mau kepikiran soal Nick maupun Gio. Nilai-nilaiku menurun karena kepikiran Nick dan surat misterius itu. Aku gak mau perasaan ini berlanjut lebih dalam dan menghancurkan nilai-nilaiku.

"Maaf, aku waktu itu cuma pingin mencoba sendiri. Aku gak mau kepikiran yang nggak-enggak," ucapku.
"Hah? Kepikiran apaan?" ucap Gio.
"Adalah," jawabku.
"Yah," jawab Gio.
"Gi, aku takut banget. Waktu itu, Nick mendekatiku lagi dan meminta setidaknya aku dan dia bisa berteman lagi dan dia sepertinya masih berharap," ucapku.
"Jauhin dia! Aku rasa, kalian gak cocok," ucap Gio.
"Kenapa?" ucapku.
"Karena aku... Ah sudahlah! Kita pergi makan yuk!" ucap Gio.
"Sekarang? Aku ganti baju dulu lah," ucapku.
"Gak usah! Kamu cantik pake baju itu," ucap Gio.

Inikah yang disebut jatuh cinta yang sesungguhnya? Saat kita merasa bahagia bila dekat dengan orang yang kita suka dan rasanya tak ingin cepat-cepat berpisah dengnanya? Saat kita merasa bahwa bersamanya serasa dunia milik berdua? Apakah karena merasa "feel like home"?

"Gi, aku baru sadar kalau selama ini aku jatuh cinta denganmu," ucapku dalam hati.

BERSAMBUNG.....

2 komentar:

Novel

Elegi Hati 7 - Bingung

19:29 Melissa Dharmawan 0 Comments

April 2007

Sudah lewat 2 bulan sejak mendapatkan surat misterius itu. Aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi. Mungkin hanya orang iseng yang mengerjaiku waktu itu.

Lapangan olahraga sepi. Semua anak kelas 3 sedang mempersiapkan ujian yang tinggal seminggu lagi. Hari ini hanya ada kelasku yang memakai lapangan olahraga.

"Ah, lu gimana sih? Gak pernah bisa masukin bolanya ke ring," ucap Roni marah-marah.
"Maaf..." jawabku.

Ya beginilah aku. Aku payah dalam pelajaran olahraga. Banyak orang menertawaiku. Bukan hanya anak cowok, tapi anak cewek pun banyak yang menertawaiku.

"Mik!" panggil Anne.
"Apa?" tanyaku.
"Sini!" jawab Anne.
"Kenapa sih?" tanyaku penasaran.
"Lihat ke atas deh!" ucap Anne sambil berbisik kepadaku.

Ternyata ada kak Gio di yang sedang melihat ke arah lapangan dari lantai tiga gedung sekolah.  Entah apa yang dia lihat, tapi perasaanku biasa saja. Mungkin guru yang akan mengajar kelasnya belum datang.

"Cieee..." ejek Anne.
"Ah, apaan sih!" jawabku.

Setelah jam olah raga selesai, kami semua kembali ke kelas kami masing-masing dan hendak mengambil baju ganti kami. Aku merasa aneh. Tiba-tiba, ada lipatan kertas di atas mejaku. Aku yakin kalau itu bukan milikku.

Besok sore jam 3 ketemuan yuk di taman segar
See you :)

"Siapa sih yang kirim surat ini? Kenapa gak pake SMS aja?" desahku dalam hati.

***

"Nick?" ucapku kaget.

Aku kaget sekali melihat Nick yang sedang duduk di salah satu kursi di taman segar. Biasanya Gio yang mengajakku ke taman segar, bukan Nick.

"Apa kabar?" tanya Nick.
"Baik," jawabku.
"Masih aja cuek." ucap Nick.
"Kenapa emang?" tanyaku.
"Ah, tak apa," jawab Nick.
"Oh," jawabku.
"Mik, aku kangen sama kamu. Kamu jangan menghindar dariku dong! Kita kan bisa berteman," ucap Nick.
"Maaf Nick," ucapku.
"Kita bisa mulai lagi kan? Anggap saja kita baru abis kenalan. Tapi kita gak pacaran," ucap Nick.

"Duh, gimana ya?" Desahku dalam hati.

"Jawab dong Mik!" ucap Nick.
"Iya iya!" ucapku.
"Oke, kita bisa berteman. Kamu tolong jangna menghindar dariku," ucap Nick.
"Terserahlah!" jawabku.
"Mau pergi makan eskrim?" tanya Nick.
"Maaf, aku takut kena flu kalau makan eskrim," ucapku.
"Hahaha, kamu lagi diet ya?" tanya Nick.
"Sok tau kamu!" jawabku.
"Kemarin aku baca majalah punya kakak sepupuku. Kamu hebat ya, bisa masuk majalah gitu," ucap Nick.
"Ah, biasa saja kok," jawabku.
"Kamu tuh hebat! Kamu bukan hanya bisa bermain piano, tapi kamu bisa menulis lagu dan lagumu itu enjoyable," ucap Nick.
"Oiya Nick, aku mau pergi dulu ya! Ada janji," ucapku.
"Janji sama siapa?" tanya Nick.
"Ada deh!" jawabku.

Aku langsung ke halte bis dan bisnya langsung datang. Aku ada janji dengan guru les pianoku yang membantuku membuat lagu.

"Silahkan masuk!" sapa bu Maura, guru les pianoku. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke rumahnya.
"Sebulan lagi kamu jadi konser?" tanya bu Maura.
"Oh, jadi kok bu," ucapku.
"Rencananya, kamu mau main berapa lagu disana?" tanya bu Maura.
"Empat lagu bu," jawabku.
"Kamu sudah memilih lagunya?" tanya bu Maura.
"Baru pilih satu, lagu Romance D'amour," jawabku.
"Lalu, sisanya?" tanya bu Maura.
"Mungkin, aku ingin menampilkan lagu yang baru saja aku tulis. Yang belum lama release," ucapku.
"Oh, yang judulnya Heart's Elegy dan Aki no Hikari ya?" tanya bu Maura.
"Iya bu! Tinggal pilih satu lagu lagi nih," ucapku.
"Coba nanti malam kamu pikirkan mau main lagu apa lagi," ucap bu Maura.
"Oke bu!" jawabku.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

Elegi Hati 6 - Valentine's

22:21 Melissa Dharmawan 0 Comments

Februari 2007

Banyak teman sekolahku yang menanti-nantikan bulan penuh cinta ini. Yup, valentine's day tinggal sebentar lagi. Kurang dari seminggu.

Aku sudah terbisa menjalani valentine's day tanpa kesan spesial. Aku jarang mendapatkan cokelat dari teman, bahkan aku belum pernah kencan pada hari valentine.

"Mik, sini!" panggil Anne.
"Ada apa?" tanyaku.
"Lihat ke bawah sana deh! Aaaa, cakep-cakep ya!" ucap Anne sambil memperhatikan sekumpulan anak kelas 2 di lapangan basket.
"Mereka lagi berlatih basket ya?" tanyaku.
"Iya... Pada ganteng-ganteng deh, apalagi kak Andre, cakep banget hari ini," ucap Anne.
"Ehhmm.." ucapku.
"Mik, lusa siapa yang akan kamu berikan cokelat?" tanya Anne.
"Ah, tidak ada," ucapku.
"Ah masa? Cari cowok lah, jangan ngejomblo," ucap Anne.
"Ngaca gih, situ juga masih jomblo," ucapku.

Anne terus memperhatikan ke arah lapangan basket dari lantai dua gedung sekolahku. Anak basket akan bertanding minggu depan.

Aku merasa asing dengan kumpulan anak basket di sana. Hanya Davin yang aku kenal, sisanya tidak aku kenal.

"Mik," ucap seseorang.
"Eh Gio," jawabku.
"Mik, pulang sekolah nanti jagan pulang dulu ya, dateng bentar ke ruang musik," ucap Gio.
"Ada apa?" tanyaku.
"Sudah, dateng aja ya," jawab Gio.
"Eh, ada kakak," ucap Anne. Anne adalah adik dari Gio.
"Cie Anne," ucap Gio.
"Ah, apaan sih kak," ucap Anne.
"Yaudah, kakak pergi dulu ya Ne, ada yang harus diurus di perpustakaan," ucap Gio.

Sepulang sekolah, aku menuju ke ruang musik di lantai tiga sekolahku. Aku penasaran ada apa sebenarnya.

"Duduk sini Mik!" ucap Gio.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Gini, kemarin bu Wanda meminta klub orchestra kita untuk mengisi acara valentine di sekolah kita hari sabtu ini. Tapi setelah ku pikirkan, waktunya terlalu mepet untuk latihan. Aku gak mau ambil resiko untuk memaksakan klub kita tampil tanpa persiapan," ucap Gio.
"Lalu?" tanyaku.
"Kamu main piano ya?" ajak Gio.
"Hah? Sendirian gitu?" ucapku.
"Iya. Kamu kan jago main piano. Udah berapa lembar sertifikat kamu pendam di lemarimu?" ucap Gio.
"Hmm..." ucapku bingung.
"Hayolah Mik! Mainkan piano untukku," ucap Gio.
"Untukmu?" tanyaku.
"Ah, maksudku, untuk semua murid sekolah kita.Tunjukan kalau kamu bisa. Jangan mengeluh kalau banyak anak merendahkanmu. Saatnya kamu kembali unjuk gigi," ucap Gio.
"Cuma ada waktu tiga malam ya?" ucapku.
"Aku yakin kamu pasti bisa. Aku mau sih bantuin kamu latihan. Tapi, kali ini aku pingin kamu maju sendiri di atas panggung. Bawa nama pribadimu sendiri ke atas panggung sekolah," ucap Gio.
"Oke oke, aku tampil deh!" jawabku.
"Nah, gitu dong," jawab Gio.

Aku melihat Gio sedang membereskan beberapa partitur lagu dalam satu map yang dia letakan di atas piano digital milik sekolahku. Mungkin, Gio ingin bermain piano di ruang ini sekarang.

"Aku punya tiga pilihan lagu yang menurutku cocok untukmu. Mau lihat?" ucap Gio.
"Boleh," jawabku.
"Yang ini, judulnya Romance D'Amour. Nadanya mengayun lembut. Yang ke dua, judulnya Barcarole. Setipe dengan Romance D'Amour. Nah yang ke tiga aalah My Valentine yang dipopulerkan oleh Martina McBridge," ucap Gio.
"Ah, Romance D'Amour kayaknya menarik," ucapku.
"Kamu mau ambil lagu yang itu?" tanyanya.
"Iya!" jawabku.
"Oke, mari kita coba disini sekarang," ajak Gio.

Gio mengajariku cara bermain lagu itu. Semua partitur yang hari ini dia bawa merupakan hasil aransemen dia sendiri. Aku sangat takjub dengannya, karena Gio berusaha untuk mengaransemen lagu-lagu itu sendirian.

Sambil mendengar gaya permainan Gio, aku mendengar ada suara orang yang membuka pintu ruang musik dari luar.

"Nick?" ucapku.
"Maaf menggangu waktu kalian. Tadi, ak usidah ketuk pintu, tapi tidak ada yang menjawab," jawab Nick.
"Ada apa?" tanya Gio.
"Oh, cuma mau ambil gitar aja kok," ucap Nick.
"Oh," jawab Gio.

Nick mengambil gitar dari ruang musik sambil menatap aku dan Gio. Aku jadi malu karena permainanku tidak begitu sempurna dan menjadi tontonan kedua cowok itu.

"Nick?" tegur Gio.
"Ah, bagus sekali permainanmu, Mik!" puji Nick.
"Ah, biasa saja! jawabku.
"Oke, kalau gitu aku permisi dulu ya," ucap Nick.

***

Hari ini adalah hari valentine. Beberapa temanku saling bertukar cokelat. Aku masih saja belum mendapat cokelat sampai detik ini. Menurutku, ini bukan masalah bagiku.

Semalam, aku membuat kue brownies cokelat. Aku suka membagikan kue brownies cokelat buatanku ke pada teman dekatku.

"Mikaa! Happy Valentine's day ya!" ucap Lisa.
"Happy Valentine's day too," jawabku.
"Cie Anne, itu cokelat dari siapa?" tanyaku.
"Dari kak Gio?" tanya Diva, salah satu anak di kelasku.
"Bukan," jawab Anne.
"Ah, kak Andre ya?" ucapku.
"Ih, bukan dia juga!" jawab Anne.
"Trus, siapa dong?" tanyaku.
"Rahasia!" jawab Anne. Anne meninggalkan ruang kelas.
"Eh, aku mau ke perpus dulu ya, udah ditunggu nih!" ucapku.
"Eh ciee... gebetan baru ya?" ucap Lisa.

"Eh, kak Andin!" ucapku di perpustakaan.
"Eh ada Mika!" ucap kak Mika.
"Apa kabar kak?" tanyaku.
"Baik kok! Oiya, nanti sore kamu pakai ruang musiknya nggak? Aku dan kelompok ujian musikku mau pakai buat latihan," tanya kak Andin.
"Oh, akunggak pakai kok," jawabku.
"Oke, makasih ya! Aku ke luar perpus dulu ya," ucap kak Andin.

Aku ke perpustakaan hanya ingin mengembalikan buku yang aku pinjam minggu lalu. Hari ini adalah batas terakhir bagiku untuk mengembalikan pinjaman bukuku.

Setelah mengembalikan buku itu, aku segera naik ke lantai dua dan masu ke kelasku. Aku ingin melanjutkan catatan biologiku yang tidak lengkap.

"Mik, katanya kamu mau pinjem catatan biologiku?" tanya Anne.
"Iya, mana bukunya?" tanyaku.
"Ini Mik! Aku ke toilet dulu ya," ucap Anne.

Aku segera mengambil bolpoin ku. Saat aku embuka kotak pensilku, aku menemukan sebatang cokelat kecil di dalam kotak pensilku. Aneh, siapa yang ngumpetin cokelat di dalam sini ya?

Aku berpikir. Aku tidak meminjamkan kotak pensilku kepada siapapun hari ini. Biasanya, kalau ada yang mau pinjem alat tulis, pasti minta ijin dulu. Ini terasa aneh.

Sepulang sekolah hari ini, aku tidak jalan dengan Dita karena Dia ingin menemani Davin latihan basket. Akhirnya, aku pulang sendiri saja.

Aku masih kepikiran soal cokelat misterius itu. Sampai sekarang, aku tetap belum memakannya. Aku hanya penasaran siapa yang memberikanku cokelat itu.

"Tok.. tok.. tok," terdengar suara ketukan pintu di depan rumahku.
"Siapa ya?" tanyaku.
"Ini aku," ucap orang itu.
"Oh Gio? Silahkan masuk!" ucapku.
"Wah, kamu abis masak?" tanya Gio.
"Enggak, itu bikinan semalam kok! Kalau mau, ambil sendiri aja ya!" ucapku.
"Oke," ucap Gio.
"Oiya, ada apa kesini?" tanyaku.
"Aku cuma ingin lihat kamu latihan piano untuk besok," ucap Gio.
"Oooo..." jawabku.

Setelah berlatih piano bersama Gio, akudan Gioduduk di sofa sambil menikmati salad buah buatan mamaku.

"Gio, aku bingung nih," ucapku.
"Kenapa? Ah, paling bingung besok mau pakai baju apa," ucap Gio.
"Nggak, aku bingung sama perasaanku sendiri," ucapku.
"Kenapa emangnya?" tanya Gio.
"Entahlah, aku bingung aja. Dulu saat aku pacaran dengan Nick, aku bingung dengan perasaanku sendiri. Sekarang, aku bingung juga," ucapku.
"Aku gak ngerti maksudmu,coba di perjelas lagi," ucap Gio.
"Akhir-akhir ini, aku menghindari pandangan mata dengan orang yang aku suka, walau orang itu yang mendekatiku tanpa tujuan membalas perasaanku. Mungkin, dia hanya menganggapku teman biasa. Mungkin, aku tidak spesial untuknya. Tapi bagiku, dia terasa berkesan di sini, di hatiku," ucapku sambil memegang dadaku.
"Menurutku, ini adalah perasaan jatuh cinta yang sebenarnya. Aku juga mengalaminya kok, dan aku sampai sekarang belum pernah menyatakan perassanku itu untuk cewek yang aku sukai itu. Menurutku, dia cuek soal percintaan. Jadi, menurutku aku belum perlu untuk mengatakan perasaanku sekarang," ucap Gio.
"Aku bingung, sampai-sampai aku memikirkan apakah dia yang memberikanku sebatang cokelat misterius tadi siang. Ada orang entah siapa yang memasukan sebatang cokelat ke dalam tempat pensilku," ucapku.
"Kita sama-sama bingung. Tapi, menurutku, masing-masing dari kita bisa menemukan arti dari keresahan hati ini," ucap Gio.
"Iya," jawabku.
"Semangat!" ucap Gio.
"Semangat! Eh, latihannya sudah kelar nih?"tanyaku.
"Aku lihat, kamu sedang capek," ucap Gio.
"Iya nih!" ucapku.
"Pergi makan yuk!" ajak Gio.
"Ayo!" jawabku.

***

"Wow Mik, hari ini kamu cantik sekali," puji Dita.
"Hehehe, makasih ya Dit! Kamu juga cantik kok!" ucapku.
"Mika!" ucap Davin.
"Davin!" ucapku.
"Mik, kami masuk ke aula dulu ya!" ucap Davin.
"Oke!" jawabku.

Hari ini aku memakai dress pink selutut kesukaanku.Tanteku perancang busana yang mengerti trend anak muda jaman sekarang. Pantas saja kalau tanteku pandai mendesain dress sesuai dengan kesukaanku.

"Cantik!" ucap seseorang sambil menepuk bahu kananku.
"Apa?" ucapku sedikit jutek.
"Itu, tadi udah aku ucapkan," jawab Nick.
"Kamu bilang apa?" tanyaku.
"Cantik!" ucap Nick.
"Eh, aku masuk ke dalam aula dulu ya!" ucapku padanya. Aku langsung meninggalkan Nick di depan aula.

Saat aku kembali ke dalam aula dan mendekat ke arah kursi yang aku duduki, aku melihat ada sebuah surat di atas tasku tanpa nama. Aku langsung membacanya.

Halo Mika, selamat hari valentine.
Aku sudah berkali-kali mengucapkan selamat hari valentine kepada siapapun, tapi baru kali ini aku berani mengatakannya kepadamu lewat tulisan ini.
Perasaanku membautku bingung berhari-hari dan membuatku tak nyaman. Setiap kali aku melangkah, aku merasa aneh.
Akhirnya, aku menemukan jawaban dari perasaanku ini, yaitu perasaan jatuh cinta.
Aku jatuh cinta denganmu.
Mungkin aku terlihat egois, hanya memendam perasaan ini sendiri setiap hari tanpa kamu tahu.
Mik, perasaanku ini tulus. Aku ingin melindungimu dengan caraku sendiri. Aku tahu kamu lemah, sering di ejek-ejek, dan kamu masih kepikiran tentang masa lalumu itu.
Aku ingin menjadi pelindungmu, teman berbagi cerita, dan ingin membantumu menghapus semua memori burukmu itu. Aku harap, kamu mau menerimaku.
~NN~

Aku terdiam sesaat danmeneteskan air mata. Aku terharu. Surat tanpa nama itu membuatku penasaran dan terharu. Sungguh romantis sekali.

BERSAMBUNG.....

0 komentar: