Novel

Elegi Hati 5 - Maaf

19:36 Melissa Dharmawan 0 Comments

Hari ini hari Sabtu, hari yang aku tunggu. Ini pertama kalinya aku tampil dalam sebuh konser di sekolah. Sebelumnya, aku hanya pernah tampil di sebuah gedung di Jakarta.

"Gio, semangat ya!" ucapku.
"Oke Mik," jawab Gio.

Kemarin, Dita berjanji akan duduk pada deretan paling depan dan hari ini dia menepati janjinya. Aku melihatnya duduk di deretan paling depan, tepat bersebelahan dengan Davin. Akhir-akhir ini, Dita dan Davin terlihat dekat.

"Mika, aku tampil di urutan ke 5 lho," ucap Nick setelah kembali dari WC.
"Ooo.. aku urutan ke 7," jawabku.
"Mik, kok kurang semangat gitu?" tanya Nick.
"Oh, aku semalem kena flu," jawabku.
"Semangat ya!" ucap Nick.
"Iya," jawabku.
"Mik, ke luar bentar yuk! Ada yang pingin aku bicarain," ucap Nick.
"Ada apa? Nanti aja ya setelah konser," ucapku.

Para peserta konser duduk di paling belakang. Suasanya konser terasa elegant, pengaruh dari dekorasi aula sekolah yang memberi kesan elegant. Para bapak dan ibu guru juga ikut menyaksikan setiap penampilan para murid-muridnya.

Aku duduk dengan menggunakan sebuah dress berwarna biru muda. Kemarin sore setelah latihan, aku meminta pendapat soal dress yang aku suka ini kepada Gio dan langsung membelinya.

"Setelah ini, ada seorang murid yang ingin bermain gitar sembil bernyanyi secasa solo. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Nick dari kelas 3B," ucap kak Mega, pembawa acara konser hari ini.

Nick maju ke depan dengan membawa gitar kesayangannya. Banyak anak kelas 3 yang melihat kearahnya. Mereka kagum, karena yang mereka tahu, Nick itu payah dalam ini dan itu, bahkan pernah dipanggil kepala sekolah karena nilai-nilainya sangat mengkhawatirkan.

"Lagu apa yang akan anda mainkan?" tanya kak Mega.
"Saya akan bermain sebuah lagu yang akan dipopulerkan oleh Nick Jonas yang berjudul Jealous."
"Jealous? Apakah  anda sedang merasa  jealous?"

Nick hanya terdiam di atas panggung dan banyak anak kelas 3 yang menertawainya. Gio juga sedikit tertawa.

"Beri tepuk tangan sekali lagi untuk Nick!" ucap kak Mega. Kak Mega langsung menuju pintu samping panggung dan berdiri di luar ruangan.

I don’t like the way he’s looking at you
I’m starting to think you want him too


Aku kaget mendengar lagu itu. Nick tampaknya sedang jealous. Aapakah semua ini yang menyebabkan dia kesal padaku belakangan ini?

I turn my chin music up and I’m puffing my chest
I’m getting red in the face, you can call me obsessed
It’s not your fault that they hover, I mean no disrespect
It’s my right to be hellish, I still get jealous


Aku melihat Nick bermain dengan penuh perasaan. Aku mulai mengerti kenapa dia memainkan lagu ini sekarang. Nick sudah menyadari bahawa dia sedang jealous.


Flashback
21 December 2006

Aku dan Nick bertemu di kedai eskrim sepulang dari sekolah. Hari ini adalah hari terakhir ke sekolah pada tahun 2006.

"Mik, Gio itu siapa?" tanya Nick.
"Gio? Mmm dia bukan siapa-siapa," jawabku.
"Yakin?" tanya Nick.
"Bener kok, cuma teman," jawabku.
"Kalian terlihat dekat sekali," jawab Nick.
"Emang kenapa? Salah?" jawabku kesal.
"Emang kamu gak sadar kalau kamu sudah tidak single?" ucap Nick kasar.
"Aaaah... kenapa kamu selalu melarangku untuk bermain dengan anak-anak cowo?" tanyaku.

Nick meraih badanku dari kursi yang aku duduki, merangkulku dengan kedua tangannya, lalu bertingkah seperti ingin menciumku.

"Nick!" ucapku sambil melepaskan kedua tangan Nick dari tubuhku.
"Kalian?" ucap Gio dari depan kedai eskrim.
"Gggiioo, ngapain kamu disini?" tanyaku berbata-bata.
"Aku gak sengaja lewat depan toko eskrim ini sehabis dari lantai satu. Aku gak sengaja dengar pembicaraan kalian," ucap Gio.

Seharusnya, masalah ini gak perlu melibatkan Gio secara langsung. Tapi, kenapa tiba-tiba Gio memperhatikan kami?

"Gio, tolong jangan mendekati Mika lagi," pinta Nick.
"Kami hanya berteman dan kami adalah tim dalam klub orchestra. Maaf mangganggu waktu kalian berdua, tapi kalau boleh tanya, kenapa kamu mengkekang Mika seperti itu?" tanya Gio.
"Karena nampaknya seseorang ingin mengambil Mika dariku!" sindir Nick.
"Nick? Bicara apa kamu barusan?" tanyaku.

Hampir aku ingin menampar Nick setelah mendengar Nick berkata seperti itu. Namun, aku tidak mau lancang seperti itu di depan umum. Aku berharap Nick cepat menyudahi masalah ini dan kembali memakan eskrim yang dia beli tadi. Gio jadi merasa tertekan karena Nick menyalahkannya.

"Nick, kalau kamu gak bisa bersikap dewasa sedikit dan berhenti marah-marah, lebih baik aku pulang sekarang," ucapku.
"Tunggu Mika!" ucap Nick.

Aku meraih tasku dan langsung jalan cepat untuk keluar dari toko eskrim itu. Aku melihat Gio menatapku dengan kasihan. Akhirnya, aku berhenti di depan bangku di depan toko sepatu.

"Aku antar kamu pulang ya?" ajak Gio.
"Bbbuatt apa? Aku bisa pulang sendiri," jawabku.
"Diluar hujan deras," ucap Gio.
"Aku gak mau ngerepotin kamu," ucapku.
"Melihat mukamu, aku jadi ingin mengantarmu pulang. Mukamu pucat," ucap Gio.
"Apa aku separah itu sampai membuatmu ingin mengantarku pulang?" tanyaku.
"Kamu harus memikirkan dirimu sendiri," ucap Gio.

Diam. Kami berdua hanya diam di depan toko eskrim itu. Nick hanya menatap kami dari dalam toko eskrim dengan tatapan kesal.

"Apakah kamu tertekan?" tanya Gio.

Aku tidak dapat berkata-kata. Aku hanya ingin meluapkan semuanya dalam tangisan, namun aku tidak mungkin menangis di dalam plaza. Semua orang yang melewatiku bisa menatapku aneh dan curiga.

"Mika?" tanya Gio sekali lagi.
"Hah?" ucapku.
"Ayo kita pulang!" ucap Gio.
"Tolong, aku sedang tidak ingin pulang ke rumah sekarang," ucapku.
"Apa? Mukamu pucat begitu," ucap Gio.
"Tapi..."
"Baiklah, kamu mau kemana sekarang?" tanya Gio.
"Aku ingin mencari udara segar," jawabku.

Aku dan Gio langsung menaiki eskalator dan turun ke lantai satu. Gio mengambil payung dari ranselnya dan membukanya setelah keluar dari pintu plaza.

"Itu bisnya datang!" ucapku.
"Ayo kita naik," ucap Gio.
"Mas mau kemana?" tanya satpam yang ada di dalam bis itu.
"Ke taman segar ya! Ini uang untuk dua tiket," ucap Gio.
"Siap mas!" jawab Satpam itu.

Hujan mulai reda dan kami sudah sampai di taman segar. Kami langsung turun dari bis yang kami tumpangi dan duduk di salah satu kursi yang terletak di sana. Gio mengantarku ke kursi itu.

"Minum ini," ucap Gio kepadaku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Jus Jeruk," ucap Gio.
"Terma kasih ya Gi," ucapku.
"Kalau mau nangis, menangislah disini. Aku mau kok dengerin semua keluhanmu," ucap Gio.
"Terma kasih Gi," ucapku.
"Dengan senang hati," jawabnya.

Aku duduk di samping Gio sambil menangis perlahan. Aku tidak dapat menahan air mataku seperti tadi di plaza. Gio memegang bahuku untuk menenangkan perasaanku. Hanya ini yang dapat aku lakukan, yaitu menangis.

***

"Nick, apa yang ingin kamu bicarain denganku?" tanyaku sambil minum jus jeruk di kantin sekolah.
"Aku butuh kepastian, Mik!" ucap Nick.
"Kepastian apa?" tanyaku pura-pula tidak mengerti.
"Aku capek kayak gini terus! Oke, aku sudah gak terlalu marah kalau kamu berteman denggan anak cowok. Tapi, apa yang kemarin-kemarin itu gak berlebihan?" tanya Nick.
"Maafkan aku," ucapku.
"Berapa kali kamu minta maaf? Sekarang, aku ingin tanya satu hal padamu. Apakah kamu sudah tidak sayang lagi padaku?" tanya Nick.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyaku.
"Aku tahu kalau sekarang kamu sudah tidak sayang padaku. Jangan mengelak lagi!" ucap Nick padaku.
"Maaf kalau kamu berpikir seperti itu padaku," ucapku.
"Sekarang, kamu ingin kita seperti apa? Apakah kamu mau menyudahi hubungan kita? Aku tidak masalah jika kamu ingin seperti itu. Dari awal, aku sudah mengatakan kalau aku akan mengikuti apapun kemauanmu. Semua itu demi kebahagiaan dirimu," ucap Nick.
"Maaf Nick, aku... Aku sudah tidak menyayangimu lagi. Sebenarnya, sudah sejak lama aku menyadari kalau kita bukanlah pasangan yang cocok satu sama lain. Tapi, aku selalu menunda-nunda waktu seperti ini untuk mengatakan perasaanku yang sesungguhnya," ucapku.
"Hah? Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian waktu itu di Plaza?" tanya Nick.
"Ini sama sekali bukan karena kejadian waktu itu. Ini benar-benar dari hati terdalamku. Ini benar-benar apa yang dirasakan olleh hatiku. Banyak orang mengatakan bahwa hati tidak mungkin berbohong walau mulut bisa berbohong. Kali ini, aku benar-benar mengatakan apapun yang dirasakan oleh hatiku," ucapku.
"Jadi. mulai sekarang kita mengakhiri hubungan ini?" tanya Nick sekali lagi.
"Iya," ucapku.
"Mika, sekarang aku akan berusaha untuk merelakanmu. Kalau memang ini yang terbaik, pergilah. Carilah pria yang baik di luar sana," ucap Nick.
"Maaf," ucapku
"Boleh aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" ucap Nick.
"Terserah kamu," ucapku.

Nick mengambil tas gitarnya, memakainya untuk terakhir kali di hadapanku, memelukku, dan membalikan badannya.

"Oiya Mik," ucap Nick.
"Ya?" tanyaku.
"Besok sampai Rabu aku tidak masuk sekolah," ucap Nick.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku mau mengikuti seleksi di kedutaan," ucap Nick.
"Kedutaan?" tanyaku.
"Iya, aku berencana melanjutkan kuliah gitar di luar negri, itupun kalau keterima. Saingannya banyak sekali dan kursi yang tersedia untuk Indonesia sangat kecil," ucap Nick.
"Oke, semoga sukses ya!" ucapku.
"Terima kasih Mik untuk segalanya. Aku pulang dulu ya! Kamu jaga diri baik-baik. Jangan memaksakan dirimu utnuk bermain piano dan menulis lagu kalau sudah merasa lelah," ucap Nick.
"Oke Nick," ucapku.

Aku duduk di kantin sambil minum segelas jus jeruk dan tiba-tiba Dita menghampiriku dari jauh.
"Dita?" ucapku.
"Hai Mik, baru aja aku pesen jus mangga," ucap Dita.
"Ooo... Davin kemana?" tanyaku.
"Oh, tadi dia diajak main basket sama temen-temennya di lapangan. Tiga minggu lagi kan ada pertandingan melaawan sekolah tetangga," ucap Dita.
"Oooo begitu," ucap Dita.
"Nick udah pulang?" tanya Dita.
"Sudah. Kami sudah putus," ucapku di depan Dita.
"Putus? Kenapa?" ucap Dita.
"Iya, baru saha kami putus dan Nick tidak marah sedikitpun padaku," jawabku.
"Harusnya kamu jujur padanya dari dulu kalau kamu tidak menyukainya. Kamu berusaha menyukainya, tapi ternyata hatimu bukan untuknya. Aku sudah tahu itu, bahkan kamu juga terlihat sering bersepeda dengan Gio di dekat rumahmu," ucap Dita.
"Ih, kamu diam-diam memperhatikanku di depan rumah ya?"' tanyaku.
"Aku tidak sengaja melihat kalian berdua beberapa kali, Ah, andai Davin mengajakku untuk menaiki sepeda juga" ucap Dita.
"Coba saja kamu yang ajak duluan," ucapku.
"Ye... sepeda ku aja udah rusak," jawab Dita.
"Hahahaha," ucapku.
"Eh Mik, kalau aku pikir-pikir, Nick itu cowo yang baik pada dasarnya. Dia tidak jahat seperti apa yang kamu pikirkan dulu. Buktinya, dia tidak marah sama sekali saat kamu mengatakan ingin mengakhiri hubunganmu," ucap Dita.
"Mungkin kebetulan dia sedang baik padaku," ucapku.
"Ih, dibilangin gak percaya banget!" ucap Dita.
"Nick mendaftarkan dirinya untuk mengikuti test penerimaan calon mahasiswa di kedutaan," ucapku.
"Serius?" tanya Dita.
"Iya, jurusan seni musik," jawabku.
"Wow... aku gak menyangka dia berani juga. Padahal, nilai-nilai dia kan banyakan merahnya," ucap Dita.
"Setiap orang bisa berubah dan berusaha," jawabku.
"Eh Mik, pulang yuk!" ucap Dita.
"Yuk!" jawabku.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

Elegi Hati 4 - Galau

23:24 Melissa Dharmawan 0 Comments

Januari, 2007

Libur natal dan tahun baru telau usai. Hari ini, kegiatan belajar mengajar kembali berjalan dengan normal. Masuk jam 7, pulang jam 2 siang.

"Mik, lo daftar konser natal dan tahun baru sekolah gak?" tanya Lisa.
"Belum Lis, emang kenapa?" tanyaku.
"Lo kan lumayan berbakat, kenapa gak ikutan aja. Punya bakat kok dipendam?" ucap Lisa.
"Iya nih Mik, sayang lho," bales Anne.
"Hmm... iya iya, sepulang skeolah aku akan mendaftar ke bu Weda. Oiya, kalian pada mau makan apa?" tanyaku.
"Mik, beli nasi goreng bang urip yuk!" ajak Lisa.
"Ayo Lis!" jawabku.

Aku, Lisa, dan Anne mengantri di depan lapak milik bang urip di kantin, sementara Dita dan Josse, temen sekelas Dita, terlihat sedang mengantri untuk memesan bakso.

"Mik, sini bentar deh!" ucap Nick tiba-tiba dari sampingku.
"Lis, tolong pesenin mie goreng bakso gak pedes ya," ucapku sambil berjalan ke pinggir kantin.
"Mik, jangan cuek kenapa sih?" ucap Nick.
"Emangnya kita harus nempel setiap detik?" jawabku.
"Ya, bukan itu maksudku," jawab Nick.
"Trus apa?" jawabku.
"Ah, kamu ini gak ngerti deh! Oiya, sabtu besok kamu nonton aku konser di sekolah ya! Aku pingin kamu hadir,"ucapnya.
"Iya, aku juga aka ntampil disana, tapi belum daftar sih," ucapku.
"Mau aku daftarin? Kamu gak perlu ke bu Weda, soalnya panitia acaranya kan semuanya dari kelas 3," ucap Nick.
"Yaudah deh!" jawabku.
"Oke, lanjutin jajannya gih!" ucap Nick.

***

Sepulang sekolah, aku menolak ajakan Nick untuk pergi ke Plaza. Aku ingin langsung sampai ke rumah dan memikirkan kira-kira lagu apa yang akan ku tampilkan nanti.

Aku sudah kehabisan ide, tapi aku sudah terlanjur mendaftarkan diri. Aku gak mau mundur dari konser musik itu, sebab aku tidak mau dibilang pemalu lagi.

"Ah, coba aku tanya ke Gio saja," ucapku dalam hati.

Mika
Gi, bisa kita ketemu di depan rumah?
Sent 14.30

Gio
Ada apa Mik? Boleh kok, tunggu bentar ya, 5 menit lagi.
Sent 14.37

Gio adalah salah satu tetanggaku yang bersekolah di sekolah yang sama denganku. Dia adalah seniorku yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri.

"Hai Mik, ada apa? Jangan bilang kamu mau curhat soal..."
"Sttt..." ucapku sambil menutup mulut Gio.
"Kenapa Mik?"
"Ini, aku mau minta bantuan. Aku sudah kehabisan ide. Aku mendaftarkan diri ke acara konser sekolah sabtu besok, tapi aku gak tau mau main lagu apa nanti."
"Oh.. kenapa bicarain disini sih? Ayo kita masuk ke dalam rumahku."

"Eh Mika!" sapa mama Gio.
"Halo tante!" ucapku.
"Gi, mama pergi dulu ya! Nanti makan malemnya ambil sendiri di dapur," ucap mama Gio.
"Siap ma!" jawab Gio.

Setelah mama Gio pergi, aku langsung masuk ke salam rumah Gio. Di dalam rumah Gio ada sebuah piano. Gio bisa bermain piano sepertiku.

"Mik, menurutku, kamu harusnya menampilkan lagu yang menggambarkan perasaanmu saat ini. Aku gak tahu apa yang sedang kamu rasakan, tapi menurutku, apapun yang kamu rasakan, terutama hal-hal yang kamu resahkan, sebaiknya segera kamu ungkapkan. Kamu bisa ungkapkan lewat sebuah lagu."
"Eh, bener juga ya Gi."
"Untuk soal aransemen, aku bisa bantu kok!"
"Makasih ya Gi!"
"Untuk apa?" tanyanya.

untuk perhatianmu selama ini.

"Untuk sarannya tadi."
"Yuk, kita mulai latihan."
"Latihan?" tanyaku kaget.
"Ya latihan piano. Kamu kira apa?" tanya Gio.
"OH..."

Aku mambuka piano Gio. Aku mencoba bermain sebuah lagu. Akhirnya, aku berniat untuk memainkan lagu milik Brian McKnight yang berjudul 'Stay Or Let It Go'.

"Gi, coba kamu nyanyiin lagunya deh, aku pingin cocokin nada yang aku mainkan udah pas belum." ucapku.
"Siap!" jawabnya.

I can't keep playing myself like this
There's only one thing I wanna know
Should I stay or should I go?



"Wah, bagus juga suara kamu Gi," ucapku dengan jujur dan kaget.
"Hehehe..." jawabnya.
"Gi, gimana kalau kamu jadi penyanyi buatku aja? Aku tetep main piano, tapi biar lebih menarik, kamu nyanyi juga. Ya, anggep aja kita duet," ucapku.
"Nyanyi?" tanya Gio.
"Iya Gi! Kata temenku, kalau kita punya bakat, jangan di pendam sendirian," ucapku.
"Iya deh, aku mau tampil juga. Oiya, kamu jangan bilang orang lain ya kalau aku yang nyanyi, nanti semua pada ketawa," ucap Gio.
"Santai aja Gi," jawabku.
"Ayo, kita latihan lagi," ajak Gio.

***

"Mik, nanti sore makan eskrim yuk!" ajak Nick.
"Males ah," ucapku sambil mengaduk bumbu kacang.
"Mik, kok cuma diaduk-aduk bumbu kacangnya? Gak dicampur ke batagornya?"
"Mik... kok diem?"
"Gak mood." ucapku.
"Lho kenapa? Cerita dong sama pacar sendiri," ucap Nick.
"Tau ah," ucapku.
"Kok ngambek gitu sih? Kalau ngambek terus, aku tinggal ke atas lho," ucap Nick.
"Yaudah gih!" ucapku.
"Aku pergi ya, bye! Sampai ketemu lusa," ucap Nick.

Aku langsung menyantap batagor pesananku sendirian. Pada jam istirahat ini Anne harus bertemu pak Joko karena Anne terpilih mewakili sekolah untuk ikut olimpiade matematika, sedangkan Lisa tidak masuk sekolah.

"Mik, sendirian aja?" ucap Dita sambil membawa segelas es jeruk.
"Iya nih Dit." ucapku.
"Sini tak temenin," ucap Dita.
"Dit, nanti siang kita gak bisa pulang bareng dulu," ucapku.
"Tumben, kenapa?" tanya Dita.
"Udah ada janji mau langsung pergi."
"Pergi? sama pacar?"
"Bukan, sama Gio."
"Gio? Bukan Nick?"
"Hmm..." ucapku sambil mengangguk.
"Mik, kamu mau sampai kapan kayak gini? Kamu makin lama makin aneh aja deh! Menurutku ya, kalau kamu naksir sama Gio, ya ngapain masih simpen status sama Nick?"
"Aku cuma gak mau bikin orng lain kecewa, Dit!"
"Kayak gini aja udah bikin Nick kecewa lho! Mungkin kamu gak tau apa yang dia rasain. Bisa aja dia kecewa, tapi gak mau kehilangan kamu. Jadi, dia diem-diem aja."
"Aku gak tau mau gimana lagi."
"Ikuti kata hatimu saja!"

Sepulang sekolah, Gio menungguku di depan gerbang sekolah, tapi tidak persis didepan gedung sekolah agar tidak ada yang curiga, termasuk Nick.

"Yuk Mik!"
"Yuk!"

Aku dan Gio berjalan kaki sampai ke depan halte bus. Gio tidak membawa kendaraan, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kemanapun aku melangkah dengannya, disitulah aku menemukan sebutir kebahagiaan.

"Mik, itu bus nya dateng!" ucap Gio.
"Yuk!" jawabku.

"Mas, mbak, mau kemana?" tanya satpam yang ada di dapam bus itu.
"Mas, turun di depan ruko Sitra ya! Ini uangnya untuk 2 orang," ucap Gio. Pak satpam langung memasukan uang itu ke dalam mesin tiket.
"Ini mas tiketnya," ucap satpam itu.
"Mik, kamu jarang naik bus ini ya?" ucap Gio.
"Beberapa kali pernah kok," jawabku.

***

"Wah, jadi ini yang mau kamu tunjukin tadi? Ternyata kamu ngajak aku ke studio musik," ucapku.
"Iya, kebetulan aku kenal dengan yang punya studio ini, jadi bookingnya gampang," jawab Gio.

Gio mengajakku ke studio musik yang tidak terlalu jauh. Gio bilang, kita harus mencoba untuk latihan disini supaya lebih serius saat tampil nanti.

"Jangan bilang kamu mau rekam permainan kita di sini," ucapku.
"Yups! Buat apa ke studio kalau gak di rekam juga? Supaya bisa diputer ulang di rumah kalau pingin latihan sendiri," jawabnya.
"OH," jawabku.

Setelah kami selesai latihan selama hampir 1 jam, Gio mengantarku ke rumahku. Kedua orang tuaku masih di luar kota, jadi hanya ada mbak Minah.

"Lho Nick?" ucapku kaget.
"Kamu kemana aja sih? jam segini baru pulang! Hpmu gak aktif pula. Lihat, di luar gerimis. Gak pake payung pula," ucap Nick khawatir.
"Maaf, batre HP ku habis tadi. Kamu kenapa sih? kok kayak ngatur-ngatur gitu?" tanyaku.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu pergi sama cowo lain sih?" tanya Nick balik.
"Aku yang harusnya tanya, kamu kok bisa kesini? Aku ka ngak pernah kasih tau alamat rumahku," tanyaku balik.
"Emangnya aku gak bisa tanya sana sini apa?" jawab Nick.
"Nick, maaf ya kalau aku tadi ajak Mika pergi," ucap Gio merasa bersalah.
"Ini bukan salah Gio," ucapku spontan.
"Mik, aku pulang dulu ya, makan eskrimnya kapan-kapan aja ya," ucap Gio.

Gio langsung berlari karena gerimis. Rencana makan eskrim dengan Gio aku batalkan karena ada Nick di depan rumahku.

"Nick, ayo masuk ke dalam! Kamu mau diliat tetangga?" ucapku.
"Kamu kenapa sih? Semakin aneh, bukan seperti Mika yang aku kenal," ucap Nick.
"Maaf... Tadi aku pergi ke studio musik sama Gio. Kami latihan untuk konser lusa," ucapku.
"Kamu mau tampil dengna Gio?" ucap Nick.
"Iya," jawabku.
"Kenapa sih? Kenapa musti dia?"tanya Nick.
"Entahlah, aku juga gak tau kenapa," jawabku.

BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Novel

Elegi Hati 3 - Lebih Baik Melepaskan Cinta yang Dipaksakan

21:29 Melissa Dharmawan 1 Comments

Pagi ini perasaanku campur aduk gak karuan. Aku berjalan meuju gedung sekolahku dengan pasrah. Aku pasrah dengan keadaan yang akan aku hadapi nanti di sekolah. Aku takut kalau kejadian yang aku alami kemarin sore menjadi bahan pembicaran temen-temanku dan teman- teman Nick.

Nick 
Mik,  nanti di sekolah jalan bareng ya, tungguin aku di depan gerbang sekolah
Sent 06.33
Mika 
Aku jalan sendiri aja ya

Sent 06.35



Aku tidak ingin jalan berdua dengannya. Aku berniat untuk cuek dengannya. Entahlah, apakah aku sudah berubah menjadi Mika yang lain, yang tiba-tiba menjadi orang jahat?



Setelah aku sampai di depan kelasku, Lisa menatapku dengan tatapan yang tidak biasanya. Dia langsung memanggil namaku.



"Mika, kok gak cerita-cerita?" tanyanya.

"Apanya yang harus aku ceritain?" jawabku.

"Tadi ketemu Nick pas lagi jalan kaki ke sekolah. Dia cerita kalau kemarin baru aja jadian. Dia bilang kalau dia jadian sama kamu. Bener ya?"

"Lissss," ucapku dengan sedih.

"Lho, kenapa? Harusnya kan kamu seneng bisa punya pacar baru, orang yang setia nungguin kamu pulang sekolah. Ini malah sedih," ucap Lisa. 
"Sebenernya, aku gak benar-benar terima cinta dia. Kemarin dia mengirimku SMS untuk menanyakan apakah aku mau jadi pacar dia. Nah, aku kan lagi nonton drama Korea di rumah Dita. Saking seriusnya, beberapa SMS yang masuk hanya ku jawab 'ok'.  Nah, ternyata aku jawab SMS dari dia juga," jawabku sambil menangis.
"Trus gimana? Kamu dah jujur belum kalau sebenarnya salah jawab SMS?" tanya Lisa.
"Belum. Aku takut dia marah banget. Aku takut aku akan dimusuhi banyak orang," jawabku.
"Tapi kamu tetep tanggepin dia? kamu bales semua SMS dari dia?" tanya Lisa.
"Terakhir cuma sampe pas dia telepon aku yang pertama kali, abis itu aku matiin HPku," jawabku.
"Hmm pantesan aja dia terlihat kurang semangat pagi ini, ternyata karena kamu diemin dia," ucap Lisa.

Aku langsung mengalihakn pandanganku dari Lisa. Aku bingung mau jawab apa. Yang ingin aku tanyakan adalah kenapa Lisa bisa tau semuanya.

"Eh Lis, kok kamu bisa kenal sama dia?' tanyaku penasaran.
"Nick itu kan temennya abangku," jawab Lisa.
"Oh gitu," jawabku.
"Jangan-jangan, kamu gak tau ya, kalau sebenernya Nick udah suka sama kamu dari lama?" tanya Lisa.
"Ah, masa sih Lis?" jawabku.
"Beberapa kali aku lihat kalau Nick itu udah suka ikutin kamu jalan dari gedung sekolah sampai ke gerbang sekolah, bahkan suka perhatiin kamu sampai kamu masuk ke mobil. Trus, dia suka dapet info tentang kamu dari Davin."
"Oh, jadi gitu? Tapi, aku ga ada perasaan apapun sama dia. Dia bukan tipeku. Dia terlalu blak-blakkan dan kesannya terburu-buru dan pingin tau ini itu. Seperti gak ada proses."
"Ah Mik, Mik... Mau sampai kapan kamu nungguin Gio? Aku tau kok kalau kamu naksir sama Gio, anak klub musik. Tapi, buat apa kamu nunggu dia berminggu-minggu, sedangkan sudah ada cowo yang sayang sama kamu?"
"Ah, entahlah Lis," jawabku


***

"Mika, aku pingin ngomong sama kamu!" ucap Nick sambil menarik lengan kiriku.

Aku hanya terdiam. Aku gak tau mau ngapain. Beberapa orang melirik kearahku dan Nick. Jepas saja, Nick berhasil merebut perhatian beberapa orang di sekitar kami, karena Nick memangiglku tepat di depan ruang perpustakaan sekolah.
 

"Kenapa Nick?" tanyaku.
"Apa aku gak boleh mendekati pacarku sendiri?" tanya Nick kepadaku.
"Maaf ya Nick, aku mau ke perpustakaan. Ada yang harus aku kerjakan disana," jawabku. Aku langsung pergi memasuki ruang perpustakaan, diikuti Nick dari belakang tubuhku,

Aku langsung duduk di salah satu bangku di perpustakaan. Aku ingin melanjutkan karanganku. Aku membawa buku musikku dan alat tulisku ke dalam perpustakaan dan Nick duduk di bangku yang berhadapan dengan bangku yang aku duduki.

"Mik!" ucap Nick.
"Stt... ini perpustakaan, bukan panggung," ucapku.


Aku gak mau berbagi cinta dengan orang yang gak seharusnya. Cinta itu bukan untuk sebuah permainan yang ada karena suka atau karena paksaan yang akhirnya akan seperti “game over” pada sebuah permainan. Cinta itu butuh kepastian, keseriusan, dan waktu.

"Nick, kamu kenapa sih ngeliatin aku terus, kayak mau kiamat aja gak bisa ngeliat aku lagi," ucapku.
"Aku gak mau jauh darimu. Aku gak mau kamu diambil oleh cowo lain, tepatnya setelah kamu dibuat sedih oleh para cowok kurang ajar," jawab Nick.
"Makasih Nick, tapi aku gak apa-apa kok. Aku mau lanjuin karanganku dulu ya, kamu kemana kek, gak usah nungguin aku lagi," ucapku.
"Oke kalau itu maumu, aku keluar perpus ya! Sampai ketemu nanti," jawabnya.

Aku kembali melanjutkan karangan laguku di perpustakaan. Sebenarnya, aku tidak sedang mood untuk melanjutkan lagu ini, tapi aku bosan sekali pada jam istirahat hari ini. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Hanya perpustakaan tempatku merenung, memikirkan semuanya, bahkan aku selalu ke perpustakaan bila ada masalah.

"Eh ada Mika," sapa Anne, salah satu teman sekelasku yang juga suka ke perpustakaan.
"Eh Anne..." ucapku.
"Eh Mik, yang tadi itu benar ya?" tanya Anne.
"Yang tadi yang mana? Kita aja baru ketemu sekarang," ucapku.
"Aku tadi gak sengaja denger Nick mengucapkan 'pacarku'," jawab Anne.
"Anggep aja gak terjadi apa-apa Ne, kapan-kapan aku ceritain deh," jawabku sambil terus menulis not balok.
"Dasar anak sibuk," jawabnya. Lalu Anne duduk di bangku tepat di sebelahku sambil membaca novel Dealova.

Aku jadi semakin berpikir tentang apa yang aku lakukan kedepannya. Mungkin sudah saatnya aku mencari cara untuk melepaskan Nick secara perlahan.

BERSAMBUNG..... 

1 komentar:

Novel

Elegi Hati 2 - Inikah Cinta Dadakan?

21:40 Melissa Dharmawan 4 Comments

Sore ini aku tak ada kegiatan apapun. Sejak pulang sekolah tadi, aku hanya bermain tetris di HP ku. Aku tak peduli apakah aku terus bertemu dengan tulisan GAME OVER atau tidak.

Tiba-tiba, ada sebuah SMS yang masuk ke HPku saat sedang asik bermain tetris. Aku penasaran dan segera membuka isi SMS tersebut. Aku hanya kaget sesaat setelah membaca isi SMS itu. Ternyata ada SMS dari Nick.

OMG! Kenapa kak Nick SMS aku?!?!?” ucapku dalam hati.

Aku sedikit was-was. Aku tidak ingin ketahuan orang lain kalau aku di kejar Nick. Tentu akan menjadi gosip sekolah jika mereka semua tau. Nick itu terkenal dengan keanehannya. Aneh....

Nick
Hai, lagi apa?
Sent 13.30


Sebenarnya, aku penasaran sama sifat asli Nick. Apakah dia memang aneh dan nyebelin, atau sebaliknya. Memang, sudah banyak gossip miring tentang Nick, tapi aku tetap harus berpikit positif. Semoga dia orang yang baik.

Aku langsung membalas SMS itu. Setelah dibalas, langsung Nick mambalas lagi. Begitu seterusnya sampe sore.

Tiba-tiba aku berniat untuk pergi ke rumah Dita untuk menghilangkan kebosenanku. Entah mau ngapain disana, yang penting bisa ketemu temen.

Rumah Dita terletak pada jalan yang sama dengan rumahku, sehingga aku sering pergi ke rumah Dita kalau ada waktu senggang atau kalau ingin mengerjaan PR berdua. Dita bisa diandalkan dalam mengerjakan PR (bukan mau mencontek lho!)

Sebelum aku membuka pintu pagar rumah, aku membalas SMS Nick lagi. Aku berusaha untuk berhenti SMS dia sejenak, karena niat awalku hanya untuk mengetahui sifat asli Nick, bukan maksud lain.

Mika
Sudah dulu ya, aku mau ke rumah tetanggaku dulu.
Sent 15.10


Nick
Oke.. Ati-ati ya Mik…
Sent 15.12


Sesampainya di depan rumah Dita, aku langsung memanggil namanya dengan suaraku yang dibilang cempreng oleh beberapa teman di sekolah.

“Ditaaaaaaaa…..” teriak aku dari depan rumah Dita.
“Eh buset Mik suaramu …. Ayo masuk!” jawab Dita.
“Eh Dit, tadi Nick kirim SMS ke aku,” ucapku padanya.
“Serius? Kok bisa?” Tanya Dita.
“Itu tuh, gara-gara dia minta nomer HPku kemarin. Kamu inget kan?” Tanyaku.
"Iya, aku inget kok, kan kamu kemarin cerita ke aku lewat SMS," jawab Dita.
"Hmmm..." ucapku.
“Cie… sms-an… hahaha,” jawab Dita sambil ketawa.
“Ih, kok Dita malah bilang gitu?”

Sambil menonton drama Korea bersama di ruang tamu rumah Dita, aku sesekali melihat layar HPku. Takutnya, ada SMS penting dari orang tuaku.

Ada 1 SMS yang baru saja masuk ke HPku. Setelah ku buka, aku hanya menjawab 'OK' karena kau sedang asik menonton drama Korea. Aku malas membaca isi SMSnya.

Setelah selesai nonton drama Korea, aku membaca lagi isi SMS itu. Ternyata Nick SMS aku, dan aku sangat sangat sangat sangat kaget. Aku salah jawab SMSnya. Aku kira dari orang lain dan kalaupun aku nyadar kalau dari Nick, aku tidak menyangka bahwa isinya akan seperti itu.

Nick
Mik…
Aku suka sama kamu. Sebenarnya, aku udah lama suka sama kamu. Kamu cantik dan imut.
Mau ga jadi cewekku? Jawab ya... :)

Sent 16:10


Aku hanya terdiam. Aku bingung musti ngapain. Secara status, aku tidak sengaja menerima ajakan Nick, tapi secara hati, aku tidak benar-benar menerimanya. Aku hanya berbohong lewat kata-kataku. Aku bisa saja mengecewakan dia jika aku mengatakan bahwa aku salah ketik atau bilang kalau aku salah kirim SMS ke nomor HP dia.

“Mik, kamu kenapa sih? Kok bengong gitu? Nanti kesambet loh,” Tanya Dita.
“Dit… aku bodoh banget! Aku ceroboh,” ucapku.
“Lho Mik, kenapa?” Tanya Dita.
“Aku tadi gak sengaja jawab 'oke' pas ada SMS yang masuk. Ternyata, itu SMS dari Nick. Dia nemmm….” Jawabku bingung.
“Nem... tuh apaan Mik? Nembak ya? Apa??? Dia nembak kamu? Serius? Kamu gak becanda kan?” jawab Dita kaget.
"Iya Dit. Tadi kan aku lagi serius banget nonton drama Koreanya. Eh, aku jawab aja 'oke'. Takutnya, yang kirim SMS itu nungguin kapan kau baca SMSnya. Aku kira dari temen atau siapa gitu. Gak taunya dari Nick," ucapku.
“Ehmmm jadi kalian jadian dong? Cie… ahahaha,” jawab Dita.
“Dit, kok malah ketawa? Gimana ini? Masa tiba-tiba aku diem aja? Gimana dong?” Tanyaku dengan panik dan bingung.
“Sebenernya… kamu senang kan? Ngaku aja lah…” Ucap Dita.
"Entah, aku sebenernya belum siap juga. Apa cinta itu datangnya mendadak? Apa aku harus menjalani semua ini? Bagaimana kalau aku hanya mengecewakan dia?" jawabku.
"Ah, yasudah, jalani aja Mik!" jawab Dita.

***

Nick
Hai cantik, lagi ngapain?
Sent 17.00

Membaca SMS itu, aku jadi berpikir untuk kedua kalinya. Apakah aku harus jujur padanya, tetap jalani apa adanya, atau mundur perlahan tanpa mengatakan yang sebenarnya? Aku bingung harus bagaimana. Sungguh, ini diluar dugaanku. Lagipula, aku belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta yang sesungguhnya.

Setelah berpikir selama hampir setengah jam, akhirnya ku putuskan untuk menganggap Nick sebagai teman, seperti tak ada apa-apa. Toh Nick gak akan curiga padaku. Aku gak mau terlalu perhatian, karena sesungguhnya, ini diluar kemauanku.

Aku meletakkan HPku diatas meja kamar dan langsung membaca majalah. Mungkin karena aku tidak membalas SMS dia, Nick meneleponku.

Tanpa berpikir panjang, aku angkat telepon darinya, daripada dia tambah curiga kepadaku.

“Mik.. lagi apa?” Tanya Nick.
“Lagi baca majalah nih,” jawabku singkat.
“Mik…yang tadi itu serius? Kamu kok setelah itu gak bales SMSku lagi?”

"Mmmm..."
Tut…


Telepon terputus. Aku bingung mau bilang apa. Aku takut. Aku takut akan dimusuhi banyak orang jika aku berkata yang sebenarnya.

Nick meneleponku untuk yang kedua kalinya dan aku tidak menjawab telepon itu. Aku terus membaca majalahku tanpa mempedulikannya. Nick terlalu mendekatiku, sedangkan aku tetap menjaga jarak.

Dari luar kamar, mamaku tampak bingung. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Pasti mamaku bingung kenapa aku gak pernah angkat telepon dari Nick.

***

Untuk menghabiskan malam yang penuh keresahan ini, aku keluar dari kamarku dan menuju ke ruang tengah, dimana piano terletak. Aku langsung memainkan sebuah lagu sambil bernyanyi.

If you want me, I must be doing something right.
I got nothing left to prove and it's all because of you.
So if you need me, and baby I make you feel alive.
I know I must be doing, doing something right.

Westlife - Something Right

Setelah aku selesai memainkan sebuah lagu, aku menuju kamarku dan aku mematikan HPku, lalu aku istirahat di ranjang kesayanganku. Aku tidak mau menjadi semakin terbebani oleh masalah ini.

"Inikah cinta dadakan?"

BERSAMBUNG.....

4 komentar:

Novel

Elegi Hati 1 - Awal dari Segalanya

19:29 Melissa Dharmawan 2 Comments

Desember, 2006

Semua berawal dari waktu itu, waktu dimana aku tanpa sengaja memulai segalanya. Beujung dari dikenalkan menjadi kenal. Berujung dari penasaran jadi masalah.

Jadi, aku masih kecil. Aku berjalan menelusuri jalan itu sepulang sekolah. Jalan yang ramai karena dilewati oleh ratusan murid dari sekolahku. Dengan senang hati aku berjalan pulang. Ulangan akhir semester sudah selesai.

"Mikaaa.." teriak seseorang dari belakangku.
"Oh, kamu toh Vin.. ckckck... apaan?" jawabku.
"Gimana tadi ulangannya? Sukses nggak?" tanya Davin.
"Lumayan lah, hahahaha... Kamu sendiri?" tanyaku padanya
"Ah, biasa saja." jawabnya.
"Davin!" panggil seseorang yang tak ku kenal dari belakang tubuh Davin.
"Mika, kenalin, ini sepupuku, namanya Nick." ucap Davin.
"Hai," ucap Nick.
"Vin, aku pulang dulu ya, bye." ucapku.

Sambil berjalan ke arah depan, aku sesekali memandang mereka berdua. Aku mendengar dengan samar-samar percakpan mereka berdua.

"Vin, cewe tadi tuh cantik loh," ucap Nick.
"Hahahaha..." ucap Davin.

Flashback

Saat jam istirahat, aku duduk di bangku yang aku tempati di kelas. Aku males ke kantin hari ini dan aku juga bosan ke perpustakaan karena aku sudah meminjam buku ini dan itu, sampai ibu petugasnya sudah hafal. Aku hanya memperhatikan keasikan teman-temanku di dalam kelas. Ada yang lagi makan, ada yang lagi baca buku, ada yang lagi lari-lari gak jelas.

Ku lihat, Lisa datang membawa tumpukan majalah sekolah edisi terbaru. Aku sangat penasaran dengan isinya. Lisa membagi-bagikan majalah itu satu per satu tiap bangku.

"Mika, lihat ini deh! Halaman 15 ada sesi wawancara lagi. Liat siapa yang ada di situ!" ucap Lisa blak-blakan.
"Siapa tuh? Aku gak kenal," jawabku.
"Yaampun Mik, dia kan kakak kelas yang terkenal itu, yang sering di ketawain sama temen-temen sekelasnya." ucap Lisa.
"Aku tetep gak kenal dia Lis," jawabku.
"Dia suka sama kamu tau! Cieee..."
"Ah, apaan sih Lis!"
"Serius nih!"
"Ya, terserah kamu deh!"

"Aku jadi penasaran, sebenarnya dia yang ada di majalah sekolah itu siapa sih?" gumamku dalam hati sambil membaca isi majalah sekolah.

****

Tinggal beberapa hari lagi menjelang libur natal dan tahun baru. Seluruh siswa sibuk mempersiapkan acara perayaan natal, walau diadakan pada awal Januari tahun depan.

Hari ini terasa panas sekali. Walau Desember adalah musim hujan, entah mengapa hari ini terasa sangat panas. Suhu yang panas membuat keringatku mengalir.

Aku menunggu teman dekatku, Dita untuk pulang bersama. Rumah kami sangat dekat. Mungkin Dita masih sibuk di dalam gedung sekolah, sehingga aku harus menunggunya sedikit lebih lama.

"Ehmm hai.." ucap seseorang yang berdiri di belakangku.
"Lho?" ucapku kaget. Ternyata ada Nick.

Ternyata benar, dari tadi perasaanku tidak enak. Bukan sekedar firasat palsu. Ternyata dari tadi Nick membuntutiku secara diam-diam. Hufttt...

"Lagi apa kamu?" tanyanya penasaran.
"Main HP." jawabku spontan.
"Wah main tetris," jawabnya
"Iya," jawabku.
"Eh, minta nomor HP dong! Boleh aku ketik nomor HP ku di HP mu?" Tanyanya.

Tanpa berpikir panjang, aku hanya memberikan HP ku kepadanya, tentunya setelah mendapat pesan 'GAME OVER' pada layar HPku. Nick langsung meraih pemberian HP ku padanya.

"Nih Mik, udah ku tulis nomor hp ku dan tadi aku udah miss-call  ke nomor hp ku supaya aku tahu nomor HPku."

Sunyi.....
Semuanya diam di depan mobil....

"Eh Mika dah dateng!" ucap Dita tiba-tiba.

Tetap diam...

"Mik, ayo kita pulang!" ucap Dita.
"Daaah tas pink!" teriak Nick sambil melambaikan tangan kanannya padaku.

BERSAMBUNG.....

2 komentar: